Pembalasan Gadis Mafia, Harem Sang Penguasa 2

Pembalasan Gadis Mafia, Harem Sang Penguasa 2
BAB.21


__ADS_3

Hazel melirik Samantha, dengan cepat ia menarik lengan Ryo agar duduk di sampingnya. "Kak Ryo, sini duduk."


Ryo tersenyum dan mendaratkan tubuhnya di samping Hazel, dia duduk di sebrang meja Samantha. Saat duduk matanya bertemu dengan tatapan lembut Samantha padanya, "Gak apa - apa kan aku ikut duduk bersama kalian?" tanya pria keturunan Jepang asli itu pada Samantha.


"Tentu tidak, silahkan bergabung," jawab Samantha lalu menunduk malu.


"Kak Samantha sebenarnya agak pemalu, tapi kalau sudah kenal dekat pasti cepat akrab," celetuk Hazel menyikut lengan Ryo di sampingnya.


"Wah... benarkah?" timpal Ryo.


"Btw, Kak Ryo asli orang Jepang?" tanya Hazel yang penasaran.


"Ya, kedua orang tuaku asli keturunan Jepang. Tapi sayang, sejak usiaku 8 tahun Ibuku meninggalkanku entah kemana," Ryo begitu saja menceritakan tentang hidupnya, ia hanya memancing rasa iba dari wanita yang jadi incarannya.


Dari info yang Ryo dapatkan, hati Samantha akan melembut jika Samantha melihat orang yang menderita atau sakit. Karena saat kecil wanita itu selalu sakit - sakitan dan tidak punya banyak teman sampai akhirnya Samantha selalu menghargai setiap orang yang berusaha dekat dengannya.


"Ah, maafkan Hazel karena dia bertanya sampai kamu mengungkit kenangan tidak menyenangkan bagimu," ucap Samantha mewakili Hazel meminta maaf.


"Kejadian itu sudah lama sekali sampai aku sudah hampir tak bisa mengingat lagi wajah Ibuku. Bukankah hidup harus terus berjalan?" Ucap Ryo seakan masa bodo.


"Baiklah, ah ya... Kamu suka balapan?" tanya Hazel ingin mengalihkan obrolan.

__ADS_1


"Lumayan, kenapa?" Ryo berpura - pura, padahal ia tau dari Kei jika beberapa hari lagi Hazel akan balapan.


"Hobi kami balapan, lusa kami berangkat ke arena balapan. Kalau Kak Ryo mau, kakak boleh ikut." Ajak Hazel.


"Bolehkah?" tanya Ryo pada Samantha bukan pada Hazel.


"Boleh!" jawab Hazel cepat, takut Ryo berubah pikiran. Kapan lagi kan Samantha suka sama cowok? Hazel berjanji akan mendekatkan Samantha dengan Ryo.


"Tapi Nona Samantha belum menjawab, boleh aku ikut?" sekali lagi Ryo bertanya.


"Kak!" teriak Hazel, melotot ke arah Samantha memberikan kode 'Ayolah'.


"Yes! Makasih Kak Ryo, sebenarnya Kak Samantha masih belum yakin akan ikut balapan kali ini, tapi karena Kak Ryo akhirnya dia mau. Xixixi, kena jebakan..."


Samantha menendang kaki Hazel di bawah meja, ia baru sadar jika dia benar - benar terjebak tadinya dia belum menyanggupi pergi balapan tapi karena pertanyaan Ryo padanya akhirnya mau tak mau ia ikut juga.


"Baiklah, boleh minta nomermu? Kabari aku saat kalian akan pergi," pinta Ryo.


Samantha memberikan nomer ponselnya, Ryo segera menyimpannya.


"Ah, jaketmu yang tempo hari akan aku kembalikan saat kita bertemu nanti," ucap Samantha.

__ADS_1


"Tentu."


"Terimakasih."


Ryo hanya tersenyum, "Baiklah, aku akan pergi. Tidak akan menganggu dua wanita cantik yang mungkin sedang bergosip," canda Ryo lalu bangkit dari duduknya.


"Bye, Kak Ryo... xixi." Ucap Hazel seraya cekikikan.


"Bye." Dengan sopan Ryo mendunduk menandakan hormat lalu melenggang pergi keluar dari kafe itu.


"Wehh Kak! Dia sudah pergi, jangan dilihat terus!" goda Hazel saat melihat Samantha masih menatap tempat kosong dimana Ryo berjalan keluar tadi.


"Iya, iya!"


"Keren juga tipe cowok kakak, jadi ceritakan pertama kali kalian bertemu sampai jaket tuh cowok ada di Kak Samantha," desak Hazel.


Wajah Samantha berubah merah karena malu, ia mengingat kejadian beberapa hari lalu saat dia menganggap Ryo seorang penguntit.


"Jadi, aku lihat dia terus mengikutiku dari saat aku pergi ke toko kue. Aku berbelok ke toko buku, eh dia masih ada di sekitarku. Saat aku sudah mulai kesal, aku mendatanginya dan melabraknya. Tapi, saat itu temannya datang dan berkata padaku jika mereka sudah janjian di toko kue tapi karena tak jadi karena suatu hal, akhirnya mereka mengganti tempat janji di toko buku. Saat itu aku benar - benar merasa malu dan pergi keluar toko buku dengan tergesa - gesa sampai tak sadar sudah turun hujan. Saat itu lah, Ryo memberikan jaketnya menutupi kepalaku lalu dia pergi. Saat aku ingin memberikan kembali jaketnya, dia sudah tak terlihat. Hari ini saat melihatnya lagi, sumpah aku terkejut. Hazel... Kau pikir di dunia ini benar - benar ada banyak kebetulan atau memang sudah takdir kami bertemu kembali?"


"Takdir? Aku gak percaya takdir, Kak. Jadi, mungkin itu hanya beberapa kebetulan, entahlah." Hazel menjawab seenaknya.

__ADS_1


__ADS_2