Pemilik Hati Brandal Tampan

Pemilik Hati Brandal Tampan
Bab 21


__ADS_3

Queenara meregangkan otot tubuhnya yang terasa sangat kaku, kini ia memindai seluruh ruangan itu tak menemukan keberadaan kekasihnya disana.


"Kemana Leon, apakah dia tidur di tempat lain semalam?" Queenara mulai bertanya-tanya dalam hatinya. Kini ia pun mulai membersikan dirinya dan cepat pulang sebelum papa dan mamanya menyadari bahwa semalam ia tidak ada di mansion utama.


"Astaga! bagai mana aku pergi aku lupa aku tak memiliki pakaian ganti disini." Queenara menggigit bibinya merasa sangat bingung saat melihat pakaiannya sudah basah.


"Ceroboh! sekarang bagai mana caranya aku keluar dari tempat ini?" Queenara memunculkan sedikit kepalanya untuk melihat isi ruangan dan keluar setelah ia merasa aman, Queenara berjalan dengan santai menuju ke arah lemari pakaian milik Leon.


Cekrek..


"Sayang?"


Glekkk...


Leon langsung berbalik membelakangi Queenara yang kini sedang berganti pakaian. "Maaf aku tidak tahu jika kau sedang berganti pakaian." Leon kembali menutup pintu ruangan tersebut dengan pikiran yang terus tertuju pada punggung mulus kekasihnya.


"Ishh... Leon ayolah jauhkan pikiran kotormu itu!" Ucap Leon yang kini terus memukuli kepalanya.


"Ketua kenapa anda disini? ini sarapan yang anda minta." Anthony menyerahkan dua kantong plastik putih pada Leon, namun pandangannya kini terus tertuju pada pintu kamar Leon yang masih tertutup.


"Anthony! apa kau sudah tidak membutuhkan matamu lagi?" Tanya Leon dengan tatapan mata tajam, setajam silet.


"Maaf ketua, tapi mengapa anda berdiri disini? baik, lupakan saja. Ketua ada kasus darurat."


"Apa katakanan saja?" Jawab Leon dengan santainya menyandar di daun pintu.


"Pabrik kita di hentikan, akibatnya kita tidak bisa memproduksi barang seperti yang kita rencanakan."


"Apa?!!"


Brukkk..


"Leon!" Queenara terkejut saat ia membuka pintu dan membuat Leon terjatuh dengan sempurna.


"Argghh.. Astaga punggungku sakit sekali." Keluh Leon yang kini mengusap punggunya yang terjun bebas di lantai.


"Leon, maafkan aku, aku tidak tahu jika kamu tadi bersandar disana. Lagi pula mengapa kau bersandar disana! masih banyak tempat lainkan." Queenara terlihat bersalah namun ia masih menyalahkan Leon atas segalanya.

__ADS_1


Leon menatap tak percaya dengan perubahan mood yang cepat seorang Queenara, begitu juga dengan Anthony yang merasa terkejut saat Queenara membentak Leon, namun Leon hanya diam dan tersenyum kepada kekasihnya.


"Sayang maafkan aku, ini memang salahku." Leon menarik pinggang kekasihnya dan memeluknya dengan sangat erat. Kini matanya tak berhenti berkedip saat melihat Queenara memakai kaosnya yang terlihat kebesaran di tubuh rampingnya.


"Kamu sangat cantik memakai ini." Bisik Leon dengan mengedipkan sebelah matanya, membuat Queenara tersipu malu karenanya.


Anthony mengucek matanya. "Apakah aku tidak salah melihat? dan telingaku tidak salah mendengar kan? sejak kapan ketua mengatakan kata maaf dengan mudahnya. Selama ini yang aku tahu ketua tidak pernah salah walau pun dia memang salah dan," Anthony tidak meneruskan gumaman nya saat melihat tatapan tajam bagaikan belati itu tertuju ke arahnya.


"Astaga sepertinya ketua sudah menjadi. Apa ya, istilah anak gaul jaman sekarang?" Anthony mengetukan jarinya mulai berpikir.


"Yeaahhh... Bucin, budak cinta!" Seru Anthony tanpa sadar.


"Anthony!" Suara bariton menyadarkan nya dari kesalahan yang sudah ia buat. Kini hawa dingin mencekam pun mulai di rasakan oleh Anthony.


"Sebaiknya aku kabur sekarang!" Ucap Anthony membatin. Kini pria bertubuh tinggi itu pun berlari secepat kilat meninggalkan ruangan itu untuk menyelamatkan dirinya dari amukan singa yang sedang mengaum.


"Kenapa kau marah padanya?" Tanya Queenara yang kini mengalungkan tangannya di pundak Leon.


"Aku tidak marah, aku hanya memperingatkan nya saja, tapi aku rasa Anthony sangat terlalu berlebihan." Kilah Leon yang kini semakin mengeratkan rangkulannya di pinggang sang kekasih hingga tak ada celah lagi di antara mereka.


"Menurut mu bagai mana?" Leon mencium bau wangi sampo di rambut kekasihnya dan sedikit menggosokan dagunya disana.


"Leon hentikan!" Queenara mengerucutkan keningnya membuat Leon semakin gemas melihatnya.


"Kau tahu Queenara, aku ingin sekali menikahimu secepatnya. Tapi,"


"Tapi apa?" Queenara memotong ucapan kekasihnya.


"Apakah kau mulai ragu dengan hubungan kita? Leon bukankah kita sudah sepakat untuk melakukan misi kita, apakah kamu tidak yakin dengan cinta dan keyakinan ku padamu?"


"Sayang bukan begitu, hanya saja aku merasa sangat malu dengan apa yang sudah di lakukan ibuku dan,"


"Itu artinya kamu tidak yakin padaku Leon." Queenara menghela nafas perlahan dan melepaskan kalungan tangannya di pundak Leon, lalu pegi meninggalkan Leon yang masih berdiri mematung di tempatnya.


"Queenara! sayang! bukan begitu, tunggu aku!" Leon memukul udara saat melihat kekasihnya pergi meninggalkan dirinya sendiri di ruangan itu.


***

__ADS_1


Kini Queenara sudah bersiap dengan pakaian rapih dan mulai melaksanakan misinya untuk mengejar restu calon mertua masing-masing.


"Apa kau sudah siap?" Queenara melirik ke arah pria yang kini terlihat begitu berbeda dari biasanya.


"Aku sudah siap." Jawab Leon dengan penuh semangat dan percaya diri.


"Wow, semangat sekali." Queenara tersenyum menatap wajah tampan kekasihnya.


"Kau tahu, kau sangat tampan dengan rambut barumu." Bisik Queenara pada kekasihnya yang masih duduk di sofa.


"Benarkah? kalau begitu berikan aku energi." Leon menarik pinggang Queenara dan membuatnya terjatuh di pangkuan nya.


"Energi? apa itu aku, mmhhh...." perkataan Queenara terhenti saat Leon membungkam bibir kekasihnya dengan ciuman lembut.


"Terima kasih." Ucap Leon setelah mengakhiri ciuman nya.


"Kau sangat menyebalkan!" Queenara mengerucutkan bibirnya merasa sangat kesal karena ulah kekasihnya riasannya kembali hancur.


Leon terkekeh geli melihat ekspresi wajah Queenara terlihat terlihat begitu imut dan menggemaskan di matanya.


Setelah sedikit drama, kini keduanya pun mulai mulai kembali dengan misi utama mereka. Leon meminta pertemuan dengan mama Yumna dengan menggunakan ponsel Queenara begitu pun sebaliknya Queenara meminta bertemu dengan tuan Liam sebagai Leon.


***


Di sebuah cafe Tuan Liam Dameer sedang menunggu kedatangan putranya. Hatinya mulai terasa aneh begitu banyak pertanyaan yang kini muncul dalam benaknya.


"Kenapa Leon tiba-tiba mengajakku bertemu di tempat ini? apakah dia sudah mulai membuka hatinya untuk memaafkan segala kesalahanku di masa lalu?" Tuan Liam merasa sangat gugup.


"Syukurlah jika dia sudah mulai memaafkan aku, maka aku bisa dengan mudah untuk membujuknya melupakanmu gadis itu, karena aku yakin Yumna tidak mungkin sudi menerima dia sebagai menantunya." Batin Tuan Liam terus bermonolog hingga ia tak sadar seseorang kini sudah duduk di hadapannya.


"Selamat siang papa Leon?" Ucap Queenara dengan senyuman pengembang menghiasi wajah cantiknya.


"Kau?" Tuan Liam sedikit terkejut saat melihat putri mantan kekasihnya muncul secara tiba-tiba di hadapannya.


"Maaf mengejutkan, perkenalkan saya Queenara calon menantu anda." Ucap Queenara yang kini mulai mengulurkan tangannya di hadapan Tuan Liam dengan penuh percaya diri.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2