
"Apa?! kakak akan menikah besok! dengan siapa ma?" Pekik Elbara yang terkejut saat sang mama menelepon nya.
"Jangan bilang kakakku akan menikah dengan brandal gila itu. Wahh.. ini tidak bisa di biarkan!" Elbara langsung menutup sambungan teleponnya dan langsung pergi begitu saja meninggalkan markasnya.
"Tuan muda tunggu, anda mau pergi kemana?" Daniel berlari mengejar Elbara yang terlihat begitu terburu-buru.
Sedangkan di mansion utama keluarga Sebastian, mama Yumna tengah merasa sangat kesal pada putranya yang langsung mematikan sambungan teleponnya sebelum ia menyelesaikan pembicaraan nya.
"Astaga anak ini, entah siapakah yang sudah melahirkan nya." Ucapnya yang kini memegangi kepalanya yang terasa berdenyut.
"Ma, dia anak mama dan mama yang melahirkannya." Sahut Queenara yang kini sedang duduk bersantai dengan tangan yang sibuk menari di atas layar ponselnya.
Mama Yumna menghela nafas perlahan mendengar jawaban putrinya. "Kakak sama adik sama saja." Gumam mama Yumna lirih. Kini ia pun melirik ke arah putrinya yang tengah tersenyum-senyum sendiri menatap layar ponselnya.
"Apakah putriku benar-benar sudah dewasa? kenapa aku merasa baru saja melahirkannya kedunia ini dan sekarang dia akan menikah dan menjadi milik orang lain." Mama Yumna melangkahkan kakinya berjalan menghampiri sang putri dan memeluknya dengan sangat erat.
"Sudahlah ma, anak nakal itu pasti akan datang, mama istirahat saja ya biar Queen yang mengurus semuanya." Ucap Queenara yang membalas pelukan sang mama.
"Bukan El yang mama pikirkan saat ini, tapi kamu nak, mama tidak menyangka bahwa putri mama sudah sebesar ini." Mama Yumna menangkup wajah cantik putrinya dan menempelkan pipinya di sana.
Queenara tersenyum dan membalas pelukan sang mama. Tubuhnya bergetar karena menangis terisak membuat Queenara juga ikut terharu dan mulai meneteskan air matanya.
"Ada apa ini?" Suara bariton papa Samuel mengalihkan perhatian Queenara.
Kini Queenara memberikan kode pada sang papa agar bisa menenangkan kesedihan hati mamanya, karena hanya papa Samuel lah yang bisa melakukan hal itu semua.
Papa Samuel yang mengerti hal itu pun langsung mengangkat tubuh istrinya dan membawanya pergi kekamar. Bersamaan dengan Elbara yang kini mulai memasuki mansion dengan wajah yang terlihat begitu kesal.
"Hentikan semuanya dan pergi dari ruangan ini." Titahnya pada para pekerja yang sedang menghias mansion untuk acara pernikahan Queenara esok malam.
"Tapi tuan muda,"
__ADS_1
"Aku bilang hentikan semuanya sebelum aku sendiri yang menghancurkan nya." Bentak Elbara yang kini mulai menjerit kesakitan saat sang kakak menarik telinganya.
"Anak nakal, akhirnya kamu pulang juga, sekarang ikut aku dan jelaskan apa yang sudah kamu lakukan beberapa hari yang lalu." Queenara menarik telinga Elbara dan membawanya ke arah balkon.
"Kak lepaskan! apa maksudmu aku sungguh tidak mengerti dengan apa yang sedang kamu bicarakan." Kilah Elbara.
"Tidak mau jujur ya, rasakan ini." Queenara memelintir telinga adiknya dengan gemas.
"Kak, kau benar-benar sangat kejam sekali pada adikmu yang tampan ini, bagai mana jika telingaku terputus dari tempatnya?" Elbara mengusap telinganya yang terasa berdenyut karena ulah sang kakak.
"Biarkan saja, aku tidak perduli." Kesal Queenara yang kini duduk dengan wajah di tekuk.
"Kenapa kau melakukan semua itu El? apakah aku salah jika mencintai nya dan ingin menikah dan hidup bahagia bersama orang yang sangat aku cintai." Queenara mulai memasang wajah sedihnya ingin melihat bagaimana reaksi adiknya nanti.
"Bukan begitu kak," Elbara mulai merasa bersalah sudah membuat kakaknya bersedih. Queenara mulai menutupi wajahnya menahan tawa saat melihat reaksi adiknya yang terlihat begitu lucu menurutnya.
"Aku mulai berpikir kau itu benar-benar adikku atau bukan, mengapa kau sangat begitu kejam sekali padaku El." Queenara sedikit mengeraskan tangisannya membuat Elbara semakin kebingungan harus melakukan apa agar kakaknya berhenti menangis.
"Kak jangan menangis, aku memang salah aku minta maaf sungguh. Maaf!" Elbara menangkupkan kedua tangannya di hadapan sang kakak, memohon agar kakaknya berhenti menangis.
"Apa itu kak?" Elbara mulai merasa tidak enak saat melihat senyuman misterius kakaknya.
"Aku yakin, kakak tidak mungkin melepaskan aku dengan mudah. Elbara tamatlah riwayat mu." Batin Elbara berteriak.
"El kamu sudah pulang nak?" Tanya mama Yumna yang kini berjalan menghampiri putra putrinya.
Suara mama Yumna Bagaikan angin segar bagi Elbara, namun siapa menyangka kini mama Yumna mengubah senyumannya dengan wajah garang membuat Elbara merasa sangat pusing di hadapkan dengan kedua wanita tangguh dari keluarga nya.
Keluar dari lubang satu, masuk ke lubang lainnya itulah kata yang tepat untuk Elbara saat ini. "Sebaiknya aku kabur sekarang dari tempat ini." Gumam Elbara membatin.
Namun Queenara sudah mengerti tak-tik adiknya dan menarik kerah baju Elbara agar tidak kabur.
__ADS_1
***
Di tempat lain, Leon sedang sibuk mempersiapkan segalanya untuk acara pernikahan nya bersama dengan sang kekasih yang sangat begitu ia cintai.
"Anthony, apakah semua yang aku minta sudah di persiapkan dengan sangat baik?" Tanya Leon pada tangan kanannya.
"Semuanya sudah beres ketua, apakah ada yang lain lagi mungkin dengan acara kejutan seperti yang ada dalam drama-drama romantis?" Anthony mulai mengajukan penawaran menarik untuk Leon.
"Sepertinya menarik." Leon pun menyetujui rencana yang di berikan oleh Anthony.
Kini Leon menatap bingung pada seluruh barang-barang yang akan di kirimkan pada kekasihnya. "Sepertinya ada yang kurang tapi apa ya?" Leon menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Anthony, apa semuanya sudah selesai? cepat cek ulang dan jangan sampai ada yang terlewatkan aku tidak ingin momen indahku terganggu karena hal yang sepele." Ucap Leon dengan tegasnya.
"Baik ketua,"
"Leon lalu bagai mana dengan gedung yang sudah aku pesan untukmu?" Tanya tuan Liam yang kini masuk kedalam ruangan putranya yang sudah penuh dengan barang-barang untuk hantar ke rumah calon istrinya.
"Kau pakai saja sendiri." Jawab Leon singkat tanpa menoleh ke arah sang ayah.
Tuan Liam menghela nafas perlahan. "Aku pikir dia sudah memaafkan aku tapi ternyata," Tuan Liam terlihat bingung bagai mana caranya agar ia bisa mengambil hati putranya.
"Leon, aku ingin memberikan sesuatu padamu." Tuan Liam menyerahkan sebuah berkas pada putranya.
"Apa itu?" Tanya Leon yang enggan mengambil apa yang di berikan sang ayah padanya.
"Bukalah." Pinta tuan Liam.
Leon memutar bola matanya malas, sebenarnya ia sangat enggan berdekatan dengan sang ayah namun ia tak bisa menolak kehadirannya saat ini karena permintaan calon istrinya. Queenara ingin jika ia dan ayahnya terlihat akur di hari pernikahan mereka dan terpaksa Leon pun menyetujui permintaan calon istrinya itu.
Leon membuka lembaran demi lembaran kertas dan membacanya dengan seksama, namun betapa terkejutnya ia saat melihat apa yang tertulis di lembar terakhir berkas tersebut.
__ADS_1
Bersambung...
.