Pemilik Hati Brandal Tampan

Pemilik Hati Brandal Tampan
Bab 33


__ADS_3

Pagi telah tiba cahaya matahari mulai bersinar menerangi bumi membangunkan dua sejoli yang saling berpelukan mesra di atas ranjang yang hangat.


Queenara meregangkan otot tubuhnya yang terasa sangat kaku, begitu pula sebaliknya dengan leon.


"Pagi sayang, apa kau masih merasa sangat kesal padaku?" Tanya Leon yang kini mulai mencolek hidung mancung istrinya.


Ya, saat melihat kebakaran malam tadi Leon langsung mengajak Queenara pergi meninggalkan tempat itu untuk mencari hotel terdekat. Namun tanpa di sangka perjalanan menuju kota sangatlah jauh, menggunakan jalur darat setidaknya membutuhkan waktu dua hari melewati hutan blantara.


Hal itu membuat Leon mengurungkan niatnya karena tak ingin terjadi suatu hal yang buruk di dalam perjalanan, dan ia pun terpaksa kembali ke villa dan melanjutkan misi bulan madunya di sana.


"Bagai mana mungkin aku marah padamu, kau suamiku tapi maaf aku masih belum bisa memberikan kewajiban ku padamu." Queenara mulai menangkup kedua pipi suaminya dan memberikan sedikit kecupan singkat di bibir Leon.


"Tidak masalah, aku bisa memintanya Sekarang kan?" Tanya Leon penuh semangat. Namun Queenara menggelengkan kepalanya dan membisikan sesuatu di telinga sang suami.


Leon mengerutkan keningnya tanda tak mengerti dengan apa yang sedang di katakan oleh istrinya saat ini.


"Apa hubungannya dengan datang bulan, yang aku tahu ini sudah pagi dan tak ada bulan di pagi hari." Jawab Leon dengan polosnya.


"Astaga!" Queenara menepuk keningnya sendiri malu-malu ia mengatakan hal itu pada suaminya, namun ternyata sang suami tidak mengerti apa pun tentang dunia perempuan.


"Aghhh.. Aku lupa jika suamiku tidak hidup di bersarkan oleh mamanya, dia di besarkan oleh nenek dan mungkin saja nenek tidak pernah memberi tahukah hal ini pada." Gumam Queenara membatin, lama ia berpikir hingga akhirnya ia harus menjelaskan pase-pase yang di alami seorang wanita setiap bulannya.


"Ya ampun... jadi aku harus menunggu selama tujuh sampai delapan hari lagi? kenapa sangat begitu berat sekali cobaan ku ini." Leon langsung terlihat sangat begitu lemah di buatnya, sedangkan Queenara benar-benar sangat merasa bersalah namun tak ada lagi yang bisa ia lakukan selain menunggu.

__ADS_1


Namun walau begitu Leon juga tidak bisa memaksakan kehendaknya pada sang istri, ia akan tetap sabar menunggu dan selalu menenangkan sang istri agar Queenara tidak merasa sangat bersalah padanya.


"Sayang, ayo kita berjalan-jalan di pantai aku ingin mengabadikan momen-momen indah kita sebagai kenangan, kau tahu nenek pasti sangat senang melihatnya nanti." Ajak Leon yang langsung di angguki sang istri.


Kini keduanya pun berbahagia bermain di bibir pantai yang bersih dan asri, pasangan sejoli itu menikmati hari-hari indahnya hingga tanpa terasa tujuh hari pun telah berlalu dan hal inilah yang sedang di nantikan oleh Leon, untuk menjadikan Queenara sebagai miliknya sepenuhnya.


Leon tersenyum cerah saat melihat istrinya keluar dari kamar mandi, Queenara yang melihat sang suami nampak bersemangat pun tak kuasa ingin sedikit menggodanya dengan menggelengkan kepala. Leon menghela nafas kasar dan tetap merentangkan tangannya untuk menyambut sang istri untuk segera tidur karena malam sudah semakin larut.


Queenara berlari ke arah suaminya dan memeluknya dengan sangat erat. "Aku sudah siap, berapa banyak anak yang kau inginkan?" Tanya Queenara dengan wajah cerianya.


"Tapi bukankah,"


"Aku hanya sedikit menggoda mu saja." Kekeh Queenara.


"Dasar istri nakal." Leon memberikan beberapa kecupan singkat di wajah sang istri dan berakhir di bibir manis yang sudah menjadi candu baginya.


Queenara menjerit menancapkan kuku panjang nya di pundak Leon saat sesuatu berhasil menerobos memasuki benteng pertahanan nya.


"Apa sangat sakit sekali?" Tanya Leon dengan konyolnya.


"Mmhh.. Tentu saja! kau terlalu memaksa untuk masuk." Queenara mengerucutkan bibirnya membuat Leon semakin gemas di buatnya.


Setelah menunggu sang istri sedikit rilek kini Leon pun melanjutkan aktivitas nya dengan perlahan tapi pasti agar tidak menyakiti istrinya.

__ADS_1


****


Tak Jauh berbeda dengan sang kakak yang sedang melakukan bulan madu. Di kamar apartemen Elbara terlihat sangat begitu berantakan dengan pakaian yang berserakan di lantai.


Jasmine terbangun dan mengusap kepalanya yang terasa berdenyut, ia kini teringat semalam ia sangat mabuk berat untuk melupakan segala kisah hidupnya.


Kini ia pun membuka matanya sepenuhnya dan menatap asing pada ruangan sekelilingnya. "Ini bukan apartemen ku lalu dimana aku?" Jasmine terbelalak saat ia melihat dirinya sudah tak memakai sehelai benang pun.


"Astaga, Jasmine apa yang sudah kau lakukan! ini sungguh bukan dirimu." Batin Jasmine berteriak histeris. Karena rasa penasaran yang sangat tinggi kini Jasmine pun membuka selimut dan melihat siapa pria yang sudah menodai nya.


"El, kenapa harus dia? aku harus pergi sebelum dia terbangun dan menyalahkan aku dengan semua ini.


Dengan langkah tertatih Jasmine pun memakai pakaiannya satu persatu dan segera pergi meninggalkan tempat itu, ia benar-benar tidak ingin membuat masalah hidupnya semakin rumit.


Jasmine adalah anak korban broken home, ayah dan ibunya sudah lama bercerai hingga hak asuh pun jatuh kepada sang ibu. Namun sejak saat itu Jasmine tidak pernah merasakan bagai mana indahnya kasih sayang orang tua, terlebih saat sang ibu sudah menikah dengan pria yang sangat kasar dan diam-diam selalu menggodanya membuat Jasmine merasa sangat risih dan lebih memilih pergi.


Tetapi tak mudah bagi Jasmine melarikan diri dari ayah sambungnya, karena kemana pun ia pergi pria tua itu pasti bisa menemukan dirinya. Sedangkan sang ayah kandung yang sudah sama-sama memiliki keluarga baru pun tak bisa menerimanya dengan mudah, terlebih mereka sudah memiliki seorang putra hal yang selalu di mimpikan sang ayah selama ini.


Jasmine berjalan menuju halte bis dengan menutupi seluruh tubuhnya dengan hoodie milik Elbara agar ia tidak mudah di kenali oleh ayah tirinya.


Sedangkan Elbara baru saja terbangun dan mengingat malam panas yang sudah ia lewati dengan gadis yang selalu membuatnya kesal sepanjang waktu.


"Arrghhh.... Kenapa harus melakukan hal itu?" Elbara berteriak frustrasi terlebih saat ia melihat bercak darah yang ada di sprei putihnya.

__ADS_1


"Ya ampun kenapa aku bisa melakukan hal serendah ini, tidak bagaimana jika nanti dia mengandung anakku dan apa yang akan mama dan papa pikiran tentangku." Elbara mengusap wajahnya kasar, ia mulai membersikan diri dan akan bersiap untuk mencari keberadaan Jasmine saat ini.


Bersambung...


__ADS_2