
Satu minggu telah berlalu namun Jasmine masih dalam keadaan koma, hal itu membuat Elbara semakin merasa bersalah karena terlambat menyelamatkan bayi dan calon istrinya.
Namun Elbara tak pernah menyerah untuk tetap berusaha untuk mengajak Jasmine berbicara agar segera tersadar dari koma nya.
"Jasmine apa kau akan tetap tertidur pulas membiarkan aku berbicara sendiri seperti orang tidak waras? owh... Ayolah, bukankah kita akan menikah? bagai mana mungkin kita bisa menikah jika kau terus tertidur pulas seperti ini." Elbara mengecup punggung tangan Jasmine dengan penuh kelembutan.
Awalnya memang Elbara tak memiliki perasaan apapun pada Jasmine, namun lambat laun perasaan sayang pun muncul dalam hati Elbara terlebih saat ia mengetahui bahwa Jasmine sedang mengandung calon anaknya, ada perasaan hangat dalam hati Elbara perasaan senang dan bahagia pun mulai memenuhi hatinya.
Dan perasaannya pun hancur saat mengetahui calon anaknya tak bisa di selamatkan oleh tim dokter.
"El, makanlah dulu kau tidak makan sejak kemarin kau bisa sakit El." Queenara membawakan sarapan untuk adiknya dan menata makanan di atas meja.
"Aku tidak lapar kak, lihatlah Jasmine masih tertidur pulas seperti itu apa dia juga tidak lapar seperti aku?" Elbara mengusap kepala Jasmine dengan penuh kelembutan.
"El, kau tetap harus makan, bagai mana jika nanti kau sakit?" Queenara sedikit memaksa adiknya untuk mengisi perutnya karena khawatir jika Elbara akan jatuh sakit.
"Istriku benar El, jangan bersikap kekanakan!" Tukas Leon yang tak suka dengan sikap adik iparnya.
"Kalian berdua pergilah, aku bisa mengurus diriku sendiri." Jawab Elbara yang tak perduli dengan kakak dan kakak iparnya.
"El apa kau juga menyalahkan aku atas semua yang terjadi pada kekasihmu?" Queenara mulai berkaca-kaca menatap adiknya yang enggan menatapnya.
"Bukan begitu kak tapi aku tidak,"
"Ya aku tahu kau semuanya karena salahku, karena aku sekarang dia terbaring disana." Queenara mulai mengungkapkan perasaan yang terpendam selama satu minggu ini pada adiknya.
"Kak, kenapa kau berpikir seperti itu?" Elbara berdiri dan menghampiri sang kakak untuk menenangkan kesedihannya.
"Apa kau lihat bocah tengik karena kau sekarang istriku menangis?" Leon tak terima dengan sikap keras kepala adik iparnya yang membuat istrinya kini menangis dan bersedih menyalahkan dirinya sendiri.
"Kalian berdua tolong tinggalkan aku!" Ucap Queenara yang kini menatap ke arah suaminya dan adiknya secara bergantian.
__ADS_1
"Tapi kak,"
"Sayang,"
"Aku mohon mengertilah, aku ingin berdua saja di ruangan ini." Queenara tak menerima penolakan.
Kini kedua pria itu pun terpaksa meninggalkan ruangan tersebut dan membiarkan Queenara bersama dengan Jasmine.
"Jasmine maafkan aku, karena menyelamatkan aku dan calon bayiku kau harus kehilangan bayimu dan karena hal itu juga kau berada di tempat ini. Aku mohon padamu bangunlah dan bicaralah padaku, lihat juga El sangat mengkhawatirkan keadaanmu aku mohon bangunlah." Queenara mulai memeriksa keadaan Jasmine dan menekan beberapa saraf-saraf berharap agar Jasmine bangun dari koma nya.
Queenara terus bberusaha sekuat tenaga hal itu ia lakukan atas perintah sang papa, setiap hari selama satu minggu sang papa yang selalu melakukan hal itu, namun hari ini papa Samuel sedang dinas keluar kota dan menugaskan Queenara untuk menggantikan dirinya.
Dua puluh menit sudah Queenara melakukan tugasnya dengan wajah yang kini mulai di banjiri keringat.
"Aku mohon bangunlah kali ini saja dengarkan permohonan ku." Ucap Queenara yang kini menekan sistem saraf tulang belakangnya.
Queenara sudah melakukan seperti perkataan sang papa namun kini ia merasa sangat sedih saat Jasmine tidak menunjukkan reaksi apapun.
Hingga membuat dua pria yang tengah berdebat di luar ruangan pun mendengar tangisan kesedihan Queenara.
"Sayang, minggir kau!" Leon mendorong tubuh Elbara hingga terhuyung dan hampir terjatuh.
"Dasar kakak ipar laknat!" Ketus Elbara yang kini membuntuti langkah Leon masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Sayang kenapa kau menangis? ada apa? apa yang membuat dirimu bersedih?" Leon membrondong banyak pertanyaan pada istrinya. Namun Queenara tak menjawab satu pun pertanyaan yang suaminya ajukan.
Berbeda dengan Queenara yang tampak bersedih kini Elbara terkejut saat melihat Jasmine mulai membuka matanya perlahan.
"Kak," Ucap Jasmine lirih saat mendengar suara tangisan Queenara di sampingnya.
"Jasmine kau sudah sadar apa kau baik-baik saja aku akan panggilkan dokter!" Elbara sangat begitu antusias dan merasa sangat bahagia saat melihat jika calon istrinya kini sudah sadar dari koma.
__ADS_1
tak hanya Elbara kini Queenara pun melirik ke arah Jasmine dengan senyuman mengembang menghiasi wajahnya. "Ternyata aku berhasil, terima kasih kau sudah mendengar permohonan ku." Queenara mulai memeriksa keadaan Jasmine yang kini sudah melewati masa-masa sulitnya.
"Kak, apakah bayiku?"
"Maafkan aku adik, karena aku kau kehilangan bayimu." Queenara kembali menangis dan memiliki Jasmine yang kini mulai menitikan air matanya.
"Itu bukan salahmu kak, aku yang salah karena terlalu ceroboh." Ucap Jasmine yang kini mulai terisak.
Kini Elbara kembali bersama sang dokter. "Cepat periksa keadaannya dok." Elbara masih terlihat sangat begitu mengkhawatirkan keadaan Jasmine saat ini.
Setelah selesai memeriksa keadaan Jasmine yang kini sudah terlihat sedikit lebih tenang, kini Leon menendang kaki Elbara meluapkan kekesalan yang ada di dalam hatinya.
"Kenapa kau memanggil dokter lain di saat istriku ada disini dan berjuang untuk menyembuhkan kekasihmu, itu sama saja kau tidak menghargai usaha istriku." Kesal Leon yang kini mulai menyerang Elbara kembali.
"Sudahlah Leon kenapa kau mempermasalahkan hal sekecil ini." Queenara memegangi tangan suaminya agar tidak terjadi perkelahian di antara kedua pria yang ada di hadapannya itu.
"Tidak bisa begitu sayang, kau sudah berjuang tapi dia,"
"Sudahlah lebih baik kita pulang sekarang aku sungguh sangat lelah sekali saat ini." Queenara membawakan suaminya keluar dari ruangan tersebut.
"Kak, maaf aku tidak bermaksud seperti itu." Ucap Elbara menjelaskan, namun Queenara tak menjawab perkataan nya dan pergi begitu saja meninggalkan tempat itu membawa suaminya yang sudah terlihat sangat begitu marah pada adiknya.
Setelah Queenara dan Leon pergi kini tinggalah Elbara berdua dengan Jasmine di ruangan itu. Ada rasa canggung di antara keduanya.
"Apa kau lapar? aku akan membelikan bubur untukmu." Ucap Elbara mulai menghilangkan kegugupan yang terjadi padanya saat ini.
"Tidak perlu, aku tidak lapar. El, aku ingin berbicara sesuatu yang sangat penting denganmu." Jasmine mulai menatap wajah tampan Elbara yang kini juga menatap ke arahnya.
"Katakan saja aku akan mendengarkannya." Jawab Elbara yang kini menunggu apa yang akan di bicarakan oleh Jasmine padanya.
Bersambung...
__ADS_1