
Queenara membuka matanya perlahan, kini pandangan nya tertuju pada sang suami yang menunggunya dengan wajah memar dan mulai membiru menghiasi wajah tampan nya.
"Sayang, kamu sudah sadar." Leon langsung mendekati istrinya dan mengambilkan air untuk sang istri.
Namun Queenara hanya meliriknya sekilas, ia masih merasa sangat kesal marah dan kecewa pada Leon karena sudah dekat dengan wanita lain tepat berada di hadapannya.
"Sayang minumlah dulu kau pasti haus kan?" Leon masih berusaha membujuk istrinya dan masih belum mengerti tentang kemarahan sang istri saat ini.
"Kau lakukan saja semua itu pada gadis yang bersamamu tadi, jangan lakukan apapun padamu! Leon aku sungguh sangat kecewa sekali padamu." Ucap Queenara membuat Leon semakin tak mengerti dan kebingungan dengan maksud istrinya.
"Sayang apa maksudmu? sungguh aku tidak mengerti dengan apa yang sedang kamu bicarakan." Leon memeluk tubuh istrinya agar Queenara merasa sedikit lebih tenang.
Namun dengan cepat Queenara mendorong tubuh Leon. "Jangan sentuh aku lagi, aku tidak sudi di sentuh setelah kau menyentuh gadis lain!" Teriak Queenara membuat Leon sedikit tercengang karenanya.
"Astaga! Sayang sungguh aku tidak melakukan apapun seperti yang kamu tuduhkan itu, siapa gadis yang kamu maksud? sayang kamu tahu kan cintaku hanya untuk dirimu seorang tidak mungkin aku mengkhianati dirimu." Leon semakin mengeratkan pelukannya pada sang istri berharap Queenara sedikit lebih tenang dan membicarakan hal itu dengan kepala dingin.
"Owh ya ampun sepertinya Queenara melihatku bersama wanita itu dan berpikir jika aku sudah mengkhianati nya. Huhh.. Ini semua karena adik ipar laknat! tiba-tiba dia datang dan memukulku tanpa ampun, dan sekarang karena ulahnya istriku salah paham kepadaku." Leon menghela nafasnya secara perlahan dan mulai berbicara dengan istrinya secara perlahan agar istrinya mengerti dan memahami apa yang sedang terjadi sebenarnya.
"Sayang percayalah padaku aku tidak mengkhianati dirimu, kau tahu wanita yang bersamaku tadi, dia adalah kekasih adik ipar aku hanya membantunya karena gadis itu sedang mengandung." Leon pun mulai menceritakan kisah adiknya yang di sembunyikan seluruh keluarga darinya.
Queenara menutupi mulutnya yang kini terbuka lebar karena terkejut, kini ia pun merasa sangat bersalah karena sudah menuduh suaminya yang tidak-tidak.
"Kenapa mereka menyembunyikan hal sebesar ini dariku?" Gumam Queenara lirih.
"Sayang kau sedang hamil muda jadi mama mertua tidak ingin membebani pikiranmu, sayang percayalah padaku aku hanya membantunya saja tidak lebih dari itu." Ucap Leon yang kini menatap wajah cantik istrinya yang terlihat sangat begitu sedih.
"Maaf, aku sudah salah paham padamu." Ucap Queenara yang kini mulai memeluk tubuh suaminya dan mengusap wajah tampan Leon yang penuh dengan memar.
"Tidak masalah sayang, maaf aku sudah membuatmu sangat marah. Tapi aku senang kau cemburu padaku karena itu artinya cintamu sama besarnya seperti cintaku." Leon tersenyum dan mulai melabuhkan kecupan sayangnya di kening sang istri
__ADS_1
"Aku akan mengobatimu dulu." Queenara langsung turun dari ranjangnya dan bersiap untuk mengobati suaminya.
Leon terkekeh geli saat melihat ekspresi wajah istrinya yang terlihat memerah karena malu. "Kau memang sangat menggemaskan, aku berharap bayi kita nanti akan sama seperti mu."
"Kenapa begitu, aku bahkan ingin bayi kita sama sepertimu." Sahut Queenara yang kini berjalan membawakan kotak obat untuk mengobati luka Leon.
"Apa alasan mu ingin memiliki anak sepertiku?" Leon merangkul pinggang istrinya dan membawanya duduk di pangkuannya.
"Tentu saja karena aku mencintaimu, aku ingin memiliki putra yang tampan seperti dirimu." Ucap Queenara yang kini membuat Leon merasa senang dan berbunga-bunga mendengar gombalan receh istrinya.
Pasangan suami istri itu pun kembali dekat dan romantis seperti sebelumnya, bahkan Leon mulai meletakkan kepalanya di pangkuan sang istri dan mulai bermanja-manja mengusap lembut perut istrinya yang mulai terlihat membuncit.
****
Namin suasana panas kini sedang terjadi di ruang kerja milik Leon. Elbara tertunduk malu saat mendengar ceramah panjang dari sang mama, begitu pun dengan Jasmine yang tertunduk malu karena mama Yumna berkata ceplas-ceplos tanpa rem.
"Jadi keputusan mama sudah bulat, malam ini juga kalian harus menikah!" Ucap sang mama membuat Jasmine terbelalak saat mendengarnya.
"Tidak ada penolakan! kamu harus menjadi menantu saya karena bayi yang kamu kandung membutuhkan seorang ayah, tapi ingat walau begitu saya mau setelah bayi itu lahir kita melakukan tes DNA untuk memastikan apakah dia bayi milik El atau bukan." Ucap mama Yumna dengan nada pedasnya.
"Ma,"
"Diam kamu El, karena kamu suamiku entah dimana saat ini." Mama Yumna terlihat sangat begitu bersedih dan mengusap wajahnya yang terlihat kurang tidur hingga memperlihatkan lingkaran matanya.
"Jasmine ayo ikut aku sekarang juga." Ajak mama Yumna yang langsung di angguki oleh Jasmine, begitu pun dengan Elbara yang kini membuntuti kedua wanita beda usia di hadapannya.
***
Setelah sedikit berdebat dengan suaminya kini mama Yumna mulai menggelar acara pernikahan Elbara dan Jasmine dengan sedikit tertutup dan hanya di hadiri kerabat terdekat saja.
__ADS_1
Jasmine menatap pantulan dirinya di cermin dengan wajah terlihat begitu sedih. Ia bersedih bukan karena pernikahan nya dengan Elbara yang di lakukan terpaksa karena ada anak di antara mereka berdua, namun Jasmine merasa sangat sedih karena di hari pernikahannya tak ada satu pun dari keluarganya yang hadir menyaksikan hari bahagianya.
"Aku berharap El bisa melindungiku dan bayi kami dari kejaran ayah tiriku, lalu bagai mana dengan Alvin, aku yakin saat ini dia sedang sangat kebingungan mencari keberadaan ku. Aku harap semuanya akan baik-baik saja." Jasmine menarik nafasnya perlahan.
"Hallo adik ipar, apa kau bahagia menikah dengan adikku yang nakal itu?" Queenara datang dengan senyuman mengembang menghiasi wajahnya berjalan menghampiri sang mempelai wanita yang terlihat sangat sedih.
"Apa kau menangis?" Queenara mengusap air mata Jasmine dengan sangat lembut.
"Tidak kak, aku sangat bahagia El pria yang baik, aku hanya terharu dengan kebaikan keluarga kalian yang mau menerimaku tanpa melihat siapa diriku." Ucap Jasmine dengan air mata yang semakin deras membasahi pipinya.
"Kamu wanita yang baik tentu saja kami akan menerima dirimu, owh iya maaf jika mama mengatakan hal yang tidak enak di hatimu, kau tahu sebenarnya mama adalah wanita yang baik dan lemah lembut, hanya saja keadaan sedang tidak baik-baik saja membuatnya sedikit emosional." Queenara memeluk Jasmine dan mengusap punggungnya agar Jasmine merasa sedikit tenang.
"Terima kasih kak." Ucap Jasmine dengan suara terisak menahan kesedihan dalam hatinya.
"Sttt... Jangan menangis, semuanya akan baik-baik saja."
Prangg...
Dorrr... Dorrr...
Suara kegaduhan di luar ruangan membuat kedua wanita yang kini saling berpelukan itu terkejut dan menatap ke arah pintu dengan penuh ketakutan.
"Ada apa ini?" Queenara mulai terlihat gemetar dan mulai menghubungi suaminya, namun lama menunggu Leon tak kunjung menjawab panggilan teleponnya dan suara-suara keributan pun semakin jelas di telinga keduanya.
"Ada apa ini kak?" Jasmine memegangi tangan Queenara dengan sangat erat.
"Entahlah."
Kini kedua wanita itu pun menjerit saat segerombolan orang berbaju hitam masuk secara paksa ke dalam ruangan tersebut.
__ADS_1
Bersambung...