
Leon melemparkan berkas itu ke atas meja dan langsung berdiri menatap sang ayah dengan wajah tak suka "Apa anda sedang mengejekku dengan harta? dengar aku tidak membutuhkan semua ini karena aku masih cukup mampu untuk membeli rumah untukku dan istriku nanti." Ucap Leon penuh ketegasan.
"Aku memberikannya bukan untukmu tapi untuk calon menantuku dan cucu-cucuku di kemudian hari, aku sudah sangat tua Leon. Lalu untuk apa harta yang aku miliki saat aku tiada nanti, jika bukan untuk mu dan seluruh keluarga kecilmu nanti." Tuan Liam menghela nafas berat, ia menatap sang putra dengan wajah penuh permohonan.
"Itu bukan urusanku! lagi pula bukankah itu yang kau kejar dulu?" Leon melangkahkan kakinya berjalan meninggalkan tuan Liam yang masih berdiri mematung di tempatnya.
Namun setelah beberapa meter, kini ia menghentikan langkah kakinya dan kembali berbalik pada sang ayah. "Aku tidak bisa menerima semua itu, ambil saja kembali apa yang akan kau berikan padaku atau pun istriku nanti karena aku sama sekali tidak membutuhkannya." Ucao Leon dengan nada dinginnya.
"Tapi Leon," Tuan Liam ingin protes, tapi dengan cepat Leon menaikan jari telunjuk di atas bibirnya.
"Ssttt... Jangan berpikir aku hanyalah seorang brandal yang tak memiliki apapun, tuan Liam. Sebenarnya aku tidak ingin pamer, tapi semuanya aku lakukan agar kau percaya bahwa aku layak menjadi suami ideal untuk istriku. Anthony!" Leon memberikan isyarat pada tangan kanannya.
"Baik ketua!" dengan penuh semangat Anthony pun melakukan apa yang Leon inginkan saat ini.
Setelah menunggu beberapa saat, kini Anthony pun kembali dengan setumpuk berkas yang ada di tangannya.
"Berikan padanya, biarkan dia tahu segalanya." titah Leon yang langsung di turuti oleh Anthony.
Tuan Liam menghela nafas perlahan, kini ia pun membuka lembaran demi lembaran itu dan membacanya dengan wajah penuh keterkejutan.
"Jadi kau, kau adalah pemilik LBS, perusahaan yang menjual ribuan motor setiap tahunnya?" Tuan Liam tercengang dan hampir jatuh pingsan karena terkejut. Karena ia tahu betul perusahaan itu sangat terkenal namun tidak semua orang tahu siapa pemiliknya, dan hanya orang-orang tertentu saja yang bisa menemuinya secara langsung.
__ADS_1
Leon tersenyum samar saat melihat reaksi sang ayah saat ini. "Bagai mana tuan Liam Dameer? apa kau sudah percaya bahwa aku tidaklah semiskin yang kamu kira." Ucap Leon dengan bangganya.
Liam merasa malu dengan apa yang akan ia berikan pada calon menantunya, karena harta yang ia miliki tak seberapa di bandingkan dengan yang putranya miliki saat ini.
"Aku memang memiliki banyak harta, tapi satu yang tidak pernah bisa aku miliki, yaitu kasih sayang. Tapi kau tenang saja, tuan Liam Dameer aku tidak akan pernah menuntut kasih sayang darimu, karena aku memiliki Queenara wanita yang penuh dengan cinta dan kasih sayang. Hidupku sudah lengkap karenanya." Ucap Leon yang sangat begitu menusuk relung hati Tuan Liam.
"Kau tidak perlu menyesal, karena aku tidak akan pernah menuntut mu." Sambung Leon kembali, kini ia pun memerintahkan seluruh anak buahnya untuk membawa barang-barang yang akan di kirimkan ke mansion keluarga Sebastian.
Sedangkan tuan Liam masih duduk mematung meratapi penyesalan yang teramat dalam di hidupnya. Kini ia tersadar bahwa dirinya sudah menorehkan luka yang cukup dalam di kehidupan putranya.
Tanpa mereka sadari sejak tadi seseorang tengah berdiri menatap ayah dan anak itu dengan tatapan penuh kesedihan. "Apakah perseteruan mereka akan terus berlanjut? semoga saja cucu menantu bisa mengatasinya nanti, karena aku sudah berusaha tapi tak ada satupun dari mereka yang mau mendengarkan permintaan wanita tua ini." Gumam nenek Sofia membatin.
"Nenek, apakah anda perlu sesuatu?" Tanya Jackson dengan nada ramahnya.
Setelah sedikit ketegangan di antara ayah dan anak itu kini Leon kembali melakukan tugas-tugasnya untuk mempersiapkan acara pernikahan nya, Leon benar-benar sangat teliti dengan segala hal karena ia tidak ingin masalah terjadi di acara bahagianya.
Berbeda dengan Leon yang sibuk turun tangan membantu semua anak buahnya, Queenara merasa sangat bosan karena sejak tadi ia tidak di izinkan melakukan apapun selain tidut dan duduk diam di kamarnya.
"Argghh... aku sangat bosan sekali, kenapa semua orang melarangku melakukan hal apapun." Queenara terus berguling-guling di atas ranjangnya.
"Sekarang aku harus melakukan apa? Leon juga tak mengabariku sejak semalam." Queenara turun dari ranjang dan berjalan ke arah balkon kamarnya.
__ADS_1
"Wow indah sekali." Queenara menatap penuh kekaguman saat melihat taman mansion yang kini sudah di hias sedemikian rupa.
"Aku sungguh tidak percaya hal ini, aku merasa aku sedang berada di dunia mimpi saja." Queenara pun berjalan mengambil camera untuk mengabadikan momen-momen indahnya.
"Sangat indah, aku sungguh menyukainya." senyuman Queenara pun tak pernah pudar menghiasi wajahnya.
Kini pandangannya pun tertuju pada gaun indah yang tergantung rapih di sudut kamarnya. "Kapan gaun itu tiba? kenapa aku tidak tahu tentang ini?" Queenara pun menghampiri gaun pengantin berwarna putih dengan tabungan mutiara yang terlihat sangat begitu anggun dan mewah.
Queenara menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Sepertinya semalam aku tidur terlalu nyenyak hingga aku tidak merasakan ada seseorang yang masuk ke dalam kamarku." Queenara terkikik geli, kini ia mengambil ponselnya untuk menghubungi sang adik untuk menanyakan sesuatu.
"Entahlah, apakah anak nakal itu sudah mengerjakan apa yang aku perintahkan atau belum?" Queenara bersiap untuk menekan tombol panggil namun seseorang mengambil ponselnya dan membuangnya begitu saja.
Kini tangan besar membekap mulutnya dengan sedikit kuat membuat Queenara tak bisa berteriak memanggil siapa pun, begitu pula dengan tangannya yang terkunci hingga ia tidak bisa berbuat apapun selain berusaha untuk melepaskan cengkraman pria yang tertutup dengan masker dan topi hitam, membuat Queenara tak bisa mengenalinya.
Queenara merasa sangat ketakutan jika pria misterius itu akan melakukan sesuatu padanya.
Queenara menggigit tangan pria itu bersamaan dengan suara sang mama yang kini memanggilnya, Queenara berusaha untuk melepaskan cengkraman pria itu agar ia bisa berlari dan meminta pertolongan kepada orang-orang yang berada di dalam mansion utama.
"Aku harus melihat siapa wajah di balik masker itu." Queenara semakin mengeraskan gigitannya bersamaan dengan suara sang mama yang semakin mendekat.
Queenara berhasil melepaskan genggaman tangan pria itu dan langsung membuka masker yang menutupi wajah pria itu, dan betapa terkejutnya ia saat melihat siapa pelaku yang berusaha menyerangnya saat ini.
__ADS_1
Bersamaan dengan itu, kini pintu kamarnya pun terbuka lebar menampakkan sang mama yang kini terlihat begitu terkejut saat menatap ke arahnya.
Bersambung...