Pemilik Hati Brandal Tampan

Pemilik Hati Brandal Tampan
Bab 35


__ADS_3

Setelah menelepon seseorang yang bisa membantunya, kini Queenara sudah sedikit lebih tenang dan berharap bisa menyelesaikan masalah keluarga ini dengan sebaik mungkin seperti yang ia harapkan sebelumnya.


"Kita lihat saja sayangku, sampai kapan hatimu itu akan di penuhi kegelapan, aku Queenara tidak menerima kata tidak anggap saja kau pasien daruratku dan aku akan mengobati mu sampai tuntas." Queenara tersenyum penuh ketulusan menatap pintu kamar yang masih tertutup.


"Kita lihat saja sampai kapan dia akan bertahan mendiamkan aku." Gumam Queenara lirih.


"Buat sedikit kehebohan!" Queenara menjatuhkan gelas yang ada di meja dan menunggu berapa lama suaminya akan datang padanya.


"Kita tinggi sebentar lagi."


Setelah beberapa detik kemudian kini suara langkah kaki pun masuk ke dalam kamar tersebut, namun Queenara sedikit kecewa saat bukan suara suaminya lah yang datang melainkan suara sang pelayan villa tersebut.


"Gagal sudah rencanakan, di mana brandal itu berada?" Geram Queenara yang kini pura-pura tak sadarkan diri.


"Nona sepertinya sedang tidak sehat, cepat beri tahu tuan muda!" Teriak sang pelayan pada temannya.


"Tapi tuan muda tidak ada dimana pun aku sudah berusaha untuk mencarinya." Ucap sang teman pelayan itu, membuat Queenara semakin geram saat mendengarnya.


"Dasar kepala batu! kemana manusia itu pergi, apa dia meninggalkan aku setelah melakukan malam pertama, apakah dia menikahiku hanya untuk ini?" Berbagai macam pertanyaan buruk pun mulai muncul dalam benak dan pikiran Queenara terhadap suaminya.


Sedih, sudah pasti bagaimana tidak pria yang sangat begitu ia cintai entah pergi ke mana meninggalkan dirinya sendirian di tempat itu.


"Kalian boleh pergi, aku ingin sendirian saja." Ucap Queenara dengan nada sedihnya.


"Tapi nona, anda sepertinya membutuhkan tenaga medis untuk memeriksa kesehatan anda."

__ADS_1


"Tidak perlu, aku seorang dokter, aku tahu apa yang harus aku lakukan saat ini." Jawab Queenara lirih.


Sungguh ini terlalu menyakitkan bagi seorang wanita sepertinya yang di tinggalkan hanya karena masalah sepele, Queenara terus menangis tanpa henti sampai ia tertidur karena kelelahan.


***


Tak jauh berbeda dengan sang kakak yang tengah bersedih, sang adik pun sedang di landa kegalauan yang teramat menyedihkan dalam hidupnya.


Sampai saat ini Elbara masih belum bisa menemukan keberadaan Jasmine, ia benar-benar merasa sangat takut jika terjadi sesuatu pada gadis itu, namun sampai saat ini ia masih belum bisa menemukan keberadaannya.


"Bagai mana, apa kalian semua sudah menemukan keberadaan gadis itu?" Tanya Elbara kepada para anak buahnya.


"Belum tuan muda, aku rasa ada seseorang yang menyembunyikan nya dan tentu saja orang itu memilikimu kekuasaan yang tak biasa, hingga rekaman cctv pun tak bisa di tembus oleh hacker kita." Jawab Daniel menjelaskan panjang kali lebar.


"Apa anda yakin tuan muda, lalu bagai mana jika dia datang langsung pada keluarga anda, hal itu pasti akan sangat mempermalukan seluruh keluarga anda dan satu lagi posisi anda menjadi pewaris bisnis keluarga pun pasti akan tergoda karena nya." Daniel secara rinci mempertimbangkan keputusan demi keputusan yang harus di ambil oleh Elbara, karena Daniel lah yang memegang tanggung jawab langsung dari tuan Dion Sebastian yang tak lain adalah kakek Elbara.


"Lalu aku harus bagai mana, kenapa kau tidak mengerti juga Daniel, baiklah begini saja lakukan apapun yang ingin kau lakukan tapi ingat! jika kau sudah menemukan keberadaan gadis itu segera beri tahu aku." Ucap Elbara yang langsung pergi begitu saja meninggalkan Daniel dan markasnya.


Daniel mendengus kesal, banyak sekali pekerjaan yang harus ia selesaikan karena ulah tuan mudanya yang sangat begitu ceroboh melakukan sesuatu. "Aku yakin ini tidak semudah yang aku bayangkan." Ucapnya membatin.


Sedangkan kini Elbara mengendarai motornya membelah jalanan menuju mansion utama untuk menenangkan diri, perlahan ia akan mengatakan hal yang sejujurnya pada kedua orang tuanya dan Elbara pun siap menanggung hukuman apapun yang akan ia terima pada akhirnya nanti.


Elbara terlalu pokus pada jalanan yang ia lewati, hingga ia tak menyadari sebenarnya dirinya berada dekat dengan gadis ia cari kini menatapnya melalui jendela mobil.


"Aku tahu kau mencariku, tapi aku lebih memilih bersembunyi darimu aku berjanji tidak akan pernah mengganggumu di masa depan. Selamat tinggal Elbara, kau pria baik walau terkadang kau sering membuatku kesal, terimakasih sudah banyak membantuku." Jasmine tersenyum samar bersamaan dengan lampu yang kembali hijau.

__ADS_1


"Apa ada yang kamu pikirkan Jas?" Tanya pria yang duduk di sebelahnya.


"Tidak ada, cepat bawa aku bersamamu, sebelum ayah tiriku menemukan keberadaan ku, aku sungguh tidak suka bandot tua itu!" Geram Jasmine.


"Tenanglah, dia tidak akan pernah bisa menemukan keberadaan mu kau akan aman saat bersamaku. Jadi nona sekretaris, kau harus mematuhi perintah atasanmu ini." Pria yang berada di samping Jasmine sedikit menggodanya agar suasana di mobil itu tidak terlalu tegang.


"Ini masih di London belum sampai ke Amerika, jadi simpan saja kesombongan mu itu calon bos." Kekeh Jasmine sedikit memberikan cubitan gemas pada sahabat masa kecilnya yang selalu membantu dan menolong Jasmine saat dalam keadaan apapun.


"Jasmine, kenapa kau tidak menikah dengan ku saja? aku akan menjamin seluruh kebahagiaan mu, aku sungguh berjanji padamu kita akan hidup bahagia dengan beberapa anak dalam hidup kita." Ucap sang pria dengan penuh ketulusan.


Dia adalah Alvin Aldrich, seorang pengusaha muda pemilik tambang emas dengan ketampanan yang sangat sempurna di mata para kaum hawa, namun sejak dulu Alvin hanya mencintai satu orang wanita yang sangat begitu sulit ia taklukan yaitu sahabatnya sendiri, Jasmine.


"Aku tidak bisa, kau sahabatku dan sampai kapan pun akan tetap begitu, kau tahukan Alvin, bagiku cinta dan persahabatan memiliki dua sisi yang berbeda. Tapi walau bagai mana pun kamu tetap selalu ada di dalam hatiku Alvin."


"Meskipun aku tidak tahu, entah sejak kapan Elbara juga hadir dan mulai memiliki tempat khusus di hatiku, tapi yang pasti bagiku kalian adalah para malaikat yang dikirimkan tuhan untuk menolongku."


"Hello, ayo kita sudah sampai di bandara, jangan terlalu di pikirkan, aku hanya bercanda tadi." Ajak Alvin menarik tangan Jasmine keluar dari mobilnya menuju pesawat pribadi miliknya.


"Iya tunggu sebentar, tidak sabaran sekali sih." Kesal Jasmine yang kini mulai sedikit enggan meninggalkan negara itu.


"El, haruskah aku benar-benar pergi meninggalkan negara ini dan kenangan singkat kita? sebenarnya aku sangat ingin tetap bersamamu disini, tapi keselamatanku juga di pertaruhkan di negara ini."


Jasmine benar-benar merasa sangat ragu untuk pergi, namun Alvin terus menarik tangannya untuk masuk ke dalam pesawat, karena pesawat akan segera lepas landas.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2