Pemilik Hati Brandal Tampan

Pemilik Hati Brandal Tampan
Bab 22


__ADS_3

Tak jauh berbeda dengan sang kekasih, Leon pun menghampiri calon mama mertuanya seperti yang Queenara lakukan saat ini.


"Hallo selamat siang nyonya, maaf sudah membuatmu menunggu lama." Sapa Leon pada wanita paruh baya, yang masih terlihat cantik dan modis dengan wajah bak pinang di belah dua sangat begitu mirip dengan kekasihnya.


Mama Yumna melirik ke arah sumber suara dan menatap Leon dengan wajah yang sulit di artikan. "Cihh... Siapa bilang aku menunggumu?" Ketusnya.


"Pergilah! aku tidak ingin melihatmu, dan satu lagi jauhi putriku!" Ucap mama Yumna menekankan setiap kata-katanya.


"Aku tidak bisa menjauhi putrimu nyonya, aku sangat mencintainya dia adalah segalanya bagiku." Jawab Leon dengan mantap, membuat Yumna terlihat sangat begitu kesal dan langsung menggebrak meja yang ada di hadapannya.


"Cinta kamu bilang?" Mama Yumna tersenyum miring menatap pria muda yang ada di hadapannya.


Mama Yumna menarik tas nya dan pergi begitu saja meninggalkan Loen. Namun namun Leon tidak pernah menyerah begitu saja ia mengejar calon mama mertuanya, ia tak perduli kini semua orang menatapnya dengan tatapan aneh bagi Leon mendapatkan restu kedua orang tua kekasihnya adalah hal yang utama.


"Nyonya tunggu! kita belum selesai bicara." Leon terus membuntuti mama Yumna berharap jika wanita paruh baya itu bersedia untuk mendengarkan segala keluh kesah hidupnya selama ini.


"Nyonya, apakah salahku jika di lahirkan ke dunia ini dengan cara yang salah?" Ucap Leon yang langsung menghentikan langkah kaki mama Yumna.


"Nyonya jika aku bisa memilih, mungkin aku tidak ingin di lahirkan ke dunia ini. Apa kau tahu? bukan hanya dirimu yang merasa terkhianati, tapi aku pun merasakan hal yang sama, hatiku hancur berkeping-keping menyisakan luka yang sangat dalam di hidupku. Apa anda tahu nyonya, karena ulah ibuku semua orang membenciku, selama ini aku merasa hidupku gelap aku kesepian namun Queenara datang dan hadir dalam hidupku merubah segalanya." Kini Leon menyatukan kedua tangannya dan berdiri dengan kedua lututnya memohon pada mama Yumna.


"Kami saling mencintai, apakah cinta kami akan terhalang karena masa lalu kalian berdua? aku mohon padamu nyonya restui hubungan kami percayalah padaku bahwa aku juga bisa membahagiakan putrimu, aku akan menjamin segalanya yang ia butuhkan." Kini Leon pun bersujud di kaki calon mama mertuanya berharap jika ia mendapatkan restunya.


Mama Yumna memundurkan langkahnya, ia sungguh tak menyangka jika Leon akan melakukan hal itu bahkan di hadapan umum. Kini hati seorang ibu dalam dirimu pun merasa tergugah dan akan berjongkok untuk membangunkan Leon, namun seseorang lebih dulu membangunkan nya dan membuat Leon berdiri.


"Bangunlah nak, jangan hanya karena cinta kamu mempertaruhkan harga dirimu sebagai seorang pria, hal itu sungguh tidak cocok dengan bentuk tubuhmu ini."


"Tuan," Gumam Leon lirih.


"Sam, sejak kapan kau ada disini?" tanya mama Yumna pada suaminya, namun papa Samuel tak langsung menjawab pertanyaan nya.

__ADS_1


"Sam aku sedang bertanya padamu?" Mama Yumna kembali bertanya.


"Sayang, kita bicarakan hal ini di tempat yang lebih tertutup." Ajak papa Samuel yang langsung menggandeng tangan istrinya.


"Kamu ikut saya." Titah nya pada Leon.


"Sam,"


"Kita bicarakan semuanya di dalam saja." Jawab papa Samuel yang kini sedikit mempercepat langkah kakinya.


Begitu juga dengan Leon, yang kini berjalan di belakang ke dua orang tua kekasihnya masuk ke dalam sebuah ruangan VIP yang di pesan oleh papa Samuel.


"Duduklah." Papa Samuel menarik kursi untuk istrinya dan memberikan nya segelas air putih padanya.


"Sam apa semua ini?" Mama Yumna terlihat sangat begitu gugup dan khawatir karena suaminya sedikit mengacuhkannya.


Papa Samuel sudah mendengar semua cerita Leon dari putrinya, hingga hati seorang ayah pun mulai tergugah ia sungguh tak menyangka bahwa karena ulah mereka di masa lalu menjadi dampak buruk untuk seorang anak yang tidak berdosa.


Tak hanya itu, papa Samuel merasa sama bersalahnya karena ia tiba-tiba masuk ke dalam hubungan percintaan dua sejoli yang saling mencintai, walau hal itu karena perjodohan dari kedua orang tua mereka masing-masing.


"Nama saya Leon Aditya." Jawab Leon dengan sedikit tertunduk.


"Nam yang Bagus! Leon yang berarti singa, singa adalah raja hutan atau pemimpin jadi bersikaplah seperti seorang pemimpin jangan merendahkan dirimu hanya karena cinta." Papa Samuel memberikan ultimatum seperti pada putranya sendiri.


"Cinta memang membuat saya bodoh tuan. Tapi semua ini saya lakukan karena kesungguhan hati saya untuk meminang putri anda dan menjadikannya sebagai ratu dalam hidup saya." Ucap Leon dengan mantap.


"Semangat yang luar biasa, saya sangat menyukai nya. Jadi kapan kamu akan melamar putri saya?" Pertanyaan papa Samuel membuat mama Yumna menatap tak percaya pada suaminya.


"Sam apa maksudmu! apa arti semua ini?" Mama Yumna sedikit menaikan intronasi suaranya pada papa Samuel.

__ADS_1


Papa Samuel tidak menjawabnya, ia hanya memberikan segelas air pada mama Yumna agar istrinya merasa sedikit tenang. Namun berbeda dengan Leon yang merasakan ada sinyal-sinyal restu dari papa mertuanya.


"Sam jawab aku?!" Teriak mama Yumna memenuhi ruangan itu.


"Sayang, sekarang aku akan mulai bertanya padamu, apakah kau masih mencintai mantan kekasihmu itu?" Tanya papa Samuel dengan santai namun bagaikan belati yang menusuk tepat di jantung mama Yumna.


"Pertanyaan konyol macam apa itu?" Mama Yumna menatap wajah suaminya.


"Kalau begitu apa alasanmu mencegah hubungan mereka, bukankah semua manusia memiliki masa lalu? dengar Yumna, aku tidak ingin bayangan masa lalu kita menjadi gerhana dalam kehidupan putriku. Aku tidak sanggup melihatnya menangis memohon padaku hanya karena restu. Yumna pikirkan baik-baik tentang kebahagiaan putri kita."


"Tapi Sam," Mama Yumna ingin protes, namun papa Sam langsung mencegahnya dan memberikan kode agar ia tetap diam.


"Astaga, apa yang Samuel lakukan! mengapa dengan mudahnya ia menerima pemuda itu? aku memang sudah tidak memiliki perasaan apapun lagi pada uncle Liam, tapi bagai mana mungkin aku harus menjadi besannya." Mama Yumna terus bermonolog memikirkan segalanya yang membuat ia merasa pusing kepala.


Leon bisa dengan mudahnya mendapatkan lampu hijau dari calon papa mertuanya, namun berbeda dengan Queenara yang kini terlihat sangat kebingungan menghadapi sikap egois dan keras kepala calon ayah mertuanya.


"Aku rasa menghancurkan batu lebih mudah dari pada menghancurkan ego calon ayah mertua, lalu bagai mana dengan Leon? apakah misinya sudah berhasil dan bagai mana dengan papa apakah dia sudah memikirkan kata-kata ku?" Queenara terus bermonolog memikirkan hal yang membuat nya pusing tujuh keliling.


"Andai saja ego itu nyata seperti sebuah sebuah penyakit, mungkin aku sudah melakukan pembedahan untuk membuangnya jauh dari kepala calon ayah mertua." Gumam Queenara lirih.


"Apa kau mengatakan sesuatu?" Tanya tuan Liam dengan kening megkerut.


"Tidak ada." Jawab Queenara singkat.


"Kalau begitu aku permisi." Ucapnya yang kini langsung berdiri dan meninggalkan Queenara begitu saja.


"Uncle tunggu!" Queenara sedikit berlari mengejar tuan Liam.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2