
Mama Yumna melangkahkan kakinya menghampiri Queenara yang terlihat sangat begitu cemas.
"Nak, semuanya baik-baik saja kan?" Tanya mama Yumna yang membuat Queenara semakin gugup bahkan kini keningnya pun mulai di banjiri keringat dingin.
"Iya ma, semuanya baik-baik saja." Jawab Queenara sedikit terbata-bata.
"Hmm... Baiklah kalau begitu, sekarang bersiaplah akan ada acara pemotretan untuk foto preweeding." Mama Yumna memberikan sebuah dress pada Queenara kemudian membelai rambut sang putri dan sedikit memberikan wejangan, agar Queenara tidak terlalu gugup dan khawatir di hari pernikahannya.
"Ingat nak, pernikahan adalah hal yang sangat sakral jadi jika ada sesuatu di antara kalian nanti, selesaikan secara baik-baik jangan pernah mengambil keputusan tergesa-gesa. Ya, walau pun sebenarnya mama masih tidak menyangka jika asisten Lia yang menjadi besan mama." Ucap mama Yumna dengan wajah yang sulit di artikan.
"Asisten Lia?" Queenara mengulang kata-kata sang mama dengan kening mengerut.
"Sudahlah lupakan saja, sekarang ayo bersiaplah sebentar lagi Leon akan datang menjemputmu." Mama Yumna langsung berdiri bersiap akan segera pergi meninggalkan ruangan itu.
Queenara bernafas lega. "Bagai mana sebentar lagi, saat ini dia bahkan sudah sampai disini dan membuatku hampir mati karena ulahnya." Ucap Queenara membatin.
Sedangkan sang pelaku yang bersembunyi di bahawah ranjang Queenara hanya tersenyum manis dan sedikit menggoda kekasihnya, dengan mengedipkan sebelah matanya pada Queenara yang terlihat sangat begitu kesal.
"Dasar menyebalkan." Geram Queenara yang langsung membuat langkah kaki sang mama terhenti.
"Nak, apa kamu mengatakan sesuatu?" tanya mama Yumna yang kini kembali berbalik menatap wajah putrinya.
"Tidak ada ma, Queen akan bersiap-siap sekarang juga." Jawab Queenara dengan cepat.
"Kalau begitu lakukanlah, waktunya sangat mepet sekali." Ucap mama Yumna yang kini duduk di sofa dengan santainya.
"Lho, mama tidak keluar?" Queenara terlihat kelimpungan sendiri.
"Astaga bagai mana jika mama melihat Leon ada disini? bisa hancur dunia persilatan. Apa yang harus aku lakukan sekarang! ayo cepat pikirkan Queenara." Batin Queenara menjerit kebingungan.
"Kenapa diam saja? ayo cepat ganti bajunya sekarang." Seru mama Yumna yang kini mulai membaca buku majalah yang ada di atas meja.
__ADS_1
"Baik ma," Queenara mulai berjalan ke arah kamar mandi untuk mengganti pakaiannya, namun kini langkahnya terhenti saat mama Yumna kembali memanggilnya.
"Queenara kamu mau kemana?" Tanya mama Yumna dengan wajah bingungnya.
"Mama bercanda, tentu saja Queen mau ganti pakaian, kemana lagi?" Jawab Queenara menahan kegugupannya.
"Iya mama tahu, tapi kenapa harus di kamar mandi? itu terlalu lama ganti disini saja." Ucap mama Yumna yang langsung membuat Queenara terbelalak saat mendengarnya.
"Tapi ma,"
"Kamu tidak perlu malu, kita sama-sama wanita, lagi pula kenapa harus malu? mama juga yang melahirkan dan mengurus kamu sampai sebesar ini." Jawab sang mama dengan entengnya.
"Astaga bagai mana mungkin aku menganti pakaian di hadapannya." Queenara menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kini ia menatap Leon yang sedang tersenyum dan menangkup kedua pipinya untuk menunggu Queenara melakukan apa yang di perintahkan mamanya.
"Dasar pria mesum." Kesal Queenara yang langsung melemparkan selimut ke arah Leon untuk menutupinya agar tidak melihat dirinya saat berganti pakaian.
Namun kini aktivitas nya terhenti saat mendengar suara sang papa yang sedang mencari keberadaan mama Yumna.
"Akhirnya." Queenara menghela nafas lega saat sang mama keluar dari kamarnya, begitu pun dengan Leon yang langsung keluarga dari tempat persembunyian nya.
"Leon apa yang kau lakukan disini, harusnya kau tidak masuk kedalam kamarku bagai mana jika mama tahu tadi, mama pasti akan sangat marah dan berpikir hal yang lain tentang kita dan," Ucapan Queenara terhenti saat Leon membungkam bibir kekasihnya dengan ciuman manis, bahkan kini Leon sedikit memberikan lum-atan yang membuat Queenara merasa terbang melayang.
Leon tersenyum saat melepaskan tautan bibirnya dan mengusap lembut bibir kekasihnya yang terlihat basah karena ulahnya. "Manis sekali." Kekeh Leon saat melihat ekspresi wajah Queenara yang terlihat begitu menggemaskan di matanya.
"Kau sangat menyebalkan!" Queenara sedikit mendorong tubuh kekasihnya.
"Sayang aku sangat merindukanmu." Leon memeluk tubuh Queenara dari belakang dan menggosokan hidung mancungnya di pundak sang kekasih.
"Leon hentikan, jangan lakukan itu." Queenara merasa geli karena ulah kekasihnya.
"Leon kita akan menikah malam nanti sebaiknya kau pergilah, bukankah sebentar lagi kita akan melakukan pemotretan." Queenara mulai membalikan tubuhnya menatap wajah tampan calon suaminya.
__ADS_1
"Aku bisa melakukan pemotretan sendiri dan kita bisa melakukan disini." Ucap Leon yang kini memeluk erat pinggang kekasihnya.
"Kau sangat menggemaskan." Leon kembali mengecup bibir kekasihnya untuk mengurangi rasa rindu yang sudah ia tahan sejak semalam.
"Hentikan! jangan terus menggodaku." Queenara tersenyum malu-malu menahan rasa senang yang ada di dalam hatinya.
"Queenara apa semuanya sudah selesai nak?" Suara cempreng sang mama Yumna kini kembali terdengar membuat Queenara dan Leon terkejut.
"Leon pergilah kita lanjutkan ini nanti saja!" Queenara mendorong tubuh kekasihnya kearah balkon.
"Sebentar ma, aku akan segera datang!" Teriak Queenara dengan sangat keras membuat telinga Leon terasa berdenging karenanya.
"Astaga sayang suaramu hampir merusak gendong telingaku." Leon menggosok telinganya.
"Tidak ada waktu lagi Leon, maaf aku harus melakukan hal ini sekarang." Queenara menendang tubuh Leon agar keluar dari kamarnya dan mengunci pintu balkon agar Leon tidak kembali masuk dan mengganggu nya.
"Argghh.. Sayang, aku tidak percaya dia akan. melakukan hal ini padaku." Leon mengusap lututnya yang terbentur lantai balkon.
"Untung cinta kalau tidak. Huhh... Lihat saja malam nanti aku tidak akan pernah melepaskan mu begitu saja." Gumam Leon dengan senyuman penuh arti.
***
"Daniel, apa semuanya sudah selesai? aku sudah sangat bosan sekali berdiam disini, harusnya saat ini aku menghancurkan pesta pernikahan ini. Tapi jika aku melakukan nya kakak pasti akan membunuhku."
"Aishhh... Sangat menyebalkan! sekarang brandal gila itu pasti sangat bahagia sudah mengalahkan aku." Geram Elbara yang terus mengomel tidak jelas memperhatikan para pendekor ruangan pernikahan yang akan di selenggarakan malam nanti.
"Semuanya sudah selesai tuan muda, kita bisa kembali ke mansion utama sekarang, karena disana masih ada yang belum di hias." Jawab Daniel yang kini membereskan bunga-bunga yang akan di pajang di altar pernikahan.
"Kau saja yang lakukan, aku tidak sudi melakukan hal itu jika bukan karna hukuman kak Queen mungkin sekarang aku sudah pergi meninggalkan tempat menyebalkan ini." Ucap Elbara dengan wajah kesalnya.
"Tunggu! sepertinya aku harus sedikit memberikan pelajaran yang indah untuk brandal gila itu. Anggap saja ini sambutan untuk kakak ipar dari adik ipar yang menggemaskan ini." Seru Elbara yang mulai merencanakan sesuatu untuk calon kakak ipar sekaligus musuh bebuyutan nya.
__ADS_1
Bersambung..