Pemilik Hati Brandal Tampan

Pemilik Hati Brandal Tampan
Bab 48


__ADS_3

Setelah perdebatan panjang di antara Jasmine dan mama Yumna, kini akhirnya Jasmine mengalah dan kini ia pun sudah sah menjadi menantu keluarga Sebastian.


"Mama harap kalian berdua menjadi pasangan yang saling melengkapi kekurangan pasangan kalian, dan pesan mama sama seperti yang pernah papa katakan jangan mengambil keputusan apapun saat sedang marah." Ucap mama Yumna panjang lebar.


"Mama benar, El kau pun harus lebih dewasa sekarang kau susah menjadi seorang suami sekaligus kepala keluarga." Timpal Queenara yang kini menghampiri adik iparnya.


"Selamat untukmu adik ipar semoga kau betah dengan anak nakal itu." Kekeh Queenara sedikit menggoda adik iparnya.


Jasmine hanya tersenyum memeluk Queenara dengan sangat erat. "Kak apakah aku boleh mengelus perutmu?" Jasmine menetap perut Queenara yang sudah mulai membuncit.


"Tentu saja." Queenara menarik tangan Jasmine dan mengarahkan nya ke memegang perut buncitnya dengan penuh senyuman.


Namun tak jauh dari mereka berdiri Leon menatapnya dengan tatapan tak rela.


"Apakah dia bergerak kak?" Jasmine terlihat sangat begitu senang dan antusias saat merasakan gerakan-gerakan halus di perut kakak iparnya.


"Iya ini adalah minggi ke dua puluh empat mereka mereka sangat aktif didalam sana." Queenara tersenyum ikut mengelus perutnya.


"Mereka, apa maksud kakak mereka twins?" Jasmine menatap tak percaya pada perut buncit kakak iparnya.


"Wah.. benarkah.. Aku akan memiliki keponakan twins, ini akan sangat menyenangkan." Seru Jasmine dengan hebohnya.


Mama Yumna dan semua orang yang berada di ruangan itu pun tersenyum melihat tingkah lucu menantu baru keluarga Sebastian yang terlihat sama seperti nenek Mia ceria dan polos.


"Dia mengingatkan aku pada mu sayang, kau dan cucu menantu tidak jauh berbeda." Ucap kakek Erik yang langsung mendapatkan cubitan gemas dari istrinya yang kini terlihat memerah karena malu.

__ADS_1


Tak hanya sesepuh keluarga Mahesa, Elbara pun teringat sangat senang dan bahagia melihat istrinya yang tersenyum bahagia.


Namun berbeda dengan Leon yang terlihat sangat begitu kesal saat melihat Jasmine terus mengelus perut istrinya. "Kenapa orang lain di izinkan untuk mengelus perutnya, sedangkan aku sudah beberapa hari ini tidak di izinkan untuk berdekatan dengannya bahkan aku harus tidur di sofa dan kedinginan sepanjang malam. Aku tidak terlalu memahami keinginan wanita hamil yang selalu bertingkah sesukanya tanpa mempedulikanku, malangnya nasib suami yang teraniaya ini." Leon terus menggerutu tidak jelas membuat papa Samuel yang ada di sampingnya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Kau tahu, aku pun pernah mengalami hal yang sama saat mama mu mengandung istrimu itu adalah cobaan terberat yang pernah aku rasakan." Ujar papa Samuel membuat Leon tercengang mendengar nya.


"Wahh benarkah? lalu apa yang papa lakukan?"


"Tidak banyak hanya bersabar dan menuruti semua keinginannya itu jalan paling aman tapi,"


"Tapi apa?" Leon mengerutkan keningnya saat papa mertuanya tak melanjutkan ucapanya lagi.


"Kau akan memahaminya nanti." Papa Samuel menepuk pundak Leon dan pergi karena ponselnya terus berdering.


"Ckk.. membuat aku penasaran saja." Leon mendengus kesal dan kini ia pun mulai melangkahkan kakinya menghampiri sang istri yang masih asik mengobrol dengan adik iparnya.


"Sayang! tunggu kau mau kemana?" Leon sedikit berteriak ia benar-benar merasa sangat kesal dan cemburu karena terus fi acuhkan tanpa tahu apa kesalahan yang sudah ia lakukan.


Kini suara gelak tawa seseorang membuat Leon menoleh ke arah sumber suara. "Kenapa kau menertawakan aku!" Ketusnya.


"Menertawakan mu? siapa? percaya diri sekali kamu." Jawab Elbara dengan wajah mengejeknya.


"Diam kau! kau pikir aku tidak tahu isi otak kecilmu itu dasar bocah tengik." Leon semakin terlihat emosi saat melihat wajah menyebalkan Elbara yang benar-benar membuatnya semakin kesal.


Ingin sekali Leon mendaratkan bogem mentah di wajah adik iparnya, namun ia tahan dan lebih memilih pergi meninggal ruangan itu dan menghampiri istrinya.

__ADS_1


"Kakak iparku memang bodoh, membujuk istri sedang marah saja dia tidak bisa." Ucap Elbara yang kini masih menertawakan kebodohan Leon, namun detik berikutnya Elbara menjerit kesakitan saat telinganya di tarik oleh seseorang yang kini sedang berkacak pinggang di hadapannya.


"Mama apa yang mama lakukan, mengapa mama menarik telingaku?" Elbara mengusap telinganya yang terasa panas.


Sedangkan papa Samuel hanya tertawa melihat ekspresi putranya saat ini. "Sam urus putramu aku sudah sangat lelah melihatnya terus saja mencari masalah dengan kakak iparnya, entah seperti apa jika Queenara tahu tentang hal ini." Mama Yumna pun berjalan keluar dari ruangan tersebut meninggalkan ayah dan anak yang kini terdiam mematung di tempatnya.


"Ini semua salahmu, karena kau membuat mama mu kesal aku juga yang kena getahnya entah apa yang para wanita keluarga kita pikirkan saat ini." Ucap papa Samuel yang kini lebih memilih duduk di samping putranya.


"Aku rasa mereka semua sedang datang bulan, bukankah para wanita akan sangat sensitif jika sedang datang bulan?" Jawab Elbara dengan wajah santainya.


"Dasar konyol mana ada orang hamil datang bulan!" Papa Samuel melemparkan bantal sofa ke arah putranya.


Dengan cepat Elbara menangkis lemparan sang papa. "Yang sedang hamil hanya kakak saja mungkin mama yang sedang datang bulan karena sejak tadi aku terus saja kena sasaran padahal aku sendiri tidak melakukan apapun." Elbara mulai merebahkan tubuhnya di sofa dan mulai memejamkan matanya berpikir bagai mana caranya menyatakan cinta pada istrinya. Sedangkan yang ia tahu saat ini Jasmine juga tengah kesal padanya karena sudah menyetujui pernikahan ini dan melanggar janji pertemanan di antara mereka berdua.


"El lebih baik kau ajak istrimu, papa pun harus membujuk mama mu agar ia merasa tenang lagi pula ini sudah mulai larut dan nikmati saja malam pernikahan mu." Ucap papa Samuel yang kini mulai berdiri meninggalkan putranya.


"Malam pernikahan. Ya papa benar tapi papa tidak tahu saja jika menantu baru kalian sudah mulai mengibarkan bendera peperangannya." Elbara mendengus kesal dan tak perduli dengan perkataan sang papa.


***


Di tempat lain Leon masih terus berusaha membujuk sang istri agar tak mengacuhkannya lagi, namun Queenara masih tetap membisu berpura-pura tak mendengar rengekan suaminya karena ia masih sangat kesal pada Leon karena beberapa hari ini seorang wanita terus berusaha menghubungi Leon bahkan Leon mengangkat panggilan itu dengan sembunyi-sembunyi darinya.


Marah cemburu dan curiga membuat Queenara merasa lebih baik mengacuhkan suaminya, ia menekan rasa marah yang ada dalam dirinya agar tidak meledak dan mengatakan hal-hal yang tidak baik pada Leon dan hal itu pasti akan di dengar oleh calon bayinya.


Di saat Leon tengah merayu istrinya kini dering ponsel Leon pun terus berbunyi, dengan cepat Leon pun sedikit menjauhkan dirinya dari sang istri, membuat Queenara semakin merasa curiga dengan tingkat suaminya.

__ADS_1


"Leon apakah kau mulai mengkhianati aku?" Gumam Queenara lirih.


Bersambung...


__ADS_2