
Setelah semua urusan pekerjaan nya yang sempat terganggu selesai, kini Leon kembali ke kamarnya dengan sedikit mengendap-endapan karena takut mengganggu istirahat istrinya.
Namun, ia sungguh tak menyangka saat membuka pintu kamar tersebut mendengar suara tangisan istrinya yang sangat begitu pilu menyayat hati.
"Sayang! ada apa, mengapa kau menangis?" Leon sedikit berlari menghampiri istrinya yang kini tengah menangis menyembunyikan wajahnya di balik kedua lututnya.
Leon mengangkat tubuh lemah istrinya dan membawanya ke atas ranjang, lalu menghidupkan lampu kamar tersebut.
"Hiks... Hiks.. Kau ini kemana saja? Aku sungguh mencari keberadaan mu, tapi kau tak kunjung kembali? apa kau mau meninggalkan aku?" Tanya Queenara masih sedikit terisak meluapkan segala kesedihan yang ada di dalam hatinya saat ini.
"Sayang mengapa kau berpikir seperti itu? aku bahkan tidak pergi kemana pun, aku ada di villa ini. Astaga! maafkan aku, aku melupakan waktu hingga tanpa sadar ini sudah jam berapa? Sayang aku baru saja menyelesaikan pekerjaan ku, karena Anthony mengatakan ada sedikit masalah di pabrik jadi."
"Katakan sesuatu saat kau pergi, jangan membuatku berpikir bahwakau akan pergi jauh dariku, sungguh hatiku terlalu lemah untuk hal semacam ini." Pinta Queenara yang enggan melepaskan pelukannya dari sang suami.
"Maaf, baiklah nyonya Leon hukuman apa yang harus aku terima agar membuatmu merasa tenang?"
"Aku lapar.." Ucap Queenara sedikit malu-malu. Hal itu membuat Leon semakin merasa sangat bersalah karena sudah meninggalkan istrinya terlalu lama.
Kini pandangannya tertuju pada deretan makanan yang sudah tak layak di makan berada di atas nakas. "Aku akan memasa, sesuatu untukmu, apa kau mau ikut sayang?" Tanya Leon yang langsung mendapatkan anggukan kepala dari sang istri.
Queenara sungguh tidak ingin jika ia kembali di tinggalkan oleh suaminya, namun kini ia pun merasa sangat lega karena apa yang ia pikirkan sungguh tidak terjadi.
"Leon maaf aku sempat berpikir buruk tentang dirimu." Ucap Queenara yang kini berada dalam gendongan sang suami yang sedang menuruni tangga.
"Tidak masalah, lagi pula aku yang salah tidak memberikan hal ini sebelumnya." Jawab Leon yang kini menghadiahkan kecupan singkat di kening sang istri.
"Semuanya baik-baik saja." Leon tersenyum dan mendudukan sang istri di atas meja, sedangkan ia mulai sibuk dengan berbagai macam bahan masakan yang akan ia buat untuk sang istri.
Setelah beberapa menit berkutat di dapur, kini beberapa menu pun sudah di sajikan oleh Leon di atas meja makan.
"Aku tidak menyangka ternyata kamu pandai memasak juga." Ucap Queenara dengan senyuman manisnya menatap makanan yang terlihat sangat begitu menggugah selera.
__ADS_1
"Ayo aku suapi,"
"Aku akan memakannya sendiri, lagi pula kau juga pasti merasa sangat lapar dan lelah sudah memasak begitu banyak makanan untukku." Queenara mengambil alih sendoknya dan mulai menyuapi sang suami dengan sangat begitu mesra.
***
Setelah liburan yang cukup panjang dan banyak drama di dalamnya, kini Queenara dan Leon pun kembali ke tanah air mereka dengan perasaan hangat dan bahagia.
Ya, walaupun Leon benar-benar tidak bisa mengubah keputusan sang istri untuk tinggal di rumah nenek Sofia karena berbagai macam alasan yang mau tidak mau Leon pun pasrah menuruti keinginan sang istri.
"Apa semuanya sudah siap sayang?" Tanya Leon saat Queenara masih berada di dalam kamar membereskan barang-barangnya.
"Tentu saja sudah, tapi sebelum kita pulang aku ingin kita mampir ke kota untuk memberikan buah tangan untuk keluarga besar kita."
"Baiklah lakukan apapun yang ingin kau lakukan, tapi ingat jangan sampai kelelahan." Leon mencolek hidung mancung istrinya dengan gemas.
"Jangan lakukan itu." Queenara mengerucutkan bibirnya membuat Leon semakin bertambah gemas melihat tingkah lucu istrinya.
"Kenapa kau selalu menggodaku dengan bibir ini." Leon tak kuasa untuk menahan dirinya agar tidak terjebak dengan ramuan istrinya, namun karena cintanya yang terlalu besar membuat apapun yang di lakukan Queenara adalah hal yang sangat luar biasa bagi Leon.
"Sayang apa semuanya sudah selesai?" Tanya Leon dengan wajah lemasnya.
"Tunggu sebentar hanya lima menit saja."
"Tapi sayang,"
"Hanya lima menit Leon!" Queenara mendorong trolinya terus mengisi dengan barang-barang yang menurutnya keren dan bermanfaat.
"Lima menit dia bilang, tapi entah lima menit yang keberapa?" cerocos Leon yang kini menatap jam rolex di pergelangan tangannya.
"Sayang kita tidak bisa menunggu terlalu lama lagi disini, lihatlah kau hampir mengisi trolimu dengan semua barang yang ada disini, lalu bagai mana caranya kita membawa semua ini?" Leon menggaruk tengkuknya yang tidak gatal menatap sepuluh troli yang sudah berisi berbagai macam makanan dan alat-alat yang Leon sendiri pun tak tahu apa fungsinya.
__ADS_1
Sedangkan Queenara hanya nyengir kuda menatap semua barang-barang yang ia ambil tanpa sadar. "Hee... Baiklah aku akan sedikit mengurangi nya dan mengembalikan barang-barang itu ke tempatnya." Ucap Queenara yang langsung membuat Leon mencium pipinya dengan gemas.
"Itu tidak perlu, aku akan segera membayarnya dan kita akan segera pulang dari tempat ini." Leon merangkul pinggang istrinya dan mendudukan nya di kursi, sedangkan dirinya pergi ke kasir untuk membayar belanja istrinya.
Setelah selesai membayar kini Leon pun menatap panjangnya struktur nota pembayaran yang seakan tiada ujungnya.
"Owhh... Astaga, aku sungguh tidak menyangka jika istriku memiliki hobi yang sangat unik." Gumam Leon lirih.
Kini ia pun kembali ke tempat dimana ia meninggal sang istri yang kini sedang tertidur dengan pulasnya.
Tanpa banyak kata-kata lagi, kini Leon pun membawa istrinya pergi meninggalkan tempat itu.
Queenara tertidur sangat begitu pulas hingga ia tak merasa terusik sedikit pun saat Leon membawanya dari tempat itu menuju pesawat.
Dalam perjalanan pulang Leon terus terjaga menatap wajah cantik istrinya yang masih terlelap, hingga dengkuran halus pun terdengar sampai ditelinga Leon.
"Tuan apa anda butuh sesuatu?"
"Tidak terima kasih."
"Aku tidak membutuhkan apapun lagi saat istriku ada bersama denganku." Gumam Leon yang kini juga ikut terlelap.
Setelah menempuh perjalanan cukup panjang kini Leon dan Queenara pun sampai di tanah airnya. Beberapa mobil pun sudah menyambut kedatangan mereka.
"Kenapa banyak sekali mobil yang menjemput kita?" Tanya Queenara dengan wajah bingungnya.
"Sayang apa kau melupakan sesuatu?"
"Apa itu?" Queenara benar-benar tidak mengerti dengan apa yang sedang di ucapkan suaminya.
"Lihatlah ke arah sana." Leon mengarahkan wajah sang istri pada tumpukan paper bag yang sedang di keluarkan dari pesawat oleh anak buahnya.
__ADS_1
"Astaga, sebanyak itu?" Queenara terbelalak melihat hasil ulahnya sendiri.
Bersambung..