
Brakk...
Suara benda terjatuh dengan teriakan seseorang, membuat tuan Liam menghentikan langkah kakinya dan melihat ke arah sumber suara.
"Apa kamu tidak melihat, apa matamu buta." cecar seorang wanita paruh baya yang kini berkata sangat begitu kasar pada Queenara.
"Maaf nyonya, saya terburu-buru tadi, biar saya akan menggantinya." Queenara terlihat sedikit ketakutan saat melihat betapa marahnya wanita paruh baya yang tak sengaja ia senggol itu.
"Sombong sekali kamu! apa kamu mampu mengganti pakaian yang kotor ini? penampilan kamu saja tidak meyakinkan." Ucap wanita itu lagi.
"Astaga, mulutnya sangat pedas sekali dia belum tahu saja siapa aku ini." Geram Queenara dalam hatinya.
"Tentu saja, anda tinggal menyebutkan berapa nominalnya saya akan mentransfer nya sekarang juga." Jawab Queenara dengan santainya.
"Cihh... Pakaian mu saja tidak meyakinkan bahwa dirimu memiki uang." Wanita itu tersenyum miring menatap Queenara dengan tatapan merendahkan.
Queenara mulai merasa sangat kesal dengan ejekan wanita di hadapannya, namun sebisa mungkin ia menahannya. Queenara menarik nafasnya secara perlahan.
"Nyonya apakah penampilan seseorang bisa menjamin dia punya uang atau tidak? bukankah di jaman sekarang banyak orang-orang yang berlomba memamerkan hartanya, namun kenyataannya mereka tak memiliki apapun, bahkan banyak sekali orang bergaya sosialita karena menuruti gengsinya tapi memiliki banyak hutang."
"Kamu ya! apa kamu mengejek saya!" Wanita paruh baya itu sedikit tersinggung dengan apa yang di katakan oleh Queenara. Karena terlalu kesal wanita itu pun akan melayangkan tangannya pada Queenara, namun seseorang mencegahnya menggengam tangan wanita itu dengan erat.
"Hehh.. Siapa kamu! lepaskan aku! jangan ikut campur dengan urusanku." Wanita paruh baya itu pun menarik tangannya di genggaman tuan Liam.
"Mommy! mommy!" Teriak seorang pemuda bertubuh tegap yang kini berlari dengan nafas yang terengah-engah.
"Mommy ada apa ini?" tanya sang putra pada wanita paruh baya itu.
"Lihatlah baju mahal mommy basah dan kotor karena ulah gadis sombong itu!" Tunjuk nya pada Queenara.
"Dokter Queen!" Seru pria muda itu yang kini langsung mendekat ke arah Queenara. Namun dengan cepat tuan Liam mencegah tubuh pria itu.
"Apa?! Dokter Queen, apa dia yang kamu maksud wanita yang kamu sukai nak, Dokter Queenara putri dari keluarga Sebastian?" Pekik wanita paruh baya itu yang kini menutupi mulutnya tak percaya.
"Iya." Jawab sang putra dengan singkat.
"Owhh... Astaga, maafkan mommy ya sayang tadi mommy hanya bercanda, jangan di masukan ke hati, kamu adalah tipe menantu ideal mommy." Wanita paruh baya itu pun mulai berjalan mendekat ke arah Queenara dengan raut wajah di buat semanis mungkin.
"Dokter Mike, saya akan meminta papa memindahkan anda ke luar kota!"
"Apa? tapi dokter Queen saya,"
"Disini ada uang satu miliar, kalian ambil dan jangan mengganggu menantuku lagi!" Tukas tuan Liam, yang kini memberikan sebuah kartu pada wanita paruh baya itu dan membawanya Queenara pergi meninggalkan ibu dan anak yang kini tengah beradu argumen.
Queenara tersenyum senang saat mendengar kata menantu dari bibir pria paruh baya yang sedang menuntunnya kelur dari tempat itu.
__ADS_1
"Aku tidak salah dengar kan, apa itu artinya?" Queenara sangat merasa senang dengan apa yang baru saja di dengarnya.
"Hmm.. Apakah anda sudah merestui hubungan kami?" Tanya Queenara yang kini langsung menghentikan langkah kaki tuan Liam.
"Menurutmu bagai mana?" Jawab tuan Liam dengan wajah datarnya.
"Astaga Bongkahan batu es ini, dia kadang menyebalkan! walau wajahnya hampir mirip dengan Leonku tapi sikap mereka jauh berbeda." Batin Queenara bermonolog.
"Saya seorang perempuan uncle, saya butuh jawaban yang pasti. Kami saling mencintai, dan hubungan ini tidak akan berjalan dengan lancar seperti yang kami inginkan jika tanpa restu dari kalian." Ucap Queenara dengan lembut namun begitu tajam menyayat hati tuan Liam, kata-katanya bahkan mengingatkan kisah percintaan nya dengan sang kekasih di masa lalu.
"Jika memang kalian tidak merestui hubungan di antara kami tidak masalah, mungkin kami di takdirkan tidak berjodoh. Terima kasih untuk waktunya, uang yang anda keluarkan untuk wanita tadi saya akan membayarnya kembali." Queenara pun pergi meninggalkan tuan Liam yang kini berdiri mematung di tempatnya.
"Queenara tunggu!" Tuan Liam berbalik namun ia sudah tak melihat siapapun lagi disana.
"Kemana gadis itu pergi?" Liam terlihat sedikit kebingungan mencari keberadaan kekasih putranya.
"Dia pasti salah mengartikan ucapanku." Gumam tuan Liam yang kini mulai berjalan untuk menghampiri keberadaan Queenara untuk menjelaskan nya.
***
"Bagai mana apa misinya berhasil?" Tanya Queenara yang kini sedang berbicara dengan Leon lewat sambungan teleponnya.
"Sayang aku akan melamar mu secepatnya!" Pekik Leon yang kini terlihat sangat begitu bahagia.
"Apa?! apakah mama,"
"Haahh.. Entahlah," Queenara mulai menunjukkan wajah sedihnya.
"Sayang kamu dimana, aku akan segera menemui mu."
"Aku di jembatan yang sama, saat kau melakukan hal konyol itu." Jawab Queenara dengan sedikit malu-malu.
"Hmmm.. Kau disana, apakah kau sedang bernostalgia?" Leon sedikit menggoda kekasihnya.
"Aku akan menemui mu sekarang juga, jangan pergi kemana pun sebelum aku datang." Ucap Leon yang langsung mematikan sambungan teleponnya.
"Leon! Leon! ckk... Dasar pria ini, senang sekali membuat ku kesal." Sesuai permintaan Leon, kini Queenara pun mulai menunggunya di pinggir jembatan melihat derasnya air sungai.
Lama menunggu, namun Leon tak kunjung datang hingga Queenara mulai merasa bosan terus berdiri di sana. Queenara menaikkan satu kakinya di pagar pembatas hal itu terlihat oleh tuan Liam yang sedang melintas di tempat itu.
Tuan Liam berpikir jika gadis itu akan mengakhiri hidupnya melompat dari jembatan. Dengan cepat tuan Liam menepikan mobilnya dan sedikit berteriak meminta Queenara untuk tidak melakukan hal yang konyol.
"Queenara! hentikan apa yang kamu lakukan disana, ayo cepat kemari dan turunlah." Pinta tuan Liam yang kini segera berlari menghampiri calon menantu nya.
"Queenara jangan melakukan hal konyol hanya karena cinta, apalagi sampai melakukan hal-hal yang merugikan dirimu sendiri." Teriak tuan Liam yang kini semakin mendekat ke arah Queenara.
__ADS_1
"Apa maksud papa Leon, apa dia berpikir aku akan melompat dari sini?" Queenara mengerutkan keningnya penuh kebingungan.
"Yeaahhh sepertinya membuat sedikit kehebohan dengan calon papa mertua asyik juga." Queenara menahan senyuman dan mulai menaikan kedua kakinya di pembatas itu.
"Uncle jangan mendekat! atau aku akan benar-benar melompat dari jembatan ini." Ucap Queenara memperingatkan.
"Baik! tapi kau harus turun dari sana sekarang juga." Pinta tuan Liam yang kini mulai menghentikan langkah kakinya agar Queenara tak melakukan hal yang lebih nekat lagi.
Kini Leon pun sampai di tempat tujuannya dan betapa terkejutnya saat ia melihat kekasihnya yang kini duduk di pagar pembatas.
"Sayang! apa yang kamu lakukan disana?" Leon merasa seperti tak berpijak saat ini.
"Kamu juga jangan mendekat Leon, jika memang cinta kita tidak bisa bersatu lalu untuk apa aku hidup. Mencintai tanpa mendapatkan restu itu sakit Leon sakit!" Ucap Queenara penuh drama.
"Leon sebaiknya kita selesaikan masalah ini secepatnya, hubungi kedua orang tuanya sebelum gadis itu melakukan hal yang nekat." Pinta Tuan Liam pada putranya.
"Cepatlah! kenapa kau hanya diam saja." Geram tuan Liam saat melihat putranya hanya diam dan mematung menatap nya aneh.
"Ckk... Mereka itu sedang makukan apa sih? aku sudah sangat pegal duduk disini, bagai mana jika aku jatuh? bukan langsung menikah tapi mungkin aku akan pergi ke alam yang berbeda." Queenara mulai merinding menatap air sungai yang begitu deras.
Tak lama kemudian mobil papa Samuel pun tiba di tempat itu dengan mama Yumna yang langsung keluar dari dalam mobil dengan wajah khawatir nya.
"Queen, apa yang sedang kamu lakukan disana nak? ayo cepat kemarilah! itu sangat berbahaya. Bukankah kamu ingin menikah dengan kekasihmu?" Teriak mama Yumna dengan deraian air matanya.
"Bagai mana aku menikah? bukankah kalian tidak merestui hubungan kami?"
"Kamu salah nak, papa sudah meminta Leon untuk segera melamarmu." Timbal papa Samuel yang terlihat begitu khawatir.
"Iya kami semua sudah merestui hubungan kalian, jadi turunlah nak." Tuan Liam pun mulai membuka suaranya.
"Apakah kalian semua tidak membohongi aku?" Queenara menahan rasa senang di dalam hatinya.
"Yes.. Akhirnya aku bisa menikah juga!" Guman Queenara.
"Bagai mana caranya aku bisa percaya jika kalian semua tidak membohongi aku?"
"Leon cepat keluarkan cincin nya!" Pinta tuan Liam yang kini menendang kaki putranya yang langsung membuat Leon menekuk sebelah lututnya.
"Dasar pria tua menyebalkan." Geram Leon.
"Cepat katakan kalimatnya!" cecar mama Yumna.
"Queenara maukah kau menikah denganku!" Teriak Leon dengan penuh semangat.
"Kenapa kau masih bertanya, tentu saja jawabannya Ya." Queenara akan segera turun dari jembatan itu untuk menghampiri kekasihnya. Namun ia lupa dimana dirinya saat ini, Queenara terpeleset dan membuat semua orang yang ada di sana berteriak histeris.
__ADS_1
Bersambung.