
Setelah beberapa hari berlalu kini hubungan di antara tuan Liam dan Leon pun sedikit ada perubahan, namun semua itu tak mudah bagi Queenara untuk menyatukan perbedaan di antara keduanya.
Seperti hari ini di meja makan nampak terlihat sangat begitu sunyi, hanya dentingan sendok yang beradu memenuhi ruangan itu.
Nenek Sofia melirik ke arah Queenara yang terlihat begitu aneh pagi ini begitu pun dengan Leon yang terlihat sedikit muram.
"Queenara, apa semuanya baik-baik saja nak?" Tanya sang nenek yang tampak sedikit mengkhawatirkan hubungan keduanya.
"Semuanya baik-baik saja nek." Jawab Queenara dengan singkat dan sedikit menerbitkan senyuman manisnya.
"Syukurlah kalau semuanya baik-baik saja." Nenek Sofia sedikit menghela nafas lega saat mendengarnya.
Namun berbeda dengan Queenara yang tampak biasa saja, Leon tak menunjukkan ekspresi apapun selain wajah kesalnya yang paling dominan saat ini.
"Ayah mertua, apa hari ini kau sangat sibuk?" Tanya Queenara saat mereka selesai dengan sarapan paginya.
"Tidak nak, apakah kau membutuhkan sesuatu?" Tuan Liam menatap wajah cantik menantunya dengan kening mengerut.
"Aku ingin,"
"Tidak boleh!" Ucap Leon menyahuti percakapan di antara menantu dan mertua itu.
"Kenapa tidak boleh, aku tidak memintamu tapi aku meminta pada ayah mertua dan ayah mertua apa kau keberatan dengan keinginan ku?" Queenara menatap wajah tampan ayah mertuanya dengan sangat tajam.
"Bagai mana mungkin aku tahu kau meminta apa padaku, sejak tadi kau belum mengatakan apapun." Gumam tuan Liam bermonolog.
Kini ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merasa sangat bingung dengan situasi yang ada di hadapannya sangat begitu rumit dan membingungkan.
"Pokoknya tidak! aku tidak mengizinkan kau pergi kemana pun selain bersamaku!" Tukas Leon yang kini mulai menatap wajah cantik istrinya dengan tatapan mata tajam.
__ADS_1
"Ayah mertua ayo cepat aku tidak mau menunggu terlalu lama lagi, aku sangat kesal sekali padanya hari ini putramu sangat menyebalkan!" Queenara merajuk tak terima dengan penolakan suaminya.
"Aku tidak menyebalkan Queenara, tolong mengertilah sejak semalam kau terus saja mual muntah dan sekarang kau akan pergi ke rumah sakit, owhh ayolah sayang kau seorang dokter harusnya kau tahu bagai mana caranya menjaga dirimu sendiri." Leon tampak frustrasi menghadapi sikap keras kepala istrinya saat ini sedangkan nenek Sofia hanya menggelengkan kepalanya melihat perdebatan di antara mereka berdua.
"Ayah mertua katakan pada putramu aku ke rumah sakit bukan untuk bekerja tapi untuk memeriksa kehamilan." Ucap Queenara yang langsung membuat semua orang kini terdiam dan menatap ke arahnya dengan tatapan aneh.
"Hei.. ada apa dengan kalian?" Tanya Queenara yang tak sengaja membuka rahasianya sendiri bahwa saat ini ia tengah mengandung.
Hal itu baru ia ketahui beberapa hari yang lalu saat ia merasakan pusing dan mual yang menyebabkan ia jatuh tak sadarkan diri saat sedang bertugas.
"Sayang! apakah yang kau katakan itu benar? aku tidak salah mendengarnya kan?" Leon terlihat sangat begitu antusias saat mendengar bahwa istrinya sedang mengandung buah hati mereka.
Begitu pun dengan tuan Liam dan nenek Sofia yang sangat begitu bahagia dengan kabar tersebut.
"Selamat menantu, karena kau sebentar lagi rumah ini akan ramai dengan tangisan bayi. Selamat juga untukmu Leon!" Tuan Liam sangat begitu bahagia hingga tanpa sadar kini ayah dan anak itu saling berpelukan meluapkan kebahagiaan yang ada di dalam hati mereka masing-masing.
***
Setelah mendengar kabar kehamilan sang istri kini Leon nampak begitu posesif dan membatasi semua aktivitas yang akan membebani kesehatan istri dan calon buah hatinya. Begitu pun dengan tuan Liam yang tampak menjadi ayah mertua siaga dan selalu menanyakan apa yang di butuhkan dan di inginkan oleh calon cucunya.
"Queenara apa kau perlu sesuatu? biar ayah ambilkan atau mungkin kau ingin memakan makanan yang aneh atau?"
"Hei kenapa kau meminta istriku makanan yang aneh, apa kau senang jika calon cucumu aneh seperti mu?!" Leon tampak terlihat sangat kesal saat mendengar pertanyaan ayahnya pada sang istri.
"Aku hanya bertanya kenapa kau sangat marah sekali?" Tuan Liam tak terima dengan perkataan putranya, membuat suasana di dalam ruangan itu kini terasa dingin mencekam.
"Astaga! kenapa kalian berdua selalu saja berdebat!" Queenara mengusap keningnya yang mulai terasa berdenyut.
"Queenara....!"
__ADS_1
"Queenara...!!" Suara teriakan seseorang kini memecah keheningan di antara mereka yang ada di ruangan tersebut.
"Mama!" Queenara nampak sumringah dan langsung berlari menghampiri sumber suara.
"Sayang apa yang kau lakukan!" Leon nampak terkejut saat melihat istrinya yang bersikap seolah tidak sedang mengandung dan berlari begitu saja meninggalkan dirinya dan sang ayah.
"Leon tunggu! aku ingin mengatakan sesuatu padamu." Tuan Liam menghentikan langkah kaki putranya yang akan pergi meninggalkan tempat tersebut menyusul sang istri yang kini sudah hilang di balik pintu.
"Ada apa?" Leon masih terlihat sangat begitu membenci keberadaan sang ayah yang kini mulai menatapnya dengan tatapan yang tak biasa.
"Leon bisakah kita bersikap layaknya seorang ayah dan putra, bukankah sebentar lagi kau juga akan menjadi seorang ayah sama sepertiku." Ucap tuan Liam memberikan pengertian kepada putranya.
"Kita tidak sama, jelas kita sangat jauh berbeda tuan Liam Dameer kau tahu kenapa? karena aku menyayangi calon anakku sebelum dia terbentuk sekali pun, tapi kau." Leon tersenyum sinis menatap wajah sang ayah yang kini tampak begitu lemah di hadapannya.
"Aku tahu Leon, tapi bisakah kau memaafkan semua kesalahan ku di masa lalu dan membuka lembaran baru." Pintan tuan Liam pada putranya.
Namun Leon masih diam mematung tak menjawab pertanyaan ayahnya saat ini. Hal itu membuat seseorang yang kini mendengar percakapan di antara mereka berdua pun mulai merasa bimbang dengan jawaban apa yang akan Leon berikan pada ayahnya.
"Queen ada apa nak?" Mama Yumna mengejutkan Queenara yang kini sedang bingung dan berpikir keras.
"Ma, Queen merasa sangat bingung harus bagai mana lagi caranya agar hubungan di antara ayah dan anak itu bersatu dan akur seperti papa dan El. Apakah kita harus,"
"Sayang kau sedang mengandung, kau tidak boleh terlalu banyak berpikir hal-hal yang tidak perlu, mama yakin semuanya akan baik-baik saja." Mama Yumna bersikap seolah tak memiliki masalah apapun di hadapan putrinya.
"Andaikan kamu tahu nak, saat ini hubungan antara papa mu dan Elbara juga sedang tidak baik-baik saja, mama berharap semoga masalah dalam keluarga kita segera berakhir dan bahagia seperti dulu lagi." Batin mama Yumna bermonolog.
Bagaikan sebuah badai yang menerjang menghantam ketenangan batu karang di dasar samudra, ketenangan dalam rumah tangga Yumna pun sedang di uji namun mama Yumna masih bersikap tenang karena ia tak ingin karena hal sepele keluarganya hancur begitu saja.
Bersambung....
__ADS_1