Pemilik Hati Brandal Tampan

Pemilik Hati Brandal Tampan
Bab 24


__ADS_3

Semua orang langsung berlari menghampiri Queenara yang kini bergantung di atas pembatas jembatan.


"Kenapa jadi begini sih.. Inikan tidak masuk dalam daftar pilihan, aku hanya sedikit menggoda calon papa mertua saja. Queenara sedikit ketakutan saat melihat ke bawah dan membuat kepalanya sedikit pusing karena nya.


Queenara tak kuat terus menahan beban tubuhnya dan secara perlahan genggaman tangannya pun mulai terlepas, beruntung Leon dan tuan Liam menangkap tangannya dengan cepat.


Kini anak dan ayah itu pun berjuang bersama-sama menyelamatkan Queenara dari dalam bahaya. "Sayang kamu tidak apa-apa kan? kamu baik-baik saja, syukulah." Ucap seorang yang kini memeluk Queenara dengan sangat erat. Namun bukan Leon, melainkan ayahnya.


"Hei..! Itu dialogku. Dia calon istriku, beraninya kamu memeluknya tanpa seizinku." Kesal Leon yang langsung menarik tangan kekasihnya dan membawanya ke dalam pelukan.


"Sayang Apa kau baik-baik saja?" Leon menangkup wajah cantik kekasihnya.


"Apa kau tahu? kau hampir membuatku mati ketakutan! dasar gadis nakal." Ucap Leon yang kini menarik hidung mancung kekasihnya dengan gemas.


"Maaf, tapi misi kita berhasilkan?" Bisik Queenara dengan senyuman manisnya.


Leon membalas senyuman Queenara, kini ia pun mulai mendekatkan wajahnya untuk mencium bibir manis kekasihnya. Namun sebuah tas mewah kini berada di hadapannya menghentikan aktivitas yang akan di lakukan Leon pada Queenara.


Leon meringis menahan sakit di telinganya saat mama Yumna menarik telinga dan sedikit menjauhkannya dari sang kekasih.


"Maen nyosor aja, nikahin dulu! jangan cuma nyosor saja seperti angsa." Ucap mama Yumna dengan wajah kesalnya.


Mama Yumna berkacak pinggang dan terus mengomel meluapkan kekesalan nya pada Leon, membuat papa Samuel kini turun tangan untuk menenangkan kekesalan istrinya.


Cup..


Papa Samuel membungkam bibir istrinya dengan ciuman manis membuat semua orang yang ada di sana merasa sedikit kepanasan, terutama sang mantan yang kini akan menjadi besannya.

__ADS_1


Tuan Liam memalingkan wajahnya melihat ke arah lain dan sedikit melonggarkan dasinya yang terasa mencekik leher nya. Hal itu pun menjadi kesempatan tersendiri bagi Leon yang kini merangkul pinggang kekasihnya dan mencium bibirnya sekilas, sebelum calon mama mertuanya melihat apa yang ia lakukan.


"Aku akan menikahimu besok." Bisik Leon di samping telinga kekasihnya.


"Besok? apa kau yakin?" Queenara menatap tak percaya pada Leon yang terlihat sedikit tergesa-gesa dalam mengambil keputusan.


"Kenapa? apa kau meragukan aku? sayang kita tunggu apa lagi, bukankah lebih cepat lebih baik." Leon sedikit menggoda kekasihnya dengan tersenyum dan menaik turunkan sebelah alisnya, membuat Queenara tersipu malu karenanya.


"Bukan begitu tapi,"


"Hmm... Apa kalian akan terus berbisik-bisik seperti itu? Queen ayo kita pulang nak, kita bicarakan hal ini di rumah saja dan kamu juga ikut dengan kami." Tunjuknya pada Leon.


"Lalu bagai mana denganku?" Tanya tuan Liam bingung.


"Tentu saja kau yang menyiapkan segalanya, untuk acara besok malam." Timpal Leon yang kini menggandeng tangan kekasihnya berjalan ke arah motor kesayangan nya.


Leon langsung menghentikan langkah kakinya dan melihat ke arah sang ayah yang kini mulai membuka pintu mobilnya. "Tuan Liam Dameer, aku akan menikah bukan bertunangan, kau tenang saja berapapun biaya yang kau keluarkana aku pastiakan membayarnya." Ucap Leon dengan bangganya.


"Leon bukan itu maksudku, tapi." Ucapan tuan Liam terhenti saat Leon sudah melajukan motornya membelah jalanan meninggalkan sang ayah yang masih berdiri mematung di tempatnya.


"Dasar brandal itu, untung saja dia putraku jika tidak sudah aku patahkan lidahnya." Tuan Liam menendang ban mobilnya dengan kencang dan membuatnya mengaduh kesakitan.


Mama Yumna dan papa Samuel yang melihat hal itu hanya menggelengkan kepalanya dan mulai meninggalkan tempat itu menyusul Leon dan Queenara.


Berbeda dengan Leon yang merasa sangat begitu senang karena esok adalah hari pernikahannya dengan sang kekasih, namun Queenara terlihat sedikit melamun dan memikir bagai mana caranya menyatukan hubungan antara ayah dan anak itu agar lebih dekat.


"Sepertinya aku harus melakukan hal ini juga, tidak mungkin jika nanti kamu hidup satu atap tapi bagaikan orang asing yang tidak saling mengenal satu sama lain." Batin Queenara bermonolog.

__ADS_1


***


Kini semua orang sudah berada di ruang keluarga untuk membahas soal pernikahan. "Apa kamu yakin dengan keputusan mu Leon?" Tanya papa Samuel yang kini terlihat begitu cemas. Bagai mana tidak selama ini Queenara adalah putrinya, tapi sekarang putrinya akan menjadi seorang istri dari dan menantu orang lain dan sudah pasti ia akan meninggal rumahnya.


"Saya sudah sangat yakin tuan." Jawab Leon dengan mantap.


"Baiklah, kalau begitu dengarkan pesanku untuk mu." Papa Samuel mulai memposisikan tubuhnya mulai membuka ultimatum untuk Leon.


"Dengarkan aku baik-baik. Sebagai seorang ayah, melepas kepergian putrinya adalah hal terberat dalam hidup ini. Namun semuanya tidak bisa aku cegah karena aku tidak bisa melawan takdir yang sudah di gariskan tuhan. Pesanku hanya satu cintai putriku dan sayangi dia jangan pernah kau mengecewakan hatinya walau apapun alasannya, kembalikan dia padaku jika kau sudah tak mencintainya itu lebih baik dari pada menjatuhkan tanganmu padanya." Tukas papa Samuel panjang lebar.


"Apa kau sanggup Leon? ingat seorang pria dilihat bukan hanya dari ketampanan nya saja, tapi juga dengan kesetiaan dan tanggung jawabnya serta dedikasinya untuk keluarga." Timpal mama Yumna.


"Baik tuan, nyonya saya akan melaksanakan seperti apa yang kalian berdua harapkan." Jawab Leon menyanggupi keinginan kedua orang tua kekasihnya.


"Lalu bagai mana denganmu nak?" Tanya papa Samuel yang kini melirik ke arah putrinya yang hanya diam menyimak pembicaraan di antara mereka.


Queenara menghela nafas perlahan dan menatap wajah ketiganya secara bergantian. "Kalau kalian tidak keberatan, Queen ingin menikah di rumah ini saja pa."


"Tentu saja sayang, bagai mana denganmu Leon? apa kau sudah memahami segalanya?" Papa Samuel kembali bertanya pada calon menantunya.


"Baik, saya setuju, asalkan Queenara bahagia apapun akan saya lakukan. Kalau begitu saya permisi, karena masih banyak pekerjaan yang harus saya lakukan untuk besok malam." Ucap Leon yang langsung berpamitan pada kedua calon mertuanya.


Setelah Leon pergi kini tinggalah keluarga Sebastian yang mulai sibuk mempersiapkan hari pernikaha putri kesayangan nya. Papa Samuel tidak ingin melewatkan hari bahagia putrinya begitu pun dengan mama Yumna yang sibuk memilihkan gaun pengantin untuk putrinya dari desainer terkenal.


"Queen, dimana El sejak beberapa hari ini mama tidak melihatnya, harusnya hari ini dia ada disini membantu kita." Ucap mama Yumna yang kini berjalan mondar mandir berusaha menelepon putranya.


"Mana mungkin anak itu berani pulang setelah melakukan kesalahan, lihat saja jika dia pulang aku pasti akan memberikan pelajaran pada anak nakal itu." Gumam Queenara lirih.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2