
Ketegangan di dalam ruangan itu pun semakin terasa mencekam saat semua orang kini menatap ke arah Elbara dengan tatapan yang tak biasa. Berbagai macam pertanyaan pun mulai muncul di dalam benak semua orang yang ada disana, namun tak ada yang berani bertanya sebelum sang mama mulai merasa tenang.
Mama Yumna terus menangis meluapkan segala kesedihan dan kemarahan yang ada di dalam hatinya. Hal itu membuat Elbara semakin merasa bersalah terhadap sang mama.
"Maaf ma , El sungguh minta maaf sudah membuat mama kecewa." Ucap Elbara yang mulai mengeluarkan suaranya setelah sekian lama terdiam.
"El jelaskan apa yang sebenarnya sudah terjadi mengapa mama mu terlihat sangat begitu bersedih dan terluka?" Papa Samuel langsung membrondong berbagai macam pertanyaan pada putranya.
Karena papa Samuel sudah tak tahan lagi terus menunggu dan membuat dirinya bertambah penasaran dengan apa yang sedang terjadi di dalam rumahnya.
Elbara menghela nafasnya secara perlahan dan mulai mengatakan semua hal yang sudah terjadi pada dirinya beberapa hari yang lalu.
Setelah mendengar kisah putranya kini papa Samuel mengerti hal apa yang membuat sang istri merasa sangat syok, dan tak menyangka jika sang putra sudah melakukan kesalahan sangat besar dalam hidupnya.
"Astaga El..." Papa Samuel mengacak rambutnya frustrasi begitu pula dengan kakek Erik dan nenek Mia yang kini mulai merasa sangat pusing dengan masalah yang sedang terjadi di dalam keluarganya.
"Elbara apa kau sudah mengetahui latar belakang gadis itu?" Tanya nenek Mia dengan nada lembutnya agar sang cucu tidak merasa tertekan dengan masalah yang sedang di hadapinya saat ini.
Karena dalam hal ini tidak hanya Elbara yang salah, namun sang gadis pun sama salahnya bahkan ia terkesan melarikan diri dari masalahnya yang ada dan menambah rumit suasana.
"Aku bahkan tidak terlalu mengenal gadis itu, hanya saja kami tak sengaja bertemu dengan keadaan yang tak biasa." Ucap Elbara menjelaskan panjang kali lebar pada sang nenek.
Nenek Mia menghela nafasnya secara perlahan kini ia pun menatap ke arah suaminya dan memberikan kode agar ia bisa berdua saja dengan putrinya.
__ADS_1
"Yumna sayang, sudah nak jangan terus menerus menyalahkan dirimu sayang semuanya akan baik-baik saja percayalah nak." Nenek Mia membawa mama Yumna ke dalam dekapannya.
Situasi mansion utama masih terasa panas, namun dering ponsel papa Samuel terus berbunyi sejak tadi sedangkan sang pemiliknya tengah asyik melamun memikirkan sesuatu yang sangat begitu mengganggu pikirannya.
"Sam sebaiknya kau angkat sambungan teleponnya terlebih dahulu, mungkin saja itu panggilan darurat dari rumah sakit." Titah kakek Erik.
Namun papa Samuel hanya menggelengkan kepalanya tanda tak ingin di ganggu saat ini, pikirannya sedang sangat begitu kacau hingga dan tak bisa melakukan apapun selain duduk diam menatap istrinya yang tengah bersedih di dalam pelukan ibu mertuanya.
Sedangkan Elbara yang berada di dalam kamar hanya menatap pantulan dirinya di cermin. "Jasmine, aku harus segera menemukan keberadaan mu walau bagai mana pun caranya dan setelah itu berusahalah untuk pergi dariku tapi aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi kau akan menjadi milik Elbara selamanya suka atau tidak suka Elbara tidak menerima penolakan! karena kau sendiri yang datang dan hadir dalam hidupku dan membuat kekacauan dalam hatiku."
Elbara mengepal erat tangannya dengan tatapan tajam menyerinyai menampakan betapa seriusnya Elbara saat ini.
***
"Entahlah! aku sedang sangat kesal sekali mengapa tidak ada satupun orang rumah yang menjawab panggilan teleponku! apakah setelah menikah mereka benar-benar melupakan aku sebagai putrinya?" Keluh Queenara yang kini terlihat sangat tidak bersemangat.
"Tapi entah mengapa tiba-tiba hatiku merasa ada yang aneh ya? apakah ada sesuatu di mansion utama?" Queenara mulai bertanya-tanya membuat Leon menghela nafas perlahan.
"Sayang, mungkin saja mereka sedang sibuk dan tidak mendengar panggilan telepon darimu." Leon mulai merangkul pinggang istrinya dan membawanya duduk di pangkuannya.
"Tidak semudah itu Leon, entah mengapa aku merasakan ada hal yang tidak beres di sana. Leon kita harus ke mansion utama sekarang juga!" Ajak Queenara yang langsung berdiri menarik tangan suaminya.
"Ya ampun sayang! apa kau tidak merasa lelah sedikit pun? biarkan nanti Anthony saja yang memberikan undangan makan malam untuk mama dan papa mertua, lagi pula ini masih terlalu pagi kau tidak perlu terburu-buru." Ucap Leon sedikit meyakinkan istrinya.
__ADS_1
Namun Queenara tetap bersikukuh untuk datang ke mansion utama karena hatinya benar-benar sangat tidak tenang sekali saat ini. Terlebih saat ponsel semua orang tak ada satu pun di antara mereka yang mengangkat panggilan telepon darinya.
"Aku harap semuanya baik-baik saja." Gumam Queenara yang kini dalam perjalanan menuju mansion utama.
Setelah beberapa saat berkendara kini ia pun sudah sampai di halaman mansion utama yang terlihat sedikit sepi tak seperti biasanya.
"Kemana Daniel, tumben sekali biasanya dia yang selalu berdiri mematung menunggu Elbara dan dimana El? apakah hari ini bocah nakal itu tidak pulang lagi? haahhh awas saja jika bocah itu membuat keributan saat aku tidak ada disini. Akan aku tarik telinganya hingga sangat panjang sekali." Berbagai macam pertanyaan pun terus berputar dalam benak Queenara yang kini mengayunkan langkah kakinya masuk ke dalam mansion utama.
"Ma...."
"Ma.... Queen pulang!" Queenara sedikit berteriak memanggil sang mama yang kini belum terlihat di matanya.
Mendengar suara teriakan dari sang putri membuat papa Samuel dan mama Yumna pun kini tersadar dari lamunan panjangnya, begitu pun dengan nenek Mia dan kakek Erik.
"Sam aku mohon pada kalian semua sembunyikan hal ini dari Queenara, aku tidak ingin membuat dirinya ikut bersedih karena masalah yang sudah di ciptakan adiknya. Queenara masih dalam masa bahagianya jadi aku harap kalian semua tidak membuka hal apapun yang akan menggangu kebahagiaan putriku." Ucap mama Yumna yang kini mulai memperingatkan semua orang yang ada disana.
"Baiklah nak, lakukan saja apa yang harus kita lakukan mama akan tetap mendukung keputusan mu Yumna."
"Terimakasih ma, mama yang terbaik!" Mama Yumna merasa sangat terharu dengan sikap keluarganya yang selalu bisa mengerti dirinya dalam keadaan apapun.
"Sttt... Jangan terlalu di pikirkan. Ayo kita sambut putri rumah ini dengan penuh senyuman jangan tampakkan kesedihan walau hanya sedikit pun di wajahmu karena mama tidak mungkin berbohong pada cucu mama." Nenek Mia menggandeng tangan putrinya menuju ke luar untuk menyambut kedatangan Queenara.
Jika batu permata lebih berharga dari batu kerikil, maka percayalah keluarga adalah yang paling berharga di antara ribuan batu berharga yang ada di dunia ini.
__ADS_1
Bersambung