
Elbara mulai terlihat kebingungan mencari keberadaan gadis yang tak sengaja ia nodai saat ia tak sadarkan diri semalam, kini ia tak tahu harus mencari keberadaan Jasmine dimana seluruh kota sudah ia telusuri, begitu pula dengan anak buahnya.
Namun tak ada satu pun di antara mereka yang memberikan informasi tentang keberadaan gadis tersebut.
"Aaarrghhh.... Kemana perginya gadis itu? tidak mungkin dia hilang bagaikan di telan bumi." Geram Elbara yang semakin terlihat begitu frustrasi, membuat Daniel yang selalu ada di sampingnya juga ikut bingung dengan kepergian Jasmine yang hilang tanpa jejak.
"Tunggu! tuan muda bukankah itu hoodie milik anda? lihatlah disana, aku yakin itu pasti nona Jasmine!" Seru Daniel dengan wajah yang terlihat begitu antusias.
"Kenapa hanya diam saja, tunggu apalagi, cepat hampiri dia sekarang juga!" Seru Elbara tak kalau hebohnya. Bagaikan mendapatkan air di tengah gurun Elbara pun tak menyia-nyiakan kesempatan untuk segera menghampiri orang yang ia anggap sebagai Jasmin.
"Kemana kau akan lari dariku? Jasmine aku ingin saat ini juga kita harus segera menikah, dengan cara sirih." Ucap Elbara tanpa melihat bagai mana ekspresi wajah di balik hoodie miliknya itu.
"Jasmine aku sedang berbicara dengan mu! lihat aku." Elbara yang kesal sengaja sengaja menarik penutup kepala itu dan betapa terkejutnya saat ia melihat bukan Jasmine yang ada di balik hoodie itu.
"Dimana wanita yang memakai hoodie ini?" Kesabaran Elbara sudah habis terkuras hingga ia langsung menarik kerah pria yang memakai hoodie miliknya dengan sangat kasar, bahkan hampir melayangkan bogem mentah nya jika Daniel tidak mencegahnya dengan cepat.
"Tuan muda tahan emosi anda, biarkan aku yang bertanya padanya."
"Hei kau, dari mana kau mendapatkan hoodie ini?" Tanya Daniel pada sang pria.
"Saya menemukannya di jalan sepi di ujung sana tuan." Jawab pria itu sedikit takut jika kedua pria muda di hadapannya akan melukai dirinya.
"Daniel periksa di saku itu ada kartu dan sejumlah uang, jika sampai tidak ada seret saja dia kepenjara!" Titah Elbara dengan sangat tegas.
"Saya mohon ampun tuan, jangan lakukan hal itu saya benar-benar tidak melakukan apapun, dan sungguh di dalam hoodie ini tidak ada apapun, jika anda menginginkan nya kembali silahkan ambil saja ini bawalah." Pria itu pun langsung melepaskan hoodie yang ia kenakan, dan memberikan nya pada Elbara lalu berlari meninggalkan mereka berdua yang masih berdiri di tempatnya.
***
Disaat Elbara tengah kebingungan dengan kisah percintaan nya yang sangat begitu rumit. Namun berbeda dengan pengantin baru yang sedang hangat-gangatnya, entah sudah berapa lama mereka melakukan pekerjaan lembur hingga tak mengenal waktu.
Kini Queenara terbangun dari tidurnya dengan terasa remuk di sekujur tubuhnya. "Owhh... Ya ampun Leon apa yang sudah kau lakukan pada tubuhku." Keluhnya yang kini mulai menatap jam dinding sudah menunjukkan sebelas tiga puluh siang.
__ADS_1
"Sejak kapan aku bisa bangun sesiang ini, bahkan hampir sore." Dengan perlahan ia pun mulai turun untuk membersihkan diri dan berendam air hangat agar merasa lebih baik, namun tanpa di duga untuk melangkahkan kaki saja ia tak mampu.
"Aaarrghhh.. Sakit sekali, Queenara meringis menangis membuat Leon terbangun dari tidur nyenyak nya.
"Sayang, ada apa?" Tanya Leon dengan wajah bantalnya.
"Ini semua karena ulahmu, lau masih bertanya aku kenapa?" Queenara terlihat sangat kesal dan langsung menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut karena malu.
"Owhh astaga sayang, bukankah semalam kau juga menikmatinya, kau terlihat sangat antusias bahkan kau yang memegang kendali tapi kenapa kau masih menyalahkan aku saja." Ucap Leon dengan polosnya, hal itu membuat Queenara merasa semakin malu dan melemparkan bantal ke arah suaminya.
"Kau sangat menyebalkan!" Kesal Queenara, kini ia pun kembali berusaha untuk melangkahkan kakinya, namun tetap saja ia tak bisa melakukan hal tersebut hingga pada akhirnya Leon yang menggendong tubuh istrinya dan membawanya ke kamar mandi.
"Kenapa kau masih disini, aku akan berendam jadi,"
"Aku juga akan ikut berendam." Jawab Leon dengan cepat dengan senyuman manisnya.
"Tidak mau, aku sungguh tidak yakin dengan dirimu."
"Kau memang benar-benar!"
"Ya aku sangat benar-benar mencintaimu." Leon memberikan kecupan penuh kasih sayang di dari istrinya.
"Terima kasih kau sudah melengkapi kekurangan dalam hidupku, berjanji akan terus berjalan mengarungi bahtera rumah tangga kita seperti keluarga mu yang selalu rukun dan utuh."
"Hmm.. Aku akan selalu berusaha untuk itu." Queenara memeluk erat pinggang suaminya dan membuat sedikit gesekan yang membuat adik kecil milik Leon kembali terbangun.
"Astaga! kenapa hanya sedikit gesekan saha sudah membuatku mabuk kepayang." Leon menepuk keningnya perlahan membuat sang istri terlihat sedikit kebingungan melihat tingkah aneh suaminya.
"Ada apa denganmu suami?" Queenara menatap penuh keheranan.
"Tidak ada sayang." Leon tersenyum menyembunyikan hasratnya karena ia sudah berjanji untuk tidak menyentuh istrinya kembali saat ini, karena sudah sangat terlihat sangat begitu jelas wajah lelah sang istri karena ulahnya semalaman penuh.
__ADS_1
Setelah selesai berendam kini mereka pun mulai sarapan sekaligus makan siang bagi mereka. Queenara terlihat sangat begitu kelaparan hingga nasi yang seharusnya menjadi milik suaminya pun telah ia habiskan untuk memulihkan tenaganya yang sudah terkuras habis.
"Suami, kamu tidak makan?" Tanya Queenara tanpa merasa bersalah sedikit pun.
"Aku sudah sangat kenyang melihat mu, sekarang beristirahatlah besok kita akan kembali ke rumah kita sendiri." Leon mengelus rambut panjang istrinya dengan sangat lembut.
"Wahh benarkah, aku sungguh tidak sabar untuk segera bertemu dengan nenek Sofia!" Seru Queenara dengan sangat antusias.
"Kita tidak tinggal disana, tapi rumahku, rumah kita." Ucap Leon menjelaskan, membuat senyuman di wajah Queenara langsung menghilang begitu saja.
"Tapi aku sangat ingin tinggal bersama nenek Sofia, jika kita tinggal di rumah sendiri, lalu siapa yang akan menyambutku saat aku pulang dari rumah sakit dan siapa yang akan menjadi teman mengobrol ku saat kau sedang bekerja." Queenara mulai mengajukan misi protesnya agar ia bisa menjalankan apa yang nenek Sofia inginkan untuk mendekatkan Leon dengan ayahnya.
"Harusnya aktingku sudah sangat kasihan sekali, tapi bagai mana jika Leon menolaknya aku tidak mungkin bisa menyatukan mereka seperti permintaan nenek Sofia." Ucap Queenara membatin.
"Suami,"
"Aku yang akan menemanimu kemana pun kau pergi, dan aku jamin kalau kau tidak akan pernah kesepian." Jawab Leon dengan final.
"Tapi suami, kenapa kau seperti melarangku untuk dekat dengan keluarga mu, bukankah kita sudah berkeluarga dan sudah sepantasnya kita saling merangkul dan mencintai keluarga kita."
"Queenara kau tidak tahu apapun tentang keluargaku! jadi bersikaplah layaknya istri yang menjaga suaminya, kau bahkan tidak perlu menjadi menantu yang baik di hadapan tuan Liam, dan untuk nenek Sofia kita bisa mengunjunginya kapan pun kita mau dan untuk hal itu kita tidak perlu tinggal satu atap dengan mereka apa kau mengerti." Leon sedikit menaikan intronasi suaranya membuat Queenara terbentuk kaget dan diam seketika.
Braakkk..
Karena merasa sangat marah Leon lebih memilih pergi meninggal istrinya sendirian di kamar untuk menenangkan diri. Baginya keluarga adalah hal yang sensitif terlebih saat menyangkut keluarnya sendiri.
"Dia terlihat sangat marah padaku, lalu bagai mana caranya aku membujuknya agar dia mau menuruti keinginanku? Owhhh Ya ampun Queen, cepat pikirkan sesuatu!" Queenara nampak frustrasi sulit sekali baginya untuk menyembuhkan luka hati yang sudah ada sejak bertahun-tahun lamanya.
"Akhhh... Aku tahu siapa yang bisa membantuku dalam hal ini." Queenara tersenyum samar dan langsung mengambil ponselnya untuk menelepon seseorang.
Bersambung..
__ADS_1