
Setelah membagikan semua hadiah untuk seluruh keluarga besar dan para pelayan yang ada di mansion utama, kini Queenara dan Leon berada di rumah sang nenek yang tengah menyambutnya dengan wajah penuh senyuman.
"Akhirnya kalian pulang juga, nenek sangat merindukan kalian nak." Nenek Sofia memeluk kedua cucunya dengan penuh kasih sayang.
"Apa kita akan terus berdiri disini sepanjang hari nek, aku sangat lelah sekali." Protes Leon dengan wajah lelahnya.
"Akh.. Iya, nenek hampir lupa karena terlalu senang melihat kalian berdua ada disini. Queenara ayo masuk nak, biar nenek buatkan minuman untukmu." Ajak sang nenek dengan nada ramahnya.
"Terima kasih nek, jangan repot-repot biar Queen yang membuatnya sendiri nanti." Jawab Queenara yang mendapat anggukan kepala dari sang nenek.
Sedangkan Leon terus masuk ke dalam membawa dua koper besar melewati tuan Liam begitu saja. Bahkan keberadaan tuan Liam sama sekali tak nampak di pelupuk matanya Leon, membuat kedua wanita beda generasi yang melihatnya pun hanya menggelengkan kepalanya tanda tak mengerti dengan hubungan antara ayah dan anak itu.
"Kau lihat sendiri kan, mereka sama-sama egois sangat sulit menyatukan keduanya." Nenek Sofia langsung terlihat sedih karenanya.
"Keduanya seperti air dan minyak yang sulit untuk menyatu."
"Nenek tenang saja, semuanya pasti akan baik-baik saja." Queenara menggengam tangan tua itu untuk menyalurkan sedikit kekuatan untuknya.
"Hallo, ayah mertua selamat pagi menjelang siang." Ucap Queenara dengan senyuman manisnya menatap tuan Liam yang saat ini sedang asyik menikmati secangkir kopi yang di sajikan bersamanya.
"Hmm.. Bagai mana perjalanan kalian?" Tanya tuan Liam sedikit berbasa-basi.
"Cukup menyenangkan. Aku membawakan sesuatu untukmu." Queenara memberikan kotak hadiah khusus untuk ayah mertuanya yang langsung membuat tuan Liam meletakkan surat kabar yang ada di tangannya.
"Apa ini?"
"Buka saja, semoga kau suka aku tinggal dulu maaf sudah mengganggu waktu terbaikmu." Ucap Queenara dengan wajah cerianya.
"Baiklah terima kasih." Ucap tuan Liam yang langsung membuka bungkusan tersebut.
"Aku tidak yakin cara ini berhasil tapi, aku yakin suatu saat nanti bongkahan batu es itu tetap bisa hancur dengan sendirinya." Gumam Queenara lirih.
Tuan Liam menatap hadiah yang di berikan menantunya dengan perasaan yang tak biasa. "Terima kasih menantu." Gumam tuan Liam lirih sambil tersenyum menampakan wajah bahagianya.
__ADS_1
Hal itu pun tak lepas dari pandangan nenek Sofia yang sejak tadi memperhatikan gerak gerak keponakan nya. "Sepertinya langkah awal Queenara berhasil dengan sempurna." Gumamnya dalam hati.
***
Di dalam kamar Leon tengah membereskan barang-barang miliknya dan Queenara ke dalam lemari.
"Sayang apa kau benar-benar yakin kita akan tinggal di rumah ini? disini terlalu sempit dan,"
"Dan apa?"
"Sayang..." Leon merengek layaknya bocah berusia lima tahun pada istrinya.
Namun keputusan yang di ambil Queenara sudah bulat dan tak bisa di ganggu gugat lagi, jadi bagaimana pun usaha Leon untuk membujuknya semua percuma saja.
"Bukankah kita sudah berjanji kita akan segera pindah dari rumah ini setelah kita punya anak, jadi tunggu saja sampai hari itu tiba mengerti suamiku yang tampan." Queenara sedikit menggoda Leon dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Kalau begitu setiap hari aku akan membuatnya agar segera mungkin kau hamil, kita akan membuatnya dua kali malam dua kali pagi dan dua kali siang! mudah sekali bukan? Lalu setelah kita berhasil aku akan membawamu pergi meninggalkan rumah ini secepatnya." Jawab Leon dengan santainya.
"Astaga kau pikir tulangku terbuat dari apa?" Queenara menepuk keningnya bingung dengan kelakuan ajaib suaminya.
"Kau tidak perlu membayangkannya sayang, kita cukup menjalani nya saja." Leon menarik pinggang istrinya dan membawanya ke dalam pelukannya.
"Aku tidak mau dan aku tidak setuju! kau tahu aku adalah seorang dokter dan aku harus pergi ke rumah sakit setiap hari, lalu tentu saja aku harus dalam keadaan sehat dan tidak kelelahan." Ucap Queenara panjang kali lebar.
"Owhh sayang apa yang lebih penting dari rumah sakit, aku suamimu kau tidak perlu bekerja kembali dan jangan pernah takut jika uangku akan habis karena kau duduk manis di dalam rumah."
"Bukan itu masalahnya Leon aku bekerja bukan hanya karena uang, tapi menjadi seorang dokter adalah cita-cita dan pilihanku sejak aku kecil. Kau tahu Leon aku sangat mengidolakan papa, dia adalah seorang papa yang sangat baik, suami dan dokter yang hebat karena itulah aku sangat menginginkan mengikuti jejak papa sampai kelak aku dewasa nanti."
Queenara menyandarkan kepalanya di bahu sang suami dan mulai menceritakan kisah masa kecilnya yang membuat Leon tertawa terpingkal mendengar ulah lucu istrinya.
"Apa benar kau seperti itu sayang?" Tanya Leon tak percaya.
"Tentu saja, mengapa kau tidak percaya padaku? begini saja bagai mana jika malam nanti kita undang mama dan papa untuk makan malam disini."
__ADS_1
"Bukan ide yang buruk!"
"Baiklah kalau begitu aku akan segera memberi tahu mama sekarang dan memberi tahu nenek juga." Queenara turun dari ranjangnya membuat Leon sedikit kebingungan.
"Sayang kau mau kemana?" Tanya Leon sedikit berteriak karena istrinya terlihat sangat begitu terburu-buru.
"Hei apa kau lupa, bukankah baru saja kita sudah membalasnya?" Queenara sedikit memunculkan kepalanya di balik pintu.
"Ya ampun apa dia benar-benar akan melakukan nya sekarang? ini sulit di percaya!" Leon terus menggerutu tidak jelas.
***
"Apa!! apa maksudmu Elbara!!" Lengkingan suara teriakan sang mama membuat gempar seisi mansion utama.
"Maaf ma aku,"
Plakk...
"Mama tidak mengharapkan ini dari mu El." Mama Yumna terlihat sangat begitu frustrasi dengan apa yang baru saja di ceritakan sang putra padanya.
"Ada apa sayang, Yumna kenapa kau menangis?" Papa Samuel yang baru saja melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah tampak terkejut dengan apa yang sedang terjadi di ruang keluarga. Begitu pun dengan kakek Erik dan nenek Mia yang langsung turun menghampiri anak dan cucunya.
"Yumna ada apa nak?" Kakek Erik langsung memeluk putrinya dengan sangat erat.
"Pa, Yumna gagal mendidik anak pa, hiks.. hiks..."
"Apa maksudmu nak?" Sambung nenek Mia yang tak mengerti dengan apa yang di katakan oleh putrinya.
"Ray...! tolong ambilkan air putih agar kakakmu sedikit merasa tenang." Pinta nenek Mia pada putranya.
"Sayang tenanglah, semuanya akan baik-baik saja." Papa Samuel mencoba untuk menenangkan istrnya yang tengah di landa kegelisahan.
"Bagai mana mungkin aku bisa tenang Sam! putra kita sudah membuat kesalahan sangat fatal apa kau tahu Sam apa yang sudah ia lakukan?"
__ADS_1
Semua orang kini menatap ke arah Elbara yang masih tertunduk lesu menampakan wajah tampan tak berdaya di hadapan semuanya.
Bersambung...