
Beberapa hari kemudian di kediaman keluarga Dewantara, Arka dan kakeknya baru saja turun dari mobil dan diikuti beberapa orang pengawal dari mobil yang ada di belakang mereka, dari dalam rumah keluar sekretaris Diki, Toni, Victoria, Bagas dan Clarissa datang untuk menyambut.
Arka mengedarkan pandangannya, dalam hatinya penuh kekaguman dengan bangunan dan dekorasi kediaman keluarganya ini, rumah tua namun tetap terkesan kemewahannya, walaupun rumah yang hanya berlantai satu namun luasnya bukan main, meski baru dilihat dari depan saja sudah dipastikan didalam pasti sangat luas.
"Selamat datang kembali ayah, selamat datang Arka" Ucap Toni dan Victoria berbarengan.
"Selamat pagi paman, tante, Bagas, Clarissa, terimakasih sudah menyambut kami" Balas Arka sembari memapah kakeknya untuk berjalan kedalam rumah.
"Inilah rumah keluarga kita cucuku, ayahmu besar disini dan ketika kamu bayi juga disini, namun takdir berkata lain" Ucap kakek Dirga pelan tidak ingin melanjutkan lagi kata-katanya.
Terlihat jelas raut wajah kesedihan akan kenangan masa lalunya, dimana kebahagiaan keluarganya lenyap begitu saja.
Sesampainya diruang keluarga yang sangat luas dan dilengkapi dengan berbagai perlengkapan mewah, mereka semua duduk disofa.
Beberapa pelayan terlihat sedang mengangkat barang-barang kakek Dirga untuk dibawa dan ditata di kamarnya dan beberapa pelayan lagi menghidangkan minuman dan camilan.
"Nah mulai hari ini kakek baik-baik disini, aku akan tinggal disini besok atau lusa kek, aku harus merapikan beberapa berkas yang ada di Coastal Villa sebelum pindah kesini."
"Iya cucuku, jangan terburu-buru kakek akan baik-baik saja disini" Balas kakek Dirga penuh senyum kebahagiaan.
"Baik kek" Jawab Arka singkat sembari meminum jus mangga yang telas disajikan.
Setelah itu Arka berkeliling sebentar untuk melihat-lihat rumah keluarganya ini, semakin lama semakin kagum Arka dibuatnya, sungguh rumah klasik namun mewah, "pikirnya".
taman yang sangat luas berada dibagian belakang dengan rumput golf yang sangat hijau membuat Arka ingin berguling-guling diatasnya.
Setelah puas berkeliling saat ini Arka sudah kembali berkumpul diruang keluarga dengan perasaan bahagia.
"Oh ya, mengenai proyek pembangunan pabrik untuk mobil listrik di barat kota, apa kamu sudah mengetahuinya Arka?" Ucap Toni menanyakan kepada Arka.
"Untuk itu sudah sempat aku pelajari paman, prospeknya sangat bagus" Jawab Arka kemudian.
"Jika kamu ada waktu, lebih baik kamu tinjau lokasinya bersama Diki, kebetulan hari ini rencana pembangunannya selesai, jadi kamu bisa mengecek hasilnya, biar paman yang menemani kakekmu di rumah." Ucap Toni lagi.
"Hhmm baiklah, paman Diki ada waktu hari ini? Jika ada kita bisa berangkat sekarang."
__ADS_1
"Iya tuan muda, jika itu sudah perintah anda, saya tentu akan mengikuti tuan muda." Jawab Diki tegas.
"Kalau begitu bersiap-siaplah, kakek dirumah dulu sama paman dan tante ya, aku mau ke lokasi proyek sama paman Diki"
"Iya cucuku, hati-hati dijalan dan jangan khawatirkan kakek"
Arka dan sekretaris Diki segera keluar dari rumah untuk berangkat ke lokasi proyek di barat kota, saat masuk mobil Arka teringat dengan BISMA group, kebetulan sekali ini adalah pabrik baru tentunya belum ada staff keamanan, jadi BISMA group bisa di ajak kerjasama di bidang keamanan.
"Paman"
"Iya tuan muda"
"Untuk staff keamanan di pabrik mobil listrik bagaimana?
"Untuk sementara kita tempatkan beberapa staff keamanan dari kantor pusat, jika tuan berencana memakai jasa BISMA group tentu akan sangat bagus" Ucap Diki yang tanggap dengan pertanyaan Arka.
"Ya aku memang berencana bekerja sama dengan BISMA group, kalau begitu aku telfon bang Dion dulu, akan lebih baik jika kita pergi bersama kesana"
Arka segera menghubungi Dion dan mengutarakan maksud pembicaraannya, di telfon Dion terdengar sangat senang dengan rencana itu, tentunya ini akan menjadi loncatan besar bagi BISMA group, setelah sepakat Arka mengakhiri panggilan telfonnya.
"Baik tuan muda" Jawab Diki lalu segera pindah ke mobil Reborn yang terparkir disebelahnya, lalu ia segera melajukan mobilnya menuju BISMA group.
Sesampainya di BISMA group, terlihat Dion, Aldo dan Made putra sudah menunggu di depan Lobby, tanpa menunggu lama mereka masuk kedalam mobil dan kemudian berangkat ke barat kota.
Setelah hampir satu jam menempuh perjalanan, di tengah jalan yang sepi tiba-tiba ada beberapa mobil melewati dan lalu berhenti mendadak menghadang mobil yang dikendarai sekretaris Diki, belasan orang keluar membawa tongkat pemukul dan beberapa membawa senjata tajam dari dalam mobil yang menghadang.
"Sial ada apa ini? Siapa mereka dan mau apa? Ucap Diki panik.
"Entahlah paman, aku juga tidak tau siapa mereka dan apa tujuan mereka" Sahut Arka lalu dia hendak keluar mobil namun dihentikan oleh Aldo dan Putra.
"Tuan muda jangan keluar, biar kami yang keluar" Ucap Made putra sembari menyelipkan Nunchaku dipinggang bagian belakang, begitu juga Aldo menyiapkan sepasang Kerambit di pinggangnya lalu mereka keluar dari dalam mobil.
"Siapa kalian? Kenapa menghambat perjalanan kami dan serta merta menenteng senjata? Ucap Putra setelah keluar dari dalam mobil.
Salah satu orang dari para penghadang terlihat mengeluarkan ponsel lalu melihat kearah Aldo dan Putra secara bergantian, lalu berkata:
__ADS_1
"Bukan kalian yang kami cari, dia pasti didalam mobil, jika kalian ingin tetap hidup minggirlah!" Ucapnya lantang.
"Jika orang yang didalam mobil yang kalian cari, kami akan tetap berdiri disini!" Ucap Aldo sembari bersiap mengeluarkan kerambitnya.
"Tak usah berlagak hebat, kalian hanya berdua kami menang jumlah dan ada senjata, apa kalian bosan hidup? Kata salah seorang dari pihak penghadang.
"Ayo buktikan!, tiba-tiba Aldo sudah mengeluarkan sepasang Kerambitnya lalu dengan cepat menyerang duluan, begitupun Putra mengeluarkan Nunchaku nya lalu mengikuti Aldo menyerang ke arah lawan.
Para preman penghadang terlihat garang menyeringai juga mengangkat senjata dan lalu terjadi bergumulan berdarah.
Aldo dengan gesit bergerak zig zag menghindari tebasan demi tebasan sembari melancarkan serangan dan terlihat beberapa orang sudah tersungkur memegangi perut mereka yang sudah mengeluarkan darah, sedangkan Putra menyerang dengan Nunchaku nya bagaikan Bruce Lee yang sering kita lihat di adegan film action.
Setelah kurang lebih 5 menit pertarungan, para preman penghadang mulai mundur pontang panting dan beberapa diantaranya masih pingsan karena benturan Nunchaku tepat dikepalanya.
Mereka bergegas masuk kedalam mobil dan beberapa orang yang pingsan diangkat oleh temannya lalu mereka segera pergi kabur, Aldo dan Putra merapikan pakaian mereka lalu memasukkan kembali senjatanya.
"Dimana tuan muda menemukan orang-orang hebat seperti mereka? Tanya Diki kagum melihat pertarungan yang baru kali ini dia lihat, biasanya hanya di film-film action dia menontonnya.
"Mereka berdua adalah teman-teman bang Dion, masih ada banyak yang seperti mereka di BISMA group paman," Jawab Arka yang juga kagum dengan kemampuan bertarung keduanya.
"Keluarga Dewantara akan semakin jaya kedepannya memiliki pewaris seperti tuan muda," Ucap sekretaris Diki kemudian.
Aldo dan Putra kembali masuk kedalam mobil.
"Sudah beres tuan muda, mereka hanya segerombolan bandit, tapi maaf kami tidak bisa mengoreksi keterangan mengapa dan siapa yang menyuruh mereka, lari mereka lebih cepat dari serangan mereka" Ucap Aldo terkekeh.
"Itu tidak penting, biarkan saja mereka pergi, yang penting kalian tidak terluka" Sahut Arka ringan, meskipun dalam hati dia bertanya-tanya siapa mereka? Apa tujuan penyerangan itu?
"Bang Dion, perintahkan beberapa anak buahmu untuk menjaga keamanan kakekku, perintahkan untuk tetap menjaga jarak, jangan sampai ada yang mengetahui!" perintah Arka kepada Dion
Arka ingin memastikan keselamatan kakeknya, walaupun disana sudah ada beberapa pengawal.
"Kita lanjutkan perjalanan paman" Pinta Arka kepada Diki.
"Baik tuan muda"
__ADS_1
Mereka kembali melanjutkan perjalanan ke barat kota, mungkin membutuhkan 30 menit lagi untuk sampai di lokasi, dalam sisa perjalanan mereka mengobrol santai seolah-olah kejadian tadi tidak pernah ada.