
Toni tetap menundukkan kepala tidak berani menatap Arka yang sedang menanyainya, begitupun Victoria dan anak-anaknya juga tidak ada yang berani berbicara.
"Jawablah, jangan hanya diam! Pertanggungjawabkan perbuatanmu!" Ucap Kakek Dirga dengan ekspresi dingin ketika melihat Toni hanya diam membatu.
Tiba-tiba Toni menjatuhkan diri berlutut serta memegang kaki Arka, lalu meratap meminta pengampunan.
"Maafkan paman Arka, ini semua murni kesalahan paman, tidak Ada hubungannya dengan istri dan juga anak-anak paman. Jadi hukum saja aku dan mohon lepaskan mereka" Ucap Toni meraung sembari memeluk kaki Arka.
"Berdirilah paman tidak perlu begini, paman cukup jelaskan permasalahannya, aku ingin mendengar langsung darimu"
Arka meraih lengan Toni untuk berdiri, bagaimanapun Toni jauh lebih tua darinya. Sejak awal Arka melihat Drako di borgol dan ekspresi wajah Toni yang tertekuk, Arka sudah mengerti situasinya. Namun dia ingin mendengar langsung penjelasan dari Toni, maka dari itu dia meminta penjelasan saat ini.
Melihat Arka yang nampak tenang dan tidak terpancing kemarahannya, Toni dengan gamblang berani mengakui semua perbuatan jahatnya selama ini.
Toni mengakui beberapa kali menyabotase proyek perusahaan untuk keuntungannya pribadi tepatnya seringkali dia melakukan itu, dia juga mengakui beberapa kali pernah mencoba meracuni kakek Dirga namun selalu digagalkan oleh sektetaris Diki, hingga yang terakhir dia berniat melenyapkan Arka demi menghilangkan pewaris tunggal di keluarga Dewantara yang jelas tujuannya adalah supaya dia yang menguasai harta keluarga Dewantara.
"Pantas mati, benar-benar pantas mati" Kutuk kakek Dirga dengan aura kemarahan yang menyala.
"Sudahlah kek, yang penting paman sudah mengakuinya sekarang, bagaimanapun juga kita adalah saudara kek" Ucap arka berusaha menenangkan kakeknya.
"Kakek sudah tahu semua kejahatannya Dari awal, namun kakek selalu memaafkannya karena kakek memandang dia adalah keponakan dari nenekmu terlebih lagi dia sudah kuanggap anak sendiri, tapi rencananya untuk membunuhmu sungguh tidak bisa kakek maafkan" Ucapan kakek Dirga penuh penekanan.
"Aku mengerti perasaan kakek, paman merencanakan pembunuhan untukku itu bisa aku maafkan. Namun paman berusaha meracuni kakek itu juga sulit aku maafkan, tapi setidaknya saat ini aku baik-baik saja kek" Arka kembali berusaha menenangkan kakeknya.
"Cucuku Arka, kadang ada saatnya untuk menjadi kejam, kadang dengan menjadi orang yang kejam kita bisa memberikan banyak kontribusi yang baik, jika kamu selalu berbaik hati terhadap musuh itu tidaklah bijak, adakalanya kamu harus memutus langkah kejahatan musuhmu, jika saat serangan pertama kamu terbunuh, siapa yang meneruskan rencana kebaikan yang ingin kamu lakukan?" Ucap kakek Dirga yang sudah tidak tahan melihat kebaikan hati cucunya itu.
__ADS_1
"Dan semua bukti kejahatannya sudah diserahkan kepada pihak kepolisian, bukankah begitu pak Tanoto?" Ucap kakek Dirga lagi.
"Benar tuan Dirga, semua bukti sudah jelas dan ditambah lagi pengakuan langsung dari tersangka, saya pastikan dia tidak akan bisa lolos dari hukum" Ucap kepala polisi Tanoto.
Arka tertegun sejenak mendengar setiap kalimat yang diucapkan kakeknya dan juga kepala polisi Tanoto. "Belajar menjadi kejam? Meskipun kepada orang dekat kita?" Bisikan-bisikan didalam pikirannya menggema seakan juga memberikan instruksi untuk menjadi kejam.
Arka sudah melihat situasinya, disana ada banyak polisi yang tentunya semua sudah dipersiapkan kakeknya sejak awal, atas pengakuan langsung dari Toni setidaknya penjara untuk beberapa tahun bukanlah hal yang terlalu kejam, memikirkan itu Arka akhirnya sudah memutuskan.
"Baiklah kek, melihat perbuatan buruk paman selama ini, aku tidak akan sungkan lagi"
Arka menghela nafas panjang lalu melanjutkan perkataannya.
"Pak Tanoto silahkan diproses secara hukum pamanku ini, dan paman Diki aku minta kawal kasusnya"
"Untuk semua aset atas nama paman Toni, bibi Victoria, dan anak-anaknya di pastikan disita sampai proses hukum selesai, dan aku tidak mau melihat bibi, Bagas dan Clarissa ada di kota Jakarta" Ucap Arka tegas.
"Papi yang berbuat salah kenapa kami yang juga kena imbasnya?" Gerutu Clarissa tidak terima dengan perkataan Arka.
"Papimu harusnya berpikir dulu sebelum berbuat, dia harusnya tahu resiko yang di akibatkan, dan hal itu aku putuskan supaya kalian renungkan agar tidak melakukan kesalahan yang sama di kemudian hari" Jawab Arka dingin.
"Semua sudah di putuskan dengan benar, Diki urus semuanya, jangan sampai ada yang tertinggal" Kakek Dirga memberikan perintah.
"Baik tuan besar" Jawab sekretaris Diki.
Disisi Toni, dia tidak berani untuk protes menuntut keringanan untuk keluarganya, sepertinya kali ini dia sudah benar-benar menyesali perbuatannya, pihak kepolisian memborgol tangan Toni lalu digelandang untuk di masukkan ke penjara bersama Drako
__ADS_1
Victoria, Bagas dan Clarissa mengucapkan permintaan maaf kepada kakek Dirga dan Arka, namun itu tidak menggoyahkan keputusan Arka dan kakeknya, mereka tetap di minta untuk meninggalkan ibu kota, mereka tidak berani menolak perintah kakek Dirga dan Arka, lalu mereka bergegas pergi dari kediaman Dewantara.
Setelah semua orang meninggalkan kediaman, kini hanya tersisa Arka, Melanie, Diki dan kakek Dirga. Suasana hening untuk beberapa saat hingga pada akhirnya Melanie memecah keheningan.
"Kakek, tetap tabah ya, ini semua adalah ujian dari yang Maha Kuasa"
"Ini memang keputusan yang sangat berat, namun semua masalah harus diselesaikan" Jawab kakek Dirga dengan hati lega.
Setelah suasana mencair, mereka beralih topik dan melupakan kejadian sebelumnya, mereka membicarakan tentang persiapan pernikahan Arka dan Melanie yang akan diselenggarakan di Bali.
*****
Beberapa hari telah berlalu setelah kejadian itu, dan hari pernikahan akan berlangsung Lima hari lagi, semua anggota keluarga Arka dan Melanie sudah berangkat menuju Bali, begitu juga Dion, Dewi dan sekretaris Diki.
Arka yang baru pertama kali berkunjung ke Bali benar-benar dibuat takjub dengan keindahan alam yang dilihatnya, ketika yang lain disibukkan dengan persiapan pernikahan, Arka dan Melanie lebih banyak menghabiskan waktu mereka dipantai dan sesekali mengunjungi tempat wisata yang menjadi salah satu daya tarik pulau Bali.
"Sayang aku sangat bahagia" Ucap Melanie yang sedang menyandarkan kepalanya dipangkuan Arka.
"Aku juga sayang, tidak pernah aku membayangkan pacaran pura-pura kita akan menjadi kenyataan, bahkan akan sampai kepelaminan" Ucap Arka sembari menikmati angin sepoi pantai Nusa Dua.
"Boleh minta cium gak?" Melanie bangkit dari rebahannya lalu mengerucutkan bibir imutnya pertanda minta dicium.
"Eh kita belum mukhrim, lagian ada banyak orang sayang, nanti setelah sah akan aku berikan seribu ciuman" Goda Arka sembari menjapit hidung Melanie.
Keduanya benar-benar menikmati waktu mereka sebelum akad pernikahan, sampai-sampai kulit mereka terlihat berubah menjadi kecoklatan karena seringnya berjemur, namun mereka tidak memperdulikannya yang penting mereka bahagia dan bisa menikmati waktu berduaan tanpa memperdulikan kesibukan orang-orang yang sedang mempersiapkan segala sesuatunya untuk acara pernikahan mereka.
__ADS_1