
Beberapa hari berselang setelah penyerangan yang di alami Arka, suasana sudah kembali normal, meskipun Roger pimpinan dari Dark Shadow masih bungkam soal siapa yang telah membayarnya, namun Arka tidak mempermasalahkannya lagipula semua sudah terkendali.
Saat ini Arka tengah sarapan bersama kakeknya, Arka diam-diam memperhatikan kakeknya yang terlihat sangat gagah meskipun kulit keriputnya tidak bisa disembunyikan lagi.
"Kek"
"Iya cucuku"
"Untuk pernikahanku kenapa diselenggarakan di Bali? Kenapa tidak di rumah ini saja kek?"
"ST Regis Resort Nusa Dua Bali adalah salah satu hotel terbesar yang kita punya, lagipula kamu belum pernah ke Bali kan?, jadi sekalian saja kamu nikah dan berlibur disana" Ucap kakek Dirga tegas.
"Baiklah, jika itu sudah keputusan kakek" Ucap Arka kemudian.
Disaat mereka tengah mengobrol, dari luar terlihat Melanie datang memasuki rumah.
"Selamat pagi kakek" Sapa Melanie sembari mencium punggung tangan kakek Dirga, lalu juga mencium punggung tangan Arka.
Kakek Dirga diam untuk sesaat sembari memandangi Melanie yang terlihat cantik hari ini, sekilas dia teringat dengan menantunya, yaitu ibu kandung Arka yang juga begitu cantik.
"Pagi sekali, kalian mau keluar?" Tanya kakek Dirga dengan seulas senyum kepada Melanie.
"Iya kek, Arka memintaku untuk menemaninya keluar hari ini" Jawab Melanie sembari melirik Arka.
"Iya kek, kami mau ke ARA group lalu ke BISMA, bang dion bilang sudah dapat lahan yang lokasinya sangat bagus di Kalimantan" Terang Arka kepada kakeknya.
"Oh sudah dapat ya, kakek percayakan sama kamu saja Arka, ingat pesan kakek tetaplah membumi walaupun saat ini kamu orang yang berada" Ucap kakek Dirga menasehati.
"Iya kek, aku akan selalu ingat pesan kakek"
Setelah selesai sarapan, Arka dan Melanie pamit pergi kepada kakek Dirga.
Di kantor ARA group Arka bertemu dengan sekretaris Diki untuk menandatangani berbagai berkas pengajuan kerjasama kontrak, beberapa berkas pengajuan yang dirasa tidak memenuhi kriteria ditolak dan diminta untuk merevisi ulang.
Selesai semua urusan di ARA group, kini Arka dan Melanie mengendarai mobilnya ke arah BISMA group, dan ketika mereka sampai, disana Dion sudah menunggu di kantornya.
"Duuhh,.. yang mau nikahan, kemana-mana berduaan mulu" Ucap Dion ketika Arka dan Melanie memasuki ruang kantornya.
__ADS_1
"Iri bilang bos" Balas Melanie sembari merangkul lengan Arka.
"Aku gak ngiri tapi ngenes" Ucap Dion kemudian dan dibalas tawa oleh Arka dan Melanie.
Mereka bertiga larut dalam candaan hingga membuat ruang kantor Dion seketika bergemuruh.
"Oh ya, katamu sudah dapat lokasi lahan di Kalimantan bang?" Tanya Arka menghentikan tawa Dion seketika.
"Aiihh, hampir lupa aku" Dion menepok jidatnya lalu melanjutkan berbicara.
"Iya memang ada lahan yang lokasinya sangat bagus, belum ada pembangunan karena semua masih seperti hutan dan beberapa adalah lahan pertanian, juga menurut informasi dari orang kepercayaanku disana, tidak jauh dari lokasi itu kemungkinan akan menjadi sebuah kota besar, mungkin juga bisa menjadi ibu kota yang baru, jadi aku rasa akan sangat menguntungkan jika kamu bisa menguasai lahan itu kawan" Ucap Dion dengan sangat bersemangat.
"Berapa luasnya bang?" Tanya Arka mengernyitkan dahinya.
"Total luasnya 50 hektar are, total pemilik lahan sebanyak 50 orang, dan harganya masih murah kawan" Ucap Dion kembali meyakinkan kawannya itu.
"Bang, aku bukan mau membeli lahan mereka tetapi menyewanya, aku tidak mau mereka kehilangan lahan mereka begitu saja, mereka harus mendapatkan hasil tanpa kehilangan tanah warisan mereka" Jelas Arka kemudian.
Dion yang mendengar penjelasan dari Arka menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan ide kawannya itu.
"Aku sudah minta paman Diki untuk mengurus semua persiapannya, jadi bang Dion segera cari tahu berapa kisaran harga kontrak lahan di sana" Ucap Arka lagi.
Arka terlihat tersenyum puas dengan pembicaraan ini, dia dan kakeknya sudah merencanakan pengembangan di daerah Kalimantan dan kini sudah ada lahannya, meskipun belum deal tapi itu bisa dibilang sudah hampir pasti akan berjalan dengan baik. Arka tumbuh besar di pulau terpencil jauh dari dunia luar, tanpa pendidikan yang layak, tanpa kehidupan moderen dan itu yang membuat Arka ingin mengembangkan satu tempat yang mana Akan Ada sekolah gratis, pusat perbelanjaan murah, taman olahraga dan masih banyak lagi. Kini kesempatan itu Sudah didepan mata, jadi dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.
"Baik bang, segera urus untukku lebih cepat lebih bagus" Ucap Arka kemudian.
Setelah pembicaraan mereka selesai, Arka dan Melanie meninggalkan Bisma Group lalu memutuskan untuk pergi makan siang. Disaat mereka sedang menikmati makan siang tiba-tiba ponsel Arka berdering.
"Paman Diki" Lirihnya.
"Hallo paman"
"Tuan muda, tuan besar meminta tuan muda untuk lekas kembali ke kediaman Dewantara, Ada hal penting" Ucap Diki diseberang telfon dan nampak sedang tegang.
"Ada apa paman? Kenapa terdengar seperti tegang begitu?"
"Lebih baik tuan muda lekas kesini" Ucap Diki lagi tanpa menjawab pertanyaan Arka sebelumnya.
__ADS_1
"Baiklah, katakan kepada kakek aku segera kesana"
Lalu Arka mematikan sambungan telepon, dia menjadi sedikit resah Ada apa gerangan, tidak biasanya sektetaris Diki menghubunginya dan jelas terlihat seperti sedang Ada sesuatu.
"Kenapa tiba-tiba kakek menyuruhmu pulang saying?" Tanya Melanie yang juga merasa heran.
"Aku juga tidak tahu ada apa sebenarnya, cepat habiskan makanmu, kita pulang setelah selesai" Ucap Arka lalu menyantap kembali makanannya.
Setelah selesai menyantap makan siang, Arka dan Melanie bergegas berkendara menuju kediaman Dewantara untuk menemui kakek Dirga.
Sesampainya di kediaman Dewantara Arka dan Melanie saling bertukar pandang merasa ada yang tidak beres, dihalaman ada banyak mobil dan beberapa mobil polisi juga.
"Ada apa ini" Gumam Arka pelan namun masih bisa didengar oleh Melanie.
"Sebaiknya kita cepat masuk sayang" Ajak Melanie.
Mereka segera turun dari mobil dan bergegas masuk ke dalam rumah.
Ketika sudah masuk, Arka mengerutkan keningnya melihat seorang pria bersimpuh dengan tangan di borgol ke belakang, disisi lain terlihat Toni, Victoria, Bagas dan Clarissa tengah berdiri dengan kepala menunduk di sebelah sofa tempat kakeknya duduk, terlihat jelas raut wajah mereka sedang tertekan dan takut.
Melihat Arka datang, kakek Dirga bangkit dari duduknya dan lalu memanggilnya untuk mendekat.
"Ada apa ini kek? Kenapa banyak polisi?" Tanya Arka sembari mengedarkan pandangannya dan tepat ketika melihat sosok pria yang diborgol dia seperti mengenalnya. Lalu dia memastikan dan menanyakan langsung.
"Eh bukankah kamu temannya Roger?"
"Iya ini Drako, teman Roger yang melakukan serangan kepada anda" Ucap seorang pria berjaket kulit hitam.
Mendengar itu, Arka sepertinya sudah mengerti tentang apa sebenarnya yang terjadi, lalu dia mengalihkan pandangannya ke arah Toni dan keluarganya lalu berkata.
"Jangan bilang semua ini ada kaitannya dengan paman"
Arka berani mengambil kesimpulan seperti itu karena tidak biasanya Toni hanya berdiam diri dan menundukkan kepala.
Toni tetap menundukkan kepala tidak berani menatap Arka yang sedang menanyainya, begitupun Victoria dan anak-anaknya juga tidak ada yang berani berbicara.
**Hallo readers, terimakasih masih setia menunggu update dari author ya.
__ADS_1
Mohon maaf author lama tidak update berhubung ponsel yang author gunakan untuk membuat novel ini rusak dan kini sudah diperbaiki, untuk kedepannya author akan berusaha keras untuk selalu update setiap harinya.
jangan lupa bantu vote dan like ya, supaya author lebih semangat lagi🙏**