Pena Merah Di Langit Biru

Pena Merah Di Langit Biru
Chapter 20: Masalah Awal Bagian Ke 8


__ADS_3

"Ouh... Jadi kalian tidak memberitahukan tentang kami, agar kalian dapat bermain dengan banyak wanita?" Ucap Nana yang seketika membuat Rio menggigil.


"Bukan! Bukan begitu! Aku hanya tidak mau Daffa mengetahuinya, karena kami tahu dia jomblo dari dulu! Karena itu kami tidak ingin Daffa tahu, yang akan menyakiti dirinya ketika kami bertiga sudah memiliki pacar, sementara hanya seorang teman kami yang belum! Makanya kami menyembunyikan hal itu!" Ucap Rio yang memberitahukan alasan sebenarnya.


"Itu benar! Kami tidak ingin Daffa sedih mengetahui kami bertiga sudah berpacaran, sementara hanya dirinya yang belum, kami enggan memberitahukan hal ini kepadanya, makanya kami hanya dapat menyembunyikan hal tersebut!" Ucap Adrian yang akhirnya tidak dapat menahan diri untuk memberitahukan semuanya.


"Ya! Kami hanya ingin pertemanan kami terus bertahan sehingga kami tidak memberitahukan hal itu kepadanya, kami berniat memberitahukan hal tersebut kepadanya ketika dirinya sudah memiliki pacar! Dan sekarang dirinya sudah memiliki pacar makanya kami berniat untuk memberitahukannya setelah bermain di sini!" Ucap Kevin yang memberitahukan alasan sebenarnya mereka bertiga mengajak Daffa bermain.


"Begitukah...? Tapi aku lebih terkejut ketika kalian sebenarnya sudah memiliki pacar, tapi kalian sangat dekat dengan banyak perempuan...?" Ucap Daffa yang segera duduk di sebelah Rissa, dan menambah api agar api tambah besar dan memanaskan sekitar.


"Kau!" Rio, Adrian, dan Kevin yang melihat hal itu hanya dapat menggertakkan giginya dan menatap Daffa dengan wajah kesal.


"Ouh... Begitukah... Jadi selama ini kalian bersenang-senang ya...?" Ucap Nana dengan menatap tajam ke arah mereka bertiga, seketika mereka bertiga merinding dan menundukkan kepalanya.


"Yah itu-!" Sebelum Kevin mencoba mencari alasan dirinya melihat Fiona tidak menatapnya, dan malah menatap es krim dengan serius, yang seketika membuat Kevin menjadi sangat terluka, ketika Fiona sudah tidak lagi peduli dengannya dan malah mempedulikan es krim.


"Hehehe..." Daffa yang melihat mereka bertiga dalam keadaan menyedihkan, tertawa jahat dan menatap mereka dengan tatapan tajam.


"Rasakan serangan balasan dariku! Guahahaha!" Mendengar Daffa yang berbicara dengan keras, dan tertawa dengan suara jahat, membuat semua orang yang berada di sekitar menatapnya.


"Maaf! Sepertinya aku baru saja kerasukan iblis jahat! Aku sudah pulih! Kembalilah menjalani kehidupan kalian!" Ucap Daffa yang segera menyuruh mereka untuk berhenti menatapnya.


"Kami minta maaf!" Ucap Rio, Adrian, dan Kevin secara bersamaan, yang akhirnya menyerah dan meminta maaf, sebab mereka tidak ingin putus dengan pacar mereka.


"Kalian payah sekali!" Ucap Daffa yang menggelengkan kepalanya.


"Sudahlah dari pada itu, lebih baik kita bermain bersama sekarang!" Ucap Rissa yang mencoba menghentikan perdebatan.


"Baik ayo bermain!" Ucap Daffa yang menganggukkan kepalanya, mereka semua kemudian pergi bermain di area permainan, dari semua permainan yang ada, Daffa dan Rissa hampir memenangkan semua permainan.

__ADS_1


Masing-masing satu tim dengan pacar mereka, oleh karena tim Daffa dan Rissa memenangkan paling banyak Permainan.


"Sial kita kalah lagi..." Ucap Kevin dengan nada kesal.


"Tidak apa-apa, setidaknya kita menang satu permainan!" Ucap Fiona yang mencoba menghibur Kevin.


"Haah aku kalah... Maaf..." Ucap Adrian yang meminta maaf kepada Siska.


"Tidak perlu! Aku sudah memenangkan permainan Balap motor! Jadi kita telah memenangkan satu permainan setidaknya!" Ucap Siska yang tidak khawatir, dan mencoba untuk membuat Adrian lebih baik.


"Uhm... Kita kalah..." Gumam Rio dengan suara pelan.


"Itu karena kamu payah! Kamu harus mencoba lebih keras!" Ucap Nana yang mengomeli Rio dari pada menyemangati atau menghiburnya.


"Sial... Kenapa hanya aku yang kalah..." Gumam Rio dengan wajah sedih melihat ke arah teman-temannya yang terlihat bahagia.


"Haha!" Daffa tertawa kecil melihat wajah lesu Rio, dirinya kemudian memperhatikan seorang anak kecil, melihat itu Daffa berhenti tertawa dan berjalan menuju ke arah anak tersebut.


"Tidak! Ayah dan ibuku yang tersesat!" Ucap anak itu sambil mengeluarkan air mata.


Seketika Daffa dan yang lainnya mendengar hal itu menjadi tersenyum kecut, tidak bukan ayah dan ibumu tapi kaulah yang tersesat, itulah yang ingin mereka katakan, tapi mereka menahannya dan memilih untuk tetap diam.


"Dik siapa namamu?" Ucap Rissa dengan lembut mengusap rambutnya.


"Dina Dellan!" Ucap anak itu dengan menatap wajah Rissa.


"Baiklah Dina bagaimana kalau kamu ikut dengan Kakak, nama Kakak Rissa Arini, kakak akan membantu kamu untuk menemukan Ayah dan Ibumu yang tersesat..." Ucap Rissa yang tersenyum tipis.


"Tapi... Tapi kata ayah dan ibu tidak boleh ikut sama orang tidak dikenal...!" Ucap Dina setelah berpikir sejenak.

__ADS_1


"Kamu dan kakak kan sudah saling kenal, kita saja sudah mengetahui nama masing-masing jadi Kakak dikenal sama kamu dong..." Ucap Rissa sambil tersenyum paksa, serta dengan nada yang canggung.


"Ehm... Baiklah, tapi bisakah belikan aku es krim?" Ucap Dina sambil menatap es krim, yang berada di toko es krim yang letaknya tidak jauh dari mereka.


"Tentu kakak akan membelikannya untukmu!" Ucap Daffa yang mengelus rambut anak perempuan itu.


"Tapi aku tidak mengenal kakak!" Ucap Dina yang memeluk Rissa dan menatap Daffa dengan tatapan tajam yang terlihat imut dan menggemaskan.


"Uhm... Imutnya...!" Ucap Fiona yang tersenyum melihat tatapan Dina.


"Mau punya satu di masa depan?" Ucap Kevin sambil tersenyum.


"Ya, dua-tidak! Tiga bagaimana... tidak tidak! Bagaimana jika empat saja... ya empat!" Ucap Fiona yang memberitahukan keinginannya.


"Sekalian saja Sebelas agar dapat dijadikan sebagai tim sepakbola..." Ucap Nana yang tidak dapat menahan diri, ketika Fiona berbicara mengenai memiliki anak seolah-olah itu sangat mudah didapat.


"Benar! Sebelas saja!" Ucap Fiona yang menganggukkan kepalanya.


"..." Nana dan Siska hanya dapat menatap Fiona dengan tatapan kosong.


"Ehm... Apakah dirinya tidak tahu bahwa melahirkan itu sakit?" Ucap Siska yang bertanya dengan berbisik-bisik kepada Nana.


"Dirinya punya kucing di rumah, mungkin dirinya pikir melahirkan anak manusia sama seperti melahirkan anak kucing, lagipula dia itu mudah terpengaruh dengan hal-hal yang lucu..." Ucap Nana yang memberitahukan Siska tentang kemungkinan, Fiona yang tidak mengetahui rasa sakit saat melahirkan.


"Kalau begitu perkenalkan nama kakak Daffa Abiyyu, sekarang kamu sudah mengenal kakak bukan, jadi ayo kita beli es krim yang banyak!" Ucap Daffa yang menyuap Dina dengan Es krim agar mau dekat dengannya.


"Benarkah!" Ucap Dina yang terpengaruh oleh godaan Daffa.


"Ya!" Ucap Daffa yang menganggukkan kepalanya, kemudian Dina melepaskan pelukannya dari Rissa lalu berlari menuju ke arah Daffa, melihat Daffa yang dekat dengan seorang anak membuat Rissa tersenyum lebar.

__ADS_1


"Jika dirinya menyukai anak kecil, berarti dirinya juga akan menyukai anak-anak kalian di masa depan nanti..." Ucap Nana yang seketika membuat wajah Rissa memerah.


"Diam! Jangan mengatakan hal yang memalukan!" Ucap Rissa dengan memalingkan wajahnya.


__ADS_2