Pena Merah Di Langit Biru

Pena Merah Di Langit Biru
Chapter 37: Masalah Akhir Bagian Ke 5


__ADS_3

"Jadi... Kamu mengambil buku ini secara diam-diam?" Pria tua yang merupakan penjaga perpustakaan bertanya dengan nada tegas, dan menatap Erin dengan tatapan serius.


"Ya!" Erin menjawab dengan menganggukkan kepalanya.


"Kamu datang untuk mengembalikannya secara sendiri?" Pria tua itu melirik ke arah Daffa sedikit sebelum bertanya kepada gadis kecil di hadapannya.


"Benar, kakak ini baru kutemui di luar tadi, aku datang untuk melakukannya sendiri," ucap Erin yang menjawab pertanyaan penjaga perpustakaan.


"Apakah kamu menyesali perbuatanmu?"


"Iya, aku sangat menyesal, karena itu aku datang untuk mengembalikan buku itu dan meminta maaf," ucap Erin yang meminta maaf dan menyesali perbuatannya.


Pria tua itu menatap Erin sejenak sebelum akhirnya, "Puuk!" Tangan pria tua itu menyentuh kepala Erin dan mengusapnya, "Baguslah jika kamu sudah menyesalinya, nah apakah sekarang kamu mau meminjam buku dengan jujur?"


"!!!" Erin mengangkat wajahnya tepat ke arah pria tua itu, kedua mata Erin terlihat bergetar, sebelum akhirnya Erin tersenyum lebar.


"Iya!"


Daffa tersenyum puas dengan hal itu, kemudian waktu terus berlalu dengan cepat, saat Daffa menemani Erin mencari buku sebelum akhirnya Erin pergi, setelah itu Daffa kembali ke lantai atas.


"Mengapa kamu lama sekali?" Melihat Daffa yang sudah kembali, Rissa segera bertanya.


"Ah! Itu tadi karena ada seorang anak yang kutemui di lantai bawah, jadinya aku sedikit lama di sana untuk membantunya."


"Begitukah, kalau begitu ayo kita kembali belajar!" Ucap Rissa yang mengajak yang lain kembali belajar.


Selama belajar Daffa memperhatikan dengan serius, dirinya tidak lagi melirik ke arah Rissa, hal itu membuat yang lainnya sedikit terkejut, mereka bingung dengan hal tersebut, sebab mereka pikir masalah akan lebih panjang, tapi sepertinya tidak, yang mana diterima baik oleh yang lainnya, mereka saling memandang dan tersenyum.


Belajar di perpustakaan berlangsung selama beberapa jam lagi, hingga akhirnya sore hari pun tiba, Daffa dan yang lainnya kemudian mulai bersiap-siap untuk pulang, mereka membereskan buku-buku dengan meletakkannya kembali ke rak buku.


Setelah itu mereka semua keluar dari perpustakaan, kemudian mereka mengucapkan salam perpisahan, sebelum akhirnya berpisah, selama perjalanan Daffa terus diam, yang di mana membuat Rissa sedikit gelisah.


"Mungkinkah dia marah?" Gumam Rissa dengan suara sangat pelan, dirinya memeluk baju Daffa lebih erat, merasakan hal itu Daffa mengangkat kedua alisnya, kemudian Daffa berhenti di lampu merah, sebelum Daffa sempat berbicara dengan Rissa dirinya memperhatikan seseorang yang dirinya kenal.


"Oi!" Daffa menyapa seorang pria yang berada di sebelahnya.

__ADS_1


"Uhm?" Pria itu berbalik dan memperhatikan bahwa yang memanggilnya ternyata adalah Daffa.


"Ouh Daffa!" Ucap pria tersebut.


"Apa-apaan pakaianmu itu, kau sedang mengikuti cosplay?" Ucap Daffa dengan wajah terkejut.


"!!!" Sementara itu di sisi lain, Rissa sangat terkejut dengan orang yang Daffa sapa.


"Benar, kau sendiri... Eh siapa perempuan itu, pacarmu?" Ucap pria tersebut dengan wajah terkejut.


"Tentu saja!" Ucap Daffa yang tersenyum konyol dan menjawab dengan bangga.


"Wah! Benarkah...! Haha kau akhirnya memiliki pacar! Aku sungguh turut ikut berbahagia!" Ucap pria itu yang tersenyum lebar.


"Hahaha terimakasih!"


"Uhm... Dia siapa?" Ucap Rissa yang bertanya sambil menatap pria itu dengan wajah terkejut.


"Ouh, dia temanku, namanya Raiden Vin, dan Raiden ini pacarku namanya Rissa Arini." Ucap Daffa yang memperkenalkan pria tersebut kepada Rissa, dan dirinya juga melakukan yang sebaliknya.


"Lalu rambutnya asli berwarna putih?" Rissa bertanya dengan nada tidak pasti.


"Be-begitukah..." Ketika Rissa mengetahui seketika saja seolah-olah batu telah terangkat dari dalam hatinya, ternyata orang yang sebelumnya Rissa lihat bukanlah Ben Kecil, melainkan Raiden yang melakukan cosplay menjadi salah satu karakter fiksi.


"Kenapa?" Ucap Daffa dengan bingung.


"Bukan apa-apa, hei lampunya mau hijau!" Ucap Rissa yang memberitahukan Daffa untuk bersiap berangkat.


"Ah! Benar, baiklah sampai jumpa Raiden!" Ucap Daffa yang mengucapkan salam perpisahan kepada Raiden, sebelum akhirnya mengendarai motornya pergi menjauh.


Daffa terus mengendarai motornya menuju ke rumah Rissa, selama perjalanan Daffa merasakan bahwa Rissa kembali bertingkah aneh, tapi dirinya tidak tahu apa yang terjadi kali ini.


"... Maaf!" Ucap Rissa secara tiba-tiba saja, yang seketika membuat Daffa sontak terkejut.


"Untuk apa?" Ucap Daffa dengan wajah bingung.

__ADS_1


"Untuk yang sebelumnya terjadi di restoran, kupikir sebelumnya aku bertemu seseorang yang kukenal, tapi ternyata itu adalah temanmu yang sebelumnya, aku tahu kamu khawatir tentang diriku, karena itu aku meminta maaf kepadamu karena sudah membuatmu khawatir," ucap Rissa yang meletakkan kepalanya di punggung hangat dan lebar milik Daffa.


"Begitu... Tidak apa-apa, tapi lain kali tolong katakan terlebih dahulu kepadaku, agar aku tidak khawatir."


"Baik, aku akan melakukannya, terimakasih sayang karena telah mengkhawatirkanku."


"Uhmm... Bukannya aku mau mengganggumu, tapi... Kita sudah sampai," ucap Daffa yang tersenyum kecut sambil menatap ke rumah Rissa.


"Ah! Kenapa kamu tidak mengendarai lebih pelan, aku masih mau memelukmu!" Ucap Rissa dengan cemberut dan terus memeluk Daffa.


"Eh... Maafkan aku! Tapi kamu harus segera masuk! Tidak enak dilihat oleh orang lain nantinya!" Ucap Daffa yang mencoba melepaskan pelukan Rissa.


"Moh!" Rissa terus memeluk Daffa dan bertingkah layaknya anak kecil.


"Uh!"


Daffa pada akhirnya menyerah setelah mencoba selama lima menit, dirinya membiarkan Rissa terus memeluknya, hingga akhirnya tiga puluh menit berlalu, dan terlihat Rissa yang melepaskan pelukannya sendiri.


"Sudah lelah Nona cantik?" Ucap Daffa yang menggoda Rissa.


"Diam! Aku hanya... hanya sedikit merenggangkan tanganku saja!" Ucap Rissa yang memalingkan wajahnya, untuk menutupi rona merah jambu yang terdapat dipipinya.


"Tentu-tentu!" Ucap Daffa yang terus tersenyum.


"Aku-aku akan masuk!" Ucap Rissa yang segera turun dan berniat pergi masuk ke dalam rumahnya.


"Sampai jumpa besok Nona cantik!" Teriak Daffa dengan keras, yang membuat Rissa hampir terjatuh, karena terkejut dengan keberanian Daffa yang tiba-tiba, dirinya segera berlari memasuki rumahnya, karena dirinya tidak ingin Daffa melihat dirinya yang tengah tersipu malu.


Meski demikian Daffa sudah mengetahui Rissa yang tengah tersipu malu, karena itulah mengapa Daffa berteriak keras agar Rissa lebih malu, yang mana dimata Daffa Rissa yang seperti itu sangatlah imut.


Setelah Rissa benar-benar di dalam rumah, barulah Daffa mengendarai motornya kembali ke rumahnya sendiri, selama perjalanan pulang, Daffa mampir sebentar ke minimarket.


Dirinya membeli beberapa bahan makanan dan es krim, saat dirinya baru saja keluar dari minimarket Daffa memperhatikan sebuah kertas edaran promosi mengenai sebuah permainan.


"Sebuah permainan virtual reality dengan tema pasca-kiamat nuklir telah dikembangkan, ini permainan yang dikembangkan oleh perusahaan Menara Kailan, perusahaan pembuat permainan ternama di dunia, ini salah satu dari tiga permainan paling populer abad ini!"

__ADS_1


Membaca kertas lembaran tersebut membuat Daffa terdiam, dirinya memikirkan sebuah ide yang sangat bagus, yaitu menciptakan permainan virtual reality yang berasal dari novel buatannya.


Meski itu pasti membutuhkan waktu yang sangat lama serta usaha dan uang yang banyak, Daffa yakin itu bukan hal yang terlalu mustahil, dirinya kemudian mengendarai motornya kembali ke rumahnya.


__ADS_2