
Daffa mengendarai motornya menuju ke arah perpustakaan, dengan Rissa yang berada di belakangnya.
Sesampainya di sana, Daffa dan Rissa belum menemukan satupun teman mereka, pada akhirnya mereka menunggu selama beberapa saat.
Kemudian yang lain akhirnya berdatangan satu persatu, lalu mereka semua mulai pembelajarannya, selama belajar Rio mulai memahami beberapa rumus dengan cukup baik, Kevin juga mulai mencoba untuk mengingat semua sejarah yang dipelajari mengenai Indonesia dengan baik.
Fiona mulai memahami beberapa rumus bahasa Inggris dengan baik, sedangkan Daffa berusaha cukup keras dalam mengingat semua hal yang dipelajarinya.
Mereka semua belajar dengan baik, semuanya berusaha keras dalam belajar, meski ada beberapa kesalahan tapi mereka pada akhirnya berhasil menyelesaikan permasalahan tersebut.
Selama sedang belajar Daffa menerima sebuah telepon dari pak Ari, mengenai novelnya, karena itu Daffa berhenti belajar sebentar dan keluar dari perpustakaan untuk mengangkatnya, setelah selesai Daffa kembali belajar.
Waktu berlalu dengan sangat cepat, akhirnya waktu makan siang tiba, Daffa kemudian mengajak yang lain pergi makan di restoran yang kemarin, mereka kemudian menghentikan aktivitas belajar untuk sementara, lalu pergi menuju ke restoran, setelah selesai makan siang, mereka melanjutkan kembali pembelajarannya.
Daffa yang tengah mencari beberapa buku di rak, memperhatikan sebuah buku usang dan tua di sudut rak buku, dirinya kemudian mengambil buku tersebut yang ternyata merupakan sebuah buku dari penulis novel terkenal beberapa tahun silam.
Novel tersebut menceritakan tentang Bumi yang tidak normal, dari adanya Esper yang biasanya disebut Manusia Super, lalu Penyihir, Petarung, Monster, Dewa-dewi, dan lainnya.
Membaca novel yang klise seperti itu membuat Daffa cukup terkejut, karena dulu ternyata sudah ada novel fantasi yang menarik dan seru, yang di mana novel genre tersebut lagi terkenal pada masa sekarang, penulis novel tersebut cuman memiliki tiga buku, tapi ketiga bukunya sangat terkenal.
Buku pertama mengenai Bumi yang terdapat hal-hal tidak normal, yang merupakan buku novel yang Daffa temukan, buku kedua merupakan novel mengenai dunia yang tiba-tiba saja menjadi besar kecuali manusia yang tidak berubah sama sekali, lalu buku ketiga mengenai pembunuh yang sangat mencintai uang.
Ketiga bukunya sangat terkenal, Daffa tidak menyangka akan menemukan buku pertamanya, apa lagi buku novel tersebut merupakan volume pertama, setiap bukunya terdapat lebih dari 100 volume, yang di mana setiap volume novelnya sangatlah menarik.
__ADS_1
Karena itulah mengapa penulis itu memiliki begitu banyak fans, serta sangat terkenal, Daffa ingin sekali bertemu penulis tersebut, sayang sekali penulis tersebut sangatlah sibuk.
"Beliau orang yang sangat luar biasa, aku sangat menghormatinya sebagai sesama penulis, apa lagi dirinya sangat kreatif dalam menuliskan novel-novel buatannya," gumam Daffa sambil menatap novel tersebut dengan tersenyum lebar.
Daffa kemudian melihat-lihat buku tersebut dengan seksama, dan menemukan nama pena penulis tersebut, yang bernama.
"Api Semangat Jiwa Muda."
"Nama pena penulisnya aneh, tapi meski begitu penamaan setiap hal dinovelnya tidak buruk, yah terserahlah meski demikian nama asli penulis novel ini cukup bagus, Eltri Wobin!" Meski nama tersebut juga terdengar aneh, bagi Daffa itu nama yang sangat bagus, Daffa juga memiliki rasa penamaan yang buruk.
Daffa kemudian pergi kembali ke tempat duduknya, dirinya melanjutkan pembelajaran.
Mereka belajar hingga sore hari, lalu Daffa dan yang lainnya mulai membereskan semua buku yang di ambil, sebelum akhirnya pergi pulang ke rumah masing-masing.
Tapi mungkin itu adalah terakhir kalinya bagi mereka berdua untuk dapat tertawa dan tersenyum bersama, sebab badai masalah akan segera tiba yang akan menghilangkan senyum di wajah mereka.
...
...
...
"Kamu menunggu lama tidak?" Ucap Daffa yang bertanya sambil tersenyum tipis.
__ADS_1
"Tidak kok! Ayo kita berangkat!" Ucap Rissa yang kemudian saja keduanya berangkat menuju ke sekolah, merasakan hawa sejuk dipagi hari, Rissa kemudian memulai percakapan, "Hei kamu tahu, sekolahku sedang direnovasi, beberapa kelas sedang dalam proses perbaikan," ucap Rissa dengan menyenderkan kepalanya di pundak kanan Daffa.
"Benarkah, kenapa setiap kali seseorang akan lulus dari suatu sekolah, maka sekolah tersebut baru akan direnovasi?" Daffa bertanya kepada Rissa, sebab setiap kali dirinya akan lulus dari suatu sekolah, maka sekolah tersebut pasti baru akan direnovasi, sedangkan ketika dirinya masih bersekolah di sekolah tersebut, maka sekolah itu tidak ada suatu rencana untuk renovasi sama sekali, yang mana menurut Daffa hal itu sangatlah aneh.
"Eh, mungkin karena mereka pada belum memiliki anggaran yang cukup, atau mereka maunya tepat saat siswa yang datang memiliki jumlah yang sangat banyak, oleh karena itu mereka melakukan renovasi, agar cukup ruang untuk siswa yang banyak?" Balas Rissa dengan memikirkan hal tersebut dengan cukup serius.
"Hem... Benarkah?" Daffa masih tidak yakin, sebab dirinya selalu merasa ada suatu konspirasi antar sekolah terhadap dirinya, jadi ketika Daffa bersekolah di suatu sekolah maka sekolah tersebut tiadak akan melakukan renovasi sama sekali, dan ketika Daffa baru akan lulus mereka kemudian bersiap untuk renovasi.
Meski itu hanya pikiran liar, konyol dan aneh yang dimiliki oleh Daffa, tapi mengenai sekolah yang direnovasi setelah Daffa lulus memang benar adanya, hal itu memang cukup aneh, seperti misalnya ketika Daffa masih sekolah di SMP swasta, tidak ada renovasi sama sekali yang terjadi, tepat setelah Daffa lulus baru dilakukan renovasi seperti adanya AC, Kipas angin, Komputer, bahkan Toilet menjadi lebih bersih, itu hal yang sangat mengejutkan.
Rio dan Kevin juga merasakan hal sama, mereka juga bingung dengan hal tersebut sebab mereka mengalami hal yang sama dengan Daffa, sedangkan di sisi lain Adrian tidak mengalami hal tersebut, sebab beberapa kali sekolahnya melakukan renovasi meski dirinya juga berada di sekolah Swasta.
"Ouh! Mungkin itu karena membutuhkan setidaknya waktu beberapa tahun untuk melakukan renovasi, karena hanya dilakukan setiap tiga tahun sekali atau lima tahun sekali, jadi pada saat itu kamu berada di saat sekolah belum berencana untuk melakukan renovasi."
"Lalu bisa juga sebelum kamu bersekolah di sana, sekolah tersebut baru saja melakukan renovasi, oleh karena itu ketika kamu baru pertama kali bersekolah, itu rasanya biasa saja padahal sebenarnya baru saja dilakukan renovasi." Rissa menjelaskan dengan baik, agar Daffa tidak memiliki kesalahpahaman terhadap sekolahnya sendiri.
"Benarkah, mencurigakan..." Daffa menyipitkan kedua matanya dan berbicara layaknya sedang melakukan peran detektif, seperti di film-film Hollywood.
"Prff-hahaha!" Rissa tertawa melihat tingkah laku Daffa yang terlihat konyol, dirinya sangat menyukai Daffa yang seperti itu, rasanya sangat menyenangkan.
"Eh?" Daffa terkejut dan bingung dengan Rissa yang tertawa, dirinya hanya dapat terdiam sebelum akhirnya ikut tertawa bersama.
"Aku sangat menyukai dirimu yang jujur seperti itu, terimakasih sayang!" Ucap Rissa yang segera memeluk Daffa, dan menyenderkan kepalanya di punggung Daffa.
__ADS_1
"Aku juga menyukaimu, cintaku." Hal itu seketika membuat Rissa merona merah muda, yang di mana dirinya sangat malu serta bahagia karena ucapan yang dikatakan oleh Daffa sebelumnya.