
Daffa menguap melihat Amanda mendatanginya, melihat Amanda menuju ke arahnya Daffa hanya menatap dengan wajah bingung.
"Menyebalkan!" Gumam Amanda sambil melewati Daffa, mendengarnya membuat Daffa bingung.
"Kenapa dengannya?" Gumam Daffa sambil menatap kepergian Amanda dengan wajah bingung.
"Kenapa kamu tidak bertanya sendiri kepadanya...?" Ucap Bu Raisa yang tiba-tiba saja muncul di sebelah Daffa.
"Uhk... Itu..." Daffa hanya dapat menggaruk-garuk kepalanya.
...
...
...
"Daffa menyebalkan! Dia lebih memilih perempuan lain dibandingkan diriku...?" Gumam Amanda yang mau menyebrang, tapi dirinya tidak melihat sebuah mobil sedang melaju ke arahnya.
"Hei awas!"
"Tidak!"
"!!!"
"Brrrmmm!"
Amanda segera berbalik mendengar sebuah deru mobil, melihat mobil tepat dihadapannya membuat kaki Amanda gemetar lemas, hal terakhir yang terlintas dalam dirinya adalah sebuah kenangan kecil di masa lalu, saat pertama kalinya dirinya bertemu dengan Daffa.
"Aku masih mencintaimu..." Gumam Amanda sebelum menutup kedua matanya, bersiap untuk ditabrak oleh Mobil, tapi sebuah tangan yang terasa hangat dan nyaman memegang lengan Amanda, lalu menarik Amanda dan memeluknya dengan erat.
"Bodoh! Apa yang kau pikirkan!" Ucap Daffa yang berteriak sambil memelototi Amanda, yang berada tepat di pelukannya.
"..." Amanda yang mendengar suara Daffa terdiam, sebelum membuka mulutnya dengan berteriak.
"Aku mencintaimu!" Teriakan itu sontak membuat suasana menjadi hening, Daffa menatap ke arah Amanda seolah-olah sedang melihat orang aneh.
"Aku sudah punya pacar..." Ucap Daffa sambil menatap Amanda.
"... Begitukah... Kamu pria yang sangat menyebalkan... Bukan?" Tubuh Amanda gemetar sebelum akhirnya bergumam pelan.
...
...
...
Sebelumnya Daffa bingung melihat Amanda yang bertingkah begitu aneh, saat dirinya sedang berpikir sambil menatap keluar jendela dirinya melihat sebuah mobil yang sedang melaju, lalu dirinya melihat Amanda yang menundukkan kepalanya, melihat itu Daffa menjadi sangat terkejut, dirinya segera melompat keluar dari jendela.
__ADS_1
Dirinya berpegangan di jendela sebentar, sebelum akhirnya melompat, melihat Daffa yang mencoba untuk melompat membuat orang-orang sontak berteriak, dan Daffa akhirnya berhasil mendarat di tanah dengan aman.
"Hei awas!"
"Tidak!"
Daffa segera berlari menuju ke arah Amanda, dirinya segera menarik lengan Amanda lalu memeluknya dengan erat, jantung Daffa berdetak dengan cepat dirinya menarik nafas dalam-dalam.
...
...
...
Daffa dan Amanda saat ini berada di taman, mereka duduk di kursi taman dengan suasana canggung.
"Bisakah... Kamu ceritakan seperti apa dirinya?" Ucap Amanda sambil menatap ke bawah.
"Dia... Cantik... Baik... Perhatian... Lebih baik dalam memasak dibandingkan dirimu tentunya..." Mendengar bagian terakhir Amanda terdiam, bibirnya mengkerut mendengar Daffa mengakui bahwa dirinya tidak bisa memasak.
"Lalu... Apakah karena dirinya bisa memasak makanya kamu memilih... Dia?" Ucap Amanda sambil menatap ke arah Daffa.
"Bukan..." Ucap Daffa sambil melihat ke arah langit.
"Kalau begitu, apa alasanmu memilih dia dibandingkan diriku?" Ucap Amanda sambil menatap tepat ke mata Daffa, mendengarnya Daffa menatap mata Amanda.
"Kuat... Lalu bagaimana dengan mataku?" Ucap Amanda yang menatap ke arah Daffa.
"Kamu sombong, manja, baik, perhatian, tapi matamu mencerminkan kepribadian yang lemah, mata yang akan goyah karena sebuah hal yang kuat, karena itu aku tidak memilihmu..." Mendengarkan alasan sebenarnya Daffa lebih memilih Rissa, membuat kedua mata Amanda terbuka lebar.
Dirinya menundukkan kepalanya, ternyata karena alasan dirinya lemah makanya Daffa lebih memilih Rissa, yah dirinya pernah mendengar dari Daffa bahwa dirinya ingin memiliki pacar yang kuat, tapi dirinya tidak mengerti itu sebelumnya, sekarang dirinya baru mengerti hal tersebut.
Orang sering bilang mata mencerminkan hati seseorang, jadi alasan Daffa meski terdengar aneh tapi dapat Amanda terima, tapi perasaannya terhadap Daffa masih ada, meski begitu dirinya sudah tidak akan lagi sakit hati mendengar Daffa sudah berpacaran.
"Tapi, tidak bisakah kamu menunggu hingga aku menjadi kuat, lalu berpacaran denganku?" Ucap Amanda dengan nada bercanda, dirinya bertanya dengan rasa ingin tahu saja.
"Aku sudah menunggu delapan tahun..." Ucap Daffa dengan nada datar, mendengarnya membuat mata Amanda bergetar, jadi bukan dirinya yang menunggu Daffa, melainkan Daffa yang menunggu dirinya.
"... Aku... Bisakah aku bertemu dengan pacarmu?" Ucap Amanda yang akhirnya membuat keputusan.
"Hem... Yah jika hanya bertemu aku bisa melakukannya..." Ucap Daffa yang menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, aku akan menunggu besok..." Ucap Amanda sambil tersenyum, sebelum akhirnya berdiri, dirinya menatap Daffa dengan tersenyum lebar.
"Maaf... Telah membuatmu menunggu terlalu lama, jika... Begitu, aku ingin mengetahui apakah pilihanmu memang sebagus yang kamu katakan..." Ucap Amanda sebelum pamit pergi pulang, Daffa yang melihat hal itu hanya menghela nafas panjang.
...
__ADS_1
...
...
Daffa yang baru saja pulang sekolah, segera menjemput Rissa, Daffa memberitahukan kepada Rissa bahwa salah seorang temannya ingin menemui Rissa, meski Rissa bertanya siapa teman tersebut, Daffa tidak mengatakan lebih banyak, dirinya cuman bilang bahwa temannya ingin bertemu dengan Rissa.
Kemudian Daffa dan Rissa sampai di sebuah taman, melihat bahwa Amanda sudah menunggu di sana, Daffa segera menghampirinya.
"Kak Amanda?"
"Rissa!"
Melihat mereka saling mengenal membuat Daffa menjadi terkejut sekaligus bingung, hei bukankah seharusnya kalian bertengkar atau semacamnya, pikir Daffa yang memikirkan adegan yang ada di film-film.
"Kalian saling kenal?" Ucap Daffa dengan wajah bingung.
"Ya, apakah Kak Amanda temanmu Daffa?" Ucap Rissa yang bertanya dengan rasa ingin tahu.
"Ya, lalu apakah kamu pacar... Daffa?" Ucap Amanda dengan wajah terkejut.
"Benar..." Ucap Rissa yang menganggukkan kepalanya.
"Bukankah kamu sudah punya pacar?" Ucap Amanda dengan wajah bingung.
"Aku... Sudah putus... Dengannya!" Ucap Rissa yang menatap ke arah Daffa.
Melihat Rissa yang menatap Daffa membuat Amanda terdiam, dirinya kemudian mengerti alasan Daffa lebih memilih Rissa, sebab jika Amanda jadi Daffa, dirinya juga akan memilih Rissa, bagaimanapun juga dari kecil dirinya dan Rissa sudah saling kenal, mereka sangat akrab hingga seperti kakak-adik, oleh karena itu dirinya sangat mengenal baik Rissa.
"Lalu... Apa alasan Kak Amanda menyuruh Daffa membawaku ke sini?" Ucap Rissa dengan wajah bingung.
"Aku... Aku calon istri Daffa...!" Ucap Amanda yang seketika membuat kedua mata Rissa melebar, sementara mulut Daffa terbuka lebar mendengar hal itu.
"Apa yang kau katakan!" Ucap Daffa dengan wajah bingung.
"Jadi putuslah dengan Daffa!" Ucap Amanda yang menatap Rissa dengan tatapan tajam.
"Aku tidak akan... Karena aku mencintainya..." Ucap Rissa yang menolak hal itu dengan nada tegas.
Daffa dan Amanda yang mendengar hal itu membuka kedua mata mereka lebar-lebar, mereka berdua tidak mengharapkan jawaban seperti itu keluar dari mulut Rissa.
"Kamu sungguh tidak mau putus dengan Daffa... Kamu perempuan yang tidak mengenal Daffa sama sekali, aku mengenalnya lebih baik..." Ucap Amanda yang memandang Rissa dengan tatapan merendahkan.
"Kalau begitu aku hanya perlu mengenalnya secara perlahan... Lagipula Kak Amanda bukankah kamu sudah bertunangan...?" Ucap Rissa yang seketika membuat Amanda terdiam, sementara Daffa yang mendengarnya menatap ke arah Amanda dengan wajah bingung.
"Haaah... Bagaimana kamu tahu?" Ucap Amanda yang memandang Rissa dengan wajah bingung.
"Kalangan atas semuanya sudah mengetahui hal itu..." Ucap Rissa yang menjawabnya dengan wajah bingung.
__ADS_1