
Daffa kemudian membawa Rissa sampai ke sekolahnya dengan nyaman dan selamat sampai tujuan.
"Hati-hati sayang!" Ucap Rissa sambil melambaikan tangan kanannya kepada Daffa.
"Tentu! Kau juga! Sampai jumpa pulang sekolah!" Ucap Daffa yang kemudian pergi mengendarai motornya.
"Hei Ica!" Fiona datang menghampiri Rissa.
"Apakah ujiannya belum dimulai?" Rissa bertanya kepada Fiona, yang menghampirinya.
"Belum, masih ada waktu tiga puluh lima menit, sebelum ujiannya di mulai." Siska tiba-tiba saja datang dari belakang Rissa, yang sontak saja membuat Rissa melompat karena terkejut, melihat itu Siska tersenyum tipis.
"Siska! Kamu ini!" Rissa menatap Siska dengan tatapan cemberut, melihat itu Siska kemudian tersenyum-senyum lebih lebar, lalu Nana mendatangi mereka.
"Apakah kalian mau ke kantin?" Ucap Nana yang bertanya kepada mereka, mendengar pertanyaan Nana, Rissa, Fiona, dan Siska menganggukkan kepala mereka, lalu mereka berempat pergi berjalan menuju ke arah kantin.
...
...
...
Beberapa saat sebelum Rissa datang ke sekolah, di sebuah ruangan yang terletak di Sekolah Langit Biru, terdapat seorang perempuan tengah bergumam dengan mata melotot, serta mengigit kuku jari jempolnya dengan wajah terdistorsi.
"Perempuan ****** itu! Dia! Dia! Dia harus mati! Rissa Arini kau harusnya tidak terlahir di dunia ini!" Perempuan yang terlihat mengerikan tersebut adalah Liliana.
Dia sangat kesal dengan Rissa yang dapat terus bahagia dan tersenyum serta tertawa, dirinya sangat marah saat melihat hal tersebut, sebelumnya Liliana sudah memikirkan berbagai rencana untuk menghancurkan Rissa, tapi Rissa tidak pernah hancur karena dirinya memiliki teman-temannya yang menjaga dan mendukungnya, serta Daffa yang memperkuat hatinya untuk tidak hancur.
Liliana sangat membenci Rissa, dirinya merasa sangat menyesakkan berbagi udara yang sama dengan Rissa, oleh karena itu Liliana berniat untuk menjatuhkan dan menghancurkan Rissa.
"Apa yang harus aku lakukan! Apa! Apa! Apaaa!" Sambil bergumam Liliana menggebrak meja dengan cukup keras.
"Hem?" Liliana berhenti karena memperhatikan sebuah ember cat yang terletak di dekat meja, yang baru saja dirinya gebrak.
"Ku-huahaha! Rissa Arini! Hari ini kau pasti akan menyesal telah lahir di dunia ini!" Liliana tertawa sambil tersenyum menyeramkan sebelum mengambil ember cat tersebut.
__ADS_1
...
"Ayo kita kembali! Tinggal dua puluh menit lagi sebelum ujian dimulai, ayo kita kembali ke dekat ruang ujian." Siska mengajak Rissa, Nana, dan Fiona untuk kembali karena mereka berempat telah selesai makan beberapa cemilan di kantin.
"Ayo!"
Saat keempatnya tengah berjalan kembali menuju ke ruang ujian, seseorang tiba-tiba saja berlari dan tanpa sengaja tersandung yang membuat pria tersebut memegangi sebuah besi yang merupakan bagian dari tangga untuk mengecat, yang di mana hal tersebut membuat tangga tersebut bergetar dan sebuah ember cat terjatuh, Rissa dan yang lainnya segera mencoba untuk menghindar.
"Baam!"
"Ica!" Nana, Siska, dan Fiona berteriak keras saat mereka melihat seragam sekolah putih-putih milik Rissa terkena cipratan cat, yang di mana mengenai rok, baju dan sepatu.
"Apa!" Pria yang tersandung tersebut terlihat sangat terkejut, dirinya menatap Rissa dan yang lain dengan wajah yang sangat pucat, terutama dirinya sangat terkejut dan ketakutan saat melihat Rissa karena terkena cipratan cat.
"Uwaaah!" Pria itu berteriak ketakutan dan menjauh dari sana, Nana, Siska, dan Fiona tidak sempat mempedulikan pria yang ketakutan tersebut, mereka segera menghampiri Rissa yang terkena cipratan cat.
"Tidak! Ica kamu terkena terlalu banyak cipratan cat, bagaimana ini ujian akan segera dimulai!" Ucap Fiona dengan wajah panik.
"Kita harus segera mencari baju gnati untuk Ica!" Siska segera menyarankan sebuah ide.
"Mungkin aku dapat mengikuti ujian, sebab inikan sebuah kecelakaan, bagaimana kalau kita bertanya kepada guru?" Ucap Rissa yang segera memberitahukan apa yang dipikirkannya.
"Ide bagus! Ayo!" Mereka berempat segera pergi untuk menemui guru yang mengawasi ujian.
"Maaf tapi tetap saja tidak bisa, siswa-siswi harus mengenakan pakaian seragam yang bersih untuk dapat mengikuti ujian, jika tidak, maka tidak diperbolehkan mengikuti ujian." Ucap seorang guru perempuan yang menggelengkan kepalanya, dan meminta maaf.
"Tapi ini kecelakaan Bu! Tidak seperti ini sebenarnya!" Ucap Nana yang berteriak cukup keras, sehingga beberapa siswa-siswi memperhatikan mereka berempat, orang-orang di sekitar mulai berkerumun, lalu bergumam dan membahas mengenai hal tersebut.
"Ada apa ini sebenarnya?" Sebuah suara tiba-tiba saja terdengar, lalu muncullah Pak Ari dari balik kerumunan siswa-siswi.
"Pak Ari!" Rissa berseru terkejut.
"Rissa, pakaian seragam sekolah kamu kenapa seperti itu?" Ucap Pak Ari yang terlihat terkejut dengan pakaian yang dikenakan oleh Rissa.
"Tadi ada pria yang tersandung, dan berakhir menjatuhkan ember cat dan saya terkena cipratan dari ember cat tersebut pak," ucap Rissa yang menjelaskan kejadian yang dialami dengan singkat.
__ADS_1
"Begitukah, apakah kamu sudah mencoba mengambil baju ganti dari rumahmu?" Ucap Pak Ari yang bertanya dengan nada cemas.
"Di rumah tidak ada orang, jadi saya tidak bisa mengambil baju ganti."
Mendengarnya Pak Ari terlihat mengkerutkan alisnya, dirinya kemudian pergi dari sana.
"Apakah rumah kalian ada orang?" Ucap Rissa yang bertanya kepada teman-temannya.
"Di rumahku kosong." Nana memberitahukan dengan nada menyesal.
"Tidak apa-apa," ucap Rissa yang tersenyum menggelengkan kepalanya.
"Rumahku juga tidak ada orang..." Fiona juga tidak memiliki orang di rumahnya pada saat ini.
"Rumahku ada pembantu yang sudah datang pagi-pagi sekali, juga rumahku cukup dekat dari sekolah, tapi pembantuku tidak memiliki handphone untuk dikabari, serta, jikapun bisa dirinya tidak dapat pergi ke sekolah," ucap Siska dengan tatapan rumit.
"Ah! Bagaimana kalau mengabari Daffa untuk datang mengambilkan baju ganti!" Fiona tiba-tiba saja datang dengan sebuah ide cemerlang.
"Tapi aku tidak mau merepotkan Daffa terlalu banyak, dia juga pasti sudah berada di sekolahnya." Rissa menolak hal tersebut, dirinya tidak mau melakukan hal yang merepotkan Daffa.
"Meskipun begitu tidak ada cara lain Ica!" Ucap Nana yang mendesak Rissa.
"Tapi... Daffa..." Rissa tetap menolak hal tersebut, dirinya benar-benar tidak mau merepotkan Daffa lebih banyak lagi, dirinya sudah terlalu banyak ditolong oleh Daffa.
"Begitukah..." Gumam Pak Ari yang mendengarkan pembicaraan Rissa, Nana, Siska, dan Fiona dari balik dinding, dirinya kemudian pergi menjauh lalu menelpon Daffa.
...
"Triing!" "Triiing!"
Mendengar suara dering telpon, Daffa segera mengambil handphonenya, lalu mengetahui bahwa telepon itu dari Pak Ari, membuat Daffa menatap dengan bingung, tapi pada akhirnya dirinya segera mengangkat teleponnya.
"Ada apa Pak Ari?" Daffa bertanya dengan nada bingung.
"Daffa! Ada kabar buruk, Rissa tidak akan bisa mengikuti ujian jika dirinya tidak memiliki baju ganti yang bersih, pakaian seragam sekolahnya terkena cipratan cat, karena itu dirinya tidak diperbolehkan untuk mengikuti ujian."
__ADS_1
"Kamu perlu mengambilkan baju ganti untuk Rissa dari rumah Siska sekarang, jika tidak dirinya tidak bisa mengikuti ujian, apakah kamu akan mengikuti ujian dan membiarkan hal tersebut, atau kamu dapat pergi mengambil baju ganti untuk seorang perempuan yang baru kamu kenal beberapa waktu lalu, sekarang pilih Daffa Abiyyu?"