
"Meski dia sangat menyebalkan! Tapi! Aku akan memberikan suaraku!"
"Hemph! Sepertinya aku perlu memberikan suara untuk anak aneh itu!"
"Bocah sialan itu tidak bisa mengikuti ujian! Aku tidak akan membiarkannya! Hanya aku saja yang boleh mengalahkannya! Dan ujian ini tidak bisa melakukan hal tersebut! Jadi aku setuju!"
Mendengar suara orang-orang yang sebelumnya memiliki konflik dengannya memberikan suara mereka, membuat hati Daffa menghangat dirinya mengangkat wajahnya menatap ke arah mereka.
Air mata mengalir keluar dari mata Daffa, dirinya tidak kuasa menahan rasa bahagia karena memiliki teman-teman yang baik, meski ada yang beberapa kali berkonflik dengannya, mereka tetap temannya, oleh karena itu Daffa sangat bahagia akan hal tersebut.
Bu Yunita yang melihat bahwasanya murid-muridnya dapat bersatu karena seorang siswa saja, membuatnya menjadi sangat terkejut, sebab biasanya akan ada seseorang yang berbeda dengan yang lain, tapi sepertinya Daffa berhasil membuat mereka semua bersatu karena kekonyolan, kebaikan, ketulusan, serta rasa pedulinya terhadap teman-teman sekelasnya dan orang lain yang berada di sekitar.
"Kalian mungkin setuju, tapi Ibu belum tentu sama dengan kalian..." Tepat setelah Bu Yunita berbicara seluruh kelas menjadi sunyi.
Mereka semua menatap Bu Yunita dengan tatapan terkejut, semua siswa-siswi termasuk Daffa menatap Bu Yunita dengan tatapan rumit, mereka semua menunggu keputusan Bu Yunita.
"Hem... Baiklah, karena rasa kebersamaan yang kalian miliki, dengan teman kalian yang begitu besar, maka Ibu akan membiarkan hal tersebut untuk sekali saja, jadi Daffa kamu ambil kertas ini, lalu kerjakan dengan tenang!" Bu Yunita akhirnya menyetujui hal tersebut, seketika semua orang di kelas menjadi sedikit riuh, mereka semua kemudian melanjutkan ujian mereka dengan serius.
...
...
...
Di sebuah rumah mewah, yang terletak di kompleks perumahan ternama, terdapat seorang gadis remaja yang tengah duduk di ruangan gelap, dengan memegang sebuah boneka di tangan kirinya, sebuah foto terletak tepat di wajah boneka beruang tersebut.
"Sial! Sial! Sialan! Kenapa dia berhasil mengikuti ujian! Tidak! Tidak! Tidak! Rissa Arini! Kau seharusnya mati! Mati! Mati!" Gadis remaja tersebut berteriak sambil menusuk boneka beruang menggunakan pisau karter, yang terdapat foto Rissa.
"Apa yang harus aku lakukan! Apa! Apa! Apa! Tunggu! Bukankah aku dapat menculiknya dan membunuhnya?" Gadis remaja tersebut tiba-tiba saja mendapatkan sebuah renacana yang cukup bagus, dirinya kemudian mengambil handphonenya dan menelpon seseorang.
"Halo?"
__ADS_1
"Paman... Bukankah kata Paman, pekerjaan Paman berhubungan dalam jual beli barang, bagaimana jika aku mengatakan bahwa aku memiliki seseorang yang sangat kubenci, dan aku berharap Paman dapat melakukan sesuatu dengan hal tersebut?" Gadis remaja tersebut tersenyum tipis.
"Ouh gadis kecilku ternyata memiliki seseorang yang sangat dirinya benci, katakan saja siapa dan Paman akan mengurusnya untukmu!" Dari balik telepon terdengar suara pria dewasa yang berbicara dengan suara keras.
Mendengar suara dari telepon, gadis remaja tersebut tersenyum bahagia, dirinya kemudian memberitahukan orang dari balik telepon, mengenai semua rencananya.
Sepertinya bencana baru saja dimulai, apakah Daffa dapat terus membantu Rissa atau tidak, kita akan menunggu hasil tersebut.
...
...
...
"Apakah kamu baik-baik saja?" Daffa bertanya sambil mengendarai motornya menuju ke rumah Rissa, di mana Rissa tepat duduk di belakang Daffa.
"Aku baik-baik, lagipula aku yang seharusnya bertanya apakah kamu baik-baik saja?" Rissa bertanya dengan wajah khawatir, dirinya menyandarkan kepalanya dibahu Daffa, dirinya tahu bahwa sebelumnya Daffa hampir saja mengalami kecelakaan, oleh karena itu dirinya bertanya dengan cemas.
"Aku dapat menyelesaikannya dengan baik, ini semua berkat kamu, terimakasih," ucap Rissa yang mengingat saat ujian hari ini berlangsung, di mana dirinya berusaha keras untuk mendapatkan nilai terbaik, karena Daffa sudah berusaha sangat keras untuk dirinya agar dapat mengikuti ujian, oleh karena itu Rissa berusaha sekeras mungkin agar mendapatkan nilai yang terbaik.
"Baguslah kalau begitu, nah sepertinya kita sudah sampai di rumahmu!" Daffa tersenyum tipis, dan menoleh ke belakang.
"Bukankah sudah kukatakan bawa motor pelan-pelan saja?" Rissa berbicara dengan wajah cemberut, dirinya masih ingin terus bersama Daffa.
"Bukankah besok kita akan bertemu kembali!" Daffa tersenyum tipis dan mengusap kepala Rissa dengan lembut.
"Uh... Baiklah aku akan masuk ke dalam rumah, hati-hati di jalan sayang!" Rissa berakhir mengalah, setelah dirinya turun dari motor Daffa, Rissa kemudian melambaikan tangan kanannya.
"Ya, aku pergi sayang!" Daffa kemudian pergi dari rumah Rissa.
...
__ADS_1
...
...
Selama beberapa hari kedepannya Daffa dan Rissa serta yang lainnya menjalani ujian dengan berusaha keras, mereka berjuang sekeras mungkin agar mendapatkan nilai terbaik.
Dalam beberapa hari tersebut pula Daffa ada perasaan yang kurang mengenakkan, seolah-olah ada suatu kejadian besar yang akan terjadi, tapi dirinya tidak tahu harus melakukan apa, Daffa hanya bisa menenangkan hatinya agar tidak cemas.
Pada hari ujian kedua berlangsung, turun hujan yang cukup menyulitkan para siswa-siswi untuk berangkat ke sekolah, termasuk Daffa dan Rissa serta yang lainnya, mereka cukup kesal karena hujan berlangsung ketika hari ujian diadakan.
Tidak hanya pada hari kedua saja, tapi hari ketiga dan keempat hujan terus mengguyur kota Jakarta dan sekitarnya, meski hujan cukup menyulitkan tapi tekad para siswa-siswi sekolah untuk mengikuti ujian menjadi lebih kuat, hujan dan badai tidak menghalangi mereka untuk menempuh pendidikan mereka.
Jika saja semua siswa-siswi di seluruh dunia seperti itu, pasti sudah banyak orang yang menjadi sangat pintar, tapi sayangnya ketika tekanan datang seseorang mungkin akan mencoba menahannya sekeras mungkin, sedangkan jika tekanan lebih besar dibandingkan yang dapat ditahan, orang tersebut pasti akan berakhir menyerah dan terjatuh ke dalam tekanan.
Sebab pada hari keempat sudah ada beberapa siswa-siswi yang tidak hadir, karena hujan turun terlalu deras, mereka akhirnya tidak bisa mengikuti ujian karena satu dan lain hal, meski banyak juga yang datang, tapi beberapa orang yang tidak datang membuat yang lainnya mengalami lebih banyak tekanan.
Tapi mungkin alam sudah mau berhenti mempermainkan siswa-siswi yang telah berjuang tersebut, pada hari kelima sekaligus yang terakhir, hujan tidak turun melainkan langit biru yang cerah dengan sedikit awan berada di langit.
Karena siswa-siswi menjadi sangat bersemangat dan datang ke sekolah lebih awal, sebab mereka takut jika alam hanya bercanda, dan hujan akan datang setelah langit cerah, oleh karena itu mereka buru-buru datang agar jika hujan datang, mereka sudah berada di sekolah jadi tidak terkena hujan.
Ujian pada hari terakhir berlangsung dengan sangat tegang, mereka berusaha sekuat tenaga untuk mengerjakan ujian dengan baik, ujian berlangsung cukup cepat, karena para siswa mengerjakan lebih cepat dan lebih teliti, karena itu para guru membiarkan para siswa-siswi mereka untuk pulang lebih cepat.
"Apakah kita jadi pergi ke Caffe?" Fiona bertanya kepada teman-temannya.
"Tentu saja, tapi para cowok pergi lebih dulu, karena aku perlu mampir sebentar ke tukang fotokopi, tidak masalahkan kalian menemaniku?" Tanya Nana kepada teman-temannya.
"Tentu saja tidak masalah, kita akan pergi yang dekat dengan sekolah bukan?" Jawab Rissa dengan menatap ke arah Nana.
"Ya!" Nana menganggukkan kepalanya.
Kemudian Rissa, Nana, Siska, dan Fiona pergi berjalan menuju ke tukang fotokopi yang dekat dengan sekolah, sementara Nana mengurus urusannya, Rissa, Siska, dan Fiona pergi ke toko sebelah, mereka memasuki toko boneka.
__ADS_1
Melihat-lihat boneka yang ada, mereka kemudian pergi membeli beberapa, sementara Siska dan Fiona berdebat memilih boneka, Rissa pergi keluar toko untuk menghampiri Nana, tapi dirinya tiba-tiba saja merasakan seseorang berada di belakangnya, belum sempat Rissa berbalik dirinya sudah disumpal dan tiba-tiba saja Rissa tidak sadarkan diri.