
"Aku yatim-piatu, kedua orangtuaku telah lama meninggal dunia, akibat kecelakaan lalulintas super dahsyat, aku berhasil selamat dari kecelakaan tersebut."
"Aku tidak memiliki kerabat selain kedua orangtuaku, oleh karena itu aku dititipkan ke panti asuhan."
"Aku memiliki banyak adik di sana, salah satunya Ara, dan Denta serta Dania, tapi Denta dan Dania melanggar batas serta kabur dari panti asuhan, mereka memilih untuk melakukannya sendiri, hal itu membuatku marah kepada mereka, tapi aku tidak dapat menghukum mereka ketika aku melihat mata Dina yang polos dan muni."
"Mereka sudah kuberikan kesempatan kedua, dengan begini pencarianku untuk menemukan mereka sudah tidak diperlukan lagi..." Ucap Daffa yang mulai menceritakan tentang semua kehidupannya di Panti asuhan.
Rissa hanya diam dan mendengarkan, serta membalas dan bertanya sesekali, dirinya ingin mengetahui semua hal tentang Daffa, seolah-olah sekarang dirinya sudah siap untuk memutuskan pilihannya, dirinya siap untuk memilih apa yang dikatakan oleh hatinya.
...
...
...
"Sampai!" Ucap Daffa yang akhirnya berhenti di depan gerbang Sekolah Langit Biru.
"Terimakasih!" Ucap Rissa yang segera turun dari motor Daffa.
"Baiklah sampai jumpa!" Ucap Daffa yang bersiap untuk pergi.
"Tunggu!" Ucap Rissa yang menghentikan Daffa, dirinya segera membuka tasnya, melihat hal itu membuat Daffa menjadi penasaran.
Rissa akhirnya mengeluarkan sebuah kotak makan siang, melihatnya membuat Daffa mengangkat alisnya, dirinya menatap Rissa dengan wajah penasaran.
"Ini...! Makan siang yang telah aku siapkan! Mungkin tidak sesuai dengan seleramu! Tapi kumohon setidaknya cobalah!" Ucap Rissa yang menundukkan kepalanya, dan menyerahkan kotak makan siang kepada Daffa, melihat hal itu Daffa segera mengambilnya, Rissa yang melihat Daffa menerimanya, segera berlari memasuki sekolahnya, dirinya sangat malu oleh karena itu wajahnya terlihat semerah tomat, bahkan tomat akan malu jika dibandingkan dengan wajah Rissa.
"Terimakasih! Sayang!" Ucap Daffa yang berteriak, mendengar hal itu membuat banyak pria menatap Daffa dengan wajah penuh kebencian, sementara Rissa yang mendengarnya menjadi lebih malu, dirinya menambah kecepatannya.
...
...
...
__ADS_1
"Hei lihat seorang perempuan yang sedang jatuh cinta huh...?" Ucap Nana yang melihat Rissa yang buru-buru memasuki kelas, dengan wajah yang semerah tomat.
"Uh! Nana kamu menyebalkan!" Ucap Rissa yang menghampiri Nana, Siska, dan Fiona dengan wajah cemberut.
"Hei kalian menjadi sangat dekat, apakah kamu sudah membuat pilihan?" Ucap Siska yang sekedar bertanya dengan rasa ingin tahu, tapi hal itu malah membuat suasana menjadi hening.
"... Aku... Sudah membuat pilihan... Tapi itu akan kuberitahukan jika saatnya sudah tepat..." Ucap Rissa yang tersenyum tipis, melihat senyum Rissa membuat Nana, Siska dan Fiona terdiam, mereka mengerti bahwa Rissa telah membuat keputusan, tapi dirinya belum ingin memberitahukan hal tersebut kepada mereka.
...
...
...
"Hei Daffa ayo kita pergi ke kantin!" Ucap Rio yang mengajak Daffa.
"Ya, aku sudah lapar..." Ucap Adrian yang juga setuju.
"Ehm...! Tunggu sebentar!" Ucap Daffa yang segera membuka tasnya, lalu mengeluarkan sebuah kotak makan siang, melihat itu membuat Rio, Adrian dan Kevin menjadi sangat terkejut.
"Wow sekarang kau membuat makan siang! Biasanya kau tidak memiliki waktu luang?" Ucap Kevin yang bertanya dengan rasa ingin tahu.
"Lalu... Mungkinkah...! Buatan Bu Yunita lagi?" Ucap Rio yang seketika membuat Daffa tersedak, dirinya tidak ingin memakan buatan Bu Yunita lagi, yang isinya sayur-sayuran serta buah-buahan, hal itu membuatnya ngeri, oleh karena itu dirinya segera mencoba menghilangkan ingatan tersebut.
"Bukan! Ini bukan makanan yang penuh kebencian itu!" Ucap Daffa yang berkata dengan nada kesal.
"Ouh! Lalu... Mungkinkah... Kau membelinya di pinggir jalan tempat makanan langgananmu?" Ucap Kevin yang sekali lagi membuat Daffa terbatuk-batuk, bagaimana mungkin makanan penuh cinta yang dibuat oleh pacarnya yaitu Rissa disamakan dengan makanan pinggir jalan, meski dirinya belum mencoba makanan tersebut, rasanya pasti jauh lebih baik dari makanan pinggir jalan tempat langganannya.
"Bukan itu juga!" Ucap Daffa yang kesal dengan teman-temannya yang sangat bodoh dan tidak peka, sebenarnya ketiga teman Daffa mengetahui hal tersebut, tapi mereka ingin melihat Daffa mengatakannya sendiri, oleh karena itu mereka mengatakan hal-hal tersebut untuk membuat Daffa menjadi kesal.
"Ouh aku tahu!" Ucap Adrian yang membuat kedua mata Daffa berbinar, akhirnya ada temannya yang mengerti perasaannya.
"Kau pasti mendapatkannya dari anak-anak perempuan yang berniat untuk memberikannya kepada kami, tapi mereka melalui dirimu yang dekat dengan kami, untuk memberikan makanan ini kepada kami bukan!" Ucap Adrian yang membuat Daffa ingin muntah darah, ketiga temannya sangat bodoh dan tidak peka, dirinya ingin menyombongkan diri tapi ketiga temannya tidak memberinya kesempatan.
"Bukan itu juga! Ini buatan Rissa! Dia membuatnya penuh cinta dan perhatian! Tapi kalian begitu tidak peka dan bodoh! Tidak memberikan diriku kesempatan untuk menyombongkan diri! Teman macam apa kalian ini!" Ucap Daffa dengan kesal yang berteriak dengan keras, yang pada akhirnya memberitahukan semua orang dikelas bahwa dirinya akhirnya punya pacar.
__ADS_1
"Wow! Selamat Daffa! Akhirnya kau tidak memiliki gelar jomblo seumur hidup!"
"Haha! Gelarmu sekarang telah berubah! Kau memiliki gelar Punya Pacar untuk pertama kalinya!"
"Selamat Daffa!"
Banyak anak-anak yang memberi Daffa ucapan selamat, yang di mana Daffa akhirnya memiliki seorang pacar, hal itu seketika membuat Daffa menjadi sangat malu, dirinya segera tersenyum kecut, dirinya dijebak oleh teman-temannya.
"Kalian menyebalkan..." Gumam Daffa sambil menatap ketiga temannya dengan tatapan tajam, sambil terus memakan makanan buatan dari Rissa.
Rasanya cukup baik, yah memang masih lebih baik nasi uduk pinggir jalan langganannya, tapi dirinya percaya bahwa Rissa dapat berkembang dan dapat membuat makanan yang jauh lebih baik.
"Apakah kamu sedang makan?"
Sebuah pesan masuk melalui handphone Daffa, dirinya segera membukanya dan menemukan pesan itu berasal dari Rissa, yang menayangkan tentang apakah dirinya sedang makan atau tidak.
"Aku sedang makan, makananmu sangat enak! Jika bisa aku ingin lagi untuk besok, yah jika itu tidak merepotkanmu...?"
Di sisi lain Rissa dan teman-temannya yang sedang makan, di mana teman-teman Rissa makan makanan kantin, Rissa makan makanan buatannya sendiri, dirinya tidak hanya membuat satu kotak makan siang untuk Daffa saja, dirinya juga membuat satu kotak makan siang untuk dirinya juga.
"Benarkah! Maka aku akan membuatnya! Dan itu tidak merepotkanku sama sekali! Malah aku sangat senang! Terimakasih untuk pujianmu! Aku tahu rasanya tidak sangat enak, tapi hanya dapat dikatakan sebagai lumayan enak, karena aku juga membuat satu untukku!"
"Aku akan berusaha lebih keras! Agar dapat membuat makanan yang sangat enak, yang dapat sesuai dengan pujianmu!"
Melihat pesan yang dikirimkan oleh Rissa, membuat Daffa tidak dapat menahan senyumnya, dirinya menjadi sangat bahagia, melihat Daffa yang sedang saling berbagi pesan dengan Rissa membuat ketiga temannya, saling memandang dan tersenyum lebar.
"Ouh tidak! Teman kita sedang saling menggoda dengan kekasihnya! Dia sudah tidak peduli lagi dengan teman baiknya!" Ucap Rio yang berbicara dengan dramatis.
"Uhh...! Diamlah! Kau selalu saja membuat lelucon yang tidak lucu itu!" Ucap Daffa yang tidak senang diganggu.
"Hehe! Kau ini!" Ucap Rio yang menggelengkan kepalanya, karena Daffa mencoba bertingkah dengan cara ngambek.
"Ngomong-ngomong kau belum mengatakan, bagaimana dirimu bertemu dengan pacarmu?" Ucap Adrian yang segera mengalihkan perhatian Daffa.
"Eh itu... Ceritanya cukup panjang..." Ucap Daffa yang tersenyum tipis dan menggaruk-garuk kepalanya.
__ADS_1
"Tidak masalah katakan saja!" Ucap Kevin yang juga sangat penasaran.
"Baik... Ini semua dimulai saat malam hari di Taman Mawar Cinta..." Ucap Daffa yang akhirnya mulai menceritakan semuanya.