
Sudut Pandang Nana Larisa.
Namaku Nana, aku seorang gadis yang sering orang-orang katakan sebagai kutu buku, selama ini aku hidup dengan hampir tidak memiliki teman dekat sejak kecil.
Tapi itu semua berubah ketika aku bertemu dengan seorang perempuan yang terlihat mempesona, baik serta pengertian, aku juga berkenalan dengan dua perempuan lain, semenjak itu kehidupan Sekolah menengah atasku menjadi sangat menyenangkan.
Suatu hari aku pulang terlalu larut, aku pulang dengan berjalan kaki menuju ke rumahku, karena aku lebih suka seperti ini, saat sedang berjalan aku melihat sebuah lapangan sepakbola yang berada di dekat rumahku, dan saat kecil aku serta ayahku sering bermain bola di sana.
"Baaam!" Sebuah bola tiba-tiba menuju ke arahku, hal itu membuatku menjadi sangat terkejut lalu berakhir terjatuh, tapi aku melupakan fakta bahwa lapangan memiliki pagar besi yang tinggi, jadi bola tidak akan bisa mengenaiku.
"Hei! Apakah kau baik-baik saja!" Ucap seorang pria yang buru-buru keluar dari lapangan, dan berlari ke arahku.
"Uh..."
"Ehm... Maaf membuatmu terkejut!" Ucap pria itu yang mengulurkan tangannya kepadaku, melihat itu aku mengambil uluran tangannya, lalu berdiri kemudian menatap pria yang berada di depanku.
"Apakah kau baik-baik saja?" Ucap pria itu yang bertanya dengan wajah khawatir.
"Aku baik-baik saja, kalau begitu aku pergi dulu." Ucapku yang segera melewati pria itu, pria tersebut hanya diam sebelum akhirnya kembali ke lapangan dan berlatih bola sendiri.
...
...
...
"Haaah aku pulang larut lagi..." Ucapku yang kemudian menemukan bahwa pria yang sebelumnya pernah aku temui, lagi berlatih bola lagi di lapangan yang dekat dengan rumahku.
Aku memutuskan untuk berhenti dan menontonnya, dia terus berlatih seorang diri, dengan berusaha sangat keras.
Setelah melihatnya selama satu jam aku memutuskan untuk pulang, keesokan harinya saat pulang terlalu larut aku bertemu kembali dengannya, aku kembali menonton dirinya yang sedang berlatih.
Hal itu terus terjadi, hingga akhirnya suatu hari ketika aku berniat untuk pulang setelah menontonnya selama satu jam, dia keluar dari lapangan dan menghampiriku.
"Hei! Kau terus menonton! Apakah kau juga menyukai sepakbola?" Ucap pria itu yang bertanya kepadaku.
__ADS_1
"Ya! Aku sangat menyukai sepakbola!" Ucapku yang tersenyum sambil memikirkan mengenai sepakbola.
"Begitukah! Lalu maukah kau datang untuk menonton pertandingan sepakbolaku!" Ucap pria itu yang bertanya dengan tersenyum lebar.
"Tentu! Di mana itu?" Ucapku yang bertanya dengan rasa ingin tahu.
"Sekolah Pena Merah!" Ucap pria itu yang menyebutkan mengenai sekolah yang cukup terkenal, sekolah Pena Merah dan sekolah Langit Biru selalu dibanding-bandingkan, oleh karena itu dirinya cukup terkejut.
"Benar! Siapa namamu?" Ucap pria itu yang bertanya kepadaku.
"Namaku Nana Larisa! Bagaimana denganmu?" Ucapku yang bertanya kepada pria itu.
"Rio Luis! Itu namaku! Datanglah besok hari Sabtu jam sembilan pagi!" Ucap Rio yang tersenyum tipis.
"Tentu! Aku akan datang! Kalau begitu aku pergi dulu!" Ucapku yang kemudian bersiap untuk pulang.
"Apakah kau tinggal di dekat sini?" Ucap Rio yang bertanya kepadaku.
"Ya, kau sendiri apakah tinggal di dekat sini juga?" Ucapku yang bertanya dengan rasa ingin.
"Ouh! Di sana... Aku tinggal di RT 06!" Ucapku yang tersenyum tipis.
"Kalau begitu sampai jumpa besok!" Ucap Rio yang melambaikan tangannya, aku hanya menganggukkan kepalaku lalu berjalan menuju ke rumah.
...
...
...
Hubunganku dengan Rio menjadi lebih dekat, kami sering bertemu dan berbicara bersama, Rio menjadi lebih sering mengajakku untuk menontonnya bertanding bola, terkadang kami akan pergi menonton film mengenai sepakbola.
Karena hubungan kami terus menjadi semakin dekat, akhirnya aku jatuh cinta kepada Rio, tapi aku tidak tahu apakah Rio juga akan merasakan hal yang sama, oleh karena itu aku hanya dapat terus memendam perasaanku.
Tapi pada akhirnya Rio menyatakan perasaannya kepadaku dan kami akhirnya berpacaran, kami menjadi lebih sering pergi bersama, aku tidak bisa memperkenalkan Rio kepada ketiga teman baikku, sebab mereka semua jomblo, dan hanya aku yang berpacaran mau tidak mau aku menutupi hubungan kami, Rio juga melakukan hal yang sama.
__ADS_1
Aku akhirnya mengajak Rio ke rumah untuk memperkenalkannya kepada kedua orangtuaku, ketika Rio tahu bahwa ayahku pensiunan mantan pemain sepakbola profesional, yang telah memenangkan piala dunia, menjadi sangat terkejut.
Dirinya segera meminta tanda tangan kepada ayahku, mengetahui bahwa aku berpacaran dengan orang yang juga menyukai sepakbola, ayah dan ibuku menerima hubungan kami.
Kami menjadi lebih dekat, meski ada beberapa hal di sana dan di sini, tapi pada akhirnya kami tetap bersama.
Meski aku kesal karena dia sangat tampan yang membuat banyak perempuan yang tertarik kepadanya, tapi aku tidak dapat berbuat apa-apa karena pacarku memang sangat tampan.
Saat liburan dan piala dunia sedang berlangsung, aku dan Rio menontonnya bersama, kami memiliki tim favorit yang sama yaitu Indonesia.
Indonesia telah memenangkan piala dunia sebanyak lima kali, empat kali dimenangkan oleh ayahku dan sekali dimenangkan oleh pemain Indonesia terbaik era ini.
Suatu hari ketika aku dan Rio sedang berjalan-jalan di Mall, aku menemukan sebuah Komik mengenai sepakbola yang sangat luar biasa, nama Komiknya adalah Pecundang Sepakbola Tak Kenal Kata Menyerah.
Aku membacanya sekali tapi aku langsung menyukainya, ceritanya seru banget, dipenuhi perjuangan dan kerja keras, serta memiliki kemampuan super dalam ceritanya sendiri yang sangat inovatif.
Komik itu sangat kusukai, tapi aku tidak dapat meminta tanda tangan kepada Komikus dari komik Pecundang Sepakbola Tak Kenal Kata Menyerah, sebab Komikus itu tidak pernah mau melakukan acara tanda tangan.
Padahalkan acara tanda tangan sangat menguntungkan, sepertinya Komikus itu tidak mementingkan uang, aku lebih menghormati komikus tersebut.
Suatu hari Rio mengajakku untuk bermain di Mall, katanya ada film mengenai sepakbola baru, yang ada di bioskop Indonesia, oleh karena itu aku pergi bersama Rio.
Sesampainya di Mall, kami segera pergi ke bioskop untuk menonton, setelah menonton filmnya selama dua jam, kami sangat menyukainya karena ceritanya yang sangat bagus.
Setelah itu kami berdua keluar dari bioskop dan berniat untuk pergi makan, tapi sebelum itu aku berniat untuk membeli Komik Pecundang Sepakbola Tak Kenal Kata Menyerah Volume yang baru saja keluar, kami pergi ke toko buku yang berada di dalam Mall.
Aku berhasil mendapatkannya, yang di mana hanya tersisa satu untungnya aku datang cepat, jika aku terlambat sedikit saja volume terbarunya akan habis, dan aku perlu mencarinya di toko lain, setelah itu kami berdua baru pergi menuju ke arah area makan berada.
Selama menuju ke sana aku membeli beberapa aksesoris yang cantik dan lucu, melihatku memakai bando telinga kelinci yang ada bola sepak di tengah-tengahnya, membuat Rio tersenyum lebar dan segera memfotoku.
Hal itu membuatku malu, karena itu aku membalasnya dengan memaksanya memakai bando telinga beruang, melihatnya membuatku tersenyum lebar, hal itu membuat Rio tersenyum malu-malu, kami akhirnya memutuskan untuk melanjutkan pergi ke area makan.
"Eh!"
Sudut Pandang Nana Larisa Berakhir.
__ADS_1