Pena Merah Di Langit Biru

Pena Merah Di Langit Biru
Chapter 42: Penyelesaian Konflik Bagian Ke 2


__ADS_3

Mendengarkan cerita dari Daffa membuat Pak Ari seketika kembali merasa bersalah, meski Daffa selamat belum tentu lain kali hal tersebut dapat terjadi, jika Daffa mengalami kecelakaan karena dirinya, Pak Ari akan merasa sangat bersalah kepada dirinya sendiri, Rissa, serta istrinya.


Sebab Daffa telah menyelamatkan istrinya, oleh karena itu pasti istrinya akan merasa sangat sedih dan marah kepada dirinya, oleh karena itu Pak Ari menundukkan kepalanya, dirinya tidak dapat mengangkat wajahnya dan menatap Daffa, karena rasa bersalah yang begitu kuat berada di dalam dirinya.


"Tidak perlu merasa bersalah, saya melakukan ini karena kehendak saya sendiri, jadi jangan merasa bersalah seperti itu, tolong angkat wajah anda." Daffa kemudian berbicara, karena memperhatikan bahwa Pak Ari terlihat merasa bersalah, akibat dirinya yang hampir mengalami kecelakaan karena Pak Ari.


"Tapi..." Pak Ari masih merasa bersalah, oleh karena itu dirinya terus menundukkan kepalanya.


"Jangan jadi pria yang lemah! Kau akan menjadi seorang ayah! Jadi tegakkan punggungmu dan tatap lurus ke depan! Jika kau lemah bagaimana dengan istri serta anakmu yang akan lahir hah!" Daffa membentak Pak Ari dengan suara keras.


"!!!"


Pak Ari kemudian menatap ke arah Daffa dengan tatapan rumit, sebelum akhirnya mentegakkan punggungnya lalu menatap lurus ke depan.


"Bagus! Sekarang pergilah! Bukankah kau memiliki tugas sebagai guru! Bagaimana jika kau dipecat! Apakah kau mau istrimu yang memberimu makan! Jika tidak sekarang cepat pergi dan kerjakan pekerjaanmu!" Daffa kembali memberi perintah, Pak Ari kemudian tersenyum lebar.


"Benar, maafkan aku, terimakasih banyak Daffa..." ucap Pak Ari sebelum akhirnya pergi memasuki gedung sekolah.


Daffa yang melihat bahwa Pak Ari sudah tidak ada, seketika terduduk lemas, kakinya terasa sangat sakit.


"Sial... Berlari dengan cepat serta melompat untuk menambah kecepatan, ternyata sangat menyakitkan serta melelahkan, aku tidak mau melakukan hal itu lagi..." Daffa menatap ke arah kakinya yang terasa sangat sakit.


Daffa sebelumnya memang mengendarai motornya, tapi di tengah jalan motornya tiba-tiba saja mati, dan tidak mau menyala oleh karena itu Daffa berakhir meninggalkan motornya, lalu berlari dengan cepat serta melompat untuk menambah kecepatannya, sehingga dirinya dapat sampai dengan lebih cepat.


"Hem...?"


"07:59?" Daffa menatap jam di handphonenya dengan mata yang terbuka lebar.


"Sialan, sepertinya aku tidak bisa mengikuti ujian... Tapi aku tetap harus pergi ke sana... Ini akan memakan lebih banyak waktu..." Daffa tersenyum lelah, dirinya kemudian memesan Ojek Online, mengenai motornya, Daffa meninggalkan motornya ke salah seorang kenalannya, jadi Daffa tidak terlalu khawatir, secara tidak sengaja motornya mati di dekat tempat kenalannya berada, jadi Daffa segera menelpon kenalannya, lalu segera bergegas pergi menuju ke Sekolah Langit Biru.

__ADS_1


...


Selama perjalanan kembali ke sekolahnya Daffa merasa sangat lelah serta lapar, dirinya menyuruh tukang Ojek Online berhenti sebentar untuk membeli banyak gorengan, dan mie goreng dengan bumbu kacang, serta air botol kemasan.


"Dek anda terlihat sangat lapar, apakah anda belum makan seharian?" Tanya Abang-abang tukang Ojek Online, yang memperhatikan Daffa membeli banyak makanan, serta memakan semuanya dengan sangat lahap.


"Ya seperti itulah..." Daffa membelas sebentar sebelum melanjutkan memakan makanannya.


Setelah selesai makan, Daffa memperhatikan bahwasanya dirinya hampir sampai ke sekolahnya, seketika Daffa melihat ke arah jam di handphonenya.


"08.35!" Daffa berseru terkejut melihat hal tersebut, dirinya hanya dapat menghela nafas panjang.


"Kita sudah sampai!"


"Terimakasih! Sudah saya bayar melalui aplikasi!" Daffa kemudian segera berlari ke arah belakang sekolah, dirinya segera menatap dinding belakang sekolah, Daffa kemudian melihat ke sekitar sejenak, sebelum akhirnya melompat dan memanjat dinding sekolah, Daffa kemudian turun dan melirik ke sekitar dengan tatapan serius, lalu Daffa segera berlari dengan sangat cepat menuju ke arah kelasnya yang sedang dilaksanakan ujian.


Setelah berjuang sekeras mungkin agar tidak terlihat oleh orang-orang, Daffa akhirnya sampai di depan pintu kelasnya, dirinya segera melihat sekeliling sebelum akhirnya melihat ke dalam kelas melalui jendela.


Kemudian Daffa duduk di lantai, dirinya menatap langit biru, Daffa menutup kedua matanya.


"Berhenti duduk diam di sana, ikuti aku masuk ke dalam kelas!" Sebuah suara seketika membuat Daffa membuka kedua matanya lebar-lebar.


Daffa kemudian menoleh ke asal suara itu terdengar, di sana Daffa melihat sosok yang dirinya kenal, sosok tersebut adalah Bu Yunita, melihat Daffa terus menatapnya membuat Bu Yunita mengkerutkan alisnya.


"Tapi aku telat..." Daffa menatap mata Bu Yunita, dan berbicara dengan nada bersalah.


"Aku tahu, oleh karena itu bukan aku yang memutuskan hal tersebut, ayo ikuti aku masuk ke dalam kelas." Bu Yunita kembali mengajak Daffa masuk ke dalam kelas.


"Ba-baiklah..." Daffa menganggukkan kepalanya dan mengikuti Bu Yunita masuk ke dalam kelas.

__ADS_1


"Semuanya! Tolong perhatikan sebentar saja, ini teman kalian datang terlambat, dirinya mau mengikuti ujian, tapi hal tersebut melanggar peraturan sekolah, yang mengenai siswa-siswi yang datang terlambat dilarang mengikuti ujian saat ujian sedang berlangsung, oleh karena itu Ibu mau bertanya kepada kalian..."


"Apakah kalian mau mempertimbangkan untuk membiarkan Daffa untuk mengikuti ujian, jika para siswa-siswi menyetujui hal tersebut, maka peraturan tersebut dapat dibiarkan, jadi apa pilihan kalian semua?" Bu Yunita menatap mata para murid-muridnya.


Teman-teman sekelas Daffa saling memandang, sementara itu Daffa terus menundukkan kepalanya, dirinya merasa sangat bersalah serta malu akan hal tersebut, oleh karena itu dirinya hanya dapat terdiam dan menunggu keputusan.


"Aku tidak masalah!" Rio segera tersenyum dan memberikan suaranya.


"Aku juga!" Adrian juga melakukan hal tersebut.


"Ya, aku juga setuju membiarkan Daffa ikut ujian!" Kevin juga melakukannya.


Mendengar ketiga teman baiknya menolongnya, membuat Daffa merasa sangat tersentuh, dirinya terus menundukkan kepalanya dan menunggu keputusan.


Setelah Rio, Adrian, dan Kevin memberikan suara mereka, tidak ada lagi orang yang memberikan suara mereka untuk Daffa, mengetahui bahwa dirinya tidak dapat mengikuti ujian Daffa hanya diam dan terus menundukkan kepalanya.


"Aku memberikan suaraku!"


Seketika Daffa menjadi tegang, saat dirinya mendengar suara tersebut, Daffa siap untuk mengangkat wajahnya, tapi sebelum Daffa benar-benar sempat melakukan hal tersebut dirinya kembali mendengar suara.


"Aku setuju!"


"Aku juga!"


"Hitung diriku!"


"Tentu, biarkan Daffa ikut ujian!"


"Di ujian akhir ini, kita harus bersama hingga akhir!

__ADS_1


"Jika Daffa tidak ikut! Berarti kita bukan teman! Karena itu Daffa harus ikut ujian!"


Hampir semua teman Daffa memberikan suara mereka, mengetahui hal tersebut Daffa tersenyum tipis, karena sangat menghargai teman-temannya, meski begitu dirinya tahu bahwa ada beberapa yang tidak akan memberikan suara mereka, orang-orang tersebut sebelumnya pernah memiliki konflik dengan Daffa, oleh karena itu Daffa berpikir mereka tidak akan memberikan suara mereka untuk membantunya.


__ADS_2