Pena Merah Di Langit Biru

Pena Merah Di Langit Biru
Chapter 24: Masalah Awal Bagian Ke 12


__ADS_3

Daffa menceritakan semuanya mengenai pertemuan pertamanya dengan Rissa, mendengarkan cerita pertemuan pertama Daffa dengan Rissa membuat Rio, Adrian, dan Kevin saling memandang sebelum akhirnya berpikir secara bersamaan bahwa Daffa dan Rissa sudah seperti karakter dari sebuah cerita saja.


Yah itu tidak salah, tapi tidak akan akan ada yang tahu kecuali Dewa Takdir, sementara itu Daffa yang sudah selesai menceritakan semuanya, melihat bahwa makanan dari kotak makan siangnya sudah habis, tapi dirinya masih lapar, oleh karena itu Daffa buru-buru memesan makanan yang masih tersisa di kantin.


Setelah memakan habis semuanya dan membayarnya, Daffa dan teman-temannya pergi kembali ke kelas.


Sedangkan di sisi lain Rissa yang baru saja masuk ke dalam kelas, melihat bahwa Bu Windi sedang berada di dalam kelasnya.


"Rissa!" Ucap Bu Windi yang menghampiri Rissa.


"Ada apa Bu Windi?" Ucap Rissa dengan wajah bingung, teman-teman Rissa juga bingung dengan kedatangan Bu Windi.


"Ini ada Kue buat kamu, sabagai tanda terima kasih Ibu, karena kamu telah membantu Ibu dan Pak Ari sebelumnya, terimalah!" Ucap Bu Windi yang tersenyum dan menyerahkan sebuah Kue yang memiliki Coklat di atasnya.


"Tidak usah Bu! Saya ikhlas membantu Ibu dan Pak Ari kok!" Ucap Rissa yang menggelengkan kepalanya.


"Tidak apa-apa, Ibu tahu kamu membantu Ibu dan Pak Ari dengan niat tulus, tapi Ibu masih tetap ingin memberikan ini kepada kamu, Ibu mohon...!" Ucap Bu Windi yang tersenyum dan memohon kepada Rissa, yang pada akhirnya Rissa terima.


"Terimakasih banyak Bu atas Kuenya!" Ucap Rissa yang berterimakasih kepada Bu Windi.


"Tidak, Ibu yang seharusnya berterimakasih, kalau begitu Ibu pergi dulu ya." Ucap Bu Windi yang kemudian pergi meninggalkan kelas Rissa.


"Wow Kue Coklat...!" Ucap Fiona yang menatap Kue tersebut dengan tersenyum lebar dan dengan mata berbinar.


"Hei itu punya Ica!" Ucap Nana yang menghentikan Fiona untuk mengambil Kue Coklat punya Rissa.


"Tapi tapi!" Ucap Fiona yang menatap ke arah Kue dengan wajah memelas.


"Tidak apa-apa, nanti kita makan berempat!" Ucap Rissa yang tersenyum tipis.


...


...


...

__ADS_1


"Baiklah! Aku tidak akan menjemputmu!"


Daffa yang baru saja selesai mengirim pesan kepada Rissa, segera menjadi cemberut, dirinya tidak dapat pulang bersama Rissa, sebab Rissa akan pulang bersama teman-temannya.


"Haaah... Ouh benar juga! Aku perlu pergi ke perusahaan, sebab hari ini akan diumumkan Novel Bulanan Terbaik!" Ucap Daffa yang baru ingat, meski dirinya tidak terlalu peduli dengan penghargaan semacam itu, tapi karena dirinya tidak punya kerjaan dirinya memutuskan untuk datang.


Sesampainya di perusahaan penerbitan, Daffa disambut hangat oleh para pegawai di sana, ada juga beberapa Penulis dan Komikus yang mengenal Daffa, bagaimanapun juga Daffa seorang Selebriti dibidang Novel dan Komik.


"Ouh kamu datang?" Ucap seorang perempuan yang seketika menghentikan Daffa, dirinya berbalik dan menemukan kecantikan yang sebanding dengan Aktris papan atas, bahkan lebih cantik dari Aktris papan atas yang biasanya.


Dengan rambut biru panjang, serta mata sebiru permata, dengan kulit seputih susu dan terlihat lembut serta mengkilap, dengan memiliki tubuh yang langsing, serta memiliki dua proporsi bagian atas yang bagus.


"Amanda Putri Maharani..." Gumam Daffa yang menatap perempuan cantik tersebut.


"Daffa Abiyyu... Lama tidak bertemu... Kamu... Menjadi lebih Tampan..." Ucap Amanda sambil tersenyum manis, yang dapat membuat semua orang terpana, melihat senyumnya yang begitu indah.


"Sudahlah jangan bertingkah aneh seperti itu... Dasar menyebalkan...!" Gumam Daffa dengan nada datar, serta tatapan tanpa ekspresi.


"Kuh! Kamu selalu saja tidak dapat terpengaruh olehku, aku benci dirimu!" Ucap Amanda dengan cemberut, yah Amanda juga seseorang yang tidak biasa, layaknya Daffa, karena itulah Daffa tidak terpengaruh dengan kecantikan Amanda.


"Yah, aku sedang luang, makanya aku datang, lagipula apakah itu penting bagimu?" Ucap Daffa dengan wajah bingung.


"Yah tidak juga... Aku hanya penasaran saja..." Ucap Amanda yang akhirnya sadar ada yang berbeda dengan Daffa.


"Kamu... Kamu memiliki bau seorang perempuan!" Ucap Amanda yang mendekati Daffa dan mulai mengendus-endus Daffa.


"Apa! Apakah kau ini Hewan pengerat atau semacamnya?" Ucap Daffa yang menjauh dan bertanya dengan heran.


"Tentu saja bukan! Kau yang hewan! Hewan buas! Yang mengambil kemenanganku!" Ucap Amanda dengan wajah kesal.


"Lalu kenapa kau bertingkah seperti itu, mengendus-endus bauku?" Ucap Daffa dengan wajah bingung.


"Aku hanya penasaran saja! Lagipula sebelumnya kau tidak pernah dekat dengan seorangpun perempuan..." Ucap Amanda yang membuat Daffa terluka.


"Mulutmu setajam pisau seperti biasanya..." Gumam Daffa sambil mencoba menyeka darah imajinernya.

__ADS_1


"Lalu katakan siapa perempuan itu?" Ucap Amanda yang menatap tajam kepada Daffa.


"Pacarku!" Ucap Daffa dengan nada bangga.


"Prff-hahaha!" Bukannya kekaguman ataupun ucapan selamat, malah tertawaan yang keluar dari mulut Amanda.


"Apa!" Ucap Daffa yang kesal dengan Amanda yang menertawainya.


"Haha! Pacar! Hahaha! Jika kau ingin berbohong setidaknya cobalah untuk membuat yang memungkinkan, kau memiliki pacar! Haha itu tidak akan mungkin!" Ucap Amanda yang tertawa dengan keras, dan memegangi perutnya, tidak dapat menahan tawanya.


"Aku bersungguh-sungguh!" Ucap Daffa dengan wajah kesal.


"Haha tidak... Mungkin... Kan?" Ucap Amanda yang menatap ke arah Daffa, tapi melihat Daffa tidak menunjukkan tanda-tanda berbohongnya yang biasa, seketika menghentikan Amanda dari tertawa.


"Sungguh...! Seriusan?!" Ucap Amanda yang bertanya dengan wajah terkejut.


"Tapi... Bagaimana?" Ucap Amanda yang menatap kosong ke arah Daffa, sebuah perasaan yang tidak menyenangkan tiba-tiba saja muncul dalam dirinya, meski dirinya sudah mencoba untuk melupakan perasaan ini, tapi perasaan itu tetap saja ada dalam dirinya.


"Yah ceritanya cukup panjang, tapi akhirnya kami berpacaran..." Ucap Daffa yang menggaruk-garuk kepalanya, mendengarnya membuat Amanda menundukkan kepalanya, dirinya merasakan sakit yang amat sangat menyakitkan.


"Kamu menyebalkan...!" Ucap Amanda sebelum akhirnya pergi meninggalkan Daffa, hal itu membuat Daffa terdiam.


"Kenapa dengan Amanda?" Sebuah suara tiba-tiba saja muncul dari belakang Daffa, hal itu membuat Daffa menjadi sangat terkejut, dirinya segera berbalik arah dan menemukan seseorang yang sangat mengejutkan, dia adalah Mama Rissa, pemilik perusahaan dari perusahaan penerbitan yang Daffa jadikan tempat untuk menerbitkan Novel dan Komiknya.


"Bu Pemimpin!" Ucap Daffa yang menundukkan kepalanya.


"Tidak perlu, bisakah kamu ceritakan apa yang terjadi?" Ucap Bu Raisa yang bertanya dengan rasa ingin tahu.


"Ah itu, jadi begini..." Daffa mulai menceritakan semua yang telah terjadi sebelumnya, mendengar Daffa memiliki pacar juga sedikit mengejutkan Bu Raisa, untung saja Daffa tidak memberitahukan tentang hubungannya dengan Rissa, jika tidak itu mungkin akan sangat mengejutkan bagi Bu Raisa, meski Bu Raisa menyetujui jika Rissa berhubungan dengan Daffa, tapi bukan berarti hal tersebut tidak akan mengejutkannya.


"Lalu karena kamu sudah datang ayo kita lihat, siapa pemenang dari Novel Terbaik Bulan ini." Ucap Bu Raisa yang mengajak Daffa pergi ke tempat pertemuan, di sana terdapat banyak pegawai serta berbagai penulis novel.


"Cukup ramai...?" Gumam Daffa yang terkejut.


"Yah karena bulan ini banyak pendatang baru yang hebat-hebat...!" Ucap Bu Raisa yang menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2