
Daffa membawa Dina menuju ke toko es krim, setelah membeli banyak Es krim, Daffa kembali bersama Dina ke teman-temannya.
"Apakah kita akan pergi ke tempat pengumuman?" Ucap Rissa yang bertanya kepada semuanya.
"Ya, lagipula kita perlu menolong anak itu lebih dulu bukan?" Ucap Nana yang menganggukkan kepalanya.
"Aku setuju!"
"Ya, aku tidak masalah..."
Melihat semuanya setuju, mereka semua akhirnya pergi ke tempat pengumuman, untuk mengumumkan seorang anak yang tersesat, tidak, ayah dan ibunya yang tersesat, oleh karena itu dirinya mencoba untuk mencari mereka.
Setelah meminta bantuan pegawai Mall untuk mengumumkan hal tersebut, Daffa dan yang lainnya akhirnya bisa tenang, sementara Daffa melihat ke arah kamera dengan kagum, yang lainnya terus berbicara dengan Dina.
Daffa kagum karena ada begitu banyak televisi yang memantau semua tempat di Mall, jika dirinya memiliki banyak televisi, dirinya pasti akan menggunakannya untuk menonton semua acara yang tidak dapat dirinya tonton pada saat yang bersamaan.
...
...
...
"Pengumuman pengumuman telah ditemukan seorang anak yang tersesat, dengan jenis kelamin perempuan, yang merasa kehilangan anak dengan jenis perempuan diharapkan untuk datang ke tempat pengumuman!"
Mendengar hal itu sepasang suami-istri menjadi sangat terkejut, mereka segera pergi menuju ke tempat pengumuman, di mana mereka melihat sekelompok orang di sana.
"Ayah ibu!" Ucap Dina yang akhirnya menemukan ayah dan ibunya yang tersesat.
"Untunglah kamu selamat...!" Ucap sepasang pria dan perempuan tersebut, yang memeluk Dina dengan menangis bahagia.
"..." Daffa yang akhirnya melihat kedua orangtua Dina menjadi terdiam, bukan karena terharu ataupun bahagia karena Dina menemukan kedua orangtuanya, tapi karena dirinya mengenal kedua orang tua Dina.
"Terimakasih banyak! Terimakasih-?!" Sebelum ayah Dina menyelesaikan kata-katanya mengucapkan kata terimakasih, dirinya terdiam karena terkejut menemukan seseorang yang sudah lama tidak dirinya temui.
"Sayang ada apa?" Ucap Ibu Dina sebelum akhirnya juga menjadi terdiam, melihat mereka membuat teman-teman Daffa menjadi bingung.
"Ikuti aku!" Ucap Daffa dengan nada tegas, sebelum berjalan pergi, melihat itu ayah dan ibu Dina pada akhirnya mengikuti Daffa, melihat hal itu membuat teman-teman Daffa menjadi bingung, mereka pada akhirnya mengikuti Daffa, di mana mereka pergi menuju ke parkiran yang sepi.
"... Kak Daffa maafkan aku! Ini semua salahku jika Kakak ingin menghukum kami pukul saja aku! Tolong jangan menghukum Dania!" Ucap ayah Dina yang menundukkan kepalanya dan memohon kepada Daffa.
__ADS_1
Melihat hal itu membuat semua teman-teman Daffa, serta Rissa dan teman-temannya, menjadi sangat terkejut, mereka tidak menyangka hal tersebut akan terjadi.
"Tidak! Ini bukan hanya kesalahan Denta! Aku juga salah! Tolong hukum aku juga!" Ucap Dania yang menundukkan kepalanya.
"... Kakak, apakah kakak akan memukul ayah dan ibuku?" Ucap Dina yang segera menghampiri Daffa dan bertanya dengan mata yang berkaca-kaca.
"..." Daffa yang melihat mata anak itu begitu murni dan polos, menjadi terdiam sejenak sebelum dirinya menatap anak di depannya dengan tatapan lembut.
"Apakah kalian makan dengan baik?" Ucap Daffa dengan yang mengusap pelan kepala Denta dan Dania.
Mendengarnya membuat Denta dan Dania tidak dapat menahan tangis, mereka terus-menerus mengeluarkan air mata, karena itu mereka terus menundukkan kepala agar Dina tidak melihat mereka yang sedang menangis.
"Aku marah... Aku sangat marah dengan kalian yang melanggar batasan..." Ucap Daffa dengan nada datar dan dingin.
"Kalian tahu dari tiga puluh anak, sepuluh di antaranya kehilangan orang tua mereka akibat kedua orangtua mereka meninggal dunia, kalian berdua termasuk aku salah satunya, dan dua puluh yang tersisa ditelantarkan oleh orangtua mereka akibat mereka belum siap untuk menjadi orangtua."
"Karena itu ketika kalian melanggar batas, dan pergi dari rumah, dengan hanya menuliskan sebuah surat membuatku sangat marah, kalian tahu ada banyak orangtua yang tidak siap menjadi orangtua, dan kalian berdua memilih untuk menjadi orangtua?"
"Kalian tahu aku tidak pernah menyerah untuk mencoba menemukan kalian, aku telah meminta bantuan kepada Paman Mike dan Bibi Lucy, tapi kalian begitu pintarnya bersembunyi."
"Jika kalian sepintar itu, lalu jika saja kalian masih sekolah saat ini kalian pasti akan menjadi siswa dan siswi terbaik, dengan memenangkan banyak perlombaan, hal itu akan membuatku dan ibu menjadi bangga, tapi kalian malah memilih untuk melanggar batas dan pergi dari rumah!"
"Meski begitu aku tidak dapat menghukum kalian, melihat mata polos dan murni anak ini membuatku mengingat ketika kalian masih kecil, ketika kalian cengeng dan mudah menangis, tapi sekarang kalian menjadi kuat dan dapat menghidupi seseorang yang begitu imut dan menggemaskan."
"Dina... Bisakah kamu tunggu bersama kakak-kakak itu sebentar, aku akan berbicara dengan kedua orangtuamu." Ucap Daffa sambil tersenyum yang berjongkok, dan mengusap rambut Dina dengan lembut.
"Apakah apakah kakak akan menyakiti ayah dan ibuku?" Ucap Dina yang menatap Daffa dengan mata yang ingin mengeluarkan air mata.
"Tidak, aku kakak mereka berdua, oleh karena itu aku tidak akan menyakiti mereka...!" Ucap Daffa yang tersenyum lebar.
"Benarkah?"
"Ya!"
"Lalu... Lalu berjanjilah!" Ucap Dina yang mengarahkan jari kelingkingnya yang kecil.
"Hem... Kamu sangat mirip dengan ibumu..." Ucap Daffa sambil tersenyum sebelum akhirnya juga mengulurkan jari kelingkingnya.
"Bisakah kalian menjaga Dina sebentar?" Ucap Daffa sambil tersenyum kepada semua teman-temannya.
__ADS_1
"Tentu!" Ucap Rissa yang menganggukkan kepalanya.
Melihat itu Daffa tersenyum lebar, sebelum akhirnya pergi menjauh bersama dengan Denta dan Dania, melihat itu membuat Rissa menjadi khawatir.
"Apakah kalian tahu tentang keluarga Daffa?" Ucap Rissa yang bertanya dengan khawatir kepada ketiga teman baik Daffa.
"Dari yang kutahu Daffa itu telah kehilangan orangtuanya semenjak dirinya bayi, kau tahu kecelakaan mobil berturut-turut di Jalan Tol Super Lurus?" Ucap Rio yang bertanya kepada Rissa.
"Hem... Tidak?" Ucap Rissa yang menggelengkan kepalanya.
"Ah! Kecelakaan itu! Sebuah kecelakaan lalulintas super dahsyat yang menewaskan lebih dari lima ratus orang, dan delapan ratus orang luka parah, sedangkan seribu orang mengalami luka ringan!" Ucap Nana yang akhirnya ingat sebuah kecelakaan delapan belas tahun yang lalu.
"Benar! Itu kecelakaan fenomenal yang paling parah sepanjang kecelakaan lalulintas di Indonesia!" Ucap Fiona yang juga mengetahuinya.
"Yap, kedua orangtua Daffa meninggal dunia akibat kecelakaan tersebut, tapi dirinya berhasil selamat, sehingga Daffa berakhir dititipkan di panti asuhan..." Ucap Rio yang menjelaskan tentang keluarga Daffa.
"..." Rissa yang mendengarnya terdiam, dirinya menatap Dina dengan tatapan lembut.
...
...
...
"Lalu kalian sekarang tinggal di mana?" Ucap Daffa yang bertanya kepada Denta.
"Kami sekarang ngontrak di Bekasi Selatan." Ucap Denta yang membuat Daffa terdiam.
"Kalian begitu pintar bersembunyi ya... Haaah... Lalu kau kerja apa sekarang?" Ucap Daffa yang bertanya kepada Denta.
"Aku kerja serabutan, aku kerja sebagai kuli bangunan, cuci piring, dan semua pekerjaan yang menghasilkan uang dengan cara yang normal, selama aku bisa memberikan makan diriku, istriku serta putriku itu sudah cukup, setelah menabung cukup lama aku berniat untuk mengajaknya jalan-jalan di sini, tapi aku tidak menyangka dirinya akan tersesat." Ucap Denta yang menjelaskan mengenai pekerjaannya.
"Dania... Apakah benar kamu makan dengan baik?" Ucap Daffa yang bertanya kepada Dania.
"Ya, aku makan dengan baik, putriku juga makan dengan baik, dia... Sepertimu kak..." Mendengar jawaban Dania membuat Daffa terkejut.
"Berarti kalian tidak makan dengan cukup!" Ucap Daffa dengan nada tinggi.
"Tidak! Dengarkan aku dulu kak!" Ucap Dania yang mencoba menghentikan Daffa dari menghukum Denta karena marah, sebab Daffa berpikir Denta tidak cukup baik sebagai seorang ayah dan seorang suami.
__ADS_1
"... Lalu katakan...!" Ucap Daffa dengan nada datar dan dingin, mendengarnya membuat Denta dan Dania menjadi ketakutan.