Pena Merah Di Langit Biru

Pena Merah Di Langit Biru
Chapter 36: Masalah Akhir Bagian Ke 4


__ADS_3

Rio yang memperhatikan lirikan mata Daffa ke Rissa terus-menerus, membuatnya menjadi terkejut, dirinya mengingat kejadian sebelumnya yang terjadi di restoran.


Meski dirinya ingin bertanya tapi dirinya memilih diam, dan membiarkan arus membawa hal tersebut.


Bukan hanya Rio saja yang memperhatikan hal tersebut, semuanya juga memperhatikan hal itu, kecuali Rissa sendiri, sedangkan di sisi lain Daffa yang terus memperhatikan, akhirnya menjadi frustasi, yang membuatnya tanpa sadar berdiri dan mendorong meja sedikit.


"Breeek!"


Melihat itu tanpa sadar yang lainnya menatap ke arah Daffa, merasakan tatapan yang lainnya, membuat Daffa terdiam sejenak, sebelum akhirnya berbicara.


"Aku akan keluar sebentar ke toilet."


Melihat sosok Daffa yang pergi turun, membuat yang lainnya kecuali Rissa, saling bertatapan dan bertukar kode melalui mata satu sama lainnya.


Mereka paham bahwa Daffa pergi karena kejadian sebelumnya di restoran, mereka juga penasaran dan ingin mengetahui yang sebenarnya sedang terjadi, tapi saat itu mereka hanya dapat diam dan menunggu apa yang akan terjadi.


Daffa berjalan turun ke lantai bawah, sesampainya di bawah Daffa kemudian menghela nafas panjang, sebelum pergi keluar dari perpustakaan, sesampainya di luar pintu masuk, Daffa menemukan pemandangan kota yang biasa dirinya lihat.


"Apa yang sebenarnya disembunyikan oleh Rissa?" Gumam Daffa dengan memegang dagunya dan berpikir sejenak.


"Mungkinkah dirinya sedang ada masalah keluarga... Tidak, itu tidak terlihat seperti itu."


"Lalu apakah ada alasan lainnya?"


"Rissa... Punya pacar selain diriku..."


"Haha itu tidak mungkin... Atau mungkin saja! Uh! Kepalaku pusing!"


"Ehm..." Merasakan tatapan seseorang, Daffa berbalik arah ke tatapan yang menuju ke arahnya, "Eh... Seorang gadis kecil?"


"..."


"..."


Daffa dan gadis kecil itu saling bertatapan mata dalam diam, merasa tidak nyaman Daffa akhirnya memutuskan untuk memulai pembicaraan.

__ADS_1


"Hei dik! Apakah kamu butuh sesuatu?" Tanya Daffa dengan menghampiri gadis kecil tersebut.


"..." Gadis kecil itu tidak menjawab pertanyaan dari Daffa, dirinya hanya diam dan menatap Daffa dalam diam.


"... Err apakah ada sesuatu di wajahku?" Ucap Daffa dengan menyentuh wajahnya.


"..."


Gadis kecil itu masih belum menjawab, yang membuat Daffa lebih bingung, dirinya menggaruk kepalanya dengan tatapan bertanya-tanya, mengenai alasan gadis kecil itu tidak berbicara.


"... Kheum baiklah, sepertinya kakak harus pergi, selamat tinggal dik!" Daffa kemudian berniat untuk kembali ke dalam perpustakaan, tapi celananya ditarik oleh gadis kecil itu yang membuat Daffa akhirnya berhenti, dan berbalik menatap gadis kecil itu dengan tatapan bingung.


"..."


"!!!"


Daffa tercengang karena gadis kecil itu menghentikannya dari pergi masuk kembali ke dalam perpustakaan, tapi gadis kecil itu tidak berbicara meski menghentikan dirinya pergi.


"Dik, jika kau butuh sesuatu katakan saja, kakak tidak tahu apa yang ingin adik manis inginkan." Ucap Daffa sambil tersenyum lembut, lalu berjongkok setinggi gadis kecil tersebut.


"..."


"..." Gadis kecil itu kemudian membuka tasnya, yang berada di pinggang sebelah kanannya, dan mengeluarkan sebuah buku.


"Eh?" Daffa menatap dengan kosong, dirinya begitu terkejut dengan perubahan kejadian yang begitu aneh tersebut.


"Aku mau mengembalikan buku Kedokteran ini!" Ucap gadis kecil itu dengan suara yang begitu imut, yang terdengar seperti gula kapas yang begitu manis.


"!!!"


Daffa begitu tercengang, dan dirinya tidak dapat berkata-kata, hatinya serasa ditusuk oleh permen gula yang begitu manis.


"Begitukah, tapi jika kamu ingin mengembalikannya kamu harus melakukan itu kepada penjaga perpustakaan di dalam, kakak bukan penjaga perpustakaan, jadi kamu tidak bisa mengembalikan buku ini ke kakak, kamu mengerti?" Ucap Daffa sambil tersenyum lembut dan mengusap rambut gadis kecil itu dengan pelan.


"... Aku... Takut..."

__ADS_1


"Hem... Takut kenapa?"


"Sebelumnya mama bilang untuk tidak mengambil buku ini, sebab takutnya nanti aku menjadi takut akan umurku yang pendek, oleh karena itu mama menyuruhku untuk tidak mengambilnya, tapi aku tetap ingin tahu alasan mengapa mama menyuruhku untuk tidak mengambilnya."


"Jadi pada akhirnya, aku mengambil buku ini secara diam-diam dan membacanya, yang pada akhirnya membuatku tahu mengenai penyakit mematikan yang aku derita."


"Itu adalah Kelainan Gen yang akan membuat seseorang hanya dapat hidup sampai berumur 30 tahun, setelah itu maka orang tersebut akan meninggal dunia, karena itulah mama melarangku untuk membacanya, sebab tidak ingin aku menjadi takut akan umurku yang pendek."


"Penyakit ini tidak bisa disembuhkan sampai sekarang, setelah aku mengetahui tentang buku ini, aku menangis tapi aku menyembunyikan tangisku dari mama dan papa, meski aku takut akan umurku yang pendek, tapi aku..."


"Aku sekarang mau menjalani hidupku dengan sebaik mungkin, karena itu aku mau mengembalikan buku itu, tapi... Aku takut akan dimarahi oleh penjaga perpustakaan... Saat melihat Kakak, aku merasa bahwa kakak adalah orang yang baik, karena itu aku meminta bantuan kakak untuk mengembalikannya."


Gadis kecil itu menjelaskan semuanya dan akhirnya menundukkan kepalanya, mendengarkan semua hal itu pada awalnya Daffa terkejut, tapi dirinya sekarang memahami tentang gadis kecil di hadapannya.


Menatap gadis kecil di depannya dengan tersenyum lembut, Daffa kemudian memeluk gadis kecil itu lalu mengelus kepalanya dengan pelan, sebelum akhirnya berbicara.


"Bagaimana kalau kakak menemanimu menemui penjaga perpustakaan, kamu tidak perlu takut membuat kesalahan, tapi kamu harus segera memperbaiki kesalahan yang telah kamu perbuat, kamu mengerti?" Ucap Daffa yang menatap tepat ke mata kecil nan indah layaknya batu kristal.


"Baik, janji?" Ucap gadis kecil itu dengan mengulurkan jari kelingkingnya.


Melihat itu Daffa tertawa kecil, sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya, dan melakukan hal yang sama, kemudian Daffa berjanji dengan gadis kecil itu menggunakan janji kelingking.


"Janji!"


Melihat itu gadis kecil tersebut tersenyum lebar, lalu Daffa berdiri dan mengulurkan tangan kanannya kepada gadis kecil itu, melihat tangan Daffa gadis kecil itu kemudian segera mengulurkan tangannya dan menggenggam erat tangan Daffa.


Kemudian Daffa membawa gadis kecil itu masuk ke dalam perpustakaan, mereka berdua kemudian pergi menuju ke arah penjaga perpustakaan.


Keduanya berjalan menuju ke arah penjaga dengan perlahan, hal itu kemudian menarik perhatian beberapa orang di sekitar, penjaga perpustakaan yang terlihat seperti pria tua, juga tertarik dengan Daffa dan gadis kecil yang berada di sebelahnya.


"Permisi." Daffa dan gadis kecil itu berdiri di hadapan penjaga perpustakaan.


"Ada apa?"


"..."

__ADS_1


Melihat gadis kecil tidak berbicara membuat Daffa menatapnya dengan bingung, tapi Daffa kemudian memperhatikan bibir kecil nan indah gadis kecil tersebut mulai terbuka secara perlahan, kemudian dirinya berbicara.


"Namaku Erin Real... Aku... Maafkan aku karena telah mengambil buku dari perpustakaan ini secara diam-diam! Aku datang untuk mengembalikannya! Aku minta maaf!" Gadis kecil itu menundukkan kepalanya dan mengatakan yang sebenarnya, mendengar penjelasan dari gadis kecil di hadapannya membuat kedua alis penjaga perpustakaan terangkat naik, dirinya menatap Erin dengan wajah mengkerut.


__ADS_2