
Nana, Siska, dan Fiona akhirnya sampai di Caffe tempat mereka semua seharusnya bertemu, ketiganya segera masuk ke dalam Caffe, mereka pergi ke ruangan yang telah dipesan.
"Hei! Kenapa kalian lama sekali, dan di mana Rissa?" Daffa bertanya dengan melihat ke belakang ketiganya, tapi tetap tidak menemukan Rissa.
"Rissa... Dia... Diculik.. !" Seketika ruangan tersebut hening, Rio, Adrian, dan Kevin menatap ke arah Nana dengan mata terbuka lebar.
Sementara itu Daffa terlihat membeku, matanya terlihat kosong, tubuhnya bergetar, giginya bergetar hebat.
"Kalian bercanda bukan?" Daffa mencoba untuk menyangkal hal tersebut, inilah manusia ketika mereka mengetahui sesuatu hal yang membuat hati serta otak mereka sangat kacau, maka mereka akan berusaha sekuat tenaga untuk menyangkal pemikiran tersebut.
"Tidak, itulah kenyataannya... Kami datang untuk meminta bantuan kalian, supaya membantu dalam pencarian untuk menemukannya." Mendengar setiap kata yang dikeluarkan oleh Nana, membuat tubuh Daffa bergetar lebih banyak.
"..." Daffa kemudian berjalan menuju ke arah pintu keluar, dirinya berniat untuk mencari Rissa.
"Berhenti... Tenangkan dirimu Daffa..." Rio menghentikan Daffa dari bertindak gegabah.
"Jangan menghentikan aku Rio..." Daffa bergumam dan menatap Rio dengan tatapan serius.
"Kubilang tenang!" Rio membentak Daffa.
"Aku bilang jangan menghalangiku!" Daffa berlari ke arah Rio, kemudian Kevin muncul di belakang Daffa, dirinya segera mencekik leher Daffa.
"Tenang dulu Daffa! Kita akan mencarinya bersama!" Kevin berteriak keras.
"Aku bilang minggir!" Daffa melepaskan cengkraman kuncian Kevin, lalu mendorong Kevin ke samping, hingga menabrak tembok Caffe.
"Hei tenanglah!" Rio mencoba untuk menghentikan Daffa, dirinya memukul kepala Daffa, tapi hal tersebut tidak membuat Daffa terjatuh.
"Kubilang minggir!" Daffa kemudian bersiap untuk melemparkan Rio ke lantai, tapi tiba-tiba saja sebuah tangan menampar pipi Daffa.
"Paaak!"
__ADS_1
"Tenanglah! Bukan hanya kau saja yang marah! Serta khawatir kepada Ica! Aku! Siska! Dan Fiona! Kami juga khawatir! Tapi kami berpikir bahwa tidak baik untuk menjadi panik! Oleh karena itu tenang! Kau tidak sendiri... Kita... Akan mencarinya bersama." Mendengar Nana memberitahukan semua yang berada di dalam benaknya, membuat Daffa akhirnya menjadi tenang.
"Kau benar, maafkan aku..." Daffa menganggukkan kepalanya.
"Sial rasanya sakit..." Gumam Kevin sambil mengusap punggungnya.
"Maaf, maafkan aku Kevin... Maafkan aku semuanya, tolong... Tolong bantu aku menemukan Rissa!" Daffa menundukkan kepalanya dan meminta maaf serta meminta tolong kepada teman-temannya.
"Tentu, kami akan membantu!" Ucap semuanya yang menerima permintaan maaf dari Daffa, serta menerima permintaan bantuan yang diajukan oleh Daffa untuk mencari keberadaan Rissa.
"Baik, ayo lakukan ini..." Adrian kemudian mengambil laptopnya, dirinya kemudian mulai mencoba untuk melacak Rissa, melalui panggilan telepon, setelah berhasil pada percobaan pertama, Adrian kemudian mencari tahu lokasi tersebut.
"Ini... Rissa berada di pelabuhan!" Mendengar perkataan Adrian membuat yang lainnya menjadi sangat terkejut sekaligus bingung.
"Mengapa Ica di bawa ke sana?" Nana bertanya dengan wajah bingung kepada teman-temannya.
"Mungkinkah... Ica akan dijual keluar negeri?" Siska seketika memberikan pendapatnya, yang mana hal tersebut membuat suasana menjadi hening, tubuh Daffa terlihat bergetar, tapi dirinya kembali menjadi tenang.
"Jika yang dikatakan oleh Siska benar, maka kita membutuhkan lebih banyak bantuan dari yag kita miliki saat ini, aku akan meminta bantuan dari beberapa temanku yang ahli bertarung." Kevin memberikan pendapatnya mengenai yang harus mereka lakukan.
"Yah aku juga, aku memiliki beberapa teman yang bisa membantu." Siska juga mengajukan diri, dirinya memiliki cukup banyak koneksi.
"Aku juga, bagaimanapun juga aku memiliki banyak teman dan kenalan yang bisa dimintai bantuan..." Daffa juga melakukannya, karena dirinya memiliki banyak kenalan serta teman yang bisa membantunya ketika dibutuhkan, selama ini Daffa jarang meminta bantuan kepada orang lain, malah dirinya lebih sering membantu orang lain, tapi saat ini untuk pertama kalinya Daffa meminta bantuan dalam jumlah besar.
"Kevin, Fiona, Siska, dan Daffa kalian berempat akan pergi mencari bantuan, sementara aku, Rio, dan Nana, akan tetap tinggal di sini, kami bertiga akan terus memantau keadaan, kita akan bertemu di pelabuhan, pada pukul jam 20:50 malam, kita akan berkumpul sebentar sebelum akhirnya memulai aksi penyelamatan, kalian paham?" Adrian segera membagikan rencana yang sudah terpikirkan di dalam benaknya.
"Baik, ayo kita lakukan ini!" Daffa segera menerimanya, karena dirinya tahu bahwa Adrian jauh lebih pintar dari dirinya, oleh karena itu Daffa mempercayai teman baiknya dalam sekejap.
"Aku mengerti!"
"Tidak masalah!"
__ADS_1
"Baiklah! Semuanya berjuang!"
Mereka kemudian membagi tugas masing-masing, Daffa, Kevin, Nana, dan Siska pergi mencari bantuan, sementara Adrian, Rio, dan Nana tetap tinggal untuk memantau setiap situasi yang ada.
Daffa kemudian pergi keluar dari Caffe, lalu segera mengendarai motornya ke suatu tempat, dirinya membawa motornya cukup jauh ke pinggiran kota, sebelum akhirnya berada di Jakarta Utara, di sana Daffa terus mengendarai motornya hingga akhirnya sampai di sebuah daerah perkampungan.
"Hem... Mangsa kah?"
"Hehe sepertinya kita akan bisa makan enak malam ini..." Dua orang pria berbisik-bisik sambil menatap Daffa yang menuju ke arah mereka.
"Panggilkan Ilyas! Katakan kepadanya Daffa sang Pejalan datang untuk meminta hutang!" Mendengar perkataan Daffa membuat kedua pria yang sebelumnya berbisik-bisik, dan berniat melakukan suatu rencana jahat kepada Daffa, seketika keduanya berhenti.
Mereka berdua menatap Daffa dengan wajah terkejut, melihat keduanya tidak pergi mengikuti perkataannya, membuat Daffa sedikit kesal.
"Hei! Cepat panggilkan Ilyas!" Teriakan Daffa seketika menggelegar ke seluruh tempat tersebut, seketika banyak orang yang terlihat menyeramkan dengan membawa berbagai senjata keluar dari setiap rumah, melihat mereka membuat Daffa menatap dengan wajah bingung.
"Apa, apakah kalian ingin melawanku?" Tanya Daffa sambil menatap mereka semua dengan tatapan serius.
"Berani sekali kau berbicara tidak sopan kepada bos kami!" Salah seorang pria berteriak sambil mengacungkan senjata tajam kepada Daffa.
"Aku sedang terburu-buru, tapi jika kalian ingin melawanku maka aku akan siap kapanpun!" Daffa segera menurunkan tasnya ke bawah, dirinya kemudian turun dari motornya.
"Ayo!" Daffa kemudian berteriak kepada orang-orang tersebut.
"Berhenti!" Seketika orang-orang yang bersiap untuk berlari seketika berhenti, mereka semua menatap ke asal suara tersebut.
"Bos!" Semua orang berteriak terkejut.
Orang dipanggil bos kemudian terlihat, dirinya memiliki tubuh berotot dan cukup tinggi, dengan rambut hitam panjang.
"Ilyas... Aku butuh bantuan... Bayar hutangmu saat ini." Mendengar perkataan Daffa membuat Ilyas terdiam, dirinya kemudian memandangi Daffa dengan wajah terkejut.
__ADS_1
"Kenapa? Bukankah kau dapat mengalahkan banyak orang seorang diri, bahkan pasukan bersenjata sekalipun?" Mendengar perkataan bos mereka, membuat para anak buah Ilyas seketika terdiam, mereka membeku tidak percaya, ada seseorang yang begitu kuat, dan orang tersebut sebelumnya ingin mereka lawan, jika orang lain mengatakan hal mustahil tersebut mereka pasti tidak percaya, tapi beda halnya jika itu bos mereka.
"Aku... tidak ingin dikendalikan oleh emosi... Jadi bantu aku!" Melihat mata Daffa yang dipenuhi oleh tekad, membuat Ilyas membuka matanya lebar-lebar.