
"Uhm... Apakah kau baru saja mengatakan ini lukisanmu?" Ucap Lidia yang mengkerutkan keningnya.
"Benar, lukisan ini kubuat ketika aku menjalani sebuah lomba menggambar, dan karena gambar inilah aku memenangkan lomba sebagai juara satu, aku tidak menyangka bahwa lukisanku saat itu akan aku lihat kembali sekarang dan dipajang di rumah Dokter Rino." Ucap Daffa yang sangat terkejut, melihat karya buatannya sangat dikagumi oleh banyak orang.
Sampai-sampai dipajang di rumah dengan bingkai yang begitu indah, meski lukisan daffa sebelumnya sudah indah tapi ditambah dengan bingkai yang bagus, membuat lukisan tersebut terlihat lebih mempesona.
"Lukisan itu dibawa pulang oleh Nyonya Raisa beberapa tahun yang lalu, dia mengatakan ketika dirinya melihat lukisan tersebut, seketika dirinya begitu terpesona, karena menggambar kebahagiaan sebuah keluarga dengan begitu bagus, yang pada akhirnya dirinya bawa pulang untuk dipajang di rumah." Ucap Lidia yang memberitahukan bagaimana lukisan Daffa bisa sampai ke rumah tersebut.
"Ternyata dibawa oleh Bu Raisa, aku tidak menyangka bahwa itu menjadi sangat bagus, baiklah apa sekarang kita menuju ke kamar Rissa?" Ucap Daffa yang berbalik dan tersenyum lembut.
"Tentu ayo!" Ucap Lidia yang menganggukkan kepalanya, lalu mengantarkan mereka menuju ke kamar Rissa.
"Tok tok tok!"
"Permisi Nona Muda, ini Lidia, saya datang karena beberapa teman anda datang menjenguk." Ucap Lidia yang mengetuk pintu kamar Rissa, sebelum akhirnya meminta izin.
"Masuklah... Pintu tidak dikunci!" Ucap Rissa yang memberikan izin untuk Lidia membuka pintu.
Pintu kemudian dibuka oleh Lidia secara perlahan-lahan, lalu akhirnya terlihat sebuah kamar yang sangat besar dan luas, dengan sebuah kasur megah, disertai lemari besar, meja belajar, rak buku, kamar mandi, serta terdapat balkon yang terhubung dengan kamar tersebut.
Latar belakang kamar itu sendiri berwarna merah muda, dengan langit-langit yang berlukiskan langit biru dengan awan putih.
"Kalau begitu saya permisi izin pergi ke bawah dulu Nona Muda." Ucap Lidia yang berniat untuk turun kembali.
"Tunggu! Bisakah kau mengambilkan pisau untuk memotong buah-buahan dan bolu ini." Ucap Bu Yunita yang memperlihatkan buah-buahan dan bolu yang mereka bawa.
"Tentu." Ucap Lidia yang menganggukkan kepalanya.
"Bagaimana keadaanmu Ica!" Ucap Fiona yang bertanya dengan wajah cemas.
__ADS_1
"Aku sudah baikan Fiona... Bagaimanapun juga itu cuman flu saja." Ucap Rissa yang mencoba terlihat kuat, agar teman-temannya tidak khawatir.
"Bagaimana bisa kamu sakit?" Ucap Siska yang bertanya dengan rasa ingin tahu, sebab pada hari Kamis Rissa masih terlihat baik-baik saja, dan belum ada tanda-tanda sakit, tapi pada hari Jumat tiba-tiba saja sakit, itu hal yang cukup aneh.
"Aku terlalu lelah sepertinya, sementara untuk batuk itu sepertinya karena akhir-akhir ini aku terlalu sering makan ice cream bersama kalian, jadi aku mengalami batuk-batuk." Ucap Rissa yang memberitahukan penyebab sakit yang dialaminya.
"Eh maaf Ica! Ini salahku! Jika saja aku tidak meminta pergi makan ice cream belakangan ini bersama kalian, Ica tidak mungkin sakit!" Ucap Fiona yang memeluk Rissa dan meminta maaf.
"Prff-hahaha! Aku hanya bercanda! Tapi aku benar-benar batuk karena terlalu sering makan ice cream belakangan ini, meski begitu ini bukan salahmu." Ucap Rissa yang tersenyum dan memeluk Fiona.
"Benarkah?" Ucap Fiona dengan wajah sedih.
"Tentu saja!" Ucap Rissa yang menganggukkan kepalanya.
"Semuanya! Bolu dan buah-buahannya sudah di potong, kalian dapat memakannya." Ucap Bu Yunita yang baru saja selesai memotong buah-buahan dan bolu strawberry.
"Eh, apakah kita boleh memakannya?" Ucap Adrian yang bertanya kepada Siska, karena dirinya berpikir bahwa buah-buahan dan bolu tersebut seharusnya untuk Rissa.
"Apakah kamu benar-benar sudah baikan?" Ucap Daffa yang bertanya dengan khawatir.
"Tentu saja, memang ada apa?" Ucap Rissa yang bertanya balik.
"Yah niatku pada awalnya ingin pergi denganmu dan yang lainnya besok, karena hari Senin kita sudah harus menghadapi ujian, aku ingin kita belajar bersama di perpustakaan." Ucap Daffa yang memberitahukan niatnya.
"Belajar di perpustakaan?" Ucap Rio dengan wajah bingung.
"Hem tentu saja, lagian kau pikir pergi ke perpustakaan untuk apa?" Ucap Daffa yang melihat ke arah Rio dengan wajah bingung.
"... Kencan?" Ucap Kevin yang membalas Daffa, hal itu seketika membuat Daffa tercengang, mulutnya terbuka lebar.
__ADS_1
"Ternyata itukah alasan kalian sebenarnya selama ini, setiap kali akan menghadapi ujian saat aku mengajak untuk bermain, kalian selalu membuat alasan dengan mengatakan mau belajar di perpustakaan, tapi alasan sebenarnya kalian berkencan di perpustakaan!" Ucap Daffa dengan wajah kesal, dirinya tidak menyangka bahwa teman-temannya selama ini telah menipu dirinya.
"Itu haha..." Rio, dan Adrian hanya dapat tersenyum canggung dan menatap Kevin dengan tatapan mengancam, karena telah membongkar rahasia mereka.
Kevin yang membuat masalah tersebut menundukkan kepalanya dengan malu, dirinya lupa akan hal tersebut, Kevin mencoba untuk tidak bertatapan dengan mata kedua temannya, yang tengah menatapnya dengan tatapan sinis.
Melihat pacarnya sedang mengobrol dengan temannya, Nana melihat ke sekitar hingga akhirnya Nana menuju ke lemari Rissa, dirinya melihat-lihat lemari dan menemukan sebuah kotak yang berada di bawah lemari yang ditutupi oleh beberapa kardus.
"Ehm... Aku akan ke bawah sebenar!" Ucap Daffa yang tiba-tiba saja kebelet untuk buang air kecil.
"Ibu juga ingin mengembalikan pisau ini, Ibu turun dulu ke bawah." Ucap Bu Yunita yang juga berniat ke bawah, untuk mengembalikan pisau.
"Hei Ica apa saja isi di dalam kotak-kotak ini?" Ucap Nana yang mengeluarkan kotak-kotak tersebut, melihat hal itu Rissa segera menjawab.
"Itu barang-barangku ketika aku kecil." Ucap Rissa yang seketika membangkitkan minat Nana, Siska dan Fiona, mereka segera mengeluarkan kotak-kotak dari bawah lemari.
"Wow ini Boneka!" Ucap Fiona yang menemukan Boneka Kelinci putih yang imut.
"Eh apakah ini bando! Kamu dulu memakai bando kelinci ini?" Ucap Nana yang tersenyum dan memperlihatkan bando kelinci kecil, melihat itu membuat Rissa menjadi malu, dirinya segera menghampiri ketiga temannya yang tengah mengacaukan barang-barangnya, melihat para gadis sedang mengurus hal-hal mereka, para pria sibuk merencanakan apa yang harus dilakukan di hari Sabtu dan Minggu.
Mereka bertiga berpikir ide Daffa tidak terlalu buruk, tapi mereka masih membuat rencana, sementara itu Siska menemukan sebuah foto seorang gadis kecil dengan tubuh gemuk, dan seorang anak laki-laki yang terlihat memiliki rambut putih yang menutupi matanya.
"Hei Ica! Apakah ini dirimu?" Ucap Siska yang bertanya sambil menunjukkan sebuah foto.
"Iya! Itu aku ketika aku masih kecil!" Ucap Rissa yang menganggukkan kepalanya.
"Eh benarkah! Aku tidak tahu kamu dekat dengan seorang anak laki-laki ketika masih kecil, siapa anak laki-laki itu, dan apa-apaan dengan rambut putih!" Ucap Fiona yang membanjiri Rissa dengan pertanyaan.
"Fiona satu-satu!" Ucap Nana yang menegur Fiona, agar tidak membuat Rissa menjadi pusing dan akhirnya berakhir sakit kembali.
__ADS_1
"... Aku juga tidak ingat... Tapi sepertinya aku dekat dengannya... Entahlah." Gumam Rissa sambil memegang foto tersebut.