
Sudut Pandang Siska Amalia.
Banyak orang memanggilku gadis tomboi, memang kelakuanku tidak feminim seperti perempuan lainnya, tapi setidaknya jangan panggil aku seperti itu, padahal aku memiliki nama, dan namaku adalah Siska Amalia.
Memang aku tidak feminim, aku menyukai balap motor dan bermain game, meski terkadang aku cukup sering membaca buku, tapi bukan buku pelajaran tentunya melainkan novel.
Suatu hari hidupku yang biasa-biasa saja berubah semenjak aku masuk Sekolah menengah atas, aku bertemu dengan tiga orang perempuan yang masing-masing memiliki kepribadian yang uniknya masing-masing, tapi kami menjadi akrab dengan cepat.
Aku sering pergi ke Mall setelah pulang sekolah untuk bermain game balap motor, ketika aku sedang asyik bermain sendirian, tiba-tiba saja datang seorang pria yang terlihat culun, dengan tubuh kurus serta memakai kacamata.
Dia yang orang-orang sebut sebagai kutu buku, yah aku tidak memandang rendah orang lain, bagaimanapun juga aku memiliki seorang teman yang juga merupakan kutu buku.
Dirinya menatap permainan yang sedang aku mainkan dengan tatapan serius, hal itu membuatku penasaran apa yang sedang dipikirkannya.
Dirinya kemudian mencoba permainan yang aku mainkan, ada satu tempat lagi yang bisa dimainkan, oleh karena itu dirinya bermain tepat di sebelahku.
Baru beberapa saat bermain dirinya sudah kalah, melihat itu matanya tiba-tiba saja menjadi sangat bersemangat, lalu dirinya terus mencoba memainkannya, tapi berulangkali dirinya selalu gagal.
Aku pada akhirnya memutuskan untuk membantunya, bagaimanapun juga akan sangat menjengkelkan melihat seseorang terus-menerus kalah, meski dirinya sudah bertekad untuk menang.
"Hei!" Ucapku kepada pria itu, yang membuat pria itu sekali lagi gagal karena mengalihkan pandangannya ke arahku, melihat diriku dapat terus bermain meski tidak menatap layar permainan, membuat kedua matanya melebar karena terkejut.
"Bukan seperti itu cara bermain Motor Balap! Aku akan mengajarimu dasar-dasar permainan ini!" Ucapku yang kemudian mulai menjelaskan cara bermain serta mempraktekkannya secara langsung.
Mendengarkan dan melihatnya dengan mata terkejut, pria itu kemudian berpikir sejenak sebelum akhirnya mulai bermain lagi, tapi kali ini dirinya berhasil bertahan sedikit lebih lama sebelum akhirnya gagal, tapi dirinya tidak menyerah dan mencoba lagi tapi kembali gagal, meski terus gagal tapi dirinya menjadi jauh lebih baik.
Hingga akhirnya dirinya berhasil memenangkan permainan dengan mencapai garis finis, melihat dirinya berhasil menang membuat pria itu tersenyum lebar, sebelum akhirnya menatap ke arahku.
"Terimakasih banyak! Karenamu aku akhirnya memahami mekanisme dari permainan ini, ternyata permainan ini berada di tahap normal, aku sungguh-sungguh berterimakasih karena telah membantuku menemukan mekanisme permainan ini!" Ucap pria itu yang berterimakasih dan tersenyum lebar.
__ADS_1
"Tidak masalah, lagipula aku kesal melihat seseorang terus kalah dalam permainan yang mudah." Ucapku yang terus bermain, sambil menatap ke arah pria itu.
"Be-begitukah... Ngomong-ngomong aku belum memperkenalkan diriku, perkenalkan namaku Adrian Miro, aku sedang mengevaluasi permainan yang dapat dianggap menarik dan mengasyikkan." Ucap Adrian yang tersenyum tipis, dan memberitahukan alasannya bermain game Motor Balap.
"Ouh... Lalu perkenalkan namaku Siska Amalia." Ucapku yang memperkenalkan diriku, aku cukup terkejut bertemu dengan pria yang seperti kutu buku ini, tapi sebenarnya sangat menyukai permainan.
"Apakah kau tahu tentang berbagai permainan di Area permainan di Mall ini, yang sangat menyenangkan serta banyak yang menyukainya?" Ucap Adrian yang bertanya kepadaku dengan sopan.
"Yah aku tahu, mau mengetahuinya?" Ucapku yang bertanya kepadanya.
"Tentu saja!" Ucap Adrian yang tersenyum lebar.
"Kalau begitu aku akan memberitahukan hal itu kepadamu..." Ucapku yang akhirnya sampai di finis, lalu aku pergi bersama Adrian, yang di mana aku mulai memperkenalkan semua permainan yang ada di dalam Mall tersebut.
Kami bermain hampir semua permainan, yang berada di dalam area permainan di Mall tersebut, Adrian ternyata pria yang cukup mengasyikkan ternyata.
Hal itu tentu saja aku setujui, kami saling bertukar nomor telepon pada akhirnya, kemudian aku memutuskan untuk pulang ke rumah.
...
...
...
Waktu terus berlalu semakin lama aku semakin sering bertemu dengan Adrian, kami sering bermain bersama, dirinya ternyata memiliki impian untuk menjadi perancang game terkenal.
Tentunya hal itu membuatku terkejut, dirinya berpikir bahwa aku mungkin menganggap hal itu lucu, tapi bagiku itu hal yang sangat luar biasa, aku mendukungnya untuk menggapai cita-citanya, mendengar yang aku katakan membuatnya malu.
Melihat penampilannya saat mengatakan itu membuatnya terlihat sangat tampan, melihatnya yang seperti itu membuat hatiku bahagia, dan diriku entah bagaimana merasa nyaman saat berada di dekatnya, seketika itu pula aku menyadari bahwa aku telah jatuh cinta kepada Adrian.
__ADS_1
Tapi perasaan ini tidak dapat aku ungkapkan, kami terus menjalin hubungan pertemanan hingga akhirnya aku berniat untuk mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya, meski perempuan mengungkapkan perasaan lebih dulu sering di anggap sebagai perempuan murahan, tapi aku tidak peduli karena aku mencintai Adrian.
"Hei sebenarnya-!" Sebelum aku sempat mengungkapkan perasaanku, Adrian berbicara lebih dulu.
"Aku menyukaimu! Jadilah pacarku! Siska Amalia!" Ucap Adrian yang berteriak sangat keras, hal itu membuatku menjadi sangat terkejut, aku menundukkan kepalaku sebelum akhirnya menjawab.
"Ya, aku mau menjadi pacarmu Adrian Miro!" Ucapku yang membuat Adrian tersenyum lebar, sebelum akhirnya kedua mata kami bertemu, yang seketika saja diriku dan Adrian memalingkan wajah pada saat yang bersamaan.
Semenjak itu hubungan kami menjadi lebih dekat, aku akhirnya membawa Adrian ke rumahku, untuk menemui ayah dan ibuku, melihat ayahku yang seorang Desainer Game terkenal, membuat Adrian membuka mulutnya lebar-lebar dan terdiam kaku, melihatnya membuatku dan ibuku tertawa kecil.
Hubunganku dan Adrian tetap menjadi rahasia antara kami saja, sebab aku tidak mau teman-temanku mengetahui bahwa diriku sudah berpacaran, sementara mereka tidak, Adrian juga melakukan hal yang sama.
Kami hari ini akan pergi menuju ke Mall, untuk bermain seperti biasanya, ketika kami sedang bermain aku merasa hari ini cukup aneh, tapi aku tidak tahu apa perasaan yang aneh tersebut.
Permainan yang kami mainkan adalah permainan tembak-menembak, kecepatan reaksiku sangat bagus, dan Adrian dapat mengimbanginya setelah berlatih terus-menerus selama beberapa bulan belakangan ini.
Makhluk yang kami tembakin adalah segerombolan Zombie ganas, setelah permainan itu kami pergi untuk bermain permainan lain.
Aku menemukan permainan yang cukup menarik, dan belum pernah kami mainkan bersama itu adalah permainan pertarungan aksi antara para karakter, aku meminta untuk memainkan permainan tersebut, yang diterima oleh Adrian.
Aku memilih karakter pria yang terlihat sangar dengan luka di seluruh tubuhnya, dengan membawa sebuah pedang, sedangkan Adrian memilih karakter perempuan, yang terlihat memakai pistol.
Pertarungan itu berlanjut selama tiga puluh menit, dengan kemenanganku yang berturut-turut, kami akhirnya memutuskan untuk pergi ke area makan, karena sudah saatnya untuk makan siang.
Dalam perjalanan menuju ke area makanan berada, kami melihat sebuah tempat di Mall sedang banyak orang yang memakai pakaian berkostum, sepertinya mereka sedang bercosplay untuk karakter anime.
"Eh?"
Sudut Pandang Siska Amalia Berakhir.
__ADS_1