Pena Merah Di Langit Biru

Pena Merah Di Langit Biru
Chapter 35: Masalah Akhir Bagian Ke 3


__ADS_3

Daffa mengendarai motornya dipagi hari yang cerah, dengan senyum manis yang tersungging di bibirnya, orang-orang yang melihat Daffa tersenyum sambil mengendarai motornya, berpikir bahwa Daffa mungkin ada gangguan mental, atau istilah mudahnya gila.


Yah orang-orang itu tidak sepenuhnya salah, tapi juga tidak sepenuhnya benar, sebab Daffa terus tersenyum karena hari ini dirinya akan bersama dengan Rissa belajar di perpustakaan, oleh sebab itu dirinya begitu bahagia.


Selama perjalanan Daffa terus tersenyum, sampai akhirnya Daffa berada di depan rumah Rissa.


"Maaf apakah kamu sudah menunggu terlalu lama?" Ucap Daffa yang memperhatikan bahwa Rissa sudah berada di depan pintu gerbang.


"Tidak, aku baru saja keluar, ayo kita segera pergi ke perpustakaan," ucap Rissa yang segera menaiki motor Daffa, setelah Rissa naik, Daffa segera menjalankan motornya.


Selama perjalanan Daffa merasa aneh dengan Rissa yang terus diam, dan tidak memulai percakapan, merasakan suasana canggung, Daffa berniat untuk memulai percakapan.


"Apakah ada masalah?" Ucap Daffa yang bertanya dengan khawatir.


"Ehm... Tidak, aku baik-baik saja," ucap Rissa yang menggelengkan kepalanya, dirinya masih memikirkan perkataan Mamanya yang kemarin, mengenai Ben Kecil, dirinya tidak mengingat apapun tentang Ben Kecil, tapi jika Ben Kecil begitu penting baginya di masa lalu, kemudian apa yang harus dirinya lakukan dengan Daffa.


Karena itulah mengapa Rissa tidak berbicara dengan Daffa, karena dirinya masih bingung dengan perasaannya sendiri.


Meski sebelumnya dirinya sudah membuat keputusan, tapi ketika Ben Kecil ini muncul, dirinya tidak tahu apakah keputusannya akan berubah atau tidak.


Daffa dan Rissa akhirnya sampai di perpustakaan, mereka berdua segera masuk ke dalam perpustakaan setelah memarkirkan kendaraannya.


Daffa dan Rissa segera pergi mencari teman-teman mereka, di lantai pertama tidak ada teman-teman mereka, jadi Daffa dan Rissa menuju ke lantai kedua, tapi di sana juga tidak ada, pada akhirnya mereka pergi ke lantai ketiga, setelah mencari-cari selama beberapa saat di lantai ketiga, Daffa dan Rissa akhirnya menemukan teman-teman mereka yang berada di sudut bagian pojok.


"Hei mengapa kalian memilih tempat yang sepi?" Ucap Daffa yang bertanya dengan mengkerutkan keningnya.


"Benar, kami sudah mencari selama beberapa saat, tapi belum juga menemukan kalian, kami tidak menyangka kalian akan berada di tempat yang sepi seperti ini," ucap Rissa dengan wajah bingung, dan mengangkat kedua alisnya.

__ADS_1


"Alasan kami berada di sini, karena jika kita berisik, maka tidak akan menggangu orang sekitar, lagipula Rio pasti akan berisik..." Nana membalas dengan memutar matanya dan melirik ke arah pacarnya.


"Hei!" Rio yang mendengar hal itu berseru kesal.


Adrian dan Kevin menganggukkan kepala mereka, "Benar, Rio sangat berisik," ucap Adrian yang menatap Rio dan menimpali perkataan Nana, "Aku setuju!" Kevin juga berbicara.


Rio yang melihat teman-temannya tidak setia, merasa sangat kesal, Daffa dan yang lain melihat wajah kesal Rio pada akhirnya tertawa kecil, kemudian Daffa dan Rissa duduk di dekat yang lainnya.


"Ayo kita mulai saja."


Rissa, Nana, Siska, dan Adrian mengajari yang lainnya dengan perlahan, mengapa mereka mengajar yang lain, itu karena Daffa, Rio, Kevin dan Fiona, tidak terlalu pandai dalam akademik.


Oleh karena itulah mengapa Rissa dan yang lainnya mengajari teman-teman mereka, selama belajar di perpustakaan Daffa mengerti beberapa hal yang tidak dirinya pahami di sekolah, mungkin karena cara mengajar yang mudah, atau memang karena Daffa lebih pintar jika di dekat Rissa.


Selama belajar Daffa memperhatikan bahwa belajar ternyata lebih menyenangkan ketika dilakukan bersama, dirinya mulai memahami pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, IPS, tapi dirinya masih sulit memahami pelajaran Matematika.


Karena dirinya sulit mengingat rumus rumus yang begitu sulit dimengerti, tidak hanya itu Daffa juga pusing ketika melihat berbagai angka dibuku.


Dirirnya hanya salah sedikit, tapi Nana terlihat seperti akan menggigitnya menjadi potong-potongan kecil, meski hal itu hanya imajinasi liar Rio saja.


Sementara itu Adrian menunjukkan beberapa kesalahan yang dibuat oleh Kevin, sedangkan di sisi lain Siska mengajari Fiona dengan perlahan tapi pasti.


Pada akhirnya Daffa lelah, dirinya meletakkan wajahnya di meja, lalu Daffa melihat ke arah jam, dan menemukan bahwasanya sudah saatnya waktu makan siang.


"Hei ayo kita pergi keluar, aku sudah lapar."


Mendengar kata-kata Daffa membuat mereka semua berhenti, dan melihat ke arah jam, memang terlihat sudah waktunya makan siang, mereka kemudian menutup buku pelajaran.

__ADS_1


"Lalu kau makan di mana?" Kevin bertanya kepada yang lainnya, karena baginya makan di manapun tidak masalah, selama rasanya cukup enak, dirinya akan ikut-ikut saja.


"Bagaimana kalau di Restoran Ayam Bola, yang dekat dengan tempat ini," ucap Daffa yang mengajukan sebuah restoran.


"Yah aku tidak masalah!"


"Aku juga!"


"Kalau begitu ayo kita ke sana!" Ucap Daffa yang kemudian turun ke bawah, lalu membawa yang lainnya menuju ke sebuah restoran.


Sesampainya di sana Daffa dan yang lainnya segera memesan makanan, lalu menunggu sebentar, sebelum akhirnya makanan datang, dan kemudian mulai makan dengan lahap.


Selama makan, Rissa terus memikirkan tentang Daffa dan Ben, saat terus makan dengan tenang, Rissa tanpa sengaja melihat ke jendela, di mana dirinya menemukan seorang remaja pria, yang terlihat memiliki rambut putih, yang seketika menghentikan Rissa, dirinya segera meletakkan sendok dan berjalan keluar restoran dengan cepat, melihat Rissa yang tiba-tiba saja bertingkah aneh membuat yang lainnya menjadi sangat terkejut sekaligus bingung.


Daffa kemudian mengejar Rissa, sesampainya di luar restoran, Rissa sudah tidak dapat menemukan remaja pria berambut putih, hal itu membuat Rissa kecewa, seketika itu pula Rissa menjadi sangat terkejut, dirinya bingung mengapa rasa kecewanya begitu besar.


"Ada apa?" Ucap Daffa yang bertanya dengan wajah khawatir.


"... Tidak, maaf, sepertinya aku membuatmu khawatir, hanya saja tadi ada seseorang yang aku kenal, sudah lama aku tidak melihatnya, jadi saat aku melihatnya, aku pikir dapat berbicara sebentar dengannya," ucap Rissa sambil menggelengkan kepalanya.


"Begitukah, lain kali katakan dulu kepadaku, kamu membuatku kaget saja." Daffa yang mendengar itu hanya dapat menghela nafas, lalu menepuk kepala Rissa dan mengelus-elus rambut Rissa, merasakan tangan hangat Daffa membuat Rissa tersenyum tipis, lalu mereka masuk kembali ke dalam.


...


...


...

__ADS_1


Daffa dan yang lainnya kemudian kembali ke perpustakaan, setelah mereka semua selesai makan siang dengan kenyang, mereka kembali mengambil buku-buku yang sebelumnya mereka gunakan, mereka kembali belajar bersama.


Selama belajar Daffa terus memperhatikan Rissa, dirinya merasa bahwa hari ini Rissa terlihat aneh, seperti ada yang ditutupi oleh Rissa, perasaan itu tidak menyenangkan bagi Daffa, dirinya ingin tahu apa yang sebenarnya disembunyikan oleh Rissa, tapi dirinya tidak tahu harus berbicara bagaimana, apakah langsung ke intinya atau berpura-pura dan membiarkan Rissa yang mengatakannya sendiri, Daffa tidak tahu, oleh karena itu dirinya sangat frustasi.


__ADS_2