
Mendengar perkataan Pak Ari seketika Daffa membisu seribu kata, dirinya tidak tahu harus mengatakan apa, dirinya seketika sulit untuk memikirkan sesuatu, semua yang dikatakan oleh Pak Ari membuat Daffa seketika menjadi sangat terkejut, marah, dan cemas.
Dirinya terkejut dengan hal yang terjadi kepada Rissa, dirinya marah karena perkataan Pak Ari yang mengatakan, untuk seorang perempuan yang baru dirinya kenal dalam beberapa hari saja, memang Rissa baru dikenal oleh Daffa selama beberapa hari saja, tapi selama itu dirinya sudah menjadi sangat dekat dengan Rissa, oleh karena itu Daffa sangat marah, karena perkataan Pak Ari yang berkata seolah-olah Rissa tidak begitu penting, itulah yang membuat Daffa menjadi sangat marah.
Tapi dirinya juga cemas dengan Rissa yang kemungkinan tidak dapat mengikuti ujian, karena itulah mengapa Daffa terdiam seribu kata.
...
...
...
"Kamu harus tahu Ica! Ini bukan saatnya berdebat, dan waktu semakin lama akan semakin berkurang, tidak banyak waktu yang tersisa, oleh karena itu sebaiknya kamu cepat membuat pilihan!" Ucap Nana yang menatap Rissa dengan tatapan serius.
Merasakan tatapan mata Nana, membuat Rissa terdiam, dirinya tidak tahu harus berkata apa, semua hal yang berada dipikirkannya terganggu.
"Ba-dumb!" "Ba-dumb!" "Ba-dumb!"
Jantung Rissa berdetak dengan cepat, wajahnya terlihat pucat, Rissa akhirnya mengeluarkan air mata dan berbicara dalam benaknya.
"Daffa... Maafkan aku..." Melihat Rissa yang mengeluarkan air mata membuat semua orang disekitar terdiam, mereka akhirnya tahu perasaan Rissa yang sebenarnya terhadap Daffa.
"Tidak perlu!"
Seketika membuat Rissa berhenti menangis, dirinya berbalik ke asal suara tersebut, di mana terlihat Pak Ari yang tengah berdiri sambil tersenyum kepada mereka berempat.
"Bapak sudah berbicara dengan Daffa..." Ucap Pak Ari sambil tersenyum tulus.
...
Beberapa saat sebelumnya, kembali ke saat Daffa berbicara dengan Pak Ari.
"Tentu saja aku akan melakukannya! Jangan pernah berpikir aku akan meninggalkan seseorang yang begitu penting bagiku! Aku akan pergi! Katakan di mana letak tempat itu! Tidak! Aku akan bertanya kepada Adrian!" Daffa berbicara dengan tergesa-gesa, sambil berteriak keras, lalu Daffa pergi menghampiri Adrian untuk bertanya mengenai letak rumah dari Siska.
Setelah mengetahui hal tersebut, Daffa segera pergi keluar dari kelas dengan tergesa-gesa, melihat Daffa yang terlihat pergi keluar dari kelas membuat Bu Yunita mengkerutkan alisnya.
Sesampainya di parkiran, Daffa segera mencari motornya, lalu menyalakan motornya dan segera berangkat.
Melihat pintu gerbang mau di tutup, Daffa segera mempercepat motornya, mata Daffa terlihat sangat serius, dirinya kemudian menarik gas motor dengan kecepatan tinggi.
"Wusssh!"
"Hei! Apakah kau bolos!" Teriak Pak Penjaga Sekolah
"Maaf! Saya akan berusaha untuk kembali!" Daffa terus mengendarai motornya dan berteriak sangat keras.
__ADS_1
Melihat jalanan, Daffa terus menambahkan kecepatannya, dirinya kemudian bersiap untuk berbelok ke arah kiri, dirinya segera menyalakan lampu sen kiri.
Kemudian Daffa berbelok ke arah kiri dengan cara yang cukup ekstrim, bahkan membuat jalanan membekas.
"Cepat! Lebih cepat!" Daffa bergumam dalam hati, serta melototkan kedua matanya.
Daffa kemudian melihat sebuah gang kecil di sebelah kanan, dirinya kemudian menyalakan lampu sen kanan dan berbelok, setelah itu Daffa menambah kecepatannya.
Daffa terus mengendarai motornya tapi tiba-tiba saja Daffa melihat di depan sedang terhalang, sebab tengah diberlakukan acara pernikahan, Daffa segera berbalik arah, dirinya kemudian berbelok ke gang yang lebih kecil di sebelah kanan.
Setelah mengendarai cukup lama Daffa menemukan bahwa di depannya terdapat kanal yang cukup dalam, dan tidak ditemukan satupun jembatan, Daffa kemudian terus menyusuri kanal selama beberapa saat, sampai Daffa akhirnya tidak menemukan jalan lagi, pada akhirnya Daffa menambahkan kecepatannya ke maksimum, lalu.
"Brrrrmmm!"
"Wuuusssh!" Motor Daffa melayang di atas kanal, sebelum akhirnya berhasil mendarat di sebrang kanal dengan selamat.
Daffa kemudian menambahkan kecepatannya, sebelum akhirnya berbelok ke arah kiri.
"Waau!"
"Woi jalan hati-hati!"
"Lihat-lihat oi!"
"Maaf! Istri saya mau lahiran!" Teriak Daffa yang seketika membuat semua orang terdiam, tepat setelah Daffa pergi orang-orang kemudian baru sadar, bahwa Daffa mengenakan pakaian seragam sekolah.
"Apakah dia benar-benar akan memiliki anak?" Salah seorang warga bertanya dengan bingung.
"Tentu saja tidak mungkin!"
"Itu pasti akal-akalan bocah bau itu saja!"
Para warga seketika sadar dan menjadi kesal, karena Daffa telah membohongi mereka.
Sedangkan di sisi lain, Daffa kemudian berhasil keluar dari jalan kampung, dirinya kemudian berada di jalan raya, Daffa kemudian menambahkan kecepatannya.
Dengan kecepatan tinggi dan menyalip kendaraan lainnya dengan lihai, Daffa akhirnya sampai di Kompleks Perumahan tempat tinggal Siska.
"Hei berhenti!" Penjaga segera menghentikan Daffa dari pergi lebih jauh.
"Maaf pak! Saya tengah terburu-buru! Teman kakak saya sedang mengalami kecelakaan! Karena itu kakak saya menyuruh untuk pergi menghubungi keluarganya, bisakah anda mengantarkan saya ke rumah Siska Amalia!" Daffa kembali berbohong dengan sangat lihai.
"Benarkah! Baiklah saya akan mengantarkanmu!" Pak penjaga kemudian mengambil motornya, lalu menyalakan motornya dengan cepat.
"Bisakah kamu mengikuti?"
__ADS_1
"Tentu!" Tepat setelah Daffa menjawab, pak penjaga mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, di mana Daffa segera mengikuti dengan sangat baik.
Kecepatan dua kendaraan tersebut sangat cepat, hingga akhirnya mereka sampai di rumah Siska.
"Hem?" Daffa memperhatikan bahwa di depan rumah sudah terdapat seorang wanita tua, dengan membawa sebuah tas belanja.
"Apakah kamu Daffa!" Wanita tua tersebut bertanya dengan cepat kepada Daffa yang baru saja datang.
"Benar!" Ucap Daffa yang segera menganggukkan kepalanya.
"Ini! Cepat! Sudah tidak banyak waktu lagi!" Daffa kemudian segera mengambil tas, lalu menganggukkan kepalanya.
"Terimakasih bibi! Dan pak penjaga terimakasih banyak!" Ucap Daffa yang segera mengendarai motornya setelah mengambil tas belanjaan tersebut.
Melihat Daffa yang pergi dengan tergesa-gesa, pak penjaga hanya menggelengkan kepalanya, sementara Daffa terus mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi menuju keluar dari Kompleks Perumahan.
...
Di sisi lain, Rissa terus menatap layar handphone, dengan wajah cemas dirinya menatap jam dengan panik.
"Hanya tersisa sepuluh menit lagi! Apakah Daffa bisa sampai ke sini tepat waktu?" Siska bertanya dengan menoleh ke arah Pak Ari.
"... Mungkin, doakan saja yang terbaik." Pak Ari tidak dapat melakukan apapun, oleh karena itu dirinya hanya dapat mencoba untuk menenangkan yang lain, agar tidak panik.
...
Daffa mengendarai motornya dengan secepat mungkin, dirinya sudah membuat gas mencapai maksimum, jika Daffa mengerem secara mendadak dapat dipastikan, bahwa Daffa akan terlempar karena daya tolak dari berhenti secara tiba-tiba.
"Sisa sembilan menit, itu tidak akan cukup, hanya ada satu cara... Cara yang ekstrim dan sangat berbahaya."
Daffa terus mengendarai motornya meski sedang melihat jam, dirinya kemudian pergi membuat kendaraannya ke arah gang di sebelah kanan.
Setelah itu Daffa menambah kecepatannya, dirinya kemudian segera menemukan seseorang yang dirinya kenal tidak jauh di depan.
"Yogi! Aku pinjam helm!" Daffa berteriak kepada temannya yang merupakan penjual helm, dirinya segera mengambil salah satu helm yang digantung di sebuah tiang.
"Oi! Ada apa?" Yogi menjadi sangat bingung dengan kelakuan Daffa yang aneh tersebut.
"Nanti akan aku jelaskan!" Daffa menambahkan kecepatannya, setelah membuka pengunci helm, lalu memakainya dan mengunci helm tersebut, Daffa melanjutkan perjalanannya.
Daffa kemudian bersiap untuk melakukan belokan tajam, dirinya segera melakukannya dengan sangat cepat, yang mana kembali menciptakan bekas di jalan.
"Sekarang tinggal jalan lurus!" Daffa berkendara di jalan yang sangat sempit, di mana sebelah kiri dan kanan adalah tembok, lalu Daffa akhirnya keluar dari jalan sempit tersebut.
"Tiiit!" Sebuah mobil dengan kecepatan tinggi melintas, dari arah kanan Daffa, melihat hal itu mata Daffa terlihat bersinar karena cahaya lampu mobil.
__ADS_1