Pena Merah Di Langit Biru

Pena Merah Di Langit Biru
Chapter 27: Masalah Awal Bagian Ke 15


__ADS_3

"Kau sudah bertunangan... Aku tidak tahu itu...?" Ucap Daffa yang bertanya dengan wajah bingung.


"... Aku tidak ingin mengatakannya... Karena aku masih mencintaimu..." Gumam Amanda dengan suara pelan, yang di mana hal itu dapat didengar oleh Rissa, sementara Daffa tidak mendengarnya karena dirinya cukup jauh dari Amanda dan Rissa.


"Itu karena kamu tidak perlu tahu!" Ucap Amanda yang memalingkan wajahnya.


"Yah... Lalu bicaralah berdua, aku ingin membeli air." Ucap Daffa sebelum berjalan menuju ke tempat mesin minuman.


Melihat kepergian Daffa, Rissa segera menatap ke arah Amanda, dirinya kemudian duduk sebelum akhirnya bertanya.


"Apakah Kakak menyukai Daffa?" Ucap Rissa yang menundukkan kepalanya.


Mendengarnya membuat kedua mata Amanda terbuka lebar, dirinya akhirnya sadar bahwa gumamannya telah didengar oleh Rissa.


"... Ya, aku telah menyukainya selama delapan tahun..." Ucap Amanda sebelum akhirnya duduk di sebelah Rissa.


"Bagaimana kamu bisa berpacaran dengan Daffa?" Ucap Amanda yang bertanya kepada Rissa.


"Itu... Ceritanya cukup panjang, mau mendengarnya?" Ucap Rissa yang menatap ke arah Amanda.


"Tentu."


"Semuanya dimulai dari..." Rissa mulai menceritakan pertemuan pertamanyanya dengan Daffa.


"Begitukah... Nah kalau begitu, aku akan menceritakan pertemuan pertamaku sekarang..." Setelah mendengarkan kisah Rissa dan Daffa, Amanda akhirnya memutuskan untuk menceritakan bagiannya, dirinya mulai dari pertemuan pertamanya hingga akhirnya ke bagian Amanda menjadi penulis seperti Daffa.


"Kak... Aku tidak akan menyerahkan Daffa, bagaimanapun juga, meski Kakak mengenal Daffa selama delapan tahun, tetap saja dia pacarku!" Ucap Rissa yang menatap Amanda dengan wajah penuh tekad.


"Haha aku tahu, karena itulah mengapa aku ingin kita bersaing, apakah dirinya lebih memilihmu atau diriku... Bagaimana?" Ucap Amanda sambil tersenyum lebar.


"... Baik, jika Daffa lebih memilih diriku, kuharap Kakak tidak akan mencoba untuk melakukan hal-hal aneh kepada Daffa, dan aku akan melakukan hal yang sama jika sebaliknya." Ucap Rissa yang menatap Amanda dengan mata penuh keyakinan.


"Tentu! Lagipula..." Aku tahu bahwa Daffa lebih memilihmu Rissa, pikir Amanda yang tidak menyelesaikan kata-katanya dan mengatakan hal tersebut dalam benaknya.


"Hei! Maaf lama, aku perlu membantu seseorang sebelumnya, dia... Sepertinya berumur lima belas tahun, dan dirinya perlu pergi ke rumah yang berada di Jalan Gelombang Mekar, dan karena dirinya tidak tahu ke arah mana, aku memberitahunya secara perlahan... Tapi aku tidak menyangka bahwa dirinya akan membelikan banyak sekali minuman sebagai tanda terimakasih, anak yang aneh?" Ucap Daffa yang menjelaskan keadaan sebelumnya.


Di mana Daffa membawa lebih dari lima minuman, melihat itu Rissa berdiri dan membantu Daffa membawa beberapa, Amanda yang melihat mereka berdua merasa keduanya sangat cocok, hal itu membuatnya tersenyum pahit.

__ADS_1


"Jadi... Apakah kalian sudah selesai berbicaranya?" Ucap Daffa yang bertanya dengan rasa ingin tahu.


"Ya, apakah kamu mau mendengarnya?" Ucap Rissa sambil tersenyum tipis.


"Tidak juga..." Ucap Daffa yang menggelengkan kepalanya.


"Hei!" Sebuah suara tiba-tiba saja terdengar, hal itu membuat Daffa, Rissa, dan Amanda melihat ke arah suara itu berasal.


"Sakura?" Ucap Daffa dengan wajah terkejut yang melihat seorang anak kecil.


"Hehe Kak Daffa! Apakah kamu sedang jalan-jalan?" Ucap seorang anak kecil yang segera menghampiri Daffa, dan berdiri tepat di depan Daffa.


"Ya, aku sedang jalan-jalan, kamu sendiri sedang apa, dan di mana Bin bukankah kalian selalu bersama?" Ucap Daffa yang berjongkok dan mengelus-elus rambut Sakura.


"Siapa dia Daffa?" Ucap Amanda yang bertanya dengan rasa ingin tahu.


"Ah, namanya Sakura Tanaka, dia adalah pasien yang sering aku temui di rumah sakit..." Ucap Daffa yang mengelus-elus rambut Sakura, dan menjawab pertanyaan Amanda.


"Begitukah..."


"Hei!" Ucap Rissa yang menyapa Sakura.


"Ya, ada apa Kakak cantik!" Ucap Sakura yang bertanya dengan wajah bingung kepada Rissa.


"Eh, kamu tidak boleh bilang seperti itu, katanya jika seseorang di masa kecilnya gemuk, maka di masa depan dirinya akan menjadi langsing, percaya tidak?" Ucap Rissa yang bertanya kepada Sakura sambil tersenyum lembut.


"Ehm... Jadi maksud Kakak, aku tidak boleh terlalu mengabaikan Bin, karena mungkin di masa depan Bin akan menjadi tampan seperti Kak Daffa?" Ucap Sakura yang memuji Daffa secara tiba-tiba, mendengar kata-kata Sakura membuat Daffa menjadi malu.


"Ya, seperti itu." Ucap Rissa yang menganggukkan kepalanya.


"Uhmm... Baiklah aku tidak akan mengabaikan Bin lagi, tapi dia tetap anak yang lambat!" Ucap Sakura yang menggelengkan kepalanya.


"Hei Sakura-chan! Huh hah huh hah!" Seorang anak laki-laki gendut terlihat berlari, dirinya kemudian sampai di sebelah Sakura, sebelum akhirnya terduduk di tanah dengan wajah yang penuh keringat.


"Hehehe kamu akhirnya sampai Bin!" Ucap Daffa yang tertawa kecil, sebelum akhirnya tersenyum dan mengelus-elus rambut Bin secara perlahan.


"Namanya Bin Roman, dia juga anak yang sama, yang merupakan seorang pasien ketika aku berkunjung di rumah sakit." Ucap Daffa yang tersenyum tipis.

__ADS_1


"Ouh benar, Kak Daffa! Aku telah selesai menonton Satu Potongan yang kakak beritahu! Aku sangat menyukainya! Aku ingin seperti Lutfei menjadi Raja Bajak Ruang Angkasa!" Ucap Bin dengan wajah bersemangat.


"Benarkah! Itu hebat!" Ucap Daffa yang menganggukkan kepalanya.


"Hehe aku menghabiskan sebulan untuk menonton lebih seribu episode! Rata-rata waktu aku menonton anime Satu Potongan dua belas jam!" Ucap Bin yang tersenyum bangga.


"Wow kau pekerja keras, hebat sekali! Lalu apakah kau sudah nonton Pemutihan!" Ucap Daffa dengan wajah bersemangat, melihat kedua pria itu membahas anime membuat Rissa, Amanda, dan Sakura menatap dengan tatapan kosong.


"Sakura! Bin!" Sebuah suara tiba-tiba saja terdengar, membuat orang-orang berbalik arah.


"Bibi Maya!" Ucap Rissa yang terkejut menemukan seorang rekan kerja ayahnya ada di sini.


"Ouh Rissa lama tidak bertemu, Hem... Ah! Daffa kau juga berada di sini?" Ucap Seorang perempuan cantik, yang mengenakan pakaian hitam yang memperlihatkan beberapa lekuk tubuhnya, tapi bagi Daffa itu hal yang biasa-biasa saja, lagipula bukankah itu cuman gundukan daging, itu yang ada di dalam pikiran Daffa.


"Apakah anda mengajak bermain anak-anak ini Perawat Maya?" Ucap Daffa yang bertanya kepada Maya.


"Ya, aku pergi bersama dengan Takuya." Ucap Maya yang menganggukkan kepalanya.


"Takuya? Ah pacar Perawat Maya!" Ucap Daffa yang tersenyum tipis.


"Apa?" Maya terkejut dengan kata-kata Daffa.


"Hehe itu benar Kak Daffa! Kakakku Takuya Tanaka, dan Kak Maya Nandini berpacaran!" Ucap Sakura yang membuat wajah Maya seketika memerah.


"Aku tidak tahu kalau kamu mengenal orang Jepang Daffa?" Ucap Amanda dengan wajah heran.


"Yah... Aku bertemu dengan banyak orang saat mengunjungi Rumah Sakit, ngomong-ngomong apakah kau tidak pulang, sudah sore... Tahu?" Ucap Daffa yang menatap Amanda dengan wajah bingung.


"Benar, aku tidak boleh pulang terlalu larut, maaf semuanya aku pulang duluan! Sampai Jumpa lagi Rissa!" Ucap Amanda yang berpamitan sebelum pergi menggunakan mobil.


"Hei kalian! Ayo pulang!" Ucap seorang pria yang menghampiri Maya.


"Ah! Sepertinya kami juga harus pergi, sampai jumpa lagi Daffa, Rissa!" Ucap Maya yang tersenyum lebar, Sakura dan Bin juga berpamitan lalu pergi bersama Maya menuju ke arah Takuya.


"Nah, mau pulang?" Ucap Daffa yang tersenyum tipis kepada Rissa.


"Tentu, ayo kita pulang!" Ucap Rissa yang menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2