Pena Merah Di Langit Biru

Pena Merah Di Langit Biru
Chapter 8: Pertemuan Pertama Bagian Ke 8


__ADS_3

"Hei apakah nanti aku perlu menjemputmu?" Ucap Daffa sambil membawa motornya menuju ke sekolah Rissa.


"Itu... Aku akan mengabari lebih lanjut nanti, ouh apakah kamu tahu apa yang terjadi antara Bu Yunita dan Pak Ari, tadi pagi aku melihat Bu Yunita pergi sendiri menggunakan Ojek Online." Ucap Rissa yang seketika membuat raut wajah Daffa menjadi pucat.


"Eh... Itu... Mungkin mereka sedikit berkonflik?" Ucap Daffa sambil tersenyum paksa.


"Bagaimanapun juga pasangan suami-istri pasti memiliki suatu masalah bukan?" Ucap Daffa yang mencoba untuk tidak berbohong, tapi juga tidak mengatakan yang sebenarnya.


"Yah, kau tidak salah." Ucap Rissa sambil melirik ke sekitar.


"Sudah sampai!" Ucap Daffa yang berhenti di depan gerbang sekolah, melihat seorang siswa dari sekolah lain, membuat siswa-siswi sekolah Langit Biru menatap dengan rasa ingin tahu.


Tapi ketika mereka melihat bahwa itu adalah Rissa yang bersama dengan seorang pria, mereka menjadi lebih penasaran, sebab ada rumor yang beredar bahwa Rissa sebenarnya langsung berpacaran dengan seorang pria tepat setelah putus dengan Brian, sebab karena Rissa memang sudah memiliki simpanan seorang pria, saat ketika dirinya sedang berpacaran dengan Brian.


"Hei lihat Rissa bersama seorang pria?"


"Apakah rumor itu benar?"


"Rumor tentang dirinya punya banyak pria?"


"Ya ya, rumor yang itu!"


"Mungkin saja! Lagian dia cantik pasti banyak pria yang mau dengannya!"


Rissa yang dapat mendengar beberapa ucapan orang-orang di sekitarnya menjadi sangat kesal, dirinya tidak seperti yang mereka pikirkan, tapi ketika dirinya melihat senyum Daffa, entah mengapa semua rasa kesal yang dirinya rasakan hilang seketika.


"Kalau begitu aku pergi dulu, jika ada masalah telepon saja aku!" Ucap Daffa sambil tersenyum lebar, sebelum mengusap rambut Rissa dengan pelan, yang seketika membuat beberapa perempuan di sekitar berteriak histeris, sementara para pria bergumam kesal.


"Uhmm... Aku akan melakukannya..." Ucap Rissa sambil tersenyum lebar, dirinya tidak peduli lagi dengan yang semua orang katakan, ketika dirinya bersama Daffa semua itu tidaklah penting.


Daffa segera mengendarai motornya menjauh dari sana, setelah Daffa benar-benar tidak lagi terlihat Rissa segera pergi ke kelasnya, ketika dalam perjalanan ke kelas, Rissa mendengar beberapa ucapan tidak mengenakan dari orang-orang di sekitarnya.


Tapi dirinya masih menghiraukan itu semua, Rissa kemudian sampai di kelas, Rissa melihat bahwa ketiga teman baiknya sudah berada di dalam.

__ADS_1


"Ica! Apakah kamu benar-benar berpacaran dengan pria yang kemarin?" Ucap Fiona dengan wajah terkejut.


"Ehm... Ya, kenapa?" Ucap Rissa sambil tersenyum tipis.


"... Apakah ada masalah?"


"Bukankah sudah jelas, kami butuh penjelasan, bagaimana kamu bisa berpacaran dengan seorang pria begitu cepat!" Ucap Fiona dengan rasa ingin tahu yang memuncak.


"... Aku akan menjelaskannya kepada kalian nanti pulang sekolah, bagaimana kalau kalian datang ke rumahku dan di sana aku akan menjelaskan semuanya." Ucap Rissa sambil menatap mereka bertiga dengan mata serius.


"Uhmm... Baiklah jika kau memang ingin hal itu, tapi katakan setidaknya siapa namanya?" Ucap Nana yang menatap Rissa dengan wajah tenang.


"Namanya Daffa Abiyyu, dia penulis sekaligus komikus terkenal dengan nama samaran Pena Langit." Tepat setelah Rissa mengatakan kata Pena Langit, membuat ketenangan Nana menjadi pecah.


"Benarkah itu! Pacarmu komikus dari Komik Pecundang Sepakbola Tak Kenal Kata Menyerah!" Ucap Nana dengan mata melebar, yang segera memegang kedua pundak Rissa dengan erat.


"Ya, Mamaku sendiri yang mengatakannya, dia mengatakan kalau Daffa penulis sekaligus komikus yang menerbitkan Novel dan Komiknya di perusahaannya." Ucap Rissa yang membuat Nana menjadi lebih tidak tenang.


Mengapa, itu karena teman mereka sangat menyukai sepakbola, dan karena ayahnya dulu mantan pemain sepakbola profesional, yang telah memenangkan piala dunia sebanyak lima belas kali.


Tapi sekarang sudah pensiun dan hanya menikmati hidupnya, dengan hasil uang yang telah dirinya kumpulan saat muda dulu, oleh karena itu Nana sangat menyukai sepakbola, karena darah penyuka bola berada dalam dirinya.


"Bisakah kamu meminta tanda tangannya untukku?" Ucap Nana yang menatap Rissa dengan wajah memohon.


"Kenapa kamu tidak melakukannya sendiri, aku dapat memintanya untuk datang dan mentanda tangani untukmu." Ucap Rissa sambil tersenyum tipis, mendengarnya membuat Nana menjadi lebih bahagia, dirinya segera memeluk Rissa dan berterimakasih kepada Rissa.


"Tidak masalah." Ucap Rissa sambil tersenyum dan membalas pelukan Nana.


...


...


...

__ADS_1


Akhirnya waktu makan siang tiba, Rissa, Siska, Nana, dan Fiona pergi ke kantin, mereka segera memesan makanan.


"Hem... Kenapa Ica?" Ucap Siska yang melihat Rissa hanya makan sambil memandangi handphonenya.


"Tidak, hanya saja aku tidak mendapatkan pesan dari pacarku, tidak seperti biasanya..." Ucap Rissa yang menggelengkan kepalanya dan menatap ke handphonenya dengan tatapan lembut, mendengar ucapan Rissa membuat ketiga temannya saling memandang dan tersenyum.


"Kamu benar-benar jatuh cinta kepadanya ya?" Ucap Fiona yang tersenyum main-main.


"Apa?" Rissa yang mendengarnya hanya terdiam, dirinya masih bingung dengan perasaannya sendiri, jika dirinya mengatakan iya, apakah hal itu benar, bagaimanapun juga alasan dirinya berpacaran dengan Daffa karena hal yang tidak disengaja, tapi dirinya tidak tahu bagaimana dengan perasaannya sendiri.


Tiba-tiba saja rombongan Liliana datang ke kantin, melihat mereka membuat Siska menjadi sangat marah, sedangkan Nana dan Fiona hanya bisa berusaha terlihat tenang, sementara Rissa benar-benar tidak peduli dengan Liliana.


Rombongan Liliana duduk tidak jauh dari tempat rombongan Rissa berada, Liliana yang melihat Rissa seketika menjadi sangat kesal, dirinya kemudian terpikirkan untuk memprovokasi Rissa.


"Hei kalian ingat dengan cerita yang kukatakan kemarin, lalu kalian pasti melihat pria yang membawa Rissa kemarin dan mengantarkannya tadi pagi bukan?"


"Dia itu pria simpanan Rissa loh, makanya dirinya terlihat baik-baik saja meski baru saja putus dengan Brian, karena dirinya memiliki pria simpanan."


"Pria itu pasti tidak mencintai Rissa sama sekali, paling-paling dirinya hanya menyukai kecantikan dan kekayaan yang dimiliki oleh Rissa, atau mungkin saja pria itu di bayar oleh Rissa untuk menjadi pacarnya, bukankah begitu?" Ucap Liliana yang berbicara dengan keras-keras, seketika Rissa berdiri membawa segelas air, dirinya berhenti tepat di depan Liliana, lalu Rissa seketika menyiram Liliana dengan air yang berada di tangan kanannya.


"Bush!"


Seketika semua orang terdiam, membuat suasana di dalam ruang kantin menjadi hening, Siska menatap dengan tersenyum lebar, sedangkan Nana hanya dapat terdiam membeku, sementara Fiona terlihat panik.


"Aku tidak peduli jika kau menghinaku ataupun menjelek-jelekkan diriku, tapi aku tidak akan diam jika kau menghina dan menjelek-jelekkan seseorang yang penting untukku! Dengan menggunakan mulut busukmu itu! Perempuan murahan!" Ucap Rissa dengan wajah sangat marah, Liliana yang melihat kemarahan Rissa untuk pertama kalinya menjadi sangat ketakutan.


"Liliana! Rissa! Kalian berdua ikut Ibu ke ruang BK sekarang!" Ucap seorang guru yang dari tadi hanya menonton, akhirnya bergerak dan membawa Liliana dan Rissa ke ruang BK.


"Liliana ganti bajumu di sana, setelah itu kemari lagi...!" Ucap guru tersebut yang membawa Rissa dan Liliana ke ruangannya, di mana dirinya menyuruh Liliana mengganti pakaian di ruangan lain, yang berada di dalam ruang BK.


Setelah Liliana selesai mengganti pakaian, dirinya segera duduk di depan Guru BK, dan di sebelah Rissa.


"Jadi Rissa katakan alasanmu menyiram Liliana?" Ucap Guru BK tersebut.

__ADS_1


__ADS_2