
"Apakah Daffa benar-benar akan sampai?" Rissa bergumam sambil menundukkan kepalanya menatap handphonenya.
"Tersisa empat menit lagi!" Nana berteriak yang membuat semuanya terdiam, mereka menjadi sangat tegang dalam waktu-waktu terakhir.
"Bisakah dia sampai dengan tepat?" Siska bertanya kepada Fiona.
"Mungkin, saja... 'Kan?" Fiona mencoba tersenyum optimis, tapi dirinya tidak dapat melakukannya.
"Dia pasti akan sampai!" Pak Ari mencoba menenangkan mereka berempat.
"Hei lihat ada berita mengenai seorang remaja yang mengalami kecelakaan!"
Seketika Rissa membeku dan tidak dapat bergerak, seolah-olah waktu di seluruh dunia terhenti.
"Hei! Apakah itu benar?" Nana segera menghampiri pria yang mengatakan tentang berita tersebut.
"Ya! Ada berita mengenai seorang remaja pria yang mengalami kecelakaan mobil karena berkendara terlalu cepat, saat ini dirinya sedang dilarikan ke rumah sakit terdekat, sementara pengemudi mobil yang menabrak remaja tersebut melarikan diri, kecelakaan tersebut cukup parah, dikatakan bahwa remaja pria mengalami luka berat!"
Mendengar semua yang dikatakan oleh seorang siswa pria, Pak Ari juga terdiam, dirinya menatap ke tanah dengan tatapan kosong, kepalanya terasa berat.
"Daffa kecelakaan...?" Rissa terlihat menundukkan kepalanya dengan wajah terkejut, dirinya sangat terkejut dengan berita tersebut, kedua mata Rissa melebar dan terlihat terlihat kosong.
"Tidak! Itu tidak mungkin!" Rissa membantah hal tersebut seolah-olah tidak percaya dengan berita tersebut, seketika Rissa berlari meninggalkan yang lainnya, dirinya pergi menuju ke arah pintu gerbang sekolah.
"Ica!" Nana berteriak keras melihat Rissa yang sangat terpukul tentang berita tersebut, dirinya segera berlari mengejar Rissa, melihat Rissa dan Nana pergi, Fiona menatap Siska dan Pak Ari dengan wajah cemas.
"Ayo kita kejar mereka!" Pak Ari segera mengajak Fiona dan Siska untuk ikut mengejar.
...
"Tidak! Biarkan aku keluar! Aku perlu mengetahui tentang Daffa!" Rissa berteriak dengan keras, suaranya terdengar sangat sedih.
"Ica! Tenang dulu Ica!" Nana berusaha mencoba untuk menenangkan Rissa.
"Tidak Nana! Aku perlu pergi! Daffa kecelakaan! Ini-i... Ini semua salahku! Karena aku Daffa mengalami kecelakaan!" Rissa tak kuasa menahan air matanya, seketika air mata Rissa mengalir keluar, melihat hal tersebut Nana, Siska, dan Fiona merasa hati mereka sangat sakit, jika saja sebelumnya mereka tidak memikirkan untuk memilih Daffa dan lebih memilih tukang Ojek Online.
Mungkin saja Rissa tidak akan merasa sedih dan menangis, serta Daffa tiidak mungkin akan mengalami kecelakaan.
"Ica! Tenang dulu!"
__ADS_1
"Tenang! Kamu bilang tenang! Bagaimana aku bisa tenang saat seseorang yang akhirnya aku anggap penting mengalami kecelakaan!" Rissa berteriak dan menatap kepada ketiga temannya dengan terus mengeluarkan air mata.
"Mungkin! Mungkin saja itu bukan Daffa! Mungkin itu orang lain!" Fiona akhirnya mengungkapkan pendapatnya.
"Dikabarkan bahwa remaja yang mengalami kecelakaan di Jalan Aku Sayang Kamu, di mana korban remaja sekolah berinisial D dikabarkan meninggal dunia." Mendengar suara dari salah satu handphone penjaga sekolah, seketika semua orang terdiam.
"Tidak... Tidak...! Itu tidak mungkin! Tidak! Tidak! Tidak! Tidak! Tidak! Daffa tidak mungkin meninggal dunia!" Rissa terlihat begitu pucat, dirinya berusaha keras menyangkal berita tersebut.
"Tidak! Daffa tidak mungkin-!"
"Aku tidak kenapa?"
...
...
...
"Da... Daffa!" Rissa terlihat sangat terkejut, dirinya menatap dengan wajah tidak percaya, Rissa segera berlari menghampiri Daffa yang berada di balik gerbang sekolah.
"Kamu tidak apa-apa bukan! Apakah ada yang luka! Apakah kamu benar-benar baik-baik saja!" Rissa segera bertanya dengan sangat cepat, tanpa meninggalkan satupun jeda untuk Daffa sempat berbicara.
"Aku baik-baik saja!" Ucap Daffa sambil tersenyum lebar.
"Ya, aku tidak akan pernah meninggalkanmu," ucap Daffa sambil tersenyum tipis.
"Terimakasih... Terimakasih... Terimakasih karena tetap aman...!" Rissa menundukkan kepalanya dan berakhir terduduk di tanah.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi bukankah sebaiknya kamu segera berganti pakaian! Waktu ujian hampir dimulai bukan?" Ucap Daffa dengan tergesa-gesa menyerahkan tas belanja yang berisi baju ganti.
"... Kamu benar, maafkan aku karena melupakan penyebab dari semua hal ini, aku harus pergi... Terimakasih!" Rissa kemudian kembali sadar dan bersiap untuk menghadapi ujian.
"Tidak masalah, sama-sama!" Daffa menganggukkan kepalanya, Nana melihat ke arah Daffa sejenak sebelum menundukkan kepalanya sedikit, lalu pergi mengejar Rissa.
"Daffa... Sepertinya kamu telah memutuskan, dan melakukannya dengan baik." Pak Ari mendatangi Daffa setelah Rissa dan yang lainnya pergi.
"Ya, saya sudah memutuskan, jauh sebelum saya berbicara dengan Anda Pak Ari..." Daffa menatap pak Ari dengan tatapan serius.
"Hei hei jangan menatapku seperti itu! Aku mengakui aku salah oke!" Pak Ari melambaikan tangannya.
__ADS_1
"Meski anda mengaku salah, itu tidak mengubah fakta bahwa saya kesal, jadi bisakah anda katakan apa yang sebenarnya sedang terjadi kepada kalian, sampai wajah kalian terlihat pucat, Rissa bahkan menangis?" Ucap Daffa dengan wajah bingung.
"Ah soal itu, sebenarnya ini semua karena kamu, kami pikir kamu mengalami kecelakaan lalulintas, sebab tadi ada berita mengenai seorang remaja mengalami kecelakaan lalulintas dan terluka parah." Pak Ari menjelaskan semuanya kepada Daffa.
Mendengarkan semua itu membuat Daffa mengangkat kedua alisnya, dirinya menatap Pak Ari dengan tatapan rumit.
"Saya tadi juga hampir mengalami kecelakaan lalulintas..." Gumam Daffa sambil mengkerutkan keningnya.
"Apa! Benarkah itu!" Pak Ari sangat terkejut dengan hal yang dikatakan Daffa, dirinya menjadi merasa bersalah karena dirinya lah orang yang memberitahukan mengenai keadaan Rissa kepada Daffa, jika saja dirinya tidak melakukan itu, mungkin Daffa tidak akan mengalami keadaan hampir kecelakaan.
"Ya..." Daffa kemudian mengingat kembali kenangan sebelumnya.
...
...
...
"Uhh!" Daffa menambahkan kecepatannya, sehingga ketika mobil itu akan mengenai tempat Daffa sebelumnya, mobil tersebut tidak akan menabrak Daffa dan hanya menyenggol bagian belakang motor Daffa, yang seketika membuat motor Daffa terhempas.
Lalu motor Daffa berputar-putar, yang mana menciptakan bekas hitam di jalan, Daffa mencoba untuk menghentikan kendaraannya.
Tapi motor Daffa masih saja berputar-putar, kepala Daffa terasa sangat pusing karena berputar-putar, oleh karena itu dirinya tidak dapat melihat sebuah tiang listrik.
Kemudian.
"Baaam!"
Motor Daffa berhasil berhenti dengan secara tidak sengaja menabrakkan motor ke tiang listrik, yang mengakibatkan Daffa dapat berhenti berputar-putar.
"Hei apakah kau tidak apa-apa?" Pengendara mobil tersebut keluar, untuk mengecek keadaan Daffa.
"Arghh...! Aku baik-baik saja!" Daffa mencoba untuk berdiri.
"Benarkah, apakah aku perlu membawamu ke rumah sakit?" Pengendara tersebut bertanya kepada Daffa dengan wajah khawatir.
"Tenang saja, aku tidak apa-apa! Bisakah anda membantu mengangkat motor saya?" Daffa berusaha untuk mengangkat motornya, tapi tenaganya sudah hampir habis, oleh karena itu dirinya tidak dapat mengangkat motornya seorang diri.
"Ah! Maafkan aku! Ayo akan aku bantu mengangkatnya!" Ucap pria tersebut yang segera membantu Daffa, lalu Daffa berdiri sebelum akhirnya melihat orang yang menyerempetnya.
__ADS_1
"Terimakasih, maaf saya sedang terburu-buru! Saya pergi dulu!" Daffa kemudian menaiki motornya, lalu Daffa segera pergi meninggalkan pria tersebut.
"Hei! Huff... Hati-hati saat berkendara... Anak yang aneh..." Gumam pria tersebut yang melihat Daffa pergi menjauh.