
"Aku akan bertanya kepada Mama dan Papa ketika mereka kembali, sudahlah simpan kembali barang-barang ini, sebelumnya kalian tidak pernah peduli dengan kotak-kotak ini, mengapa sekarang kalian penasaran?" Ucap Rissa yang bertanya dengan bingung.
"Sebenarnya kami sudah penasaran sejak lama, tapi kami masih belum ingin melihat ke dalamnya, sekarang karena kami cuman main sebentar, aku merasa mungkin melihat-lihat sebentar tidak masalah." Ucap Nana yang menjawab sambil tersenyum menggoda, melihatnya membuat Rissa sedikit kesal.
Kemudian Rissa kembali menyuruh untuk mengembalikan barang-barangnya, yang mana dilakukan oleh Nana, Siska dan Fiona, lalu setelah itu Bu Yunita kembali, dirinya kemudian pergi kembali ke tempat duduknya.
"Bagaimana Rissa? Apakah kamu sudah baikan?" Ucap Bu Yunita yang bertanya kembali keadaan Rissa, Bu Yunita bertanya bukan karena dirinya tidak mendengar percakapan antara Rissa dan Fiona sebelumnya, tapi karena dirinya ingin sekedar basa-basi saja.
"Saya sudah baikan kok Bu," ucap Rissa yang tersenyum tipis.
Melihat Rissa yang memang sudah lebih baik, membuat Bu Yunita tersenyum dan menganggukkan kepalanya, "Baguslah kalau begitu!" Bu Yunita kemudian mengambil sepotong buah yang telah dipotong-potong sebelumnya, lalu memakannya.
"Creeiik!"
Pintu dibuka secara perlahan, lalu terlihat Daffa yang baru saja kembali dari bawah, karena sebelumnya Daffa pergi menuju ke kamar mandi yang berada di bawah, meski di kamar tersebut ada kamar mandi, Daffa merasa tidak enak buang air kecil di kamar mandi pacarnya, oleh karena itu Daffa lebih memilih untuk turun ke bawah.
Daffa tanpa sengaja saling bertatapan dengan mata Rissa, mata mereka saling terpaku satu dengan yang lain, meskipun mereka tidak berbicara tapi entah bagaimana keduanya dapat saling memahami maksud satu dengan yang lain.
Rissa kemudian tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya. Daffa juga melakukan hal yang sama, sebelum akhirnya Daffa kembali ke tempat duduknya.
Bu Yunita melihat ke arah jam tangan, yang berada di tangan kanannya, seketika memulai percakapan, "Sudah terlalu larut, ibu harus pulang untuk menyiapkan makanan untuk suami ibu, maaf semuanya ibu pulang lebih dulu," kemudian Bu Yunita berdiri dan bersiap untuk pergi.
Rissa yang melihat itu juga berdiri, "Terimakasih sudah datang menjenguk saya Bu Yunita!" Ucap Rissa sambil tersenyum tipis.
Bu Yunita yang melihat itu tersenyum kembali, sebelum berjalan pulang kembali ke rumahnya. Setelah Bu Yunita pulang Daffa kemudian memulai percakapan, "Lalu besok kita jadi pergi ke perpustakaan 'kan?"
__ADS_1
Rissa yang mendengarnya menoleh ke arah Daffa, sebelum akhirnya menjawab, "Tentu saja, kita akan ke sana jam 9 pagi," ucap Rissa yang menganggukkan kepalanya.
Nana kemudian berbicara, "Yah aku tidak masalah sih, tapi apakah kalian benar-benar ingin belajar?" Ucap Nana yang mengangkat kedua alisnya.
Siska yang mendengar perkataan Nana, seketika membalas, "Aku memang berniat belajar di rumah sebelumnya, tapi jika kita akan belajar bersama aku tidak masalah, lagipula bukankah lebih baik jika lebih banyak orang?" Ucap Siska sambil tersenyum kepada mereka.
"Dia benar, aku juga setuju!" Ucap Fiona menimpali perkataan Siska, sambil menganggukkan kepalanya.
Daffa yang mendengarnya tersenyum, sebelum menoleh ke arah ketiga teman baiknya, lalu bertanya, "Kalian bertiga sendiri bagaimana, setuju tidak?"
Rio, Adrian, dan Kevin yang mendengarnya segera berbalik ke arah Daffa, "Tentu! Lagipula aku sudah memutuskan untuk mendapatkan nilai terbaik diujian nanti! Karena itu aku akan belajar dengan giat!" Ucap Rio yang tersenyum lebar, melihat sikap Rio yang begitu bersemangat membuat Daffa menatap dengan curiga.
"Aku juga setuju!" Ucap Adrian yang tersenyum, melihat Rio dan Adrian setuju membuat Kevin tersenyum, sebelum akhirnya berbicara, "Yah karena kalian menerimanya, maka aku pasti juga akan ikut," ucap Kevin yang tersenyum tipis.
Menatap ketiga temannya dengan tatapan curiga, Daffa pada akhirnya menghela nafas panjang, sebelum akhirnya berbicara, "Kalau begitu sudah diputuskan! Besok kita akan pergi ke perpustakaan jam 9 pagi untuk belajar bersama," ucap Daffa yang tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Siska dan Fiona juga menemukan bahwa sudah saatnya mereka pulang, melihat pacar mereka berniat pulang, Rio, Adrian, dan Kevin juga akan ikut.
"Nah Rissa, sepertinya aku juga pulang, sampai jumpa besok Rissa!" ucap Daffa yang berdiri dan berniat untuk pergi pulang.
"Baiklah aku akan menunggumu besok, terimakasih semuanya sudah datang menjengukku! Hati-hati di jalan," ucap Rissa yang tersenyum dan mengantar mereka sampai di depan pintu kamarnya, lalu saat yang lainnya sampai di bawah Rissa melambaikan tangannya kepada mereka.
...
"Papa Mama kalian sudah pulang!" Rissa yang melihat kedua orang tuanya telah kembali, segera menghampiri mereka.
__ADS_1
"Wah anak Mama sepertinya sudah sembuh, hem... Ada apa sayang, apakah ada hal yang kau inginkan?" Ucap Raisa yang memperhatikan putrinya, dan menemukan bahwa Rissa bertingkah seperti saat dirinya ingin meminta sesuatu.
"Uhm... Ada yang ingin kutanyakan, apakah dulu ada anak yang dekat denganku, anak laki-laki berambut putih?" Ucap Rissa yang bertanya karena rasa penasarannya sudah mencapai batasnya, dirinya kemudian menunjukkan sebuah foto yang sebelumnya ditemukan oleh Siska.
Mengambil foto itu dan melihatnya, Raisa mulai mencoba untuk mengingat kembali, kenangan yang sudah sangat lama.
"Hem... Bukankah dia Ben?" Ucap Rino yang memperhatikan foto tersebut.
"Ben, ah! Benar Ben Kecil!" Raisa akhirnya ingat, tentang seorang anak laki-laki yang sering membantu putrinya ketika saat kecil dulu.
"Ben Kecil?" Rissa yang mendengarnya bingung dengan nama aneh itu.
"Kau tidak mengingatnya sayang? Kamu dan dia pernah berjanji untuk menikah di masa depan loh..." Ucap Raisa yang menggoda putrinya.
"Apa! Menikah!" Rissa yang mendengar hal itu berseru terkejut, dirinya menatap ke arah Mamanya dengan wajah tidak percaya.
"Benar, kalian sangat dekat dulu, karena dia pula kamu akhirnya memutuskan untuk melatih tubuhmu hingga akhirnya kamu menjadi kurus, dan menghilangkan lemak-lemak imutmu itu, padahal papa lebih menyukai ketika kamu masih memiliki pipi tembemmu," ucap Rino dengan nada kecewa.
"Benarkah?" Ucap Rissa yang tidak mengingat kejadian itu sama sekali.
"Sepertinya kamu sudah melupakannya, dia anak pertama yang menjadi temanmu, juga dialah satu-satunya anak yang mau bermain denganmu ketika kamu dijauhi oleh anak-anak yang lain, tapi pada akhirnya kita pindah, dan kamu sepertinya sudah melupakan tentang dia," ucap Raisa yang menggelengkan kepalanya.
"... Apakah dia begitu pentingnya bagiku?" Ucap Rissa yang bertanya karena masih tidak dapat mengingat tentang Ben.
"Bukankah Mama sudah bilang, kalian berjanji untuk menikah di masa depan, tapi karena kita pindah kalian menjadi berpisah, dan akhirnya kalian tidak saling melakukan kontak-kontakan lagi, lalu kamu akhirnya berpacaran dengan Brian." Ucap Raisa yang menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan Daffa..." gumam Rissa dengan suara pelan yang hanya dapat didengar olehnya, memikirkan tentang pacarnya yang sekarang dan kekasih masa kecilnya membuat Rissa terdiam.