
"Eh?"
"Rio!" "Adrian!" "Kevin!" Tiga orang pria terlihat terkejut, dan memanggil nama satu sama lain dengan terkejut.
"Nana!" "Siska!" "Fiona!" Tiga perempuan yang berada di sebelah masing-masing ketiga pria itu, juga terlihat terkejut dan menyebutkan nama satu sama lain.
"Kalian saling kenal?" Keenam orang itu berbicara secara bersamaan, yang membuat keenamnya terdiam.
"Apa ini... Kalian berdua berpacaran tanpa memberitahuku!" Ucap Rio dengan mengkerutkan keningnya.
"Hei hei! Yang harusnya mengatakan itu adalah aku! Kau sendiri berpacaran tidak memberitahukan hal tersebut kepada kami bukan!" Ucap Kevin dengan nada tidak senang.
"Dia benar, kau sendiri juga tidak memberitahukan tentang hubunganmu." Ucap Adrian yang menganggukkan kepalanya.
"Sudah... Kita harus mencari tempat yang tenang, tidak enak dilihat oleh banyak orang!" Ucap Nana yang menghentikan mereka, karena dirinya menemukan beberapa orang melihat ke arah mereka.
"Uhm... Benar, itu tidak nyaman." Ucap Fiona yang menganggukkan kepalanya.
"Kita pergi ke sana saja, aku tahu tempat yang tenang dan memiliki suasana yang nyaman." Ucap Siska yang mengajak mereka pergi ke suatu tempat.
Tempat tersebut adalah sebuah caffe yang sepi, mereka memesan sebuah kopi masing-masing.
"Jadi kita akan mulai dari siapa?" Ucap Kevin yang bertanya dengan wajah bingung.
"Kalau begitu kita akan memulai dariku dan Rio." Ucap Nana yang mulai menceritakan dari awal pertemuannya dengan Rio.
...
"Begitukah... Lalu aku akan menceritakan bagianku dengan Adrian." Ucap Siska yang mulai menceritakan kisahnya.
Mendengar cerita dari kedua temannya, Fiona kemudian mulai menceritakan kisahnya dengan Kevin.
Setelah mengetahui tentang hal-hal yang terjadi, dan karena memiliki alasan yang sama, mereka berenam berakhir terdiam.
__ADS_1
"Ehm... Jadi kau tidak memberitahukannya karena bagimu itu tidak penting, Fiona?" Ucap Nana yang bertanya dengan mengkerutkan keningnya.
"Ya!" Ucap Fiona yang menganggukkan kepalanya.
"... Haaah, ternyata itu alasan kalian tidak menceritakannya, karena kalian tidak ingin menganggu pertemanan kita?" Ucap Kevin yang bertanya kepada keduanya.
"Ya begitulah... Tapi jika itu alasan pacarmu, lalu kenapa kau tidak memberitahukan hal tersebut kepada kami?" Ucap Rio yang bertanya sambil menatap Kevin dengan tatapan tajam.
"Ah itu... Aku lupa?" Ucap Kevin sambil tersenyum canggung, mendengarnya membuat Rio dan Adrian tersedak udara, mereka berdua menatap Kevin dengan mata berkedut.
"Maaf-maaf! Aku memang lupa, tapi bukan hanya itu saja, aku tidak mengatakannya juga karena Daffa! Aku tidak mau dia mengetahui mengenai hal ini! Jika dia mengetahuinya dirinya pasti akan sedih karena aku sudah memiliki pacar, sementara dirinya jomblo sejak dulu!" Ucap Kevin yang mencoba menjelaskan alasannya.
"... Jika itu benar yah aku dapat menerimanya, sebab aku merahasiakan mengenai hubunganku itu juga karena aku tidak ingin Daffa mengetahuinya." Ucap Adrian yang menerima hal tersebut.
"Haah kau benar, aku juga sama." Ucap Rio yang menganggukkan kepalanya.
"Ngomong-ngomong apakah Daffa ini teman baik yang sering kalian bicarakan?" Ucap Nana dengan penasaran.
"Ya! Dia teman baik kami, kenapa?" Ucap Rio yang menganggukkan kepalanya.
"Ica?" Ucap Nana yang melihat ke sosok perempuan yang berada di dalam toko buku, dan terlihat tengah melihat-lihat buku novel di rak buku.
"... Eh itu... Bukanya itu Daffa!" Ucap Rio yang melihat ke arah Toko buku, di mana terdapat teman baiknya.
"Apa! Mereka berdiri bersebelahan! Apakah ternyata mereka juga berpacaran!" Ucap Fiona yang seketika membuat suasana menjadi hening.
Sementara itu di sisi lain, Daffa yang sedang mencari-cari buku novel yang baru saja keluar, dirinya menemukan seorang perempuan yang mencoba menggapai sebuah buku di bagian paling atas rak buku, dia adalah Rissa.
Sepertinya pertemuan di taman yang akan terjadi di masa depan, bukanlah pertemuan pertama kalinya bagi mereka berdua, takdir itu aneh dan penuh misteri.
Jadi cobalah untuk tidak mempermainkan takdir itu sendiri, Daffa membantu perempuan itu untuk mengambil buku pilihannya, setelah mendapat bukunya dari seorang pria tidak dikenal, Rissa berterimakasih dan menundukkan kepalanya sedikit sebelum akhirnya pergi.
Melihat pertemuan keduanya dari jarak jauh, membuat keenamnya kecewa, mereka tidak menyangka bahwa itu tidak seperti yang mereka bayangkan.
__ADS_1
"Kupikir itu akan menjadi adegan romantis seperti di film-film." Gumam Fiona dengan kecewa.
"Yah ini dunia nyata, hal seperti itu tidak mungkin terjadi bukan?" Ucap Nana yang mengangkat kedua bahunya dengan santai, meski begitu dirinya juga sedikit kecewa, padahal dirinya berharap dapat menemukan seseorang yang tepat untuk teman baiknya.
"Sayang sekali Daffa tidak berhasil!" Ucap Kevin yang menggelengkan kepalanya.
"Tidak, dia bahkan belum mencoba melakukan apapun, dirinya hanya mengambilkan buku untuk Ica." Ucap Siska yang memberitahukan kebenarannya.
"Benar sih, tapi aku juga sedikit kecewa dan sedih pada saat yang bersamaan, bagaimanapun juga dia teman baik kami, aku ingin dirinya memiliki orang yang peduli sekali dengannya." Ucap Adrian yang juga kecewa.
"Entah mengapa aku seperti melihat benang merah di antara mereka, ketika mereka berdua berdiri bersebelahan." Ucap Siska yang seketika membuat semua orang terdiam, karena mereka juga melihat hal yang sama, sebelumnya mereka pikir itu hanya halusinasi, tapi tidak mungkin halusinasi terjadi kepada keenam orang secara bersamaan bukan.
"Apakah... Mereka berdua benar-benar ditakdirkan untuk bersama?" Ucap Fiona yang bertanya dengan rasa ingin tahu.
"Itu... Mungkin saja?" Ucap Nana yang mengkerutkan keningnya.
"... Kuharap itu benar, sebab Daffa teman baik kami, jika dirinya bertemu dengan perempuan baik, maka itu hal yang sangat bagus, benar bukan?" Ucap Rio yang bertanya kepada kedua temannya.
"Yap, aku mendoakan yang terbaik untuk Daffa!" Ucap Kevin yang setuju.
"Tapi jika dipikir-pikir lagi, apakah kalian tidak merasa aneh, keduanya terlihat begitu tenang, seolah-olah mereka sudah pernah bertemu sebelumnya?" Ucap Adrian yang bingung dengan perasaannya ketika melihat Daffa terlihat begitu tenang, saat bertemu dengan seorang perempuan, rasanya terlalu aneh, seolah-olah mereka saling mengenal tapi lupa pernah bertemu, jadi seperti ada perasaan saling kenal tapi pada saat yang bersamaan juga tidak.
"Hem... Kau ada benarnya, tapi kurasa itu tidak mungkin, sebab jika iya mereka seharusnya berbicara lebih banyak, keduanya terlihat seolah-olah baru pertama kali bertemu?" Ucap Kevin yang memberitahukan pendapatnya.
"Aku tidak tahu apakah hal itu benar atau tidak, tapi setidaknya kita sekarang sudah tidak perlu merahasiakan hubungan kita di antara masing-masing, yah kecuali Daffa tentunya." Ucap Rio yang menghentikan teman-temannya untuk berpikir mengenai hubungan Daffa dan Rissa.
"Kau benar, kami tidak perlu merahasiakan hubungan kami lagi, lagipula Ica sudah beberapa kali mengetahui tentang kami yang berpacaran, tapi kami selalu mencoba menutupinya, sekarang hal itu tidak perlu lagi." Ucap Nana yang menganggukkan kepalanya.
"Nah kalian cukup beruntung, kami tidak dapat melakukan hal seperti itu, karena teman baik kami sudah jomblo sejak kecil." Ucap Kevin yang menggelengkan kepalanya.
...
...
__ADS_1
...
"Eh... Mimpikah?" Ucap Rio, Adrian, Kevin, Nana, Siska, dan Fiona, secara bersamaan ketika mereka baru saja terbangun dari tidur nyenyak mereka.