Pena Merah Di Langit Biru

Pena Merah Di Langit Biru
Chapter 48: Penyelesaian Konflik Bagian Ke 8


__ADS_3

Ben segera melompat menuju ke arah Rissa, kemudian Rissa mencoba untuk melepaskan ikatan tali yang terdapat pada Ben, setelah mencoba selama beberapa menit, akhirnya tali yang mengikat Ben berhasil terlepas, kemudian Ben mencoba untuk melepaskan ikatan Rissa, tapi belum sempat Ben melakukannya, dirinya segera ditendang hingga jungkir balik dan berakhir di tanah.


"Ugh!"


"Sial! Kedua anak ini mencoba lari!"


"Ayo beri anak itu pelajaran!"


"Ya!"


Kedua penculik segera memukuli dan menendang Ben, melihat hal itu Rissa berteriak histeris, dirinya terus meminta kepada kedua penculik untuk menghentikan aksi mereka dari memukuli Ben, tapi hal tersebut diabaikan oleh keduanya.


"Tolong berhenti! Kumohon! Hentikan tolong!"


"Arghh!" "Akh!" "Uhh!" Ben dipukuli habis-habisan, seluruh tubuhnya dipenuhi luka, Ben bahkan mengeluarkan darah dibeberapa tempat.


"Berhenti menangis! Jika kalian tidak berencana untuk melarikan diri kami tidak akan memukulinya!"


"Diam!" Salah seorang penculik akhirnya tidak tahan dengan suara tangisan Rissa, dan menampar pipi Rissa.


"Paak!"


Seketika Rissa akhirnya diam, dirinya merasakan rasa sakit dari tamparan tersebut, Rissa akhirnya tanpa sengaja tidak sadarkan diri, melihat Rissa ditampar. Ben seketika membuka matanya lebar-lebar, entah mengapa Ben segera berdiri dan menatap kedua penculik tersebut dengan tatapan serius.


...


...


...


Rissa, Liliana, Bryan dan dua temannya tiba-tiba saja terbangun di taman bermain, mereka semua terkejut dengan hal tersebut, Rissa segera pergi mencari Ben ke mana-mana, tapi tetap tidak menemukan Ben, semenjak itu Ben menghilang, tidak peduli berapa banyak Rissa mencari Ben, dirinya selalu tidak dapat menemukannya.


Mengenai dua penculik tersebut, mereka dikabarkan masuk penjara dan berita tersebut menjadi sangat viral, tapi berhasil ditekan sehingga beritanya padam dalam semalam.


...


...


...


"Uh... Aku masih di sini..." Rissa bergumam sambil melihat ke sekitar dengan wajah datar.

__ADS_1


"Ben... Jadi Bryan adalah anak yang dulu sering membully diriku ketika masih bertubuh gemuk, aku seharusnya tidak berpacaran dengannya, Ben, kamu mungkin masa laluku, dan Daffa adalah masa depanku, oleh karena itu terimakasih banyak telah membantuku sampai seperti ini, aku tidak tahu kamu ada dimana, tapi... Terimakasih karena sudah menjadi teman pertamaku." Rissa menutup kedua matanya kembali.


...


"Bagaimana, apa yang harus kita lakukan?" Rio bertanya kepada Adrian.


"Aku sudah memantau semua tempat ini, dan aku menemukan bahwa Rissa memang diculik di tempat ini, terdapat lebih dari seratus lima puluh orang di tempat ini, mereka semua tidak bersenjata, jadi akan aman." Adrian menjawab sambil terus memantau semua hal melalui komputernya.


"Kalau begitu apa yang kita tunggu, ayo kita selamatkan Ica!" Nana segera mendesak Adrian.


"Tenang dulu, ada yang belum sampai!" Adrian memberitahukan tentang Daffa yang masih dalam perjalanan.


"Adrian! Aku sudah berada di depan gerbang pelabuhan!" Mendengar suara Daffa, membuat Adrian membuka mulutnya lebar-lebar.


"Sialan! Kalau begitu apa yang kita tunggu! Serang!" Adrian segera mengintruksikan untuk menyerang.


...


"Hem... Apakah aku saja atau memang terdengar suara gerombolan motor?" Salah seorang penjaga bertanya kepada temannya.


"Aku juga mendengar hal itu!"


"Semuanya! Ada serangan!"


Gerombolan keempat Kevin, Fiona, dan Siska datang, kemudian yang terakhir sekaligus gerombolan kelima datang adalah beberapa remaja dengan mengendarai sebuah mobil, melihat semua hal itu membuat para penjaga pelabuhan menjadi sangat tercengang.


"Terimakasih semuanya! Sekarang! Serbu!" Daffa turun dari motornya, lalu dirinya berteriak keras.


Kemudian semua gerombolan yang baru saja datang ke pelabuhan turun dari kendaraan mereka, lalu mereka menyerang para penjaga, melihat bahwa mereka diserang, para penjaga berusaha untuk melawan.


"Sialan! Kalian! Bisa-bisanya kalian membawa pacar Daffa!"


"Kalian akan mati di tempat ini!"


"Berengsek! Mengganggu Daffa maka kalian mengganggu diriku juga!"


"Ora! Ora! Ora!"


"Rasakan ini!"


"Teknik Ke Satu: Tinju Besi!"

__ADS_1


"Tendangan Harimau!"


"Sialan kalian! Beraninya kalian membuatku terlibat dalam hal ini! Semuanya! Buat mereka semua tidak dapat berdiri selama seminggu!"


"Siap bos!"


"Bos mengatakan untuk menghancurkan kalian!"


"Mati!"


Daffa meminta bantuan dari preman yang berhutang kepadanya, serta beberapa teman dari berbagai sekolah, juga segerombolan anak geng motor dan yang terakhir adalah sekelompok remaja yang juga tidak normal seperti Daffa, sementara Kevin membawa teman-teman Kickboxing, sedangkan Fiona membawa teman-teman Taekwondonya, sementara Siska membawa beberapa teman-temannya dari klub motor dan teman-temannya yang ahli bertarung.


Jumlah kelompok Daffa cuman seratus dua puluh orang sementara para penjaga seratus lima puluh orang, meski begitu kelompok Daffa dapat mengalahkan para penjaga dengan mudah, Daffa segera pergi mencari ke berbagai tempat untuk mencari Rissa, hingga akhirnya Daffa menemukan sebuah bangunan besar, dirinya segera masuk ke dalam sana, dan menemukan tubuh Rissa yang terikat di bangku, dengan tubuh yang penuh luka dan debu.


Tubuh Daffa seketika bergetar hebat, kemudian secara tiba-tiba saja lampu menyala, dan seseorang memukul kepala Daffa dengan batang besi, tapi hal tersebut tidak membuat Daffa terjatuh ataupun pingsan, Daffa hanya terdiam di tempat dan bergetar hebat.


"Apa!" Seorang pria dewasa bertubuh gemuk terkejut dengan hal tersebut, bahkan Liliana yang berada tepat di sebelah pria bertubuh gemuk tersebut, juga ikut terkejut dengan hal tersebut.


"S-siapa kau!" Pria bertubuh gemuk tersebut bertanya dengan wajah terkejut.


"Siapa yang melakukan itu..." Suara Daffa memang pelan, tapi terdengar sangat menyeramkan, karena begitu monoton, suasana seketika menjadi sangat menegangkan, tubuh Liliana serta pria tersebut bergetar hebat, mereka menggigil merasakan hawa membunuh.


"Siapa kau! Bagaimana kau bisa memiliki hawa membunuh yang begitu kuat! Berapa banyak orang yang telah kau bunuh hanya untuk memiliki hawa membunuh yang seperti itu!" Pria tersebut bertanya dengan kaki gemetar, jantungnya berdetak kencang dan berkeringat deras.


"Apakah kau yang melakukannya?" Suara bertanya Daffa seketika membuat Pria tersebut merasa beban berat dipundaknya.


"Anak-anak! Serang dia!" Seketika sekelompok orang, yang berjumlah sekitar sepuluh pria membawa senjata tajam dan batang besi berlari ke arah Daffa.


Daffa yang melihat bahwa orang-orang tersebut mengarah kepadanya, segera menatap dengan tatapan kosong, pria yang paling depan menatap mata Daffa seketika membeku, Daffa kemudian memukul dagu pria tersebut, lalu menjatuhkan pisau dari tangan pria itu lalu menendangnya ke para pria yang datang.


Setiap orang yang menatap mata Daffa, mereka seketika akan terdiam dan Daffa akan berakhir memukuli mereka dengan sangat cepat, pukulan Daffa membuat orang-orang tersebut merasakan rasa sakit yang mengerikan.


"Arghh! Tanganku!" "Tidak! Kumohon berhenti!"


"Sakit!" "Hentikan! Hentikan!"


Melihat para anak buahnya tidak mampu mengalahkan Daffa, bahkan senjata tajam dan batang besi tidak ampuh, membuat Pria bertubuh gemuk menjadi lebih ketakutan, melihat Daffa mengarah kepadanya, membuat Pria itu bergetar ketakutan, dirinya seketika melangkah mundur ke belakang, sebelum akhirnya mengeluarkan sebuah pistol, lalu menembak ke arah Daffa, tapi hal tersebut tidak mengenai Daffa dan mengarah ke arah Rissa.


Daffa segera berlari menangkap peluru tersebut, tepat sebelum berhasil mengenai wajah Rissa, mengetahui bahwa jika dirinya telat sedikit saja maka Rissa akan terbunuh, membuat Daffa menjadi lebih marah, dirinya segera berbalik ke arah orang menembakkan peluru, yaitu pria bertubuh gemuk tersebut.


"Mati!" Daffa seketika berada di depan pria tersebut dan memukul pria itu hingga akhirnya pria tersebut menabrak dinding, kemudian Daffa muncul kembali di depannya, dan memukulnya kembali hingga menembus dinding bangunan tersebut.

__ADS_1


"Aaarrrghh!"


Mendengar suara teriakan seseorang yang begitu keras, membuat medan pertempuran seketika menjadi hening, mereka semua melihat ke asal suara tersebut.


__ADS_2