
"Ica? Hem... Di mana Ica?" Fiona melihat ke sekeliling dengan wajah bingung.
"Mungkin dia pergi menemui Nana?" Siska memberikan pendapat.
"Benar juga! Ayo Siska kita ke sana!" Fiona kemudian membawa sebuah boneka kelinci, sementara Siska membawa sebuah boneka katak mengendarai motor.
Mereka berdua keluar dari toko boneka, keduanya pergi berjalan menuju ke toko sebelah, yaitu tukang fotokopi.
"Hei kalian berdua! Kalian membeli boneka?" Nana melihat kedua temannya dengan tersenyum tipis.
"Ya! Di mana Ica? Bukankah Ica bersamamu?" Fiona melirik ke sekitar dan tidak menemukan sosok Rissa dimana pun.
"Apa maksudmu, bukankah Ica bersama kalian berdua?" Nana bertanya dengan wajah bingung.
"Tidak, kami dari tadi di toko boneka, jadi kami pikir dia bersamamu?" Siska menjawab dengan menatap ke arah Nana.
"Eh, aku belum melihat Ica sama sekali... Apakah dia pergi ke Caffe lebih dulu?" Nana bertanya dengan mengkerutkan alisnya.
"Hem... Itu!" Nana memperhatikan sesuatu di tanah, dirinya segera berlari ke jalan sempit yang memisahkan toko boneka dan toko fotokopi.
"Ini gelang Ica!" Nana mengambil sebuah gelang dengan sebuah huruf R yang terdapat di gelang tersebut.
"Kenapa gelang tersebut bisa di situ?" Fiona menatap gelang tersebut dengan wajah bingung.
"Gelang tersebut tidak putus, tadi Ica juga tidak memakai gelang karena di sekolah dilarang, karena itu dirinya selalu menyimpan di kantung rok apakah itu terjatuh?" Siska mengingatkan tentang gelang tersebut.
"Benar, Ica sebelumnya tidak memakai gelang tersebut, dan jikapun terjatuh itu akan sulit, kecuali Ica mengambil sesuatu di kantung rok dan gelang berakhir terjatuh, dan cara lain adalah... Ica terjatuh terlentang, dan gelangnya berakhir terjatuh." Nana memperkirakan bagaimana gelang tersebut dapat terjatuh.
__ADS_1
"Tapi apakah mungkin Ica terjatuh?" Fiona bingung dengan pemikiran Nana.
"Tidak, bukan seperti itu kurasa, lihat ini bekas kaki seseorang, dan semacam sesuatu di seret hingga ke sana." Siska mengarahkan jari telunjuknya ke arah bekas lumpur.
"Apakah maksudmu... Ica... Diculik...?" Nana bertanya dengan nada datar, dan tatapan matanya terlihat kosong, mendengar perkataan Nana membuat Fiona membuka mulutnya lebar-lebar, kedua matanya melebar serta bergetar hebat.
"Tidak, itu tidak mungkin!" Nana mencoba membantah hal tersebut.
"Aku juga tidak ingin hal tersebut terjadi, tapi coba pastikan dengan menelpon Ica terlebih dahulu!" Siska kemudian kembali memberikan pendapatnya, yang segera diterima oleh Nana, dirinya segera mengambil handphonenya lalu menelpon Rissa.
"Tiiit!" "Tiiit!"
Mendengar handphonenya berhasil berdering, tapi tidak diangkat membuat wajah Nana menjadi lebih pucat, melihat hal tersebut Fiona tidak sanggup lagi dan berakhir terduduk di tanah karena lemas.
"Apa yang kalian berdua lakukan! Jangan putus asa terlebih dahulu! Ayo kita cari Ica! Kita bertiga tidak akan cukup! Kita perlu pergi menemui para cowok!" Siska yang membentak kedua temannya, agar tidak putus asa dan segera pergi mencari Rissa.
"!!!" Nana dan Fiona yang mendengar perkataan Siska membuka kedua mata mereka lebar-lebar, keduanya saling memandang sebelum akhirnya menatap ke arah Siska.
...
Sementara itu, sebelumnya ketika Rissa tidak sadarkan diri, karena disumpal kain yang memiliki obat tidur, dirinya diseret ke jalan sempit yang berada di antara toko boneka dan toko fotokopi.
Lalu Rissa dimasukkan ke dalam mobil hitam, kemudian seorang pria berpakaian hitam menyuruh seorang pria yang berada di sebelahnya untuk mulai mengendarai mobil tersebut, lalu mobil hitam tersebut mulai berjalan.
Mobil tersebut berjalan pergi melalui jalan tol, mobil hitam menuju ke arah pelabuhan, sesampainya di pelabuhan mobil tersebut berhenti di sebuah bangunan, lalu kedua pria berpakaian hitam menggendong Rissa masuk ke dalam bangunan tersebut, di dalam bangunan tersebut keduanya membawa Rissa ke tengah-tengah ruangan.
Di mana terdapat sebuah bangku, seorang gadis remaja, serta seorang pria dewasa berbadan gemuk, Rissa kemudian di letakkan di bangku lalu diikat.
__ADS_1
"Bagus! Sekarang bangunkan dia!" Gadis remaja tersebut menyuruh dua pria berpakaian hitam untuk membangunkan Rissa, setelah beberapa kali menggoyangkan tubuh Rissa, secara perlahan Rissa membuka kedua matanya.
"Uh! Ini... Di mana?" Rissa bertanya dengan menyipitkan matanya.
"He, kau sudah bangun ternyata?" Gadis remaja tersebut tersenyum lebar melihat Rissa yang baru saja terbangun.
"!!!" Rissa menatap dengan melebarkan kedua matanya karena sangat terkejut, dengan seseorang yang berada tepat dihadapannya.
"Liliana! Apa-apaan ini, kenapa aku berada di sini, tempat apa ini sebenarnya?" Rissa bertanya dengan wajah cemas, dirinya menatap ke sekitar ruangan yang terlihat remang-remang.
"Kau masih tidak tahu! Aku menculikmu!" Liliana berteriak keras, sambil menatap Rissa dengan tatapan kesal, mendengar perkataan Liliana membuat Rissa terdiam, dirinya sangat terkejut dengan perkataan Liliana.
"Kenapa kau melakukan ini! Bukankah kau sudah cukup memiliki Brian! Tapi kenapa kau juga harus menculikku?" Rissa bertanya dengan nada tinggi.
"Kau tanya kenapa! Kenapa! Kenapa! Baik! Akan aku beritahu! Aku melakukan ini karena aku sangat sangat sangat membencimu! Kau telah mencuri semua hal dariku!" Teriak Liliana dengan wajah yang terdistorsi, dirinya terlihat sangat menakutkan.
"Pada saat kelas tiga sekolah dasar ada seorang anak kecil! Anak itu murid pindahan, dia pindah ke kelasku! Pada saat itu dirinya langsung mencuri semua perhatian yang kumiliki! Bahkan orang yang kusukai juga direbut olehnya!" Teriak Liliana dengan menjambak rambut Rissa, lalu berteriak keras.
"Arghh! Kumohon lepaskan!" Rissa berteriak kesakitan, dirinya memohon kepada Liliana untuk melepaskan tangan Liliana dari rambutnya, tapi Liliana mengabaikan hal tersebut.
"Yap! Dia adalah kau! Rissa Arini!" Mendengar perkataan Liliana membuat Rissa membuka kedua matanya lebar-lebar.
"Semenjak itu semua anak laki-laki tertarik kepadamu! Bahkan Brian! Menjadi paling populer di seluruh sekolah, nilaimu lebih baik dibandingkan diriku! Karena itu aku dimarahi oleh ayahku! Semua itu karena dirimu!" Liliana menampar pipi kanan Rissa dengan sangat keras, membuat Rissa mengeluarkan air mata, pipinya sangat sakit Rissa mau melarikan diri, tapi tangan dan kakinya diikat.
"Lalu pada saat kelas dua Sekolah Menengah Pertama kau pindah ke sekolahku lagi! Brian kembali mencoba untuk dekat denganmu! Tapi kau menolaknya! Karena kau menolaknya, Brian menjadi sangat sedih! Lalu suatu hari ibuku mengalami kecelakaan! Aku menangis dan mendatangi Brian, tapi tiba-tiba saja kau lewat saat tengah menangis, karenamu Brian meninggalkan aku! Dan lebih memilih untuk mengejar dan menghiburmu!" Liliana menampar pipi kiri Rissa, dirinya kemudian menampar pipi Rissa bolak-balik.
"Aku sangat marah karena itu! Ketika aku mendapatkan nilai yang jelek ayahku menghukumku! Dirinya menampar telapak tanganku! Dengan mengatakan bahwa aku seharusnya bisa menjadi seperti dirimu! Dan aku seharusnya tidak pernah lahir! Karena aku anak pembawa sial!" Liliana kemudian memukul perut Rissa, yang membuat Rissa terjatuh.
__ADS_1
"Ketika Sekolah Menengah Atas dimulai ternyata aku satu sekolah lagi! Dengan orang yang paling aku benci! Tapi yang paling membuatku membencimu adalah saat kau akhirnya berpacaran dengan Brian! Kau wanita ******! Licik! Picik! Dasar wanita penggoda! Karena dirimu! Hidupku hancur!" Liliana menendang dan menginjak-injak Rissa.
"Daffa... Tolong... Aku..." Rissa bergumam saat kesadarannya mulai menghilang.