Penantian Safara

Penantian Safara
keringatnya wangi


__ADS_3

Mobil ferari hitam mengkilap sudah meninggalkan halaman depan rumah jeni. Jeni merasa ikut senang melihat keysi senang. Tetapi juga ia khawatir dengan wiliam yang baru sebulan kenal, apalagi sampai keysi bisa berpaling dari Dio.


Didalam mobil, wiliam jauh berbeda dengan Dio. Keysi dan wiliam bagaikan kekasih yang sudah lama menjalin hubungan.


Tak merasa sunyi jika didalam mobil, percakapan mereka selalu tak henti.


‘’key’’ panggil wiliam, meraih tangan keysi yang dipangku


‘’iya wili?’’ jawab keysi menoleh kearah wiliam


‘’aku sayang kamu’’ ucap wiliam spontan membuat keysi terkaget


‘’aku juga sayang kamu wil’’ jawab keysi malu-malu terliha wajah putihnya menjadi merah dipipinya


‘’kamu kalo lagi malu imut juga ya key’’ puji wiliam melirik wajah keysi sebentar dan kembali melirik kedepan


Keysi yang terpergok sedang malu hanya senyum-senyum saja.


‘’udah dong jangan senyum-senyum lagi’’ ledek wiliam


‘’kenapa ?’’ jawab keysi lembut


‘’manis banget’’ gombal wiliam


Mobil melaju, hingg sampai disebuah mall besar di kota ini. Mall yang membuat keysi dan wiliam bertemu.


Bagaikan seorang kekasih, genggaman tangan wiliam tak pernah lepas dari keysi. Banyak sepasang mata melihat kagum.

__ADS_1


‘’cocok sekali mereka’’


‘’cewenya cantik, cowonya tampan’’


‘’serasi banget si’’


Seperti itu mereka yang melihat kagum sepasang manusia yang belum memiliki hubungan itu.


Sementara diklinik kecantikan, safa yang sudah melaksanakan segala perawatan yang dilakukannya selama 3 jam, akhirnya selesai dan kemudian menunggu wiliam datang menjemput.


Matanya mencari-cari keberadaan mobil milik wiliam diparkiran, namun sayangnya taidk ada mobil milik wiliam. Dengan kesal, safa merogoh tas punggung kecil miliknya, mengambil benda pipih persegi panjang.


‘tttuuuut…tttuuut’ suara smartphone yang dengan sengaja ditempelkan dikuping kiri safa berbunyi.


Tak menunggu berapa lama, safa mendapat balasan dari seseorang yang dituju.


‘’halo dek, kamu pulang sama pak mamat aja deh. Kalo ga pake aplikasi ojek. Kakak masih ada urusan ’’ jawab wiliam


‘’hih bilang dong dari tadi kakak’’ gerutu safa kemudian mematikan smartphonenya dan mengembalikan ditempat semula.


Dasar wiliam, kalo bukan karena ancamanya bakal ngaduin ke ayah aku gamau ya nglakuin peawatan yang lama ini. Gerutu safa dalam hati


‘’daripada pulang dulu mending aku makan deh, kebetulan sebrang sana ada resto’’ ucapnya pada diri sendiri


Baru saja sampai trotoar, guna turun menuju zebra cros tempat penyebrangan pejalanan kaki. Karena memang jalan yang cepat menuju resto adalah menyabrang dizebra cross.


‘Prak’

__ADS_1


lengan kanan safa membentur sedikit body depan motor seseorang yang sedang melaju pelan


‘’aww’’ ringis safa


Pengendara sepeda motor body besar bewarna hitam langsung menyetandar motornya, dan meletakan helm di salah satu spion.


‘’eehh maaf aku ga liat kamu nyabrang’’ ujar lelaki itu


‘’aahh gapapa kok, aku aja yang teledor’’ jawab safa yang masih melihat lengan yang sedikit sakit.


‘’bukanya kamu itu….’’ Potong ucapan lelaki itu, membuat safa mendongakan kepalanya guna melihat lelaki dihadapanya


‘’Dio????’’ lirih safa


‘’ehiya bener kamu kan yang kekunci ditoilet kan?’’ tanya dio


Hih, kenapa dio ingetnya toilet si. Gumam safa


‘’kamu mau kemana ?’’ tanya Dio kepada safa


‘’mau ke resto depan itu’’


‘’ah kebetulan, duduk aja diblakang aku boncengin kesana ’’ jawab Dio menawarkan safa agar menunggangi motornya


Safa pun menuruti tawaran Dio, dengan hati yang berdebar-debar safa memanjat motor milik Dio. Harum keringat Dio yang masih menempel dibajunya tercium oleh safa.


Apaan ini, keringatnya aja wangi. Gumam safa

__ADS_1


__ADS_2