Penantian Safara

Penantian Safara
kesal


__ADS_3

Mobil melaju tidak terlalu kencang, karna pak mamat tau Nona mudanya ini tidak suka jika diajak mengebut.


Sesampainya dirumah, ayahnya menunggu sepertinya ia cemas. Karena anaknya terlambat 2 jam sampai rumah.


‘’habis dari mana si safa ?’’ tanya ayah cemas yang duduk di kursi halaman depan


‘’ehm, abis.. abis kerja kelompok yah sama temen’’ jawab safa berbohong


‘’lalu kenapa HP kamu mati?’’ tanya ayah tak puas dengan jawaban safa


‘’eem, aku lupa membawa carger ayah. Carger dirumah teman tidak nyambung untuk HP-ku’’ jawab safa berbohong lagi.


‘’yasudah, sana mandi sudah menjelang sore’’


hanya anggukan kepala yang dapat safa berikan.


Safa kembali kekamarnya, tak langsung melaksanakan perintah ayahynya untuk mandi. Melainkan ia merebahnkan tubuhnya diatas kasur, mengingat-ingat kejadian tadi disekolahnya. Kedua kalinya ia bisa berdekatan dengan Dio.


‘’aaahh, tampanya’’ ucap safa bahagia dengan memeluk guling yang berada diatas ranjang kamarnya.


*****


Safa keluar dari kamarnya, mengenakan pakaian biasa ia berencana untuk tidak berangkat bersekolah agar ia bisa mengantarakan ayah dan Cacha menuju Bandara. Kemudian duduk di meja makan, guna menunaikan sarapan bersama.

__ADS_1


‘’loh, kamu ga berangkat Dek?’’ tanya wiliam


‘’tidak’’ jawab safa singkat


‘’kenapa saf?’’ tanya ayah


‘’safa ingin mengantarkan ayah dan Cacha ke Bandara’’ jawab safa dibarengi dengan senyuman manisnya


‘’kan bisa izin disekolah’’ jawab ayah kemudian melahap roti yang masih setengah ditanganya


‘’tidak mau, setidaknya kita bisa bermain dahulu sebelum kalian berangkat’’ kekeh safa


‘’yasudah, dua jam sebelum ayah berangkat kita jalan-jalan sebentar’’ jawab ayah mengalah


Bel berbunyi tiga kali dipagi hari, menandakan pelajaran pertama dimulai.


Widya teman sebangku safa, merasa cemas. Safa tak kunjung datang, tak biasanya dia telat. Tak sengaja Widya mendengar percakapan Keysi, Ria, dan Jeni yang duduk di belakangnya.


‘’Kayanya cupu yang satu itu masih ditoilet deh. haha’’ ucap Jeni sembari ketawa kecil


‘’sepertinya iya deh Jen. Tidak terlihat batang hidungnya walau sudah bel berbunyi’’ sambung Ria


‘’biar saja dia kapok’’ jawab puas Keysi ‘’aku geram denganya, kejadian waktu itu benar-benar tidak bisa dibiarkan’’sambung keysi penuh kebencian

__ADS_1


Tak berapa lama,Guru Wanita sudah memasuki kelas.


waktu pelajaran pun dimulai membuat semua murid yang berada didalam kelas harus diam, membuat percakapan antara Keysi, Ria, Dan Jeni juga terhenti.


Sementara dirumahnya, Safa merapikan dirinya didepan cermin dengan jens Rok putih selutut dan kemeja berwarna abu-abu panjang yang dimasukan dengan rambut terikat kebelakang, sepertyi biasa tanpa make up yang menempel diwajahnya.


Safa dihadapan ayah dan wiliam, enggan menggunakan kacamata, krena safa takut dimarahi jika ternyata safa sudah bermasalah dengan matanya diusia yang belum genap 17 tahun ini.


‘’Ayo Ayah aku sudah siap’’ ucap safa kepada ayahnya yang sedang duduk dihalaman menikmati secangkir kopi yang tinggal setengah.


‘’iya iya fa, tunggu wili dia masih mandi kayanya’’ jawab ayah kemudian kembali menyerupu kopi yang masih ditanganya


‘’hhemmm, kebiasaan’’ safa kesal


Safa sebenarnya seorang yang ceria hanya pemalu jika betemu orang baru, serta lugu karna tak pandai bergaul dan tak pandai berdandan seperti gadis lain di sekolahnya.


hay readers


jangan lupa vote like and komen yah.


berikan komentar yang membangun, buat nyemangatin author.


thankyou

__ADS_1


__ADS_2