
‘’aku tak akan keluar Kota Bu, taun depan aku akan bersungguh-sungguh agar menjadi lulusan terbaik agar diterima di perguruan tinggi terbaik dikota ini’’ jawab Dio penuh keyakinan
*****
Pagi yang cerah di hari libur, seperti biasa Safa selalu bersepeda santai di taman Bundar yang dekat rumahnya itu, untung saja ada taman yang biasa dilakukan untuk berolahraga jika dihari minggu. Ditumbuhi pohon-pohon dan rumput yang terawatt, membuat suasana pagi ini segar. Dengan rambut terikat satu dibelakang , membuat safa berbeda dihari ini.
‘’bruk’’
‘’aduh sakit’’ safa menunduk dan mengeluh kesakitan sambil memegang lututnya
‘’hey, maafkan aku. Aku tak melihatmu’’ jawab lelaki yang menabraknya turun dari sepeda yang ditunganinya
‘’tid’’ safa terpotong ketika mendongakan kepalanya dan melihat lelaki yang menabraknya itu
‘’Dio’’ ucap lirih safa
‘’kamu gapapa? Aku bantu’’ tawar Dio
Safa tak menjawab sepatah katapun, dia hanya mematung tak percaya lelaki yang selama ini ia sukai ternyata berada didepan mata, dekat denganya.
__ADS_1
‘’ini sepedamu sudah berdirikan’’ ucap Dio , kemudian dio menggapai tangan kanan Safa untuk membantunya berdiri.
Dan lagi-lagi Safa hanya mematung tak percaya, tanpa sadar ia mengikuti alur tangan Dio yang membantunya untuk berdiri.
Beruntungnya keysi mendapatkan Dio. Gumam safa
‘’apa keysi? Dio?’’ bertanya dengan hatinya sendiri ‘’ah tidak aku harus pergi sekarang sebelumm keysi melihatku’’masih berbicara dengan dirinya sendiri.
Tanpa berkata apapun, safa menaiki sepedanya dan pergi meninggalkan Dio sendiri yang kebingungan dengan perlakuan safa.
‘’baru kali ini aku bertemu wanita yang tak terpesona denganku’’ Dia terheran-heran
Hingga tiba dirumahnya, ia masih tersenyum dan meletakan tangan kanannya dipipinya. Tentu saja membuat Ayah dan Wiliam heran dengan tingkahnya dipagi ini.
Safa tetap tak menghiraukan orang- orang disekitarnya, kemudian menuju kamarnya dan merebahkan dirinya yang masih dibanjiri keringat itu dan sepatu olahraga bewarna abu-abu masih melekat dikakinya. Sampai ia lupa ada luka dilututnya.
‘’aku tak ingin mencuci tangan kanan ini ’’ ucapnya lirih sembari mengusapkan tangan kanan dipipinya.
‘’aduh lututku kok perih ya’’ ucapntya mringis kesakitan‘’aku lupa, akukan tadi terjatuh’’
__ADS_1
Kemudian mengambil kotak P3K yang disediakan dirumahnya, dan membereskan lukanya sendiri.
Sementara dirumah Dio………
‘’Bu, Dio pulang’’ sapa Dio dengan ibu yang berada di halaman rumah, sembari menyirami bunga-bunga miliknya. Meski ada pekerja dirumah , Ibu tetap mengurusi bunga-bunga kesayangannya sendiri.
‘’sana sarapan, Mbok ijah sudah menyiapkan sarapan untukmu’’ jawab Ibu Dio dengan lemah lembut.
‘’Bu, nanti si Anto sama Sijay kesini’’ sembari melepaskan sepatunya
‘’mau pergi kemana emang? ‘’
‘’biasa anak muda’’ jawabnya ketus
‘’lalu, apa kamu tidak pergi dengan keysi? Sedang ribut ya ?’’ tanya ibu meledek
‘’aku baik-baik saja dengan keysi, hanya saja aku ingin beermain bersama teman. Jika hari liburku bersama keysi terus. Aku tak punya teman’’ jawab Dio panjang lebar
Ibu hanya tersenyum dan melanjutkan menyirami bunga-bunga kesayanganya.
__ADS_1
Keesokanya, safa keluar dari kamarnya dengan seragam yang rapi dan rambut diikat kebelakang, kaos kaki tinggi sepaha seperti roknya yang sepaha ,dan bersepatu putih, tas punggung coklat miliknya tak lupa kacamata bulat yang menghiasi matanya. Tak ada satupun make up simple menghiasi wajahnya.