
Safa tak menghiraukan, pandanganyan tetap kedepan kerah jalan. Pikirnya hanya lelaki iseng menggoda
‘’saf’’ panggilnya lagi
Mendengar namanya dipanggil, safa menolah sumber suara yang memanggilnya.
‘’eh Dio’’ ujar safa
‘’syukurlah ketemu disini. udah lama ngga sepeda-anya?’’ tanya dio
‘’ya udah 30 menit kayanya’’ jawab safa
‘’laper?’’ tanya dio lagi
‘’iya lumayan belum sarapan’’ jawab safa
‘’makan bubur dilanggananku yuk’’ ajak dio
‘’tapi….’’
‘’urusan bayar biar aku aja, itung-itung ini balasan kemaren’’ ujar dio dan melemparkan senyuman kepada safa
Kemudian dio menyalip safa, dan beralih di depan dengan sepeda berwarna hitam doff guna memberi petunjuk kepada safa.
Terus mengayuh selama kurang lebih lima menit, mereka menepi di trotoar dimana ada gerobak kayu bercat coklat dengan bertulisakan ‘bubur ayam’. Dengan segera mereka langsung memarkirkan sepeda rapi berjejeran disamping gerobak.
Tidak terdapat kursi satupun, hanya ada alas tikar yang kosong dengan sebagiannya sudah terisi oleh dua orang yang sudah lebih dulu sampai, dan dilihatnya sudah habis setengah mangkuk.
‘’kamu duduk disana ya’’ menunjuk tikar kosong yang sebagian sudah terisi
__ADS_1
Safa hanya mengangguk dan menuju tempat yang tunjukan oleh Dio.
‘’Bang pesen bubur ayam dua porsi teh anget manis dua gelas ’’ ujar Dio kepada abang tukang bubur
Setelah dirasa sudah memesan, kemudia Dio beranjak menuju keberadaan safa. Dilihatnya safa seperti risih berada ditempat ini, tempat pedagang kaki lima.
‘’saf kamu kenapa? Gasuka ya aku ajak ketempat ini?’’ tanya Dio sembari menempatkan posisi duduk menyila disamping safa
‘’eehh enggak Yo’’ jawab safa
‘’terus kenapa?’’ tanya Dio halus
‘’sebenarnya……….’’ Ujar safa menggantung
‘’aku baru makan dikaki lima’’ sambung safa memamerkan semua gigi yang putih nan rata
‘’oh gitu, tapi gapapa kan ?’’ ucap Dio halus dan sedikit merasa bersalah
‘’ini tempat langgananku kok, lihat deh tempatnya bersih, abangnya ga jorok kok trus ini rumputnya bagus, ijo-ijo’’ jawab Dio menenangkan safa
‘’aku kira seorang Dio siraja sekolah itu ga makan dikaki lima, hehe’’ ujar safa mencairkan suasana
‘’ah kata siapa?, buktinya aku disini’’ Jawab Dio
Tak berselang lama, dua mangkuk bubur ayam dibarengi dengan dua gelas teh manis sudah berada didepan mereka.
dengan ragu-ragu safa menyodorkan seperempat bubur yang sudah berpindah kepada sendok yang dipegangnya.
‘’rasanya enak banget Yo’’ ucap safa sumringah membuat orang yang didepanya skaligus yang mengajaknya melebarkan senyumanya. Merasa lega hatinya, karena sebelumnya merasa tak enak hati.
__ADS_1
‘’habiskan saja, kalo kurang tinggal tambah ’’ jawab Dio dan melebarkan kembali senyumnya
Safa juga membalas senyumannya yang manis.
Kemudia mereka melanjutkan untuk melahap bubur dihadapanya
*****
Siang yang cerah masih dihari libur, Dio tidak mempunyai acara pada hari ini. Hanya rebahan, bermain game online, menonton Televisi dan makan saja untuk hari ini.
Entah sudah berapa kali Keysi selalu menolak jika ajakan kencan Dio, tidak seperti biasanya, dan bulan-bulan sebelumnya.
selalu dengan alasan sibuk. Setau Dio Keysi anak manja, segala keperluanya atau keperluan di rumah selalu saja pelayan yang melaksanakan, sementara Keysi hanya duduk dan menunggu. Tidak pernah merasa sibuk, kesibukanya hanya satu selalu main bersama Jeni dan Ria.
‘’kok Keysi belakangan ini ga pernah main si ?’’ celetuk Ibu kepada Dio saat makan siang berdua dimeja makan
**halo semua
jika sudah membaca, jangan lupa 4 hal :
like
komen, inget komen yang membangun bagaimana pun author masih belajar
favorit
dan tip
teriamakasih
__ADS_1
happy reading**