
Safa sebenarnya seorang yang ceria hanya pemalu jika betemu orang baru, serta lugu karna tak pandai bergaul dan tak pandai berdandan seperti gadis lain di sekolahnya.
Dihadapan keluarganya dan orang terdekatnya , ia sangat ceria. Berbeda jika di sekolah, baru sampai gerbang sekolah nyalinya sudah ciut.
Safa menginginkan perubahan pada dirinya, tetapi ia tak bisa. Karna tidak ada teman yang mau berteman denganya kecuali Widya, maka ia akan sulit merubah penampilanya.
alasan karna safa dipandang gadis yang tidak modis nan luga serta miskin. Mereka tidak tahu, jika ayah safa adalah pemimpin perusahaan besar di Prancis dan pemilik salah satu hotel terbesar di Kota ini.
memang penampilan safa sangat sederhana, tak menonjolkan karakter anak orang kaya pada dirinya.
‘’ayo kak wili, nanti keburu ayah berangkat’’ ucap safa sembari menggedor gedor pintu kamar mandi wiliam
‘’iya.. iya, safa kaka bentar lagi selsai kok mandinya’’ jawab wiliam menggema dari dalam kamar mandi
__ADS_1
Safa pergi menginggalkan wiliam yang masih didalam kamar mandi, menuju ruang tamu di rumahnya.
Dengan santainya, ia duduk dengan kaki diluruskan tak lupa sepatu putihnya juga ikut nangkring. Saat ia mengambil smartphonenya yang bearada didalam tas putih miliknya, segera mengaktifkan dan didapatnya beberapa pesan yang belum dibaca.
[safa kamu telat?] pesan widya
[kamu sakit?] pesan widya
[mengapa taka da kabar dari kamu, sungguh ku hawatir dengan keadaanmu] pesan widya
Aku bersyukur punya temen seperti mu widya, aku menyayangimu. Gumam safa dengan sedikit tersenyum memandangi layar benda piph persegi panjang miliknya
[aku baik-baik saja , wid. Ayahku hari ini berangkat. Aku ingin menghabiskan waktu sebelum ia berangkat. Maaf membuatmua khawatir] balas safa kepada widya
__ADS_1
‘’tak…tak…tak’’ suara sepatu terdengar nyaring ditelinga , setelah menoleh memastikan sumber suara, ternyata Wiliam sudah rapi setelah menunggu beberapa menit.
Wiliam melayangan tangan diudara kemudian membuka dan menutup telapak tangan sebanyak dua kali, seperti memberi instruksi kepada safa, supaya bergegas menuju ke arahnya yang sudah berada di pintu utama rumahnya.
Safa, Wiliam, Cacha, dan Ayah memasuki kendaran beroda empat yang bewarna Hitam. Tanpa Pak Mamat, supir Pribadi yang ditugaskan untuk mengantar kemana saja Safa Pergi.
Dengan kemudi dipegang oleh Wiliam, Ayah berada disamping Wiliam, Cacha dan Safa berada di kursi belakang.
Keluarga kecil itu bermain-main dipantai yang dekat dengan Bandara, menurut ayah supaya tidak terlalu terburu-buru jika lalai karena asyik bermain.
Sangat Bahagia terlukis diwajah Safa, setelah 5 tahun berlalu tak bisa ia rasakan kebersamaan bersama keluarga. 2 jam berlalu penuh kehangatan dan kebahagiaan dengan bermain pasir, berenang dengan ombak, dan kegiatan lainya saat berada dipantai.
Dengan tidak mengubah posisi, mobil melaju menuju bandara. Tak sampai 10 menit, mobil sudah memasuki area parkir Bandara.
__ADS_1
Sesampainya di pintu masuk, ternyata sudah beberapa orang menyambut ayah safa. Mereka termasuk staf penting yang mengabdi pada ayah safa , merelakan waktunya untuk mengantarkan sang Pemilik meninggalkan Negara ini.
Salam perpisahan pun terjadi, saat ayah dan cacha berjalan menjauh dari pandangan mata.